
Wijaya berdiri di kantornya menghadap ke luar jendela. Pemandangan menampilkan kota yang begitu banyak mobil yang berlalu lalang. Kota itu terlihat sibuk seperti pikirannya sekarang. Begitu sibuk dan mencemaskan sesuatu.
Pria yang tak lagi muda itu, menyesap kopinya yang sudah dingin. Ia enggan untuk pergi meninggalkan kantornya. Tempat duduk singgasananya.
...…....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Kanva mengunjungi kediaman orang tuanya tanpa ditemani Aria. Kanva berjalan dengan tenang.
“Kanva.”
Kanva langsung menoleh dan menatap tajam ke arah orang yang baru saja memanggilnya. Dia adalah Wijaya, paman Kanva. Pria itu tersenyum saat melihat Kanva.
“Tumben sekali kamu datang ke rumah ini. Apa kamu dipanggil ayahmu?”
“Tidak. Hanya ingin mampir.”
“Kamu tidak mengangkat telepon paman kemarin. Paman berpikir, kamu sibuk. Dasar kamu! Sudah bertemu dengan ayahmu? Ayo kita makan bersama.”
“Aku juga berniat makan malam di sini.”
“Baiklah, namun kenapa wajahmu terlihat pucat? Apakah kamu sakit? Jika tidak enak badan katakan pada paman. Paman telah lama menjaga ayahmu, jadi alasan hampir mirip seperti dokter,” ucap Wijaya mendekati Kanva.
Kanva langsung menatap Wijaya, tangannya terkepal kuat.
“Kenapa masih di sini?” Tanya Nyonya Killian yang baru saja datang.
“Ada Kanva, di sini. Aku sedang mengajaknya makan malam.”
“Kanva, putraku ada di sini. Dimana Aria?” Tanya Nyonya Killian dengan raut wajah senang. Karena sangat jerang sekali, Kanva berkunjung.
“Tidak ada kah yang paman ingin katakan padaku?” Tanya Kanva. Wajah Wajah Wijaya langsung tegang.
“Soal perusahaan?” Tanya Nyonya Killian.
“Tentu saja tidak.”
Kanva melihat ke arah Wijaya namun pria itu diam. Kanva yang jengkel langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Di tengah jalannya ia berhenti.
“Aria akan segera datang,” ucap Kanva dan melanjutkan jalannya.
Sementara itu, Aria baru saja tiba. Aria keluar dari mobil melihat pintu utamanya di depan pintu terdapat air mancur. Dan di situ ada seorang pelayan di depan pintu seperti menunggunya.
“Nyonya Muda Killian.”
“Ya.”
“Mari ikuti saya,” ucap pelayan itu.
Aria mengikuti pelayan tersebut.
“Dimana Kanva?” Tanya Aria penasaran.
“Tuan Muda Killian ada di dalam,” ucap Pelayan itu lalu ia mengetuk pintu besar itu kemudian membukakan pintu untuk Aria dan memberikan jalan agar Aria bisa masuk.
Aria masuk ke dalam dan ia disambut oleh banyak orang yang sedang makan malam di meja yang begitu besar dan panjang. Dan sekarang ia menjadi pusat perhatian. Aria melihat Kanva sudah duduk di sana.
__ADS_1
Mata akan a membulat lebar. Kanva tersenyum ketika melihat Aria sudah datang. Pria tu berdiri dari bangku lalu berjalan mendekati Aria yang masih mematung di tempat berdiri. Lalu kemudian Kanva melingkarkan tangannya ke pinggang Aria dan mengajaknya untuk duduk.
“Aria, kamu sudah datang. Ibu sangat merindukanmu. Kamu jarang datang ke sini,” ucap Nyonya Killian begitu Aria sudah duduk. Aria duduka diantara Kanva dan juga Nyonya Killian.
“Maaf karena Aria jarang main ke sini. Salahkan putramu karena tidak memberikanku, izin.”
“Apa? Bahkan Kanva tidak memberikanmu izin untuk main ke rumah ibu mertuanya sendiri.”
“Bu, aku hanya tidak ingin Aria terluka.”
“Bagaimana bisa ia terluka? Apakah di rumah ibu ada bom waktu yang siap meledak?”
Kanva lantas menatap pamannya dengan serius. “Bisa jadi.” Entah kenapa ruang makan menjadi hening.
“Kakak, kamu sangat cantik.” Raean tersenyum begitu memuji kecantikan Aria sekaligus mencairkan suasana.
“Terima kasih.”
Kanva langsung menatap tajam ke arah Raean.
“Ibu, dimana Ayah?” Tanya Aria.
“Dengan kondisinya yang seperti itu, dimana lagi jika tidak di kamarnya.”
“Bagaimana kondisi ayah?”
“Masih sama tidak ada perubahan.”
Makan malam berjalan dengan sangat hangat. Aria bahkan ikut dalam obrolan mereka.
“Tidak ada, aku hanya menghabiskan waktu dengan membaca buku.”
“Kamu sangat cantik. Apakah kamu tidak tertarik menjadi model?” Tanya Emi semangat. Aria terdiam sebentar, ia tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang model.
“Entahlah,” ucap Aria.
“Kalau kami tertarik menjadi model, bibi bisa memperkenalkanmu pada teman bibi,” ucap Emi sangat senang.
“Dia tidak akan menjadi model atau apapun. Dia lebih cocok menjadi istri di dalam rumah dan menghabiskan uangku.”
Aria hanya tersenyum kecil. Ketika Aria menoleh, ia mendapati Kanva sedang menatapnya secara terang-terangan.
Setelah makan malam, semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Mereka semua mengobrol satu sama lain.
“Mau pulang?” Tanya Kanva ke Aria, sebelum Aria sempat menjawab Nyonya Killian sudah menyelak terlebih dahulu.
“Kenapa terburu-buru?” Tanya Nyonya Killian.
“Ini sudah larut makam,” ucap Kanva.
“Bagaimana kalau kalian menginap di sini malam ini? Aku masih ingin berbicara dengan menantu Ibu,” ucap Nyonya Killian memohon. Aria juga langsung menoleh ke arah Kanva dengan mata memohon. Kanva menyerah, ia tidak bisa menolaknya.
“Baiklah, hanya untuk malam ini,” ucap Kanva, Nyonya Killian langsung senang.
...…...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Kanva dan Aria sudah berada di kamar. Aria mengganti bajunya di dalam kamar mandi. Aria dengan mudah meloloskan bajunya namun belum sempat ia memakai baju tidurnya. Aria melihat pantulan di cermin, Kanva sedang berdiri di pintu kamar mandi.
“Kenapa kamu bisa masuk?” Tanya Aria.
“Kamu tidak mengunci pintunya.”
Kanva tersenyum kecil dan langsung menggendong Aria lalu ia bawa Aria ke kasur king Size. Kanva membuka jasnya lalu menarik dasi yang ia kenakan sambil menatap Aria. Ketika Aria ingin berbicara, Kanva langsung mencium bibirnya.
Sejak kedatangan Aria tadi, Kanva ingin sekali menciumnya namun ia tahan karena banyak keluarganya di situ.
Ketika mereka melepaskan ciumannya, Kanva menatap mata Aria.
“Aku menginginkanmu,” bisik Kanva dengan suaranya yang serak.
“Tapi ini berada di rumahmu.”
“Lalu kenapa?”
“Bagaimana jika nanti—“
“Tidak ada yang akan menganggu.”
Kanva langsung menciumnya lagi tanpa memberi kesempatan untuk bernapas. Malam itu suasana sangat panas.
...…....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kanva terbangun karena rasa haus yang menderanya. Tidurnya benar-benar nyenyak. Kanva mencoba menoleh namun di sampingnya tidak ada siapa-siapa. Ia melihat jam yang ada di nakasnya. Masih jam empat pagi.
Kanva buru-buru terbangun untuk mencari Aria. Saat ia berada di lorong tanpa sengaja ia berpapasan dengan pamannya. Kanva mengerutkan kedua alisnya.
“Kanva.”
“Rupanya paman masih di sini. Aku ingin berbicara dengan paman.”
Kanva sedikit mengerutkan alisnya saat pamannya baru saja keluar dari kamar ayahnya.
“Apa alasannya? Aku tetap tidak tahu meski sudah kupikirkan. Apa alasanmu ingin membunuhku dan Aria?”
“Entah kamu akan percaya atau tidak tapi paman tak berniat membunuhmu. Itu kesalahan. Paman tidak tahu kamu ada di mobil itu hari itu.”
“Lantas, paman berniat untuk membunuh Aria? Kenapa?”
Aria yang tidak sengaja berjalan hendak kembali ke kamarnya tiba-tiba menyadari ada seseroang yang sedang membicarakan namanya langsung berhenti di tempatnya dan mencoba untuk bersembunyi untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
“Paman gila waktu itu.”
“Apa maksud paman? Jelaskan apa maksud paman?”
“Paman sangat benci, Aria berada dekat di sampingmu dan ayahmu. Paman juga benci ayahmu. Paman tak sanggup melihat Aria mendapatkan yang tidak seharusnya ia dapat. Namun paman tidak berniat membunuhmu, Kanva. Percayalah. Itu hanya kesalahan. Sebuah kecelakaan semata.”
“Jadi itu alasan paman menentang keras atas jabatan Aria sebagai Presdir sementara kemarin.”
“Dia memang tidak berada di posisi itu.”
“Serahkan diri paman ke polisi atas kecelakaan tahun lalu. Tidak ada banyak waktu. Jika paman tidak segera menyerahkan diri, aku akan bertindak.”
__ADS_1