Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
23. Segalanya Memiliki Awal dan Akhir


__ADS_3

“Direktur Wijaya dari Killian Group menyerahkan diri ke polisi setelah itu perbuatan kriminalnya di masa lalu terungkap. Direktur Wijaya memerintahkan seseorang untuk menabrak salah satu pimpinan Killian Group karena kecelakaan ini putra tunggal pimpinan Killian Group yang merupakan keponakan menjadi terluka parah dan juga menantu pimpinan Killian Group juga terluka. Yang lebih mengejutkan lagi, mayat yang ditemukan terjun di gedung rupanya dibunuh atas perintah direktur Wijaya. Karena dia takut perbuatan kriminalnya terungkap. Motif kriminalnya masih belum diketahui pasti dan Killian Group memilih bungkam atas kasus ini.”


Aria terkejut saat televisi mati namun ia lebih terkejut bukan main saat mengetahui kecelakaan yang ia alami disebabkan oleh pamannya sendiri.


Aria langsung menoleh dan Kanva sudah berdiri di sampingnya. Pria itu rupanya yang sudah mematikan televisi.


“Kanva...”


“Mau jalan-jalan denganku di negeri. Kita bisa menghabiskan waktu seminggu di luar negeri.”


“Jadi kamu menyelidikinya?” tanya Aria.


Kanva mengangguk. Pria itu lantas memeluk Aria dengan kuat.


“Kamu pasti sangat sedih. Rupanya orang terdekat—“


“Berhenti bicara omong kosong. Kita sebaiknya membicarakan proyek besar kita.”


Aria tahu bahwa Kanva tidak mau membahas masalah pamannya dan lebih mengalihkan topik. Aria pun mengerti pasti sangat sakit jika orang yang kita duga dekat dengan kita rupanya orang yang paling menyakiti kita.


“Baiklah.”


Keesokan harinya mereka benar-benar berangkat ke luar negeri untuk pergi berlibur. Aria benar-benar masih belum melupakan berita tentang pamannya. Sementara Kanva, pria itu seakan merasa tidak terjadi apa-apa.


“Ada apa?” tanya Kanva.


“Tidak ada.”


Mereka sampai di sebuah hotel bintang lima. Perbedaan waktu yang sangat kontras membuat Aria jetlag. Tubuhnya sangat lelah dan ia tidak bisa menahan rasa kantuknya.


“Istirahatlah, aku akan memesan makanan untukmu.”


Aria mengangguk dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang king size. Kanva langsung menelepon dan memesan beberapa makanan untuk di bawa ke kamar hotelnya.


Kanva sama sekali tidak merasa mengantuk. Ia melihat Aria yang sudah tertidur lelap di mimpinya. Kanva duduk di sofa seberang ranjang dan tidak pernah mengalihkan perhatiannya darinya.


“Kamu pasti kelelahan.”


Lalu suara ketukan terdengar. Kanva langsung bergegas cepat berjalan ke pintu untuk membukanya.


“Selamat siang, ini beberapa pesanan anda.”


Seorang staf perempuan dengan senyum ramah mengantar pesanannya. Namun yang membuat Kanva tidak nyaman adalah perempuan itu bersikap genit padanya. Bahkan staf tersebut sempat melihat ke dalam kamarnya.


Kanva tanpa sadar melihat ke belakang ke tempat tidur. Aria yang berada di tempat tidur bergerak dan menekan wajahnya ke bantal.


Kanva langsung mengambil pesanannya. “Terima kasih.” Lalu mendorong pintu agar tertutup.


Kanva memesan beberapa makanan favorit Aria. Ia memindahkan makanan tersebut ke meja.


Kanva mendongak, Aria terbungkus selimut dengan punggung menghadapnya tidak bergerak.


“Sayang....”


Kanva mencoba membangunkan Aria dengan hati-hati.


“Hm....”

__ADS_1


“Aku sudah memesan makanan kesukaanmu. Makanlah.”


Aria menggeleng. “Tidak, aku akan melanjutkan tidurku saja.”


“Aria....”


Aria langsung menyipitkan matanya sebagai rasa protes. Salah siapa ia memilih penerbangan pagi-pagi sekali.


Melihat Aria yang sama sekali tidak bergerak. Kanva mengulurkan tangannya dan menarik selimut di bawahnya dan keduanya memulai permainan tarik selimut seperti anak kecil.


“Kanva...”


“Makan sekarang.”


Aria makan dengan kesal layaknya anak kecil. Ia makan tanpa sepatah kata pun. Ia hanya mendengar Kanva yang sedang mengomel dan membicarakan liburan mereka.


Malamnya Aria sudah kembali dalam mood yang bagus. Mereka berdua pergi ke sebuah jembatan yang terkenal saat festival.


“Wah tempatnya bagus. Aku harus mengabadikannya.”


Aria langsung mengambil ponselnya dan memotret pemandangan di sana.


“Aria...”


Aria langsung menoleh dan mendapati Kanva memegang sesuatu di tangannya. Kanva mendekati Aria dengan perlahan-lahan. Setelah itu memberi Aria perintah untuk membalikkan tubuhnya. Aria pun menurut dengan senang hati.


Pada saat itu, Kanva memakaikan sebuah kalung liontin cantik di leher Aria.


“Tunggu sebentar. Ah, hampir selesai. Selesai.”


Aria pun berbalik dan menatap takjub kalung yang baru saja dipakaikan oleh Kanva.


“Sangat cantik.”


Aria langsung tersenyum saat kata pujian muncul dari bibir Kanva. Kanva langsung saja menarik tengkuk Aria, ******* bibir wanitanya.


...♡♡♡...


Kanva langsung menempelkan keycard dan membuka pintu dengan cepat, menarik Aria masuk dan menghimpit Aria di antara tubuhnya dan pintu. Bibirnya menyambar bibir Aria, mengulum dan menjelajah dengan mulut dan lidahnya.


“Ayo kita mulai proyek besar ini.”


Kanva menggoda Aria sehingga perut Aria bisa merasakan tonjolan keras milik Kanva yang masih tersimpan.


Kanva dengan lihai meloloskan gaun yang dipakai Aria. Pria itu kembali memagut dan dengan tidak sabar melepaskan pakaiannya sendiri.


Pria itu semakin intens menggoda Aria.


“Kanva...” protes Aria terengah.


Seringaian Kanva membuat Aria kesal. Namun kekesalan itu segera hilang ketika Kanva menghunjam miliknya dengan kasar.


“Pelan-pelan sedikit.”


Kanva tidak hanya ingin meledakkannya tetapi juga sedikit menyiksa dan godaan.


...♡♡♡...

__ADS_1


Aria mengernyit melihat Kanva terlihat pulas di sampingnya setelah pergulatan panas yang membuat Aria harus merengek dan merintih.


“Kanva...bangun...” bisik Aria di telinganya.


Kanva bergerak pelan namun kembali lelap. Aria kembali mengguncang tubuhnya.


“Kanva...”


Kanva menggeliat dan mengerjap. Pria itu memandang Aria penuh dengan tanda tanya besar di kepalanya.


“Sudah jam sembilan pagi dan aku lapar.”


Kanva terduduk dan mengerjapkan mata beberapa saat.


“Kamu makan sarapan apa?”


“Aku mau steik.”


Kanva langsung meraih telepon kamar dan memesan makanan di resto hotel.


“Kita tidak turun makan?” tanya Aria mulai mengigil karena dinginnya embusan ac.


“Kita mandi!”


Kanva beringsut sambil menggendong Aria, membawanya ke kamar mandi dan menyalakan shower serta mengatur kehangatannya. Tentu saja mereka tidak benar-benar mandi.


Setalah mereka sedikit bermain-main di kamar mandi dan benar-benar mandi. Pada akhirnya Kanva menyiapkan steik untuk Aria yang sangat nyaman duduk di ranjang sambil bersandar sambil sibuk berselancar di sosial media.


Rupanya Aria sedang sibuk melihat berita tentang Killian Group.


“Apa yang kamu lihat?”


“Berita tentang Killian Group.”


“Apakah sangat heboh?”


“Ada banyak artikel dan komentar terkait masalah itu.”


“Franz akan menanganinya. Nanti juga akan mereda sendiri,” ucap Kanva. Pria itu sibuk memotong daging dan menyuapkan suapan pertama untuk Aria.


“Masalahnya mereka tidak peduli dengan isi artikelnya melainkan mereka hanya membicarakan wajahmu. Kanva sangat tampan. Dia benar-benar lelaki idaman. Pria kaya dan tampan, siapa yang beruntung mendapatkannya. Kenapa mereka penasaran kamu sudah menikah atau belum?” gerutu Aria sangat kesal tentang komentar-komentar netizen yang kebanyakan wanita.


Kanva hanya bisa tertawa melihat istrinya cemburu.


“Wah lihatlah, banyak gadis yang mendaftar menjadi calon pengantinmu,” ucap Aria lantas ia langsung meletakkan ponselnya ke sembarang.


“Wah betapa mereka akan iri jika melihat betapa sangat cantiknya istriku.”


“Apakah itu kalimat pujianku untukku?”


“Tentu saja.”


“Wah aku tidak sabar untuk keluar dan jalan-jalan.”


“Kenapa tiba-tiba ingin keluar?” tanya Kanva terlihat tidak menyukai gagasan Aria.


“Bukankah ini liburan? Aku ingin melihat tempat-tempat terkenal di sini.”

__ADS_1


Kanva lantas menghela napas. Gagal rencananya untuk membuat Aria tetap di ranjangnya.


__ADS_2