Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
32. Selama aku bisa bersamanya, aku akan melakukan apa saja


__ADS_3

Rupanya Kanva mengalami gangguan psikis karena memang tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Hanya saja mentalnya yang bermasalah. Semakin hari kondisi Kanva semakin parah, tidak hanya insomnia tapi juga gangguan kecemasan dan juga sakit kepala hebat atau sakit jantung yang tiba-tiba. Ini terjadi karena adanya kejadian yang melibatkan trauma emosi. Ini merupakan gejala depresi awal.


“Tuan Muda, melupakan Nyonya Aria merupakan cara terbaik untuk memperbaiki kondisimu. Tuan Muda harus ikhlas.”


“Aku sudah melupakannya,” kata Kanva dengan mata terpejam. “Kenapa aku harus mengingat wanita yang sudah menghianatiku? Ada banyak wanita yang mengantri di depanku.”


Kanva lalu memandang ke luar jendela untuk melihat bahwa lalu lintas sangat padat. Banyak kendaraan yang melintas dan tak jarang ada pejalan kaki juga.


Pikiran Kanva melayang tidak membawa raganya. Kebahagiaan yang ia pikir akan bertahan selamanya perlahan menghilang. Pikirannya tentang bagaimana ia sangat mencintai Aria, kini berubah menjadi nestapa lara.


Air kata mulai mengalir di mata Kanva. Ia merasa seolah benda tajam mengoyak jantungnya. Tidak ada yang mengerti tentang persaannya.


Malam harinya, Kanva kembali tidak bisa tidur. Ia mengeluarkan obat tidurnya setelah itu, ia berbaring di ranjang dan menutup matanya dengan erat. Kepalanya terasa pusing dan berat. Sepertinya ribuan beton telah menenggelamkannya.


Lalu ia bermimpi aneh, seolah ia benar-benar tenggelam dalam lautan lepas namun ada sosok yang muncul mencoba menolongnya. Orang itu adalah Aria. Ia ingin mengatakan sesuatu namun ia tidak bisa bicara karena lehernya seolah dirantai.


Ia ingin sekali meraih Aria namun semakin ia ingin menjangkau semakin Aria menjauh. Ia segera membuka matanya, dan napasnya langsung memburu. Ia memindai di sekelilingnya. Merasa itu Hanya mimpi, Kanva langsung meraih segelas air di atas nakas dan langsung meminumnya hingga tandas.


...…...


Aria dan Yiren saat ini sedang berada di kafe. Mereka menikmati waktu luang dengan saling bertukar cerita. Cerita diawali dengan cerita yang ringan. Lalu merembet dengan pernikahan Yiren dan Aslan.


“Aku tidak tahu, kamu mengenal Aslan.”


“Ya, itulah jodoh. Kita tidak tahu.”


“Tapi, kamu akan datang kan ke acara pernikahanku.”


“Tentu saja, aku harus datang. Aku datang dengan putraku,” ucap Aria sambil mengelus perutnya yang tidak rata.


Yiren tersenyum. “Aria, kamu sangat mencintai Kanva. Bagaimana bisa kamu menceraikannya begitu saja?”


“Dia yang memintanya. Aku bisa apa? Dulu aku berpikir bahwa hubungan kami cukup kuat untuk mengatasi semua masalah yang akan kami hadapi. Ternyata aku salah. Dia tidak percaya padaku, tidak ada gunanya juga memaksanya.”


“Apakah kamu menyesal?”


Aria langsung menggeleng. “Aku bisa terus hidup dengan baik bahkan tanpa dia. Sekarang aku mempunyai bayiku, aku tidak takut apa pun.”


Yiren langsung memegang tangan Aria untuk memberinya semangat. “Aria, kamu sangat hebat.”


Tetesan air mata masih keluar dari pelupuk mata Aria. Aria langsung menyeka air matanya dan menatap Yiren dengan senyuman.


“Aidan sangat menyukaimu tapi dia sudah gagal memenangkan hatimu.”

__ADS_1


“Yak, jangan membawa dia.”


Tak berselang lama, rupanya pintu kafe terbuka dan menampilkan sosok Kanva dan Aslan. Mereka duduk di tempat yang kosong. Saat Kanva sudah memesan makananan, matanya melihat Aria tanpa sengaja. Ia terlihat baik-baik saja. Wanita itu masih bisa tersenyum.


Tanpa sengaja Aria juga melihat Kanva namun ia segera mengalihkan perhatiannya dan menatap Yiren.


“Calon suamimu ada di sini.”


“Dimana?”


“Di sana.”


Yiren melihat ke arah tatapan Aria hanya untuk menemukan bahwa Aslan ada di sana bersama Kanva.


“Kamu baik-baik saja?”


“Tentu saja.”


Lalu tiba-tiba ponsel Aria berbunyi.


“Aku harus pergi.”


“Sekarang?”


“Baiklah, hati-hati untuk berkendara.”


Aria langsung bangkit dan berjalan keluar. Ia menuju ke mobilnya. Setelah masuk ke dalam mobilnya, ia kembali melihat ponselnya. Itu adalah alarm yang ia buat sebelumnya. Ia harus pergi dari kota ini. Meninggalkan semua kenangan indahnya.


Air kata tanpa sengaja keluar. Perasaannya campur aduk begitu melihat Kanva. Aria berusaha menahan air matanya ya namun semakin ia tahan semakin deras.


Begitu Aria pergi, Yiren langsung mendatangi Aslan dan juga Kanva.


“Dimana Aria?”


“Dia sudah pergi karena ada urusan.”


“Apakah ini sudah direncankan?” Tanya Kanva.


“Tidak, aku bahkan tidak tahu kalian ada di sini tadinya.”


“Aku sengaja mengajakmu ke sini karena sebelumnya aku mendengar Yiren akan bertemu dnegan Aria di sini. Kamu masih belum memberitahu jamu apa yang terjadi sebenarnya di antara kalian. Meskipun ini masalah pribadimu, tapi apa salahnya bercerita? Kita semua peduli padamu.”


“Tidak ada yang bisa aku katakan. Aku tidak ingin membicarakannya. Sia sudah kehilangan tempatnya di hatiku.”

__ADS_1


“Aku pikir kamu salah dengan Aria. Apakah kamu lupa, ketika kamu hilang dan amnesia. Ia mengambil semua tanggung jawab perusahaan atas namamu dan juga berusaha mencarimu. Aku yakin kalian hanya salah paham. Jika dia tidak setia padamu, pasti dia memiliki hubungan yang spesial dengan Aidan. Tapi Aria hanya mencintaimu.”


Aslan langsung memegang tangan Yiren, menginstruksikan untuk berhenti bicara, tidak menyudutkan Kanva.


“Kamu sudah memutuskan. Kami hanya bisa berharap yang terbaik untuk kalian,” ucap Aslan.


Keheningan langsung memenuhi udara. Lalu Kanva berpamitan untuk pulang.


Begitu ia tiba di rumahnya. Ia memastikan untuk mandi. Saat air mengguyur seluruh tubuhnya. Bayangan Aria saat tersenyum di kafe terputar begitu saja.


Kanva buru-buru memanggil Franz, ia ingin mengkonfirmasi sesuatu. Kanva menyuruhnya untuk memanggil dokter psikologisnya.


Begitu dokter datang Kanva langsung melemparkan pertanyaan tentang seputar obat afrodisiak dan pengaruhnya. Tak hanya dokter, Kanva juga menemui Darel. Kanva memaksa Darel untuk mengungkapkan yang terjadi malam itu. Sampai pada akhirnya Kanva mendapatkan kesimpulan.


“Tuan muda, bagaimana sekarang?” Tanya Franz begitu Kanva sudah masuk ke dalam mobilnya.


“Kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya? Aku terlalu keras kepala dengan pikiranku sendiri.” Kanva terdengar menyesal dan sedih.


“Tuan Muda ini belum terlambat. Tuan Muda bisa menemuinya dan meminta maaf.”


“Ini salahku karena tidak percaya dengannya.”


“Ini bukan salah Tuan Muda. Ketikan Tuan Muda melihat kamera cctv, saya tahu perasaan Tun Muda. Rasanya pasti sangat hancur.”


“Cari tahu keberadaannya sekarang. Aku akan menemuinya besok.”


Namun rupanya sudah terlambat. Aria sudah pergi dari jangkauannya. Aria meninggalkan kota itu dan sama sekali tidak meninggalkan jejak sama sekali.


...…....


Empat tahun kemudian….


Aria sedang menggendong seorang anak kecil yang sangat tampan. Ia baru saja keluar dari bandara. Rencananya ia ingin pulang ke rumahnya sekaligus mengenalkan anaknya pada ibunya. Sudah ada seseorang yang sedang menunggunya.


“Nona, bagaimana perjalananmu?”


“Sangat menyenangkan.”


“Nona, apakah dia adalah Tuan kecil?”


“Tentu saja. Sion, ucapkan salam pada paman Wawan.”


“Selamat sore, paman.”

__ADS_1


__ADS_2