
Aria melihat mobil yang tepat berhenti di depannya. Begitu pintu mobil terbuka, senyuma Aria langsung membentuk sebagai bentuk sapaan. Laskara begitu terpana melihat penampilan Aria. Pria jelas tersenyum malu menatap Aria.
Laskara langsung mengajak Aria untuk masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dirinya pun menyusul. Saat Laskara hendak menyalakan mobilnya. Aria langsung menoleh ke arah Laskara untuk bertanya.
“Kita akan kemana?”
“Makan,” ucap Laskara.
“Dimana?”
“Di restoran. Ada restoran yang makananya enak. Aku yakin kamu akan suka.”
Setelah dua puluh menit kemudian mereka sampai. Aria keluar dari mobil. Ia melihat bangunan restoran tersebut. Terlihat sangat mewah dan sepertinya makananya tidak diragukan lagi.
“Ayo masuk,” ucap Laskara sambil mencoba menarik tangan Aria namun ia sedikit ragu. Alhasil Laskara hanya bisa mengepalkan tangannya.
Laskara berjalan beriringan dengan Aria. Setelah itu mereka menaiki lift. Dan tidak lama kemudian pintu lift terbuka. Di situ sudah ada dua pelayan yang seperti sudah menunggu mereka. Kemudian pelayan tersebut mengangkat mereka ke meja.
Aria terpesona dengan suasana restoran tersebut. Di tambah ada kaca begitu besar dan memperlihatkan pemandangan kota yang begitu indah dengan kilauan lampu yang begitu indah. Mereka pun duduk di sebelah jendela.
“Pemandangannya indah.”
“Aku senang kalau kamu suka.”
“Terima kasih sudah membawaku ke sini.”
Ketika Laskara ingin berbicara. Tiba-tiba perut Aria bunyi, membuat wajah Aria bersemu merah.
“Aku harap kamu suka dengan makanannya.”
Sebelum makananya di sajika, mereka terlihat mengobrol satu sama lain dengan lembut. Aria menyadari bahwa mereka sangat nyambung jika mengobrol. Berbagai topik apa saja, dan merasa sangat santai saat mengobrol dengan Laskara. Tidak ada perasaan canggung sama sekali. Mereka terlihat seperti teman lama meskipun mereka hanya saling kenal selama beberapa hari.
Tidak lama kemudian hidangan pertama datang. Laskara menatap hidangannya lalu melihat ke arah Aria. Wanita itu terlihat sangat tertarik dengan makananya.
“Selamat makan,” ucap Laskara.
Aria pun mengambil suapan pertama.
“Hm…ini sangat enak.”
“Syukurlah kamu suka.”
Hidangan pertama selesai, hidangan kedua pun datang.
Awalnya Aria begitu tenang namun ia merasakan seseorang menatapnya dengan intens. Ia merasa seolah-olah ia adalah mangsa yang menjadi sasaran sang serigala. Aria mengamati sekelilingnya dari kiri dan kanan hanya untuk tidak ada yang menatapnya dengan langsung.
“Apakah hanya perasaanku?” Gumam Aria.
“Ada apa?” Tanya Laskara.
“Oh, tidak ada.”
__ADS_1
Aria mencuri pandang sekilas pada Laskara.
Makanannya ketiga pun di hidangkan di tengah saat Aria makan, Laskara mengajak untuk menonton film dan Aria pun mengiyakan ajakan Laskara karena memang waktu belum terlalu larut malam.
Saat Aria tak sengaja memalingkan kepalanya untuk melirik ke belakang tanpa sadar hanya untuk menerima kejutan besar yang langsung membuatnya tegang. Orang yang duduk di belakang tidak lain adalah Kanva.
Aria tidak senang memikirkan Kanva, apalagi jika mengetahui pria itu mendengar percakapannya dengan Laskara. Aria buru-buru memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada makananya. Seolah-olah ia tidak melihatnya sama sekali.
Aria langsung menyuapkan makananya karena merasa tidak nyaman.
“Aria,” ucap Laskara.
“Ya.” Aria langsung mendongak dan melihat tangan Kanva terulur padanya. Seperti slow Motion, waktu seakan berjalan lambat. Lalu Aria merasa bahwa sudut bibirnya di usap dengan lembut oleh ujung jari Laskara.
Aria seolah terkejut namun ia hanya bisa mengedipkan matanya sementara Laskara tersenyum melihat ekspresi imut dari Aria.
“Ah..” ucap Aria sambil salah tingkah.
Aria berbalik untuk menemukan bahwa kursi di belakangnya kosong. Rasanya seperti berhalusinasi sebelumnya. Aria menghela napas lega.
“Aku ke kamar mandi dulu.”
“Ya,” ucap Laskara dengan senang. Terlihat ia bahagia di kencan pertamanya.
Aria hanya mencuci tangannya dan mengamati wajahnya di cermin. Setelah ia hendak ingin keluar tiba-tiba dengan cepat seseroang mendorongnya sampai masuk ke sebuah salah satu bilik toilet.
“Kanva? Bagaimana bisa kamu masuk ke toilet perempuan? Apa yang kamu coba lakukan?”
“Aria, mari kita mulai dari awal. Aku merindukanmu dan Sion juga pasti merindukan sosok ayah.”
“Kanva, apakah aku seperti barang menurutmu? Jika kamu benci kamu buang dan jika kamu mengingnakannya kamu mengambilnya lagi?”
“Kamu tahu bukan itu maksudku…”
“Bukankah kamu yang memaksaku untuk berpisah denganku. Kamu yang menginginkannya.”
“Kamu tidak ingin kembali padaku demi Sion. Apakah kamu tidak ingin melihat Sion mempunyai keluarga lengkap?”
“Kanva, jangan berpikir kamu bisa menggunakan putraku untuk mengancamku? Ingat, kamu bahkan dulu tidak mengakuinya sebagai putramu. Kamu bahkan menyuruhku untuk mengugurkannya!”
“Oke aku akui dan aku menyesal. Aku minta maaf. Aku gila waktu itu dan aku semakin gila. Itu semua karena kamu.” Bentak Kanva. “Aria, aku akan menenangkan hatimu lagi. Aku akan menebus semua kesalahan yang aku buat.”
Kanva langsung melepaskan Aria. Pria itu lantas pergi dari sana. Sementara Aria masih terlalu terkejut dan ia masih tidak bisa berkata-kata.
...…...
Pagi itu untuk pertama kalinya, Aria mengantar Sion ke sekolah taman kanak-kanak. Sion terlihat senang karena untuk pertamanya ia akan mendapatkan teman bermain.
Saat tiba di pintu gerbang, rupanya sosok pria tinggi tengah menunggu mereka. Pria itu adalah Kanva. Kanva terlihat melambaikan tangannya tersenyum ke arah Sion.
“Halo jagoan,” sapa Kanva pada Sion.
__ADS_1
Sion langsung mengeratkan tangannya pada ibunya.
“Untuk apa kamu di sini?” Tanya Aria terlihat tidak senang.
“Tentu saja untuk mengantar putraku ke sekolah untuk pertama kalinya.”
“Kanva.”
“Aria, izinkan aku menebus semua kesalahanku.”
Sion hanya bisa melihat ibunya dan pria yang tak dikenalnya dengan tatapan polos.
“Halo, Sion. Berapa umurmu?”
“Tiga tahun.”
“Siapa nama ibumu?”
“Aria.”
“Kalau nama ayahmu?”
Sion terlihat bingung lalu bocah kecil itu menggelengkan kepalanya.
“Apakah kamu mengenal ayahmu?”
“Kanva, berhenti.”
“Tidak, aku tidak akan berhenti.”
“Sion, sebenarnya—“
“Sion, sebenarnya aku adalah ayahmu. Kanva.”
“Ayah? Aku tidak menyukai ayah.”
Aria langsung tersenyum mendengar ucapan putranya sementara Kanva terlihat cemberut.
“Meskipun kamu tidak menyukai ayah tapi ayah menyukaimu.”
“Ibu, aku ingin ke sana.” Sion menunjuk sekolahnya.
“Baiklah.”
Mereka melewati Kanva begitu saja. Sementara Kanva masih berada di tempatnya dan melihat dua orang yang ia sayangi. Tekadnya kuat untuk mencuri hati Sion sekaligus mendapatkan kembali hati Aria.
Ia ingin menunjukkan bahwa ia serius dengan ucapannya. Ia akan berusaha mendapatkan Aria dan Sion. Ia ingin kembali membangun keluarga yang utuh dan penuh hangat.
Kanva pun mengambil ponselnya.
“Franz, belikan mainan terbaik untuk anak laki-lakiku. Aku ingin membelikan hadiah untuk putraku.”
__ADS_1