
Aria terlalu fokus pada layar laptopnya sehingga tak sadar bahwa seseorang tengah masuk ke dalam kamarnya.
Aria mencoba mengangkat kepalanya begitu ia merasakan seseorang tengah mengawasinya dan ternyata Kanva sedang masuk ke kamarnya dan sedang mengawasinya.
“Ada apa?” Tanya Aria.
“Aku akan tidur di sini malam ini,” ucap Kanva. “Aku akan mandi.”
Kanva berbalik dan berjalan menuju kamar mandi. Aria menatap sosoknya dari belakang sebelum mengalihkan pandangannya pada layar laptopnya.
Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.
Kanva keluar dari kamar mandi dan mendapatkan Aria tidak berada di tempatnya. Berpikir bahwa Aria telah keluar, Kanva memutuskan untuk berbaring di tempat tidur dengan jubah mandinya.
Saat pintu tiba-tiba terbuka, Kanva langsung berpura-pura tidur. Ia bisa merasakan Aria mengangkat selimutnya dan berbaring di sampingnya. Aria memegang lengannya dan melingkarkan tangannya di pinggangnya.
Apakah dia tidak tahu bahwa aku sedang berperang dengan hormonku?
“Aku tahu kamu belum tidur,” ucap Aria.
Aria langsung duduk di perut Kanva. Pria itu langsung terbelalak atas tindakan Aria.
“Apakah kamu akan tetap berpura-pura tidur?” Tanya Aria karena Kanva yang terus berpura-pura tidur. Maka dari itu, Aria menggoda Kanva dengan diam-diam membuka jubah mandi yang dipakai Kanva.
Kanva langsung membuka matanya dengan sempurna. “Apa yang kamu lakukan? Bisakah kamu turun dariku?”
Aria melakukan apa yang diperintahkan. Ia lantas turun dari tubuh Kanva, berganti posisi duduk dan kembali mengambil laptopnya dari nakas.
“Temani aku lembur malam ini,” ucap Aria.
Aria membuka laptop dan bersandar di sandaran kepala ranjang sambil membuka dokumen terakhir yang ia buka tadi.
Kanva memperhatikan Aria yang terlihat serius dan itu justru membuat hormonnya naik dan tidak bisa dibendung.
Kanva lantas mengulurkan tangan untuk mematikan lampu. Aria yang ingin protes tak bisa berkutik ketika laptopnya kini sudah tidak ada lagi di pangkuannya.
Kanva langsung mencuri satu ciuman yang panjang dan panas. Sementara tangan Kanva sibuk berkelana. Dalam satu gerakan mereka sudah tanpa sehelai benang.
Aria melenguh, merintih ketika Kanva menggodanya.
“Aku tidak akan bersikap lembut,” ucap Kanva serak.
Aria bernapas cepat, masih berusaha mengendalikan gairahnya begitu melihat mata Kanva yang berkilat-kilat.
Senyum seksi muncul di wajah tampannya dan membuat jantung Aria yang tengah memburu menjadi semakin tidak beraturan.
Mata Aria melebar dan mulutnya membuka begitu merasakan satu dorongan bertenaga Kanva menenggelamkan seluruh dirinya dan mengoyak selaput daranya.
__ADS_1
Aria menegang, tubuhnya terasa melenting ketika Kanva melesak kuat ke dalam dirinya.
Aria merasakan Kanva begitu besar dan panjang. Di antara rasa ngeri dan ngilu ada percik kembang api yang mulai meledak indah di ujung sarafnya.
Malam itu adalah malam milik mereka berdua. Mereka terus melanjutkan berkali-kali meskipun semburan panas yang kencang sudah menghunjami diri Aria.
Mereka melakukannya tanpa henti. Dari tempat tidur, balkon, sofa sampai kamar mandi. Jejak dan tanda cinta mereka tertinggal di setiap sudut. Bahkan aroma cinta mereka kuat di sana.
Aria berusaha keras untuk menyenangkan Kanva. Pada jam satu pagi, akhirnya mereka berhenti. Pasangan suami istri itu, akhirnya kelelahan dan meringkuk dalam pelukan satu sama lain.
Kanva masih terjaga ketika Aria sudah tertidur.
“Kamu memang istriku. Selamat malam, sayang.”
......
...
Tepat pukul delapan pagi, Aria terbangun. Ia melihat ke sampingnya ranjangnya, rupanya Kanva masih terlelap di sana.
Aria tersenyum manis. Ia membungkuk sambil menyelipkan anak rambut yang berjatuhan di wajah ke telinganya sambil mencium kening Kanva dengan lembut sebelum mengambil bajunya yang berserakan dan segera mandi.
Setelah mandi dan berganti pakaian. Aria menyibak tirai yang menutupi jendela kamar.
“Apakah kamu tidak bangun?” tanya Aria saat melihat Kanva mengernyitkan keningnya.
Aria mencondongkan tubuh ke depan dan berbisik ke telinganya, “Kamu sangat luar biasa tadi malam.”
Sungguh perasaan yang luar biasa untuk menerima pujian dari seorang wanita.
“Aku akan turun dulu. Cepat mandi dan turun untuk sarapan,” ujar Aria.
“Tetaplah di sini, sebentar saja...”
Aria terdiam lalu mencium pipi Kanva.
Kanva menatapnya dengan tatapan bahagia di matanya. Tangan kekarnya menarik Aria, membuat tubuh mungil Aria jatuh dengan sempurna ke dalam pelukan Kanva, merengkuh tubuh mungil istrinya dari belakang.
“Setelah sarapan, ayo pergi ke rumah sakit.”
“Baiklah.”
Kanva pun melepaskan pelukan Aria. Wanita itu lantas keluar dari kamarnya. Dengan semangat tinggi, Aria menuju ke ruang makan dan menunggu Kanva untuk sarapan.
Setelah sarapan, pasangan suami istri pergi ke rumah sakit. Mereka ke rumah sakit untuk memeriksakan cedera kepala yang dialami Kanva.
Setelah melihat hasil ct-scan, dokter mengatakan, “Masih ada beberapa gumpalan darah di kepala Tuan Kanva. Pemulihan membutuhkan proses yang akan membutuhkan waktu. Nyonya Aria, saya sarankan untuk membawa Tuan Kanva ke tempat-tempat yang dulu ia kenal atau penting baginya. Itu akan membantunya mendapatkan kembali ingatannya.”
__ADS_1
“Baiklah.”
“Aku akan meresepkannya dengan beberapa obat untuk menghilangkan gumpalan darah serta obat-obatan lainnya. Tapi aku sarankan jangan meminumnya secara bersamaan.”
“Baik.”
Setalah menebus obat, mereka pergi menuju ke perusahaan Killian Group. Begitu mereka turun, petugas keamanan di pintu masuk membelalakkan mata mereka terkejut sementara manajer yang kebetulan ada di sana berteriak, “Presdir Kanva ada di sini!!!”
Semua orang langsung berbisik-bisik dan berkerumun membicarakan Aria dan kembalinya Kanva.
“Apa yang terjadi?”
“Presdir Kanva sudah kembali.”
“Presdir Kanva kembali? Bukankah mereka mengatakan bahwa Presdir hilang.”
“Apakah matamu buta? Dia jelas sudah kembali.”
“Lalu siapa yang akan memegang perusahaan sekarang, presdir Kanva atau presdir Aria?”
Begitu Aria dan Kanva memasuki kerumunan mereka langsung menyapa dan Aria juga mengatakan beberapa kata.
“Seperti yang kalian lihat, Presdir kalian masih hidup dan sehat namun masih perlu waktu untuk memulihkan diri. Silakan kembali bekerja.”
Aria dan Kanva lantas memasuki lift khusus dan segera menekan tombol panel.
“Untuk sementara ini, aku akan menangani perusahaan. Aku akan menyerahkan tugas kembali padamu saat kamu mendapatkan kembali ingatanmu.”
Begitu lift terbuka, Aria langsung memegang tangan Kanva. Begitu mereka keluar, mereka bertemu dengan sekretaris.
“Astaga! Pres...Presdir apakah ini benar-benar anda?”
“Tentu saja, apakah kamu pikir aku hantu.” Kanva menjawab tanpa ragu.
“Sangat luar biasa melihat anda. Saya sangat merindukanmu.” Sekretaris itu ingin berpelukan dengan Kanva namun Kanva segera memeluk Aria.
“Apa yang kamu lakukan?” Kanva menegur dengan tatapan jijik saat ia mendorong tubuh sekretaris pergi.
“Presdir Aria sudah menangani masalah perusahaan ketika anda tidak ada. Sangat sulit untuk Nyonya bahkan Nyonya harus tinggal di kantor dan kehilangan berat badannya.”
Kanva menunduk untuk melihat Aria.
“Pasti sulit untukmu.”
“Lumayan.”
Mereka kemudian memasuki kantor bersama. Setelah menutup pintu, Aria bertanya, “Di sinilah kamu bekerja. Apakah kamu merasa akrab dengan semua ini?”
__ADS_1
Kanva mengamati sekelilingnya dengan hati-hati.