Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
14. Lovey Dovey


__ADS_3

Kanva membuka mata, di sampingnya tidak ada Aria yang memeluknya dengan begitu hangat. Semalam adalah tidurnya yang paling tidak ingin dilewatinya lagi. Ia sudah terbiasa dengan Aria. Pria itu lantas bangkit dan keluar dari kamar, ingin segera melihat wajah Aria.


Namun ia tidak mendapati Aria di kamar tamu, ia lantas pergi ke ruang makan. Aroma harum masakan dari dapur. Di sana sudah tersedia beberapa menu sarapan dan bahkan kopi serta susu.


“Tuan Muda mencari Nyonya Muda? Nyonya Muda sudah berangkat ke kantor,” ucap Franz.


“Aku baru saja memeriksa, apakah ada kucing liar yang masuk. Semalam aku mendengar kucing.” Kanva membantah, menolak mengakui bahwa dia sedang mencari Aria.


Menatap sarapan tersebar di hadapannya. Kanva tiba-tiba kehilangan selera karena memikirkan apa yang akan dilakukannya agar ia bisa dimaafkan Aria.


“Tuan Muda, jika makanannya tidak sesuai dengan selera anda. Haruskah saya memasakkan makanan lainnya?” Tanya bibi Ina.


“Tidak apa-apa, aku tidak lapar. Kamu bisa pergi.”


Kanva duduk di ruang tamu tanpa menyentuh makanannya. Ia sedang sibuk berpikir, apakah kesalahannya sehingga Aria sangat marah padanya sampai-sampai ia memilih untuk pisah ranjang.


“Apakah dia melihatku berbicara dengan Merlisa?”


Setelah mengingat kata-katanya, ia menyimpulkan bahwa itu sangat mungkin terjadi. Kanva langsung menyesali tindakannya. Ia berusaha untuk menelepon Aria namun panggilannya terus ditolak.


Kanva langsung pergi ke garasi untuk mengambil mobil. Ia berencana untuk pergi ke kantor untuk menemui Aria namun sesampai di sana, ia tidak menemukan Aria di kantornya karena wanita itu sedang pergi keluar untuk rapat.


Kanva tidak mempunyai pilihan selain menunggunya di kantor. Aria akhirnya kembali tepat jam Tiga sore.


Begitu Aria tiba di kantornya sekretarisnya langsung memberi tahu bahwa Kanva menunggunya di dalam selama berjam-jam.


Aria lantas segera mendorong ruangannya terbuka dan langsung disambut dengan pemandangan Kanva yang duduk di sofa dengan tenang. Aria lantas menutup pintu.


“Untuk apa kamu di sini?” Tanya Aria, melewati Kanva dan meletakkan tasnya di atas meja sebelum ia duduk di kursi yang terdapat tulisan Presiden Direktur.


Kanva langsung mendekatinya dan berdiri di depannya. “Apakah kamu masih marah?”


“Aku tidak marah. Kenapa aku harus marah?”


“Jangan berbohong padaku. Aku tahu, kamu marah. Maafkan aku.”


“Kamu meminta maaf? Untuk apa? Kamu tidak salah.”


“Aku seharusnya memberitahumu sebelumnya. Aku kemarin berbicara dengan Merlisa, ia mengatakan bahwa baru saja ditampar oleh ibunya. Aku pergi menemuinya untuk menghiburnya katika ia menangis. Kamu kebetulan meneleponku dan aku tidak menjawabnya. Aku tidak memberitahumu sejak awal karena aku tahu kamu tidak menyukainya dan pasti kamu akan marah. Seandainya aku tahu bahwa kamu akan sangat marah, aku akan mengatakan yang sebenarnya sejak awal.”


Menyadari bahwa tidak ada tanggapan dari Aria. Kanva langsung berjalan mendekati Aria. Ia memutar kursinya sehingga ia bisa melihatnya dengan leluasa.

__ADS_1


“Bagaimana caranya agar aku dimaafkan? Katakan.”


Aria langsung menyilangkan kedua tangannya di depan.


“Aku tidak akan sangat marah jika kamu bilang sejak awal.”


Kanva langsung memeluknya dengan erat. “Maafkan aku.”


...…....


Aria dan Kanva pulang ke rumah di malam hari. Mereka berdua langsung pergi ke kamar utama. Aria langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi sementara Kanva menunggunya sambil membaca buku di ranjangnya sambil membayangkan akan menggoda Aria. Ia akan melewati malam ini dengan suhu panas.


Aria baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat wajah Kanva yang penuh dengan senyuman jahat.


“Kenapa kamu tertawa? Apa yang menarik?”


“Ah, buku ini sangat lucu. Aku tidak tidur nyenyak semalam, apakah kamu tahu?” Tanya Kanva sambil meletakkan bukunya dengan dramatis di atas nakas.


“Tidak, aku tidak tahu.”


“Aku baru saja memberitahumu.” Kanva langsung membuka bajunya dengan berlebihan. Ia melihat Aria yang duduk di meja ruas. Pria itu langsung bangun dan memeluk Aria dari belakang dengan tubuh shirtless.


“Maksud kamu apa?”


Kanva mulai membelai dan mengigit daun telinga Aria dengan menggoda, “Kamu tidak diizinkan tidur malam ini.”


Aria langsung menoleh untuk melihat wajah Kanva. “Aku harus bekerja besok.”


“Apakah pekerjaan lebih penting dariku? Selama perjalanan bisnis, kamu tidak diizinkan berbicara dengan pria lain lebih dari dua kalimat. Kecuali itu pembicaraan berhubungan dengan pekerjaan. Kamu tidak diperbolehkan kontak mata dengan pria lain tidak lebih dari tiga detik atau melakukan kontak fisik dengan mereka.”


“Seharusnya aku yang memberitahumu itu. Kanva, aku bisa melakukan apa yang kamu perintahkan tapi selama kamu juga bisa melakukan apa yang baru saja kamu perintahkan.”


“Aku bisa melakukan itu.”


“Aku tidak percaya padamu. Kanva, jika kamu benar-benar bisa mengendalikan diri. Aku akan memberi hadiah untukmu ketika aku kembali dari perjalananku.”


“Aria, sebaiknya kamu menepati janjimu.” Kanva berseru dengan senang.


“Tidak masalah.”


Senyum jahat Kanva langsung muncul di wajah tampannya.

__ADS_1


Mereka berdua lantas terjaga sepanjang malam. Aria menyesuaikan diri dengan hunjaman demi hunjaman Kanva yang tiada habisnya. Pria itu sangat bersemangat dan penuh energi. Mereka melakukan tanpa alat pengaman. Mereka berharap akan segera diberi momongan.


...…...


Aria bangun keesokan harinya. Ia merasakan lengan Kanva yang melilit tubuhnya erat-erat dari balik selimut. Aria menutup matanya dan membukanya kembali, mencium aroma unik yang melekat di hidungnya.


Aria meletakkan kepalanya di dada Kanva dan mendengarkan detak jantung zkanvs berirama sangat teratur.


Setelah ia berbaring lama, ia melihat Kanva dan mencium dagu pria itu. Ia kemudian sedikit mendongak lagi untuk mencium pipi, bibir dan dahinya berulang sampai Kanva terbangun.


“Ayo tidur sebentar, ini masih pagi.” Suara Kanva terdengar serak.


“Aku tidak bisa tidur lagi.”


Kanva tersenyum meskipun matanya masih tertutup. “Apakah kamu takut, kamu tidak akan bisa melihatku ketika kamu bangun nanti dan kamu ingin melihatku lebih lama?”


“Tentu saja tidak!”


Kanva langsung membuka matanya dan memeluk Aria lebih erat lagi. “Tapi itu terjadi padaku. Aku takut besok tidak bisa melihatmu.”


Kanva kemudian mencium kening Aria dengan penuh kasih sayang sementara Aria menutup matanya menikmati momen itu. Beberapa detik kemudian Kanva langsung berada di atas Aria.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Aria kebingungan.


“Bagaimana menurutmu?”


“Aku tidak tahu,” ucap Aria.


Kanva langsung tersenyum dan menunjukkan lesung pipinya. Aria langsung menusuk lesung itu dnegan jarinya.


“Berhenti tersenyum.”


“Apakah aku terlihat jelek saat aku tersenyum?”


“Tidak. Justru kamu terlihat sangat tampan berkali-kali lipat saat kamu kamu tersenyum. Aku takut, tidak sanggup meninggalkanmu.”


Kamva semakin tersenyum lebar. “Jangan bangun dulu.”


“Aku harus bekerja demi dirimu. Aku sangat berharap kamu segera mendapatkan kembali ingatanmu.”


“Aku akan mencoba untuk mengingat semuanya, sayang.”

__ADS_1


__ADS_2