
Ketika Aria membuka pintu kamarnya, di waktu yang bersamaan. Di sana ada seorang pelayan ingin mengetuk pintu karena tangannya sudah bersiap ingin untuk mengetuk.
Aria dan pelayan tersebut sama-sama terkejut.
“Maaf mengganggu Nyonya Muda tapi ada tamu yang sudah menunggu anda.”
“Dimana dia? Aku akan ke bawah,” ucap Aria.
Ketika Aria ingin berjalan, tangannya sudah ditahan terlebih dahulu oleh Kanva.
“Siapa?” Tanya Kanva penasaran.
“Hanya teman,” ucap Aria kemudian berjalan menuju ruang tamu.
“Teman?” Karena penasaran Kanva memutuskan untuk ikut Aria ke bawah.
Kanva berjalan melingkari satu tangannya di pinggang Aria. Ia menoleh dan mendapati Kanva tersenyum miring.
Tidak lama kemudian mereka sampai ke ruang tamu. Wajah Kanva menjadi berubah ketika melihat tamunya, Kanva menatap tajam sosok yang duduk di ruangan itu.
“Aria!”
“Darel,” ucap Aria, sambil melepaskan tangan Kanva yang berada di pinggangnya tapi Kanva tidak melepaskannya.
“Untuk apa kamu di sini?” tanya Kanva dingin.
Aria langsung mencubit pinggang Kanva sebagai protes karena sikap Kanva.
“Aria lah yang menyuruhku datang ke sini.”
Kanva langsung menoleh ke arah Aria lalu menghela napas.
“Kanva, tolong tinggalkan aku dengan Darel.”
“Tidak mau,” ucap Kanva.
“Bukankah kamu masih banyak pekerjaan?” tanya Aria membuat Kanva mengerutkan dahinya.
“Kamu mengusirku Nyonya Muda Killian?”
“Bukan begitu maksudku?”
“Terserah,” ucap Kanva kemudian ia bangun dari kursinya dan meninggalkan Aria dan Darel.
“Kalian sedang bertengkar?” tanya Darel.
“Setiap hari, kami seperti itu jadi jangan heran. Jadi apa yang ingin kamu bicarakan padaku?”
Darel melihat mata Aria dengan dalam. Ia menelan ludahnya sendiri sebelum berbicara. Ia tampak menoleh ke sekitar untuk melihat bahwa tidak ada orang selain mereka.
“Apakah kamu sudah minum pil itu?” tanya Darel.
“Pil apa?” Aria bertanya dengan bingung karena ia tidak merasa sakit.
“Maksudku pil pencegah kehamilan.”
Aria merasa seolah-olah disambar petir di siang bolong. Aria mengedipkan mata beberapa kali karena tercengang dan bingung.
“Darel...kamu salah—“
“Aku minta maaf karena bertindak terlalu jauh semalam.”
Lalu terbesit kejadian semalam. Darel pasti sudah salah paham.
__ADS_1
“Darel, tidak terjadi apa-apa di antara kita. Kamu pasti salah ingat.”
‘Kamu melakukannya sendiri. Apa hubungannya denganku?’
“Aku tahu kamu tidak mengakuinya.”
“Darel, kita benar-benar—“
“Aria, kamu tidak harus menyangkalnya.”
“Darel, aku rasa kamu tidak hanya mabuk. Tingkahmu aneh semalam sepertinya ada yang—“
“Semuanya sudah terjadi jadi—“
“Darel kamu salah paham.”
Darel dipenuhi dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan saat melihat Aria terus menyangkalnya. Ada rasa sedih di sana.
Ingatannya tentang kejadian semalam tidak jelas. Darel tidak bisa mengingatnya secara rinci tapi yang bisa ia ingat adalah ia sudah melakukannya dengan Aria.
Sejujurnya Darel sangat senang namun ia sangat sedih saat Aria terus menyangkal.
“Aria, aku—“
Di pintu ada Kanva yang baru saja masuk. Tatapannya begitu tajam ke arah Darel dan tatapannya semakin menakutkan ketika melihat tangan Darel yang dengan kurang ajarnya bertengger di tangan Aria.
Darel menghela napas.
“Aku sangat ingin tetap di sini tapi aku ada janji,” ucap Darel sambil berdiri.
“Tidak apa.”
“Aku akan selalu berada di sisimu bagaimanapun juga,” bisik Darel sambil menyentuh puncak kepala Aria.
Ketika Darel sudah pergi dari kamarnya, ruangan sangat hening. Kanva mendekati Aria.
Kanva hanya melihatnya dengan tatapan tajam tanpa sepatah kata pun. Melihat Kanva yang enggan dengannya. Aria langsung melewati Kanva. Kanva sudah lebih dulu menahan tangannya terlebih dulu.
“Kamu tidak boleh bertemu dengan Darel, kamu tidak boleh bertemu dengan pria lain,” ucap Kanva dengan nada rendah.
Kemudian ia menarik pinggang Aria lalu menatap Aria dengan intens.
.........
“Arsel.”
Kanva mendongak dan sedikit terkejut melihat Merlisa.
“Merlisa, bagaimana bisa kamu datang ke sini?”
“Aku menyelinap masuk saat para penjaga lengah. Jadi bagaimana, jika aku sudah datang dan masuk ke sini? Hari ini adalah ulang tahunku. Kamu tidak akan mengusirku kan?” tanya Merlisa dengan senyum yang merekah.
“Ini hari ulang tahunmu? Selamat ulang tahun.”
“Terima kasih. Arsel, apakah kamu punya waktu untuk menemaniku makan malam?”
“Aku sangat sibuk.”
“Hanya makan malam,” ucap Merlisa dengan sedih.
“Lain kali saja. Aku harus pergi ke kantor sekarang,” ucap Kanva saat ia bangkit dari duduknya.
Merlisa bukanlah orang bodoh. Ia tahu bahwa Kanva menjaga jarak dengannya. Ia menatap punggung Kanva yang perlahan pergi dari pandangannya.
__ADS_1
Merlisa menatap foto-foto yang dipajang di dinding. Lalu ia menyadari tidak ada orang lain selain dia di ruang tamu. Jadi ia merasakan dorongan untuk naik ke atas.
“Nona Merlisa. Anda tidak diizinkan naik ke atas,” ucap Bibi Ine.
Merlisa berbalik dan tersenyum masam. “Aku hanya ingin melihat ke atas. Apakah tidak boleh?”
“Tidak boleh.”
“Bagaimana kalau kamu ikut denganku?”
“Itu juga tidak boleh. Nyonya Muda memerintahkanmu untuk menjauh dari rumah utama. Bukankah kamu sudah kembali ke rumahmu. Ini bukan rumahmu sendiri, bagaimana bisa kamu berkeliaran dengan bebas tanpa batasan?”
Merlisa langsung manyun.
“Aku ingin melihat tempat tinggalku dulu.”
“Tapi—“
“Apakah aku juga tidak boleh?”
“Baik.”
Sudah 2 minggu lamanya, Darel semakin sering mengunjunginya. Sekarang Aria mengobrol dengan Darel di taman samping rumah Aria.
“Apakah kamu meminum pilnya?”
Aria terdiam, Darel masih saja salah paham dengannya.
“Malam itu, tidak ada yang terjadi di antara kita. Karena tidak ada yang terjadi, aku tidak perlu minum pil.”
“Tidakkah kamu tahu jika kita melakukannya?”
“Malam itu kamu kehilangan akalmu karena alkohol dan serbuk laknat itu.”
“Bagaimana jika kamu benar-benar hamil?”
“Aku akan senang tapi aku pastikan bayiku adalah darah daging suamiku.”
Darel mengepalkan tangannya.
“Lihatlah, pipimu semakin chubby.”
Tiba-tiba Aria merasa Darel menyentuh tangannya, Aria menoleh dengan tatapan bingung. Sedangkan Darel menatapnya dengan serius.
“Baiklah, aku akan bertanggung jawab atas kehamilanmu nanti.”
“Astaga, Darel!”
Sepeninggal Darel, Aria benar-benar sakit kepala. Bagaimana pria secerdas Darel bisa berpikir sesempit itu.
Malamnya, Kanva juga belum pulang. Aria menatap keluar jendela kamarnya.
Di tempat lain, Kanva mencoba fokus dengan apa yang dibicarakan oleh sekretarisnya tapi ia tidak bisa. Sudah hampir 2 minggu hubungan Kanva kurang harmonis karena sosok Darel dan juga pekerjaannya.
Kanva memang sangat sibuk. Tapi ia tidak bisa menolak kenyataan kalau ia sangat merindukan Aria. Matanya, bibirnya, suaranya, aromanya dan semuanya.
“Jadi bagaimana menurut anda?”
“Kita bicarakan besok saja,” ucap Kanva kemudian ua langsung meninggalkan ruangannya menuju lift. Ketika ia sudah sampai basement, ia langsung menuju mobilnya.
Tidak lama kemudian ia sampai di rumahnya. Tentu saja Kanva langsung menuju ke tempat tidurnya. Begitu melihat Aria yang terbaring di sana.
Kanva langsung menciumnya. Mereka melewatkan malam yang penuh panas.
__ADS_1
“Argh.”
Kanva jatuh di atas tubuh Aria. Panas dan basah, napasnya berat dan cepat, irama jantungnya berkejaran ketika ia selesai meninggalkan sesuatu dalam tubuh Aria.