
Satu-satunya alasan Aria pergi ke kota S untuk datang ke acara perlelangan yang terkenal di kalangan masyarakat atas. Aria ingin membeli sesuatu di sana. Ia juga sudah membeli rumah sendiri untuk ia tinggali bersama Sion. Dan berencana merekrut beberapa pengawal di sana.
Banyak orang yang mengatakan agensi pengawal di sana terkenal sangat mumpuni. Sudah lewat jam enam sore saat ia tiba di kota S. Aria sudah memesan sebuah hotel jauh-jauh hari sebelumnya jadi ia sudah tidak kebingungan lagi.
Aria berjalan masuk ke dalam hotel dan berencana untuk naik lift. Begitu ia menunggu untuk beberapa menit dan ketika lift terbuka, lift terlihat penuh. Aria langsung masuk ke dalam begitu semua orang sudah keluar.
Aria memasuki kamarnya dengan kartu kunci dan menutup pintu dengan segera. Aria segera membersihkan dirinya sendiri dan mengganti baju yang nyaman. Beberapa menit kemudian Aria menerima panggilan dari Laskara.
Ia bergegas keluar dari hotel setelah menjawab. Beberapa menit kemudian sebuah mobil muncul di depannya. Lalu seorang pria keluar dengan gagahnya.
“Mengapa kamu di sini?”
“Aku mendengar kamu berada di sini dan aku kebetulan aku bertugas di sini. Sepertinya kamu ingin keluar?” Tanya Laskara.
“Ya, aku ingin pergi ke perlelangan untuk melihatnya. Aku mendengar banyak lukisan terkenal di lelang di sana.”
“Apakah kamu pergi sendirian?” Tanya Laskara.
“Bukankah kamu ke sini untuk pergi bersamaku?”
Laskara lantas tersenyum. Aria langsung masuk ke dalam mobil Laskara dan mobil mereka mulai membelah jalanan kota yang asing. Aria melirik Laskara, sepertinya pria itu sudah hafal dan paham jalanan kota ini. Laskara tidak kebingungan sama sekali dan sudah mahir.
Setelah memarkir mobil di tempat gedung. Aria dan Laskara turun dari mobil. Mereka berjalan ke lorong bawah tanah. Suhu di sana cukup hangat dan juga terang, Aria pikir ruangan itu akan temaram.
Laskara memimpin dan membawanya ke kursi. Segera setelah itu semua kursi terisi oleh lara tamu yang terus berdatangan.
“Lelang akan segera dimulai.”
“Mengapa dia datang?” Gumam Laskara.
Aria lantas memandang ke arah Laskara lihat, hanya untuk melihat Kanva. Ia mendekati mereka dan akhirnya duduk di samping Aria.
“Aku tahu kamu akan berada di sini,” ucap Kanva sambil melihat Aria.
Aria mengabaikannya seolah-olah ia tidak mendengarnya sama sekali. Namun Kanva sama sekali tidak keberatan dengan acuhan Aria. Ia seolah tidak merasa sakit hati dan merasa malu. Pria itu malah memposisikan duduknya agar lebih nyaman.
Perlelangan pun dimulai.
Seorang pria melangkah maju dan membuka acara serta membacakan rangkaian acara. Setelah itu semua orang bertepuk tangan. Beberapa menit kemudian, seorang wanita keluar dengan membawakan kotak perhiasan.
“Perhiasan ini dimulai dengan harga seratus juta.”
__ADS_1
“Seratus lima puluh juta.”
“Seratus dua puluh juta.”
Aria dan orang-orang di sampingnya tetap diam sementara tamu-tamu lain sibuk dalam hiruk pikuk untuk menawarkan harga. Aria melihat ke kiri dan kanan, untuk saat ini satu set perhiasan ditawar dua ratus juta. Dan ketuk palu terdengar perhiasan menembus angkat dua ratus juta.
Lalu barang-barang lainnya berdatangan. Rupanya tidak ada yang membuat minat Aria untuk membeli barang-barang di perlelangan itu. Sampai pada akhirnya acara lelang itu selesai, Aria masih belum mendapatkan barang yang ia inginkan.
Kanva langsung meraih pergelangan tangan Aria.
“Ayo kita pergi.”
Aria langsung melepaskan diri dari cengkeramannya. “Aku bisa berjalan sendiri.”
Laskara yang melihatnya tidak menyukai tindakan Kanva. Mereka lantas berjalan untuk memasuki lift. Begitu lift terbuka mereka pun keluar.
Laskara langsung membuka mobilnya. Begitu Aria ingin masuk ke dalam mobil Laskara, lagi-lagi Kanva memegang pergelangan tangan Aria.
“Kamu pulang denganku.”
“Aku pergi dengan Laskara dan aku juga akan kembali dengan Laskara,” ucap Aria lantas melepaskan tangan Kanva dan segera masuk ke dalam mobil Laskara.
Kanva langsung menghela napas panjang dan memberi sinyal Franz agar mendekat. Lalu mobil berhenti di samping Kanva. Pria itu lantas langsung masuk.
“Tidakkah kamu melihat, bagaimana Laskara menatapku barusan? Dia seolah aku adalah predator yang sedang memburu mangsa,” ucap Kanva mencibir.
“Ini seperti bukan dirimu, Tuan Muda.”
...…...
...----------------...
“Selamat malam,” ucap Aria sambil melambaikan tangannya.
Aria menutup pintu kamar hotelnya. Ia melepas heelsnya dan menggantinya dengan sandal hotel Aria melihat jam di dinding kamar dan itu sudah pukul dua belas malam. Aria benar-benar kelelahan.
Saat ia akan tidur di temoat tidur, ia terkejut melihat barang-barang yang menonjol di bawah selimutnya. Aria langsung mengangkat selimut itu dan langsung mengambil tas kertas di sana. Dalam tas terdapat beberapa kotak sheetmask yang ia sering pakai.
Ada catatan di saja. Aria mengambilnya dan membaca pesan tersebut, dari tulisannya ia yakin barang-barang ini semua dari Kanva.
Keesokan harinya, Aria kembali ke kotanya bersama Laskara. Ia tidur sepanjang malam karena ia melewatkan malamnya untuk tidur. Laskara mengantar ke rumah baru Aria yang berada di paradiso wooden Estate.
__ADS_1
Ada tiga lantai di mansion. Aria akan tinggal di lantai atas, laintai dua diperuntukkan untuk keluarganya yang ingin menginap.
“Kamu akan tinggal di sini bersama Sion?” Tanya Laskara.
“Ya, kami akan tinggal di sini.”
“Mansion ini terlalu besar, tidakkah kamu ingin merekrutku untuk tinggal di sini bersamamu?”
“Akan aku pikirkan lain kali,” ucap Aria.
Sion sedang sakit secara mendadak. Orang pertama yang ia hubungi adalah ibunya. Aria lantas pergi ke rumah sakit karena ibunya membawa Sion ke rumah sakit segera.
Aria lantas segera menuju ke kamar rawat inap tanpa menanyakan ke meja resepsionis. Rumah sakit mengunakan lift dan itu membuat Aria semakin gusar karena harus menunggu lama.
“Tenanglah, Sion akan baik-baik saja.”
“Aku takut,” gumam Aria parau. Laskara tersenyum kaku sambil beralih mengelus punggung Aria.
“Semua akan baik-baik saja.”
Ting……
Dengan cepat, Aria menelusu lorong-lorong kamar inap pasien hingga sampai dia enam pintu kamar kelas A paling mahal.
“Ibu!!!!!” Teriak Sion begitu melihat Aria.
Dokter baru saja memeriksanya setelah selesai Aria langsung memeluk putra satu-satunya itu.
“Apa yang terjadi?”
“Dia terserang infeksi amandel.”
“Apakah dia mendapatkan suntikan atau obat? Apakah putraku perlu di rawat inap?”
“Saya akan memberinya suntikan dan beberapa obat. Kita perlu mengobservasinya terlebih dulu. Jika tidak terlalu banyak keluhan, putra anda bisa pulang sore ini.”
“Bu, aku tidak mau disuntik.” Sion langsung menyembunyikan kepalanya di dada Aria.
“Kamu harus mendapatkan suntikan agar cepat sembuh.”
Sion langsung menggeleng dan melihat Laskara. “Paman, bisakah kamu mengalahkan dokter itu karena kejam padaku. Aku tidak mau disuntik.”
__ADS_1
Sion mulai menangis dan merengek.