Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
9. Rahasia Tentang Masa Lalu


__ADS_3

“Di sini?” Tanya Kanva.


Karena ini adalah kota halaman Aria jadi ia memutuskan untuk mengantar ke rumah Aria karena memang rapat dengan klien diadakan besok.


“Nona Aria ini rumahmu?” Tanya Mario begitu takjub.


“Ya.”


“Nona Aria, kamu rupanya orang kaya. Apakah kamu bekerja karena ingin menghabiskan waktumu?”


“Aku bekerja karena sedang mengejar seseorang?”


Mario langsung melirik ke arah Kanva. “Sepertinya aku mengetahui siapa orang itu?”


Begitu mobil berhenti. Aria langsung turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih.


“Kamu tidak menawarkan kami untuk mampir?”


“Pak manajer mau mampir?”


“Tidak!” Ucap Kanva ketus. “Aku akan langsung pergi ke hotel.”


“Dari pada menginap di hotel. Menginap lah di sini, biayanya lebih murah.”


“Nona Aria, kamu rupanya pandai berbisnis,” sindir Kanva.


“Selain itu, ada layanan khusus. Aku akan mengajak kalian keliling daerah sini, bagaimana?”


“Setuju,” ucap Mario begitu antusias.


Kanva yang mendengarnya langsung melotot ke arah Mario. Namun pada akhirnya mereka menginap di rumah Aria. Dan sesuai janji, Aria mengajak mereka untuk berkeliling. Aria mengajak mereka ke daerah pasar modern yang menyediakan jajanan jalan. Dulu, Aria dan Kanva sering pergi ke sana.


“Mau makan makanan manis?” Tanya Aria.


“Ma….”


“Tidak mau. Aku tidak suka makanan manis.”


“Coba saja, akan aku pastikan Pak manajer akan menyukainya.”


Aria langsung berjalan cepat supaya Kanva dan Mario mengikutinya. Aria berhenti di salah satu jajanan Korea yang disukai Kanva. Hotteok dan juga odeng.


“Coba lah,” ucap Aria sambil menyodorkan sebuah Hotteok yang masih hangat. Kanva awalnya ragu namun ia tidak ingin melewatkan kesempatan. Kapan lagi ia bisa disuapi oleh Aria.


Dan benar saja, Kanva langsung ketagihan. Tak hanya Hotteok, Kanva juga dengan lahap mencoba makanan Odeng.


“Kamu mengambil lagi?” Tanya Aria tidak percaya karena itu adalah Hotteok ke lima yang dimakan Kanva.


“Ini enak sekali.”


“Berapa semuanya?”


Penjual itu menyebutkan harganya dan Aria langsung membayar. Kanva yang melihatnya langsung protes.


“Biar aku saja yang bayar.”


“Tidak apa-apa. Karena ini adalah kampung halamanku jadi aku yang traktir.”

__ADS_1


“Boleh makan ini satu lagi?”


“Makanlah sepuasnya.”


“Nona Aria, aku juga.” Mario juga ingin menambah lagi.


“Silakan, ambil semaumu.”


Aria pun melihat-lihat sekitar. Kanva yang memperhatikan Aria, langsung sigap saat ada gerombolan pria yang lewat. Kanva langsung memegangi pinggang Aria dan menarik ke arahnya. Agar tidak terkena pria-pria itu. Kanva seperti ingin melindunginya.


Aria yang awalnya terkejut begitu melihat mata Kanva langsung tersenyum.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Kanva.


Aria mengangguk dan melanjutkan perjalanan mengelilingi pasar dan melihat penjual jagung bakar. Aria sangat ingin memakannya. Kanva yang mengerti langsung pergi ke penjual jagung bakar dan memesan satu untuk Aria.


“Pesan satu yang manis.”


Aria yang melihat Kanva membelikan untuknya langsung tersenyum. Begitu pula dengan Mario yang melihat dua sejoli itu.


Mereka tiba di rumah Aria saat menjelang malam. Aria langsung menunjukkan kamar tamu untuk Mario dan Kanva. Mereka mempunyai kamar secara terpisah.


Aria pergi ke kamar mandi sebelum ia pergi tidur, sementara Kanva sudah berbaring di balik selimutnya namun matanya belum bisa terpejam. Ia memikirkan Aria, Aria dan Aria.


Kanva selalu mengubah posisi tidur agar bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak namun bukan itu masalahnya. Dengan kasar, Kanva langsung menyibak selimutnya dan keluar dari kamarnya. Ia pergi ke lantai atas menuju kamar utama, di mana di sana adalah kamar Aria.


Sebuah ketukan yang tak ramah terdengar di sana. Aria yang masih sibuk mengeringkan rambutnya langsung mengerutkan keningnya.


“Siapa yang malam-malam mengetuk pintu?”


“Ku izinkan kamu mengajakku,” ucap Kanva dengan mantap.


Sementara Aria masih bingung dengan apa yang dimaksud Kanva. Otaknya masih belum bisa mencerna ucapan Kanva.


“Izinkan apa?”


“Berkencan,” ucap Kanva singkat.


“Kencan? Apakah kamu sudah mengingat semuanya?”


“Semuanya?”


Kini Kanva yang dibuat bingung oleh ucapan Aria. Melihat ekspresi Kanva, Aria mengerti bahwa Kanva masih belum mengingat semuanya. Ingatannya masih belum pulih.


Lutut Aria langsung lemas dan ia terduduk di lantai. Kanva yang melihatnya juga ikut terduduk di depan Aria.


“Bisa bicara sebentar?”


Kini mereka berada di dalam kamar Aria. Mereka duduk di sofa yang ada di sana. Duduk bersebelahan namun saling tatap.


“Apa maksudmu dengan mengingat? Ingatan? Apakah itu berkaitan dengan masa laluku?” Tanya Kanva.


Aria mengangguk sebagai jawaban.


“Kamu mengetahui masa lalaku?”


“Ya, kamu adalah pria yang sudah beristri.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


“Kamu sudah mempunyai istri.”


“Istri? Tapi aku bahkan masih bertunangan.”


“Dia berbohong padamu. Kamu bukan tunangannya.”


“Apa maksudmu?” Tanya Kanva sambil memegang erat kedua bahu Aria dengan erat.


“Kamu mengalami kecelakaan saat ingin berbulan madu dengan istrimu. Istrimu masih berada di tempat kejadian namun kamu sudah tidak ada dan mengalami amnesia sewaktu ditemukan oleh Marisha,” ucap Aria sambil menangis. “Namamu bukan Arsel tapi Kanva.”


Kanva yang seakan terkena petir, perlahan melepaskan tangannya dari bahu Aria. Ia menunduk tidak mengerti dengan semua ini. Ia tidak tahu siapa yang harus di percaya.


Aria menatap pria yang paling ia cintai dan bertanya, “Apakah kamu percaya denganku?”


“Bagaimana aku dan istriku menikah?”


“Kalian dijodohkan, tapi percayalah kalian saling mencintai.


“Apakah kamu mempunyai foto-foto di ponselmu?”


“Siapa??”


“Aku dan istriku,” jawab Kanva.


Aria langsung membuka album foto di ponselnya dan menunjukkan kepadanya beberapa foto dirinya dan Kanva.


Kanva langsung meraih ponsel dari tangan Aria dan menatap layar dengan saksama.


“Ini….”


“Kalian berdua tidak dapat dipisahkan.”


Kanva mengamati wajah Aria dan masih bingung.


“Mengapa? Apakah kamu terlalu terkejut mempunyai istri yang begitu cantik?”


“Ya.”


Aria mengangguk masih dengan tangisannya namun bibirnya tersenyum karena bahagia.


Dipungutnya bibir Aria setelah ia mengatakan itu dan Aria langsung membalas pungutannya. Kanva merasakan surga dunia hanya dengan ciuman. Dan itu karena Aria.


...….


...


Jam sembilan pagi, semua keluarga berada di rumah Aria. Aidan yang melihat Kanva langsung berjalan ke arahnya. Ia menepuk bahu Kanva. Kanva yang ditepuk oleh Aidan langsung menatap tak suka. Apa lagi dirinya mengingat kejadian waktu dia memeluk Aria.


“Aku melihatmu beberapa hari dan kamu benar-benar menjadi orang bodoh. Apalagi kamu dengan wanita itu…”


“Kamu siapa?” Tanya Kanva tak suka.


“Dia adalah Aidan, teman baikmu yang tumbuh bersamamu. Ini adalah Franz, dia adalah asisten yang selalu kamu andalkan. Wanita yang duduk di sana adalah ibumu dan orang tuaku.”


Nyonya Killian langsung memeluk Kanva dengan erat. Mengucapkan rasa syukur bahwa putranya masih hidup dan sudah kembali.

__ADS_1


__ADS_2