Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
33. Selama aku bisa bersamanya, aku akan melakukan apa saja part 2


__ADS_3

Begitu ia sampai di rumahnya, ia melihat ada mobil lain di rumah pekarangan orang tuanya. Ia berjalan ke ruang tamu dan disambut heboh oleh keluarga besarnya. Orang yang pertama mengetahui kehadirannya adalah ibunya lalu ayahnya dan selanjutnya paman dan bibinya.


Semua menyambut dengan suka cita, apalagi kini hadir sosok anggota keluarga baru. Cucu pertama dari keluarga Candall.


“Cucu nenek, astaga. Betapa dia sangat tampan.”


“Sayang, beri salam untuk nenek dan kakek.”


“Halo nenek, kakek.”


“Dia sangat pintar sekali, Sion kemari lah. Peluk kakek.”


Sion pun langsung berlari ke arah kakeknya. Sementara itu, Nyonya Candall langsung menghampiri putrinya.


“Kamu pasti kesulitan di sana karena harus mengurus Sion sendirian,” ucap Nyonya Candall sambil mengelus surai rambut putri satu-satunya itu.


Aria hanya tersenyum lalu memeluk ibunya.


“Aria, ada seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu. Dia adalah Laskara Agnibrata. Ia adalah Marsdya. Ia berusia tiga puluh tujuh dan masih bujang.”


Aria mengamati pria itu. Pria itu memiliki sepasang mata yang berkilau yang tampak sedang tersenyum. Wajahnya tampan, ia juga tampak gagah dengan balutan seragam yang ia kenakan. Aria baru saja menyadari bahwa ibunya menjebaknya dalam sesi perjodohan.


Laskara berdiri dengan tantang dan tampak sedikit canggung. Ia kemudian mengulurkan tangan untuk segera menyapa.


“Senang bertemu denganmu, Aku Laskara.”


Aria menjabat tangannya. “Halo, aku Aria.”


“Aria, Laskara menghabiskan banyak waktunya dia militer. Ia memiliki citra yang bersih. Ayahmu menyarankannya untuk dikenalkan padamu.”


Aria mengangguk. “Ibu, aku akan pergi ke kamar untuk membersihkan diri.”


“Baiklah, mandi lah agar kamu merasa segar kembali. Kamu pasti kelelahan di pesawat. Segera turun, kita akan makan siang bersama.”


Aria pun mengajak putranya untuk naik ke lantai atas.


Segera ia membersihkan dirinya, Aria berbaring di ranjangnya. Ia melihat langit-langit kamarnya sementara Sion sudah lebih dulu turun ke bawah. Bermain-main dengan anggota keluarga lainnya.


Lalu terdengar sebuah ketukan dari kamarnya. Pintu kamarnya tidak tertutup dengan sempurna oleh Siom tadi sehingga begitu Aria menoleh ia bisa langsung melihat orang yang berada di ambang pintu kamarnya.


“Apakah aku mengganggumu?”


“Tidak.”

__ADS_1


“Bolehkah aku masuk?”


“Ya,”


Aria segera mengubah posisinya. Ia langsung duduk di ranjangnya sementara Laskara berjalan ke arahnya dan berhenti di depannya. Laskara sibuk mengagumi wajah Aria yang begitu cantik. Tak satu pun dari mereka yang mengatakan satu sama lain.


Aria yang merasa risih dipandangi langsung berdehem. “Kenapa kamu memandangiku seperti itu?”


“Oh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud kurang ajar padamu, hanya saja kamu terlihat jauh lebih cantik dalam kehidupan nyata daripada yang ada di foto.”


“Terima kasih, kamu juga terlihat tampan.”


Laskara langsung tersenyum karena malu.


“Kamu tidak memgharapkam perjodohan ini kan?”


Laskara terlihat terkejut lantas ia segera duduk di samping Aria.


“Apakah kamu merasa ingin segera pergi ketika kamu pertama kali mengetahui bahwa aku adalah yang akan dijodohkan denganmu?”


“Kenapa aku harus merasa seperti itu?”


“Aku wanita yang sudah pernah menikah dan aku memiliki seorang putra. Bukankah itu adalah alasan yang cukup jelas.”


“Aku tahu terus kenapa?”


“Ini adalah pertama kalinya aku bertemu denganmu dan aku memiliki kesan yang menarik tentangmu. Apa yang kamu pikirkan tentangku?” Laskara bertanya mentap Aria dengan tenang.


“Ya, aku merasa senang bisa berkenalan denganmu. Tapi aku tidak berharap begitu aku pulang, aku harus dihadapkan dengan sesi perjodohan.”


“Kita bisa memulainya dengan menjadi teman. Semakin kita dekat, semakin kita bisa membangun perasaan bersama.”


“Aku berencana untuk tidak menikah lagi,” ucap Aria langsung.


“Apakah kamu kehilangan semua kepercayaan pada pria?”


“Mungkin.”


“Tapi bisa saja seiring berlalunya waktu, kamu akan menaruh kepercayaan padaku. Aku harap kamu adalah bagian cinta sejatiku. Sungguh, aku berkata dengan jujur. Aku mengharapkannya.”


Aria melihat ke dalam mata Laskara. Pria itu jelas dengan tekadnya. Ia merupakan pria baik yang dipilih oleh ibunya.


“Aku percaya padamu jadi haruskah aku mencobanya dengan berteman dulu?” Tanya Aria sambil tersenyum.

__ADS_1


Laskara tersenyum ketika mendengar ucapan Aria. Ada riak dalam hati Laskara. Pria itu terlihat senang meskipun pertemanan bukanlah hal yang tidak ia inginkan tapi itu tidak terlalu buruk.


Mereka pun memutuskan untuk segera ke lantai bawah bertemu dengan yang lainnya.


Nyonya Candall bertanya bagaimana dengan perasaan mereka masing-masing. Mereka saling melemparkan pujian. Nyonya Candall senang mendengarnya.


“Aria, jadi apa pendapatmu tentang dia?” Tanya Aria saat ia berada di ruang tengah. Hari tampak sudah malam dan waktu itu Laskara izin pamit.


“Dia sangat mengesankan.”


“Itu tak perlu diragukan. Bagaimana mungkin aku dan ayahmu tidak memilih pria yang mengesankan. Berhubungan baiklah dengannya. Apakah kalian sudah saling bertukar nomor?”


Aria mengangguk dan berakata,” Ya, sudah. Tapi kami berencana untuk berteman terlebih dulu. Kami baru saja bertemu. Masih ada banyak tang belum kami ketahu satu sama lain.”


“Baiklah, tidak apa untuk saling mengenal dulu. Tapi ibu berharap kalian bisa berjodoh.”


“Bu, aku tidak ingin terburu-buru. Aku takut akan menyesalinya dan aku takut dia juga akan menyesalinya.”


Aria langsung pergi ke kamarnya dan langsung menelepon Yiren. Ia memberitahukannya bahwa ia sudah pulang ke rumahnya. Aria juga memberitahukan tentang perjodohannya dengan Laskara.


Keesokan harinya, Aria, Sion dan Laskara pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka terlihat sangat serasi. Layaknya sebuah keluarga kecil. Sion juga tampak akrab dengan Laskara. Laskara juga tak segan-segan untuk memegang tangan anak kecil itu agar selalu dalam jangkauannya.


Saat Aria sibuk melihat sebuah jam tangan, Laskara mencoba mengambil kesempatan untuk berdiri lebih dekat dengan Aria. Tangannya perlahan memegang pundak Aria.


“Aria!!!”


Aria langsung berbalik dan matanya bertemu dengan Kanva. Entah disadari mereka berdua atau tidak tapi yang jelas, Kanva sudah memperhatikan mereka dari tadi. Kanva sengaja membuntuti Aria karena ia ingin melihat Aria.


Kemarin ia diberitahu Aslan bahwa Aria sudah sudah kembali. Betapa senangnya Kanva mendengar Aria kembali namun ia juga marah saat mendengar Aria sedang dijodohkan dengan orang lain.


Aria yang masih terpaku harus tersentak karena satu tarikan keras yang membuatnya harus limbung. Tubuhnya membentur benda padat. Sempat Aria mendengar suara teriakan Sion. Dan Aria baru saja menyadari bahwa ia sudah dalam pelukan Kanva sementara Laskara terkapar di lantai. Sion? Sion ditenangkan oleh Franz. Franz mengalihkan perhatiannya.


“Kamu siapa?” Teriak Laskara bangkit dan berusaha menarik Aria dari rengkuhan Kanva.


“Jangan ikut campur!” Bentak Kanva membuat was-was.


“Kanva.”


“Aku ingin bicara sama kamu.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aria menatap ke arah Kanva dengan tenang. Seolah kejadian tadi tidak terjadi. Hal serupa juga yang dilakukan oleh Kanva. Mereka berdua kini berada di ruang tengah rumah Kanva. Rumah yang menjadi saksi kebisuan cerita masa lalu mereka. Sementara Sion masih bersama Franz.

__ADS_1


“Aku sudah ada di sini, katakan apa yang ingin kamu katakan.”


“Aria , aku minta maaf.”


__ADS_2