
Laskara mengantar Aria pulang. Pria itu langsung pulang dan tidak mampir karena memang ia mempunyai urusan lain. Aria tidak mempermasalahkannya. Seorang pelayan datang dan membawa Sion terlebih dulu untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Aria masih berbasa-basi dengan Laskara.
“Terima kasih untuk hari ini,” ucap Aria.
“Seharusnya aku yang berterima kasih. Terima kasih karena sudah mau berkencan denganku,” ucap Laskara.
Aria langsung terbatuk kecil lalu mulai mengalihkan pembicaraan.
“Kamu tidak ingin mampir?”
“Aku sangat ingin tapi aku harus pergi sekarang. Lain kali aku akan mampir lebih lama.”
Aria mengangguk. “Berhati-hatilah berkendara.”
Laskara langsung tersenyum karena Aria memedulikannya.
Aria langsung melambaikan tangan begitu mobil Laskara perlahan pergi. Setelah ia tak lagi bisa melihat mobil Laskara, Aria segera berbalik namun ia dihentikan oleh seorang pria yang memegang pergelangan tangannya.
Ia berbalik dan menatap sepasang mata yang berbinar penuh suka cita.
“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!!”
“Aku ingin mengajakmu untuk minum secangkir kopi.”
“Aku tidak punya waktu untuk itu.” Aria mencoba untuk melepaskan diri dari Kanva.
“Kamu punya waktu untuk pria lain namun kamu tidak punya waktu untuk suamimu sendiri.”
Aria langsung menyipitkan matanya. “Ha ha lucu sekali.”
Secara brutal, Kanva langsung menggendongnya. Aria sama sekali tidak bergerak. Kanva membawanya ke dalam mobil. Kanva duduk di kursi pengemudi dan meletakkan Aria dalam pangkuannya.
Aria benar-benar ingin memukulnya dengan apa pun. Ia mencoba untuk berjuang keluar dari pelukan Kanva, memutar tubuhnya dari sisi ke sisi. Aria baru bisa menghentikan tindakannya saat ia merasakan sebuah tonjolan yang membesar menyentuh tubuhnya.
“Kenapa kamu tidak bergerak lagi?” Tanya Kanva dengan suara serak tepat di telinganya, seringaian jelas tampak di sana.
“Baiklah, ayo bicarakan dengan baik-baik. Tapi tolong lepaskan aku, posisi ini membuatku tidak nyaman.”
“Aku mencoba berbicara denganmu dengan baik-baik tapi kamu menolak jadi aku tidak punya pilihan lain.”
Kanva lantas menekan tombol yang ada di dalam mobilnya dan mesin mobil mulai terdengar. Kanva mengemudi secara perlahan dan tampak nyaman. Sementara Aria sama sekali tidak nyaman.
Sesampai di rumah Kanva yang pernah mereka tinggali bersama. Aria langsung keluar dari mobil.
“Apakah kami gila? Kamu membawaku datang ke sini dengan tidak etis hanya minum secangkir kopi?”
“Bagaimana kamu tahu aku gila? Sejak kamu meninggalkanku, aku didiagnosis menderita gangguan mental. Aku harus mengandalkan obat tidur untuk tidur karena kamu tidak ada di sisiku.”
“Jangan berbicara omong kosong dan jangan lupa, kamu yang mendorongku untuk pergi.”
__ADS_1
Kanva lantas menutup pintu mobilnya dan kembali berucap, “Aku benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak karena dirimu.”
Aria tidak pernah meragukan kata-katanya, karena kesehatan mental seseorang tidak bisa dibuat bercanda.
“Apakah kamu berpikir aku akan memaafkanmu dan kembali padamu hanya karena itu?”
“Aku hanya ingin memberitahumu,” ucap Kanva sambil melihat mata Aria begitu dalam.
Aria langsung memalingkan wajahnya lalu mulai berjalan sementara Kanva mengikutinya dari belakang. Para pengawal yang langsung melihat mereka langsung mematikan wajahnya mereka melihat satu sama lain.
“Apakah mereka sudah berbaikan?”
“Sepertinya begitu. Wah, akhirnya Tuan Muda berhasil membawa Nyonya Muda pulang.”
Aria lantas duduk di ruang makan, memperhatikan Kanva yang sedang menggulung kemeja putihnya dan mulai membuatkan kopi untuk mereka berdua.
“Apa yang kamu tambahkan ke dalam kopiku?” Tanya Aria.
“Tentu saja racun,” goda Kanva.
“Ha ha ha, lucu sekali.” Aria sarkasme.
Kanva meletakkan secangkir kopi di depan Aria. Kanva sudah menyeruput kopinya sendiri sementara Aria masih bersikap waspada.
“Aku akan mengantarkanmu pulang setelah kita menghabiskan kopimu.”
“Kamu tahu, aku selalu memperhatikanmu namun kamu masih berani berkencan dengan pria lain. Ingat kamu masih istri sahku.”
“Kenapa kamu harus bersikap patriarki? Terserah diriku berkencan dengan siapa saja, toh aku juga tidak akan melarangmu berkencan dengan wanita lain juga.”
“Aku pasti akan melakukannya jika kamu benar-benar mengkhianatiku dan berhenti mencintaiku. Aku akan berkencan dengan wanita lain tapi aku tahu bahwa kamu tidak mengkhianatiku dan kami masih mencintaiku.”
“Wah, kamu salah besar. Aku sudah mengkhianatiku dan aku sudah tidak mencintaimu lagi.”
“Aria, apakah kamu pikir aku akan percaya dengan ucapanmu barusan?”
“Wah apa yang sebenarnya kamu inginkan? Dulu kamu menolak mempercayaiku saat aku bilang aku tidak pernah mengkhianatiku dan aku mencintaimu. Sekarang aku mengakui bahwa aku aku sudah mengkhianatimu dan aku tidak mencintaimu lagi, kami masih tetap tidak percaya padaku.”
Kanva tidak bisa berucap lagi. Ia langsung mengambil cangkirnya kembali dan mulai meminumnya lagi.
Seperti yang Kanva katakan sebelumnya, setelah mereka minum kopi. Kanva mengantar Aria untuk pulang.
Aria lantas berbaring di kamarnya dan tidak bisa memahami situasi yang terjadi.
......................
Keesokan paginya, Aria bersiap turun ke bawah untuk sarapan. Semua keluarganya sudah menunggunya di sana. Sion tampak bersemangat karena sarapan kali ini adalah makanan favoritnya.
Di tengah-tengah mereka sarapan, ibu Aria membuka pembicaraan.
__ADS_1
“Aku melihat Kanva berada di depan di rumah. Apakah kalian bertemu?”
“Ya, kami bertemu saat aku baru saja tiba. Dia mengajakku untuk minum kopi di rumahnya,” ucap Aria dengan tenang seolah hal itu bukanlah apa-apa.
“Minum kopi? Di rumah Kanva? Apakah kalian akan kembali bersama?” Ibu Aria bertanya dan mulai khawatir.
“Tidak, kami hanya minum kopi biasa. Tidak akan ada terjadi setelah itu.”
“Bagaimana hubunganmu dengan Laskara?”
“Hubungan kami baik. Aku menganggapnya sebagai teman tapi dia menganggapku sebagai pacarnya.”
Ibu Aria langsung tertawa. “Bukankah sudah jelas, dia sangat menyukaimu. Bagaimana perasaanmu dengannya?”
Aria mengambil makanan lagi untuk Sion.
“Kami baru bertemu beberapa kali dan kami belum mengenal satu sama lain dengan baik. Perasaanku belum sedalam itu untuk memperlakukannya sebagai pacar.”
“Ibu akan selalu mendukung kalian.”
Mereka menikmati sarapan yang menyenangkan, dimana mereka saling mengobrol dengan riang dan bercanda satu sama lain. Aria juga memberitahukan niatnya untuk pergi ke kota S.
Setelah sarapan, Aria mengantar Sion ke sekolahnya.
Di tempat yang berbeda, Kanva tampak berbeda. Ia kembali bekerja dan fokus pada kerjaannya. Pertemuannya dengan Aria sukses membuat Kanva bisa tidur nyenyak.
“Presdir…”
“Ada apa?”
“Apakah anda kemarin bertemu dengan Nyonya Muda?”
“Ya,” ucap Kanva.
“Mengapa Presdir tidak membuat Nyonya Muda untuk tinggal setelah minum kopi tadi malam?” Franz bertanya dengan rasa ingin tahu.
“Bukankah kamu sudah tahu bagaimana karakternya. Dia sangat keras kepala. Aku hanya akan membuatnya membenciku dengan memaksanya untuk tinggal. Apakah ada yang ingin kamu katakan lagi?” Tanya Kanva. Matanya tertuju pada layar komputer sambil jari-jarinya menekan papan ketik.
“Ya, lelang akan diadakan di kota S malam ini. Tuan muda apakah anda ingin melakukan perjalanan ke sana?”
“Tidak, perlelangan itu hanya tipu muslihat mereka. Mereka rela membeli barang-barang dengan harga fantastis, bukankah itu bodoh namanya.” Kanva sama sekali tidak tertarik.
“Tapi sepertinya Nyonya Muda tertarik. Nyonya Muda memesan penerbangan ke kota S.”
Kanva langsung menghentikan apa yang ia lakukan dan langsung mendongak untuk menatap Franz. “Apakah kamu yakin dia ke kota S?”
“Ya,” ucap Franz.
“Jangan bilang kalau dia ke kota S bersama Laskara?”
__ADS_1