Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
7. Ini Bukan Tentang Hujan


__ADS_3

Aria melirik ke arah Kanva yang terlihat sangat kesal. Pria di sampingnya memancarkan aura yang tak biasa, membuat Aria mengurungkan untuk menghabiskan mie cup. Ya, mereka saat ini berada di mini market.


Setelah mengabaikan beberapa pesan dan mengabaikan beberapa panggilan dari Kanva. Pada akhirnya Aria memberitahu di mana ia berada.


“Kamu ingin mie?” Tawar Aria.


“Tidak!” Kanva langsung menolak dengan nada yang keras. Aria pun menjadi menciut. Pria itu menyipitkan mata, siap-siap untuk mengunyah Aria hidup-hidup. “Kenapa tidak membalas pesanku?”


“Aku sudah membalas pesan pak manajer.”


“Iya, kamu membalas pesanku yang ke dua puluh lima kali.”


“Aku sedang makan jadi tidak terlalu memedulikan ponselku. Lagi pula ada apa dengan Pak manajer? Tidak seperti biasanya.”


Kanva langsung salah tingkah dan segera merebut mie cup milik Aria. Ia memakan mie tersebut dan sesekali melihat ke arah Aria.


“Pak manajer, bilang padaku jika nantinya sering teringat tentangku.”


“Kenapa?”


“Aku akan memberi selamat sudah jatuh hati.”


“Jatuh hati?”


“Sering teringat dan tersenyum saat memikirkannya itu tanda-tanda orang sedang jatuh hati. Dan aku perhatikan Pak manajer sudah jatuh hati padaku.”


“Tidak mungkin,” ucap Kanva menggeleng dan memfokuskan kembali perhatiannya pada makanannya.


Aria langsung mencondongkan tubuhnya. Kepalanya ia sandarkan pada dada sebelah kiri Kanva. Ia mendengarkan detak jantung Kanva. Menikmati kegugupan Kanva.


“Jantungmu berdegup dengan kencang.”


Aria pun menoleh dan melihat mata Kanva yang seakan terpesona dengannya. Mata Kanva benar-benar tersihir olehnya. Aria pun tersenyum manis dan itu sukses membuat mata Kanva terkunci pada bibirnya. Kanva ingin menciumnya, pria itu benar-benar ingin menciumnya.


Kepalanya pun sudah mendekat namun ia seakan tersadar dan langsung menjauhkan kepalanya. Aria pun kembali pada posisinya.


“Jangan melakukannya lagi. Jangan menatapku seperti itu.”


“Menatap seperti apa? Seperti ini?”


Aria pun menatap Kanva dengan memuja membuat pria itu lagi-lagi tersipu dan salah tingkah.


“Arsel!!!”


Panggilan itu membuat Kanva dan Aria menoleh ke sumber suara. Ada sosok wanita lain di sana. Ia adalah Merlisa. Wanita itu langsung berlari kecil menuju ke arah Kanva.


“Aku tak sengaja lewat jalan ini, dan tak sengaja melihatmu jadi aku memastikannya,” ucap Merlisa. Wanita itu terlihat senang melihat Kanva lalu perhatiannya teralihkah dengan kehadiran Aria. “Dia siapa?”


“Dia….dia sekretaris baruku. Namanya Aria.”


Bukan, aku adalah istrinya

__ADS_1


“Halo namaku, Aria.”


Merlisa tidak tersenyum atau tidak menyambut baik perkenalan Aria. Wanita itu langsung menoleh ke arah Kanva. Wanita itu bergelayut manja di tangan Kanva, membuat Aria mengepalkan tangannya erat. Ingin rasanya Aria, memisahkan mereka berdua.


Aria melihat Kanva yang sedang berjalan beriringan dengan Merlisa. Mereka naik mobil bersama. Aria melihat mereka dengan nanar, ia bertekad akan segera merebut kembali suaminya yang akan menjadi miliknya.


Entah kebetulan atau tidak, rupanya Aidan berada di sana dan melihat semuanya. Pria itu berdiri di samping mobil sambil memperhatikan Aria. Aidan lantas berjalan menuju ke arah Aria. Pria itu berhenti tepat berdiri di samping Aria.


“Jadi apa rencanamu setelah melihat mereka?”


Aria langsung menoleh ke arah Aidan. Ia tampak terkejut melihat Aidan yang tiba-tiba berada di sampingnya.


“Aidan?”


“Aku tanya apa rencanamu, cantik?”


“Itu bukan urusanmu, tampan” jawab Aria sambil tersenyum manis.


Aidan mengangkat salah satu alisnya dan tertawa kecil.


“Jadi besok aku akan kembali.”


“Secepat itu?”


“Kamu yang menyuruhku cepat-cepat kembali.”


...….


...


Baru saja Aria duduk, ia dikejutkan oleh kumpilan dokumen yang baru saja mendarat di mejanya. Aria lantas mendongak dan mendapati Mario sang biang keroknya.


“Tolong berkas ini bawa ke meja pak manajer.”


“Baik.”


“Aria…”


“Ya…”


“Tenang saja, aku tidak akan mengadukan pada pak manajer jika kamu telat.”


Aria hanya tersenyum menanggapi Mario. Wanita itu lantas membawa semua berkas ke meja bosnya. Aria memutuskan untuk masuk langsung ke ruang Kanva tanpa mengetuk pintu namun ia terkejut mendapati pasangan sedang bercumbu. Seolah Aria hanya nyamuk, Aria langsung menjatuhkan semua berkas yang ada di tangannya. Bunyi berdebum membuat pasangan itu segera menoleh.


Aria tidak menyangka bahwa hubungan mereka ternyata benar-benar serius. Bagaimana jika Kanva benar-benar melupakan masa lalunya? Bagaimana jika Kanva, benar-benar melupakan cinta masa lalunya?


Kanva melihat wanita yang ada di depannya.


“Bukankah dia sekretarismu?”


“Ya,” jawab Kanva.

__ADS_1


Aria memejamkan matanya dan langsung menghela napas. Ia lantas mengambil semua berkas yang bertebaran di lantai. Tanpa ia duga, sepasang tangan juga membantunya. Tangan itu milik Kanva.


“Maafkan aku pak manajer. Aku hanya ingin memberikan berkas ini.”


Kanva tersenyum miring dengan tampannya yang dapat membuat semua wanita jatuh ke pelukannya.


“Tidak apa-apa?”


Tapi Aria sudah terlanjur sedih, kecewa dan marah. Aria langsung menyerahkan berkas itu dengan kasar dan langsung meninggalkan ruangan Kanva.


Aria berjalan ke arah toilet lalu ia menatap bayangannya di cermin di depannya. Ia kembali teringat cumbuan Kanva bersama Merlisa.


Siang sampai sore, Aria selalu mengabaikan perintah Kanva. Aria akan menghindari Kanva sebisanya. Ia akan beralasan dan meminta Mario untuk menggantikannya.


“Dimana Aria?’


“Dia sudah pulang?”


“Pulang?” Teriak Kanva karena terkejut.


Kanva langsung berdiri dan berkacak pinggang. Ia melihat keluar jendela. Hujan tengah mengguyur kota.


Saat Kanva keluar dari kantornya dan hendak masuk ke dalam mobilnya. Ia melihat Aria yang sedang berdiri di tengah hujan. Kanva heran melihatnya dan langsung mendekatinya. Pria memegang sebuah payung dan memayungi Aria.


“Kenapa kamu berdiri di tengah hujan?”


“Aku merasa lebih baik di tengah hujan.”


“Kamu sangat aneh.”


“Suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja. Aku akan pulang.”


Aria langsung pergi meninggalkan Kanva. Pria itu memperhatikan Aria yang pergi beberapa detik. Pria itu langsung mencegah Aria dan memintanya untuk pulang bersamanya.


“Naik ke mobilku.”


Aria langsung mengernyit saat mobil yang dikendarai Kanva berhenti di sebuah restoran. Pria itu juga memberikan sebuah paper bag berisi pakaian wanita yang nyaman.


“Pakai itu jika tidak muat buang saja.”


“Ini apa?”


“Jangan banyak tanya,” ucap Kanva lalu pria itu keluar dari mobilnya. Sementara Aria yang masih bingung masih duduk di kursi penumpang.


“Kapan dia membelikan ini?”


Aria masuk ke dalam toilet yang ada di restoran untuk mengganti bajunya yang basah. Saat Aria sudah berganti pakaian, ia keluar dan menuju ke meja Kanva yang sudah menunggunya.


“Terima kasih, bajunya sangat pas.”


“Syukurlah, padahal aku hanya asal pilih.”

__ADS_1


Aria langsung cemberut dan untuk mengalihkan rasa kesalnya ia langsung mencoba makanan yang dihidangkan.


__ADS_2