
Malam harinya, Sion sudah diperbolehkan pulang. Aria menemani Sion sepanjang malam di mansion barunya. Bahkan Aria membacakan dongeng malam untuk putranya.
“Apakah kepalamu masih sakit?” Tanya Aria dan langsung mengelus kepala Sion.
“Tidak lagi,” ucap Sion.
Sion langsung mengeratkan pelukannya pada ibunya.
“Aku bermimpi tentang ayah tadi malam. Anak-anak lainya memiliki ayah, sedangkan aku? Ibu, aku juga ingin mempunyai keluarga yang utuh.”
“Kamu sudah memiliki keluarga yang utuh, ada ibu, kakek dan nenek.”
“Bu, paman kemarin mengatakan bahwa dia adalah ayah. Apakah dia ayahku?”
Aria mengangguk.
“Bu, kenapa kalian tidak tinggal bersama?”
Aria menghela napas dan enggan menjawabnya.ia menyuruh Sion agar tidur dan pria kecil itu pun tertidur dalam pelukannya. Saat ia memperbaiki selimut Sion, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Itu adalah pesan dari Laskara yang mempertanyakan kondisi Sion.
Aria langsung membalas pesan tersebut. Tak berselang lama, ia mendapatkan pesan kembali. Aria pikir itu dari Laskara namun ia salah menduganya. Rupanya itu dari Kanva. Aria langsung mematikan ponselnya karena ia tidak ingin diganggu.
Bari beberapa menit ia memposisikan tubuhnya untuk tidur. Bel rumah terdengar membuat Aria harus bangun dan melihat si tamu.
Begitu Aria membuka pintu mansion, jelas Kanva sedang berusaha mengatur napasnya yang tersengal seperti orang yang baru saja lari maraton.
“Kenapa kami tidak memberitahuku bahwa putra kita sedang demam? Sebagai ayahnya, jelas aku berhak tahu,” ucap Kanva dengan sedih karena memikirkan putranya. Ia baru saja mendapatkan kabar dari Franz bahwa putranya demam dan ia langsung datang ke mansion Aria.
“Dia putraku, aku bisa merawatnya sendiri?”
“Jangan lupakan aku yang menanamkan benih. Aku ayahnya dan dia berhak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Jangan pisahkan aku darinya. Aria, haruskah kita berdamai. Huh? Demi anak kita, demi Sion.”
Aria menatap Kanva dengan bermacam emosi. “Aku tidak bisa, Kanva aku sudah kehilangan kepercayaan atas hubungan kita. Aku sudah kehilangan rasa aman dan cinta untuk memulai denganmu. Apakah kamu ingat, kamu memberikan pilihan yang berat padaku. Kamu mengusirku dan bahkan membuatku untuk menggugurkan Sion.”
“Aria begitu menyesal. Aria jika kamu tidak merasa aman, aku akan memberikan semua aset ku padamu. Aku akan selalu mencintaimu dan terus mencintaimu tapi bisakah kita kembali bersama? “ ucap Kanva dengan sungguh-sungguh.
“Tidak,” jawab Aria dengan dingin.
Dengan panik, Kanva langsung meraih tangan Aria dengan erat.
“Aku tidak ingin mendengar jawaban tidak. Aria aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aria maafkan aku.”
Aria langsung menarik tangannya kembali namun Kanva tidak membiarkan itu terjadi.
“Baiklah, aku tidak akan memaksamu tapi bisakah kamu memperlakukanku seperti teman. Biarkan aku keluar masuk rumah ini dan bertemu dengan Sion kapan pun aku mau.”
“Aku tidak bisa memperlakukanku seperti aku memperlakukan orang lain. Kamu adalah ayah dari anakku. Aku tidak bisa menghilangkan fakta itu. Aku hanya menganggapmu sebagai ayah dari anakku itu saja.”
Hati Kanva langsung tenggelam ke dasar laut yang paling dalam. Kata-katanya jelas bahwa Aria sudah menyerah dan tidak ingin berdamai dengan dirinya.
__ADS_1
“Baiklah karena kamu tidak ingin berteman denganku lagi, jangan salahkan aku jika aku memaksamu. Kamu akan menjadi milikku selamanya.”
“Apakah kamu tidak tahu malu?”
“Jika aku benar-benar tidak tahu malu, aku akan memaksamu di sini dan kita akan berbuat intim untuk beberapa kali.”
“Dasar gila,” ucap Aria lantas ia langsung menyentak tangan Kanva agar terlepas dan ia langsung menutup pintu dan segera menguncinya.
Kanva lantas hanya menatap pintu itu dengan diam. Ia lalu mengendarai mobilnya. Ia sangat putus asa dah ingin meraih tangannya kembali namun ia menahannya agar Aria tidak semakin membencinya.
Malam itu, Kanva mengalami mimpi. Mimpi itu sunggu begitu intim. Ia memimpikannya dan melakukannya dengan Aria. Kanva kemudian terbangun dengan tonjolan yang begitu gagah dan tegang.
...****************...
Pagi-pagi sekali Yiren ke mansion baru milik Aria. Ia begitu terkesima dengan mansion Aria, meskipun belum banyak perabotan yang terpajang di sana namun tidka mengurangi rasa takjubnya.
“Apakah kamu juga demam?” Tanya Yiren sambil menyodorkan buah tangan untuknya. Yiren datang ke sini untuk menjenguk Sion.
“Tidak, aku hanya kurang tidur saja. Aku bermimpi tadi malam dan setelah itu otakku tidak bisa tidur lagi.”
“Apa yang kamu mimpikan?”
“Aku sudah lupa.”
“Bagaimana keadaan Sion?”
“Dia sudah jauh lebih baik, sekarang dia bermain di kamarnya dengan kucing barunya.”
“Aidan,” jawab Aria tenang.
“Aku dengar kamu keluar dengan Laskara, apakah ada kemajuan?”
“Itu bukan kencan, hanya jalan-jalan biasa. Dan anehnya setiap aku jalan-jalan dengan Laskara, aku selalu bertemu dengan Kanva,” ucap Aria sambil bersandar pada kursinya.
“Maksudmu dia selalu muncul entah dari mana setiap kamu jalan bersama Laskara?”
“Ya.”
“Dia berpikir untuk mendekatimu lagi. Lalu bagaimana denganmu sendiri?”
“Ya, dia ingin memulai kembali. Awalnya aku cukup tersentuh dengan kata-katanya tapi sisi rasional ku dan sakit hatiku segera muncul saat ia menyuruhku menggugurkan Sion. Aku mengatakan padanya bahwa aku kehilangan kepercayaannya.”
“Aria, kamu sangat keren. Jika itu wanita lain, mereka akan senang hati kembali dan melemparkan diri kepadanya.”
“Jangan bicarakan tentang dia lagi. Kamu ingin bertemu dengan Sion? Dia di atas. Aku akan membuatkan sarapan. Mari sarapan bersama.”
Setelah sarapan, Yiren pamit untuk pergi. Setelah kepergian Yiren, hal yang dilakukan Aria adalah bekerja di rumah. Sudah dikatakan Aria berinvestasi dalam sebuah proyek film, meskipun Aria tidak terjun langsung namun Aria sesekali mengontrol dari rumah.
Aria juga menemani Sion untuk bermain.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, Sebuah bel terdengar. Aria tidak repot-repot membukakan pintu karena pelayan datang untuk membukakan pintu.
“Hai, my little boy.”
Suara itu membuat Sion dan Aria menoleh, Aria terkejut melihat Kanva dengan tas yang penuh dengan mainan. Sontak saja, Sion langsung berlari ke arah Kanva dan memeluknya erat. Pria kecil itu seolah sangat senang karena kehadiran ayahnya.
“Kenapa kami ada di sini?”
“Apakah aku tidak boleh datang ke sini?”
“Maksudku apakah kamu seorang pengangguran sehingga di jam segini datang ke rumahku?”
“Sion,,,mainkan dengan paman Franz.”
“Oke.”
Sion pun langsung berada dalam gendongan Franz dan Franz mengajaknya bermain di taman. Karena kebetulan Kanva membawa mainan pesawat terbang dengan remote kontrol.
Melihat keengganan Aria, membuat Kanva semakin gencar mendekatinya. Pria itu duduk di sebelah Aria.
Aria ingin protes namun suara ponselnya membuat perhatiannya teralihkan. Ponsel diletakkan di atas meja dan kebetulan Kanva lebih dekat sehingga pria itu yang mengangkatnya. Melihat layar ponsel Aria, wajahnya langsung tidak suka.
Kanva langsung segera menggeser tombolnya.
“Halo.”
Aria maju untuk mengambil telepon darinya tapi Kanva dengan gesit menjauhkan jangkauannya dari Aria.
“Bicaralah, kenapa kamu menelepon?”
“Aku mencari Aria, berikan telepon padanya.”
“Baiklah tunggu sebentar.”
Kanva lantas menyerahkan ponsel Aria.
Aria melotot ke arah Kanva dengan ganas sebelum menjawab, “Halo Laskara, ada apa?”
“Apakah kalian berdua bersama?”
“Tidak, dia datang tanpa diundang. Dia ke sini untuk menjenguk Sion.”
“Sayang…lihatlah bagaimana kamu membuat wajahku penuh dengan bekas lipstik. Aku harus membasuhnya.”
Aria yang kesal langsung menendang kaki Kanva. Aria mengobrol sebentar dengan Laskara sebelum mengakhiri panggilannya dengan cepat sebelum Kanva mengatakan hal yang tidak-tidak.
“Apa yang kamu inginkan?”
“Aku tidak menginginkan apa-apa selain kamu. Aku hanya hanya tidak ingin melihatmu berbicara dengan pria lain selain aku.”
__ADS_1
“Wah, aku tidak ingin mendengar omong kosongmu. Bukankah kamu ke sini untuk bermain dengan Sion tapi kenapa malah Franz yang main dengannya?”