
Aria, Laskara dan Sion pergi ke sebuah danau. Aria memakai topi dan berpenampilan sangat casual. Sementara Sion berpenampilan sangat imut dengan tas kelinci di punggungnya. Sementara Laskara berpenampilan kaos polos. Terlihat tampan dan berenergi.
“Apakah kamu bebas hari ini?”
“Ya, aku bebas hari ini. Besok aku akan ke luar negeri.”
Aria mengangguk. Ia dan Sion langsung masuk ke dalam mobil begitu pintu samping dibukakan oleh Laskara.
“Apakah kamu membawa alat pancing?” Tanya Aria begitu Laskara sudah berada di sampingnya.
“Tentu saja,” ucap Laskara sambil menekan gas mobilnya. Di tengah perjalanan ia membuka kembali obrolannya. “Aku melihat beritanya.”
“Apa?”
“Kamu berinvestasi dalam film,” ucap Laskara sambil melirik Aria.
“Ya, aku mencoba hal baru. Shooting akan dilakukan beberapa bulan lagi, aku memilih beberapa pemain sesuai keinginanku.”
“Berita tentang kamu dan aktor lelaki itu, Lay? Aku melihatnya. Aku terkejut awalnya melihatnya tapi terbukti hanya berita palsu dan aku bersyukur akan itu.”
“Jangan melihat berita palsu yang berseliweran mengenai diriku. Lihatlah beberapa komentar yang menyudutkanku.”
“Mereka hanya tahu kamu dipermukaan tapi gayanya seperti mengenal dirimu. Mereka tidak apa-apa tentangmu. Jangan pedulikan mereka.”
Di perjalanan, keduanya mengobrol saat mengemudi. Sesekali Sion ikut nimbrung meskipun obrolan bocah itu acak. Sementara Laskara bercerita tentang banyak kisah menarik tentangnya. Mendengar Laskara berbicara, Aria dapat mengatakan bahwa Laskara adalah pria disiplin, sikapnya benar-benar berprinsip membuat Aria terkesan.
“Aku tidak percaya, orang sepertimu belum pernah pacaran. Bukankah di sana juga ada wanita cantik?”
“Meskipun ada beberapa pengagum tapi aku tidak suka mereka.”
“Wanita seperti apa yang kamu suka? Maksudku kriteriamu?” Tanya Aria penasaran.
“Terakhir kali, aku mempunyai kriteria banyak persyaratan seperti berpenampilan cantik, sosok yang baik, berpengetahuan luas dan lembut. Tapi sekarang tidak lagi.”
“Jadi apa sekarang kriteriamu?”
“Yang membuatku nyaman dan tentu saja yang membuat perasaanku senang. Aku hanya mengikuti hatiku.” Pupil hitam Laskara berkilau dan terpakai pada Aria ketika ia menjawab.
“Tapi perasaan bisa dikembangkan berdasarkan penampilan. Jika ada wanita yang jelek, apakah kamu masih memiliki perasaan untuknya?”
“Itu tergantung. Seseorang yang benar-benar jatuh cinta tidak peduli sebagaimana penampilan wanita yang dicintainya karena di matanya dia sangat cantik. Kecantikan ada di mata orang yang melihatnya. Ketika kamu sudah jatuh cinta secara otomatis semua kekurangannya kamu akan menerimanya dengan senang hati.”
“Apakah kamu tidak apa-apa tentang itu?” Tanya Aria.
“Tidak apa-apa. Aku akan menerima kekurangan itu karena aku juga memiliki kekurangan.”
__ADS_1
“Laskara, kamu benar-benar orang yang baik.”
Laskara langsung tersenyum. Telinganya memerah sekaan ia tersipu malu karena pujian Aria. Dalam lubuk hatinya, ia sangat menginginkan Aria mewarnai hidupnya, dan membentuk keluarga kecil bersama Sion.
Di tempat lain, pena di tangan Kanva tiba-tiba saja berhenti. Ia tidak jadi menandatangani dokumennya. Kanva langsung mendongak menatap Franz.
“Ulangi perkataanmu?”
“Nyonya Aria dan Laskara pergi ke danau. Saya pikir mereka sedang piknik dan juga memancing di sana. Nyonya juga membawa ikut serta Sion.”
Wajah Kanva langsung berubah suram. Ia menekan penanya dengan erat.
“Ikuti mereka.”
“Baik,” ucap Franz langsung keluar dari ruangan Kanva.
Memikirkan bagaimana Aria dan Laskara pergi ke danau yang terletak terpencil membuat otak Kanva memikirkan hal yang tidak-tidak. Setelah membayangkan adegan panas, Kanva langsung melompat dari kursinya. Kanva langsung merasa gelisah dan terancam.
Ia tidak bisa lagi fokus dengan pekerjaannnya. Ia langsung melemparkan penanya di meja begitu saja dan langsung mengatakan jas yang ia selampirkan di kursinya tadi. Ia langsung meninggalkannya kantornya dengan tergesa-gesa.
Melihat Kanva yang keluar dengan tergesa-gesa, Franz langsung berdiri dari duduknya.
“Presdir…”
“Aku ada urusan.”
“Apa yang akan dilakukan Presdir?”
Seperti dugaan Franz, Kanva benar-benar pergi ke danau tempat Aria, Laskara dan Sion pergi. Mobilnya ia parkir di tempat yang kosong. Kanva melihat mereka dan bersembunyi di balik pohon.
Kanva mengerutkan dahinya dengan erat dan menginjak tanah dengan kesal. Ia merasa sangat cemburu dan marah. Apalagi ketika melihat mereka saling memakan es krim bersama. Meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan namun ia bisa melihat mereka saling tersenyum.
Kanva benar-benar tidak bisa menahan diri lagi setelah menunggu sampai satu jam, mereka tak kunjung pergi. Kanva itu lantas pergi ke arah mereka.
“Sepertinya kita tidak bisa makan ikan dengan tenang hari ini, ayo semuanya masuk ke dalam mobil,” ucap Laskara begitu melihat Kanva di depannya.
Aria langsung mengangguk. ”Ya.”
Ketika Aria hendak pergi, Kanva langsung berdiri di depannya untuk menghalangi Aria pergi.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Jika kamu ingin memancing, seharusnya kamu memberitahuku.”
“Kenapa aku harus memberitahumu? Kamu pikir kamu siapa?”
__ADS_1
Emosi Kanva sepertinya ingin meledak namun ia berusaha untuk tetap tenang.
“Apakah kamu ingin aku memberitahu siapa sebenarnya aku untukmu di mata pria itu?”
“Kanva, tolong hentikan! Kita sudah berpisah, ingat!”
“Bagaimana kamu bisa bilang kita berpisah padahal kenyataannya belum.”
“Aku tidak ingin lagi berurusan denganmu.” Setelah itu Aria berbalik dan menggendong Sion. Sementara Kanva yang ingin mengejarnya dihadang oleh Laskara.
“Sion!! Apakah kamu tidak ingin memancing bersama ayah!!!!!” Teriak Kanva.
Di dalam mobil, Aria merasa canggung. Ia sangat malu. Ia tidak punya cara untuk menjelaskannya pada Laskara. Ada keheningan di dalam mobil. Tidak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan.
“Mama,” ucap Sion.
Bocah kecil itu menunjuk pada segerombolan burung yang terbang di depan mereka. Sion terlihat sangat bersemangat menceritakan ikan-ikan yang tampak di sana. Ocehan Sion mampu mencairkan suasana sehingga Aria bisa menenangkan Moodnya.
Aria menoleh dan menatap Laskara yang tampak menatap lurus ke depan dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Sion sepertinya senang datang ke sini bersamamu siang ini. Meskipun ada penyusup yang tidak menyenangkan.”
“Aku juga senang bisa pergi bersama kalian. Jika tidak ada kalian, aku pasti sudah bosan sendirian. Tapi kenapa dia datang?” Tanya Laskara.
“Aku tidak tahu.”
“Dia sangat mengkhawatirkan dirimu. Dia mungkin tahu, bahwa kamu pergi bersamaku. Itulah sebabnya dia datang.”
“Untuk apa dia mengkhawatirkanku. Kami sudah berpisah.”
“Aku melihat di berita online. Kamulah yng menginginkan perpisahan. Apakah itu benar?”
“Tidak. Berita itu salah. Dia memprakarsainya.”
“Mengapa?”
“Terlalu rumit untuk dijelaskan.”
“Apakah kalian akan kembali bersama?”
Aria langsung tertawa. “Tentu saja tidak.”
Laskara menghentikan mobilnya. Pria itu menatap Aria dengan serius membuat Aria menelan ludahnya sendiri.
“Aku tahu kamu menganggapku sebagai teman tapi aku sudah menganggapmu lebih dari teman. Kita jarang sekali bertemu tapi setiap kali kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama, aku menganggapnya sebagai kencan.”
__ADS_1
Ekspresi terkejut jelas tampak melintas di mata Aria. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.