
Dengan secepat kilat, Kanva bisa membalikkan keadaan. Pria itu langsung menarik tangan bos penjahat dan pistol itu jatuh pada tangan Kanva. Kini keadaannya terbalik. Moncong pistol tersebut diarahkan di pelipis bos penjahat itu.
“Kamu akan mati jika anak buahmu bergerak maju.”
Pemimpin penjahat itu langsung gemetar dan berkeringat. Dia memberi isyarat agar bawahannya mundur. “Cepat mundur! Apakah kamu tidak mendengarkanku?”
Anak buah penjahat langsung mundur sambil masih memegang senjata di tangan mereka. Semua orang saling memandang dengan cemas dan tatap diam seperti patung.
“Apa yang kamu tunggu? Turunkan senjatamu! “ bentak pemimpin karena panik saat kulitnya ditekan dengan mulut pistol.
Para bawahan masih menolak untuk bergerak karena mereka tahu bahwa kemungkinan besar mereka akan mati jika meletakkan senjatanya. Bos penjahat bingung dan terperangah karena anak buahnya tidak mau mendengarkan ucapannya.
Kanva berjalan menuju mereka sambil masih memegang pistol ke kepala pemimpin mereka. Semakin Kanva maju ke arah mereka, semakin mereka mundur. Dan salah satu diantara mereka sampai terjatuh dan menjatuhkan senjatanya.
Kanva langsung menendang pistol yang terjatuh dengan kakinya ke belakang. Aria yang melihat pistol meluncur ke arahnya langsung ia tangkap.
Wanita itu mengacungkan pistolnya ke arah para penjahat. Meskipun ia tidak pandai menggunakan senjata tapi itu cukup untuk menakuti pada penjahat.
Kemudian Aria pergi ke arah kokpit. Aria langsung mengarahkan senjatanya ke arah pilot dan ko pilot.
“Cepat cari daratan dan turunkan pesawatnya.”
“Tapi tidak ada tempat pendaratan yang tepat di sini,” ujar pilot ketakutan.
“Aku tidak peduli! Cepat atau peluru ini akan melubangi kepalamu.”
“Apakah kamu pikir kamu akan berhasil hidup jika kamu membunuh kami?” Tukas kopilot berani.
“Wah, setidaknya kamu bisa merasakan kulitmu panas tapi tidak kunjung mati. Haruskah aku menembakmu di lengan, kaki, di tempat-tempat yang tidak vital.”
“Kamu psikopat!” Teriak kopilot.
“Aku…ada bandara terdekat,” ucap pilot.
“Lalu pergi ke bandara terdekat.”
“Baik.”
Aria merasa sedikit lega, setelah beberapa menit pesawat mereka tiba di bandara terdekat dan mendarat perlahan di landasan. Segera satu jet pribadi dan satu helikopter mendarat juga.
Para penjahat awalnya di atas angin namun kini situasinya berbanding terbalik. Mereka gagal.
“Putuskan sendiri apakah kamu ingin terus hidup atau kamu ingin mati di sini? Jika kamu menyerah aku akan mengampunimu.”
Lalu anak buah Kanva menyerbu para penjahat. Semua anggota geng meletakan senjata mereka dan buru-buru keluar.
“Bisakah kamu melepaskanku juga?” Tanya bos penjahat.
“Tidak!” Kanva mendorongnya ke anak buahnya dan memerintahkan, “Bawa dia ke pesawat kita dan sisanya juga.”
“Ya, Tuan Muda.”
__ADS_1
Kanva langsung mencari keberadaan Aria.
“Aria!”
“Aku di sini.”
Aria langsung berlari dan memeluk Kanva sangat erat.
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Kanva sambil memegang wajah Aria lalu memegang tangan Aria yang sangat dingin. “Tanganmu sangat dingin. Kamu pasti sangat terkejut.”
“Aku baik-baik saja.”
Kanva menatap wajah Aria yang terlihat pucat lalu mendaratkan sebuah ciuman. Mereka saling membalas. Pada saat ini satu-satunya cara mereka bisa menenangkan ketakutan dan kecemasan mereka adalah saling menguatkan satu sama lain.
“Sekarang kita keluar dari sini.”
Mereka berdua keluar dari pesawat itu dan masuk ke jet pribadi mereka. Di sana Aria langsung istirahat di ruang privatnya sementara Kanva masih harus menginterogasi beberapa anak buah penjahat dan bos mereka.
“Kalian dari organisasi mana?” Tanya Kanva.
“Black Dragon.”
Salah satu anak buah Kanva langsung mendekati Kanva dan membisikkan sesuatu. Itu terkait informasi mengenai organisasi Black Dragon. Setelah itu Kanva langsung berdiri dari duduknya dan langsung meraih salah satu pria. Ia merobek bajunya. Kanva terus melakukan hal yang sama pada beberapa pria lain tapi mereka jelas tidak memiliki tanda-tanda unik di tubuh mereka.
“Apakah kalian mencoba berbohong padaku? Setiap anggota BD mempunyai tanda di tubuh mereka, tapi kalian tidak punya. Eksekusi mereka sekarang.” Titah Kanva.
“Tidak! Jangan! Kasihani lah kami. Kami mengatakan yang sebenarnya. Kami hanya anggota baru yang diberi misi bahkan sebelum kami di tatto. Bos kamu mempunyai tanda di tubuhnya.”
Kanva langsung menuju ke bos mereka.
Dia melakukan seperti apa yang dilakukan Kanva. Memang ada tanda yang jelas di dadanya. Itu adalah identitas dari anggota Black Dragon. Kanva langsung saja mengambil pistol dari bawahannya dan langsung menembaknya tepat di tengah jidatnya.
Melihat bosnya ditambah mati, para bawahannya langsung ketakutan. Hanya menunggu waktu mereka menyusul bosnya. Pada titik ini, mereka menyesal tidak membunuh Kanva.
“Siapa yang mengirim kalian?”
Semua orang saling memandang lalu menggelengkan kepala secara bersamaan. Salah satu diantara mereka berbicara dengan berani.
“Kami tidak tahu, ada banyak atasan dalam organisasi. Bahkan pemimpin kami mungkin tidak tahu siapa yang memerintahkannya.”
Kanva langsung menoleh ke salah satu pengawalnya.
“Cari siapa yang menyuruh mereka.”
“Baik.”
Kanva langsung berbalik dan menuju ruang privat. Di sana ia melihat Aria yang sudah tidur pulas. Pria itu berbaring di sana dan memeluknya sampai tiba di hanggar vila mereka.
Franz sudah menunggu mereka tiba di sana sejak dia mendengar tentang apa yang mereka alami, semua orang pesawat sementara Aria masih tertidur.
“Tuan Muda apa yang akan kita lakukan dengan mereka?”
__ADS_1
“Aku sudah membunuh pemimpinnya. Ambil foto tubuhnya, kasih mereka tanda dan pulangkan mereka pada keluarga masing-masing.”
“Saya mengerti.”
Kanva memandang Aria sedang berbaring di pelukannya.
“Aria…”
Aria membuka matanya dan melihat wajah Kanva.
“Apakah kita sampai di rumah?”
“Ya.”
Aria masih agak pusing meskipun ia merasa sangat lega pada saat ini. Mereka berjalan keluar dan menuju ke rumah mereka.
“Aku merasa pusing. Apakah kita tidak menggunakan mobil saja.”
Kanva langsung menggeleng dan berjongkok di depan Aria.
“Naiklah, aku ingin menggendongmu sambil menikmati keindahan perkebunan kita.”
Aria langsung melingkarkan lengannya di leher Kanva dan dagunya ia sandarkan pada pundak Kanva. Perjalanan dari hanggarke rumah utama akan membutuhkan sepuluh menit jika menggunakan mobil. Dan saat ini mereka berjalan dengan santai. Butuh setengah jam untuk sampai ke rumah utama.
“Apakah kamu akan menggendongku bahkan ketika kita tua?”
“Tentu saja.”
“Jika aku mati lebih dulu, apakah kamu akan membawa wanita lain ke rumah kita?”
“Tidak. Aku tidak pernah berpikir tentang bagaimana jika aku menghabiskan sisa hidupku sendirian tanpamu. Jangan berbicara yang tidak-tidak.”
Mengetahui Kanva masih dalam keadaan amnesia, ia mendaratkan ciumannya ke pipi Kanva. Senyum terbentuk di wajah tampan Kanva.
“Turunkan aku.”
“Kenapa?” Tanya Kanva.
“Aku pasti berat.”
“Bahkan tubuhmu sangat ringan dari kapas. Aku senang menggendongmu.”
“Arsel.”
Teriakan seseorang membuat Aria untuk segera menurunkannya dari gendongan Kanva. Rupanya itu adalah teriakan dari Merlisa. Merlisa terlihat berlari ke arah mereka. Rasa senang sangat kentara di wajahnya.
Wanita itu melompat mau dan memeluk Kanva. Membuat Kanva dan Aria terkejut dengan sikap wanita itu.
“Arsel, aku belum melihatmu sama sekali akhir-akhir ini. Aku merindukanmu.”
Kanva langsung mendorong tubuh Merlisa. “Kamu tidak harus memelukku.”
__ADS_1
“Arsel, apa yang salah? Sebelum kamu pergi ke luar negeri kita mengobrol dan minum bersama setiap malam lalu apa yang dengan memelukmu sekarang?”
Aria langsung menatap tajam ke arah Kanva sentara Kanva hanya bisa menggeleng, tidak mengidahkan kalimat Merlisa.