
Aria langsung melepaskan pelukan tersebut dan berbalik. Terlihat sekali bahwa Aria terkejut menatap tidak percaya.
“Aidan?”
“Apa yang terjadi? Kenapa bajumu basah?” tanya Aidan tanpa menjawab pertanyaan Aria.
“Kenapa kamu bisa berada di sini?”
“Aku rasa Franz sudah memberitahumu.”
“Iya memang tapi aku tidak menduga akan bertemu denganmu di sini.”
“Bukan itu saat ini yang penting. Cepat masuk ke dalam mobil dan tunjukkan rumahmu. Kamu harus berganti baju segera agar tidak terkena flu.”
Aria mengangguk dan segera masuk ke mobil saat pintu dibukakan oleh Aidan. Sebelum Aidan menyalakan mobilnya, ia membukakan jaketnya dan langsung menyampirkannya ke bahu Aria. Aria pun menoleh, matanya seakan bertanya.
“Agar kamu tidak kedinginan.”
“Terima kasih.”
Sepanjang perjalanan Aidan bertanya tentang perkembangan rencana Aria untuk mendekati Kanva. Pria itu juga bertanya apakah ada kemungkinan bahwa Kanva bisa memulihkan ingatannya.
“Dia tidak mengingat apa pun sekarang. Kemungkinan terburuk dia sudah melupakan perasaannya padamu.”
“Tidak apa-apa. Aku yakin dia akan mendapati kembali ingatannya. Aku akan melakukan apa pun untuk membuatnya mendapatkan kembali ingatannya bahkan jika ia tidak bisa mengingat semuanya. Yang terpenting dia masih hidup.”
Sementara itu di tempat lain, Kanva menyuruh Merlisa untuk pulang. Pria itu beralasan bahwa ia sedang tidak enak badan dan ingin sendirian. Merlisa tidak punya pilihan selain menuruti ucapan Kanva.
Beberapa menit sepeninggal Merlisa, Kanva langsung meraih jaketnya dan meraih kunci mobilnya. Pria itu melesitkan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia benar-benar bingung dengan dirinya sendiri.
Ia merasa gila karena tidak paham akan perasannya. Ia bingung apakah ia benar-benar menyukainya atau sekedar penasaran atau bahkan yang lebih bahaya jatuh cinta.
Keesokan harinya, Aria bekerja seperti biasa. Menyusun rencana dengan hal-hal kecil. Sementara itu di kursi kebesarannya Kanva teringat kejadian kemarin malam saat Aria berpelukan dengan pria lain. Itu sangat mengganggunya. Mengganggu pikiran dan hatinya.
“Sudah anda pertimbangkan?” Tanya Mario.
“Sudah aku pertimbangkan semalaman. Sekarang pun masih.”
“Jadi apa rencana pak manajer?”
Kanva menghela napas panjangnya dan ini sudah ke lima kali.
“Masih aku pertimbangkan.”
Mario dibuat frustrasi oleh atasannya itu.
“Lagi? Lagi? Lagi-lagi masih mempertimbangkan? Bagaimana itu bisa membuat pendapatan N Nation corp menjadi naik.”
“Apa?” Kanva langsung membalikkan kursinya. Rupanya apa yang dipikirkan mereka berdua berbeda.
“Saya sedang membicarakan perusahaan.”
__ADS_1
“Keluar,” suruh Kanva sambil menunjuk ke arah pintu karena ia kesal. Ia bahkan berdiri saking kesalnya.
“Saya tidak mau.”
“Keluar!” tunjuk Kanva namun yang ditunjuk malah Aria yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
Kanva langsung terhenti dan merasa terpana dengan kehadiran Aria. Dia terlihat sangat memesona dengan baju berwarna merah muda yang pas di badannya. Kanva yang tadinya berdiri kini langsung duduk dengan sikap sempurna layaknya seorang duke yang agung dan penuh kuasa. Ia teringat ucapan Aria yang menyukainya namun setelah itu ia teringat Aria yang dipeluk oleh pria lain.
“Nona Aria, kamu sudah menyelesaikannya?” Tanya Mario.
“Ya.”
Aria langsung menyerahkan berkas-berkas yang baru saja ia selesaikan. Kanva langsung meraih berkas tersebut dan segera membukanya. Ia membukanya dengan asal seolah sedang membaca padahal tidak sama sekali.
“Proyek terkait....? Kamu boleh pergi,” ucap Kanva tanpa melihat ke arah Aria.
“Baik, Pak manajer.”
“Pendapatan tahun kemarin….”
Baru saja Aria ingin menyentuh gagang pintu, langkahnya langsung diinterupsi oleh Kanva.
“Nona Aria, buatkan aku kopi.”
“Baik Pak manajer.”
Aria dengan senang hati membuatkan kopi untuk Kanva. Sebelum bertunangan, Aria sering sekali membuatkan Kanva kopi jika Kanva berkunjung ke rumahnya. Ia berharap dengan secangkir kopi, bisa menghidupkan kembali ingatkan Kanva padanya.
“Pak manajer, saya membuatkan kopi untuk anda.”
“Taruh di meja,” ucap Kanva dengan acuh tak acuh.
Beberapa detik kemudian Aria melihat Kanva meneguk kopi buatannya. Sayangnya ia tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Kanva. Pria itu masih dengan ekspresi yang sama hanya saja matanya yang terlihat membulat sempurna.
Aria pikir bahwa Kanva menyukai kopi buatannya dan prediksinya ternyata salah total.
“Ini terlalu manis, buatkan lagi.”
Aria terkejut mendengarnya. Padahal ia membuatkan kopi seperti biasanya untuk takaran kopi dan juga gula. Kanva di masa lalu akan memujinya namun kenapa sekarang ia malah berkomentar dan mengomelinya.
Aria kembali membuatkan kopi baru.
“Ini terlalu pahit, buatkan lagi.”
Aria membuatkan kopi untuk ketiga kalinya.
“Terlalu panas, buatkan lagi.”
Lagi-lagi Aria kembali membuatkan kopi untuk Kanva.
“Apa-apaan ini. Ini terlalah hambar, buatkan lagi.”
__ADS_1
Aria menggigit bibirnya menahan segala umpatan yang bersarang di tenggorokannya.
“Pak manajar kamu pasti kesal denganku. Kamu pasti memikirkan hal kemarin?”
“Tidak.”
“Kemarin aku memang berlebihan bukan? Aku mengaku aku salah menyerangmu saat kamu bersama tunanganmu. Aku minta maaf jika kamu merasa terkejut.”
“Soal kemarin….sia….”
“Pak manajer, aku akan kembali ke mejaku sekarang. Dan sebenarnya itu kopi yang sama yang aku buatkan pertama kalinya.”
Aria pun keluar dari ruangan Kanva dengan kesal. Melihat pintu yang sudah tertutup, Mario yang sedari tadi berada di sana segera mendekati Kanva.
“Kenapa Pak manajer selalu mengerjai nona Aria?” Tanya Mario begitu penasaran.
“Apa maksudmu?”
“Orang bisa mengira anda menyukainya. Kenapa? Apa alasannya? Itu seperti anak kecil.”
“Anak kecil?”
“Ya.”
“Anda suka tapi tidak bisa mengutarakannya. Ingin mencari perhatian tapi tidak tahu caranya. Maka dari itu suka berbuat usil pada nona Aria tepat seperti bocah kecil.”
“Itu tidak benar!” Bantah Kanva. “Kenapa aku menyukai orang seperti dia? Aku sangat membenci sifatnya. Dia bukan tipeku. Lagi pula aku sudah bertunangan.”
“Huh? Saya hanya bercanda, kenapa reaksi anda begitu serius bagai orang yang ketahuan isi hatinya. Pak manajer, anda tidak humoris, tidak peka.”
Kanva yang kesal langsung menendang Mario keluar dari ruangannya.
Matahari semakin tenggelam dan beranjak dari tempatnya. Sementara Aria masih sibuk dengan laporannya. Tiba-tiba saja seseorang tengah mengiriminya sebuah pesan. Itu adalah pesan dari Kanva yang mengajaknya bertemu sepulang kerja.
Aria tersenyum semeringah bahwa Kanva mendekatinya terlebih dahulu. Namun itu tidak lantas membuat Aria langsung mengiyakan ajakan Kanva. Wanita itu hanya melihat pesan dari notifikasi pop up tanpa berniat untuk membacanya. Rencananya Aria ingin mengabaikan pesan tersebut. Sepertinya bermain tarik ulur sangat seru.
Aria tidak mengetahui bahwa Kanva sangat menantikan pesan balasan darinya. Pria itu melihat terus layar ponselnya. Ia melihat sampai jenuh.
“Apakah dia sudah pulang? Tidak melihat pesanku? Tidak sempat melihatnya? Atau apakah dia masih sibuk?”
Kanva masih setia memegangi ponselnya sambil terus melihat ke arah pesan yang ia kirim. Sudah hampir satu jam lamanya dan Aria tidak membalasnya.
“Apa dia sedang lembur? Tapi jika dia lembur bukankah seharusnya Mario juga lembur?”
Kanva yang bosan langsung berganti posisi duduk, kadang berdiri, jongkok, push up, lari di tempatnya. Ia menghabiskan waktunya menunggu balasan dari Aria dengan hal-hal yang tak pernah terpikirkan oleh orang lain.
“Aku akan menunggunya sambil bermain game.”
Sampai pada akhirnya, Kanva sudah tidak bisa bersabar lagi. Kanva langsung menelepon Aria.
Aria yang saat ini sudah berada di minimarket dan memakan ramyeon dan cola hanya melihat ponselnya bergetar.
__ADS_1