Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
24. Teman Masa Lalu


__ADS_3

Aria merebahkan tubuhnya yang penat di ranjang. Baru saja ia dan Kanva sampai di rumah setelah tiba dari bandara. Ia melepaskan pakaian panjangnya di kamar mandi dan melihat penampilannya di cermini. Banyak bekas kemerahan di sekitar leher dan tulang selangkanya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Kanva.


Sementara itu, Kanva langsung pergi ke ruang kerjanya karena Franz sudah menunggu di sana untuk melapor.


“Tuan muda, Raean akhirnya jatuh ke dalam perangkap yang anda buat untuknya. Sepertinya Klein Corporation akan berada dalam kekacauan kali ini.”


“Itu terdengar bagus.”


Franz terlihat ingin mengatakan sesuatu namun ia terlihat ragu. Mulutnya sampai membuka menutup dan berakhir menelan ludahnya. Kanva yang merasa Franz berlagak aneh langsung mendongak dan melihatnya.


“Ada apa? Katakanlah!”


“Tuan Mida, saya merasa saya tidak muda lagi. Sudah waktunya bagiku untuk mencari calon istri.”


“Apakah kamu sedang menyukai seseorang?”


“Saya hanya iri dengan Tuan Muda dan Nyonya Muda. Saya juga ingin menemukan seorang wanita yang saya cintai dan mencintai saya,” ucap Franz.


“Kamu sudah mengikutiku selama bertahun-tahun. Sudah saatnya kamu mencari pasangan.”


“Saya bahkan tidak mempunyai kesempatan untuk mengenal wanita mana pun.”


“Kamu bisa mencoba aplikasi kencan tapi kamu harus berhati-hati. Banyak tipuan di sana.”


“Itu bukan masalah bagi saya.”


“Bagaimana pun berhati-hati lah. Kamu bisa keluar sekarang.”


“Baik, Tuan Muda.”


Tepat ketika Franz ingin keluar, bibi Ina memberitahukan bahwa Raean datang.


“Biarkan dia masuk.”


“Saya akan berdiri di sini dan melihatnya.”


Kanva bersandar pada kursinya, meletakkan kakinya di meja dan tangannya di perutnya. Ia bagaikan seorang raja tiran yang sangat menakutkan. Ia menunggu dengan tenang agar mangsanya masuk.


“Apa yang ingin kamu bicarakan, sepagi ini berkunjung?”


“Kanva, bukankah kamu kehilangan ingatanmu?”


“Maaf, mengecewakanmu tapi ingatanku sudah lama kembali.” Kanva tersenyum licik yang memicu percikan api permusuhan.


“Apa yang harus aku lakukan agar kamu melepaskan Kill corporation? Bukankah memenjarakan ayahku sudah cukup bagimu, bagaimana bisa kamu juga ingin menghancurkan perusahaanku?”


“Bukankah kamu yang memulai permainan ini dulu? Kamu harus menyelesaikan apa yang kamu mulai. Kamu mengambil kesempatan untuk menyerang perusahaanku selama aku menderita amnesia dan menimbulkan kekacauan dalam perusahaanku.”


Raean langsung berdiri tiba-tiba dan berkata, “Sepertinya aku membuat pilihan yang salah untuk datang ke sini hari ini.”

__ADS_1


“Aku tidak akan mengantarkanmu sampai pintu.”


Kanva berdiri tapi berjalan keluar menuju ke ruang makan untuk sarapan di susul oleh Franz. Begitu sampai di ruang makan, Franz langsung mengacungkan jempolnya dan memuji Kanva.


“Tuan Muda, sangat bagus. Lihatlah, dia pasti sangat marah.”


“Dia pikir dia siapa bisa mengacau?”


“Tepatnya, dia pikir dia siapa?”


“Franz, gabunglah dengan kami.”


“Tuan Muda, bagaimana aku bisa…”


“Ini perintah,” ucap Kanva tegas.


Franz langsung tersenyum. “Saya akan mematuhi perintahmu, Tuan Muda.”


Franz langsung duduk di samping Kanva.


“Itu kursi istriku. Duduklah di sana.”


Setelah sarapan, Kanva berencana untuk masuk kerja kembali. Dalam perjalanannya ia membuka berita online di layar ponselnya. Ia mengklik salah satu berita dengan tag line ‘Direktur Wijaya dituntut setelah mengakui kejahatannya pada polisi’


Kanva langsung menghela napas panjang dan menutup layar ponselnya. Ia tiba di kantornya dengan langkah tegap. Rupanya di sana sudah ada banyak wartawan yang menunggunya. Mereka semua ingin mendapatkan berita lebih detail dalam kasus tersebut.


“Presdir, apa komentarku atas penuntutannya?”


Kanva berjalan tanpa sama sekali ingin membuka suaranya. Meskipun banyak wartawan yang menyorotnya, untuk saja pengawalnya membantu untuk membuk jalan untuknya. Kanva langsung memasuki lift yang diperuntukkan untuknya dan langsung menekan nomor panel paling atas.


Ia langsung membalikkan tubuhnya dan menghela napas panjang, melihat betapa ributnya wartawan dengan lampu flash mereka.


...…...


Aria membaca novelnya kamarnya. Ia bersandar pada sandaran ranjangnya. Lampu di nakas menyala, di sampingnya ada kopi yang masih mengepul. Aria menolehkan kepalanya begitu pintu kamarnya terbuka dari luar.


“Ke pintu utama sekarang,” ucap Kanva dengan nada dingin membuat bulu kuduk Aria merinding mendengarnya.


“Ada apa?” Tanya Aria bingung.


“Kamu akan tahu nanti, cepat ke pintu utama sekarang,” ucap Kanva, lalu ia pergi begitu saja.


“Jangan bilang di sana ada Merlisa,” teriak Aria. “Bukankah kamu sudah mengusirnya?”


Aria mengenal napas. Ia lantas bangun dari ranjangnya kemudian berjalan ke pintu utama.


Di sana rupanya Kanva sudah berdiri dengan wajah dingin tapi tatapannya tertuju ke seseorang yang berdiri di depan pintu. Aria tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh Franz yang berdiri di belakang Kanva.


Keberadaan Aria rupanya membuat ketiga lelaki tersebut menoleh ke arahnya. Dan betapa terkejutnya ketika Aria melihat seorang yang ia sangat kenal berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


“Darel?” Ucap Aroa sambil tersenyum dengan tampannya sedangkan Kanva menatap tajam lelaki di depannya.


“Halo, Aria.” Darel tersenyum dengan tampannya.


Darel tidak peduli dengan keberadaan Kanva, pria itu melewatinya dan langsung memeluk Aria dengan erat tubuh kecil Aria. Membuat Aria kaget. Tapi pelukan tersebut tidak berlangsung lama karena Kanva langsung menarik Darel dan menonjoknya tepat di wajah tampan Darel.


Aria langsung membulatkan matanya. “Kanva!” Aria langsung menunu Darel.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Aria khawatir sementara Darel tersenyum kecil walaupun bibirnya terluka karena dipukuli Kanva.


“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”


“Kanva, cepat minta maaf!” Ucap Aria dengan kesal karena kelakuan Kanva yang tidak sopan.


“Aku tidak mau,” ucap Kanva keras kepala.


“Kanva, dia ini temanku.”


“Teman macam apa yang memelukmu. Jelas-jelas kamu sudah mempunyai suami.”


“Darel, ayo masuk. Lukamu harus disembuhkan,” ucap Aria. Kanva menatap Aria dengan dahi yang mengerut.


“Kamu akan mengundangnya masuk?” Tanya Kanva tidak percaya.


“Tentu saja. Semua ini ulahmu, kami tidak perlu menonjoknya seperti ini,” ucap Aria berjalan masuk. Darel hanya tersenyum, miring ke Kanva begitu tangannya di tuntun Aria untuk masuk.


Kanva mengacak-acak rambutnya frustrasi lalu ia menghela napas dan mengikuti mereka.


Sekarang mereka sedang berada di ruang tengah. Aria dan Darel duduk di sofa sementara Kanva enggan dan lebih memilih untuk berdiri sambil mengawasi mereka berdua.


“Bagaimana bisa kamu tahu aku di sini? Kita sudah bilang kontak beberapa tahun yang lalu.”


“Aku hanya merindukanmu,” jawab Darel, Kanva menatapnya tajam.


Darel menyadari kalau Kanva menatapnya tajam tapi ia tidak peduli.


“Apa hubungan kalian berdua? Dia menyebutkan dirinya sebagai suami?” Tanya Darel sambil menyipitkan mata.


“Kami pasangan suami istri,” ucap Kanva.


Darel menyipitkan mata ya lalu mengucapkan, “Aku tidak percaya jika kami yang bicara.”


“Tanya sendiri saja ke Aria,” ucap Kanva, Darel menoleh dan menatap Aria.


“Ya kami sudah menikah dan Kanva adalah suamiku,” ucap Aria, Darel terdiam sebentar mencoba mencerna ucapan Aria.


Darel menghela napas lalu ia bangun dari sofanya. Aria menatapny bingung.


“Aku lebih baik pulang.”

__ADS_1


“Kamu menginap dimana? Kenapa tidak menginap di sini?” Tanya Aria khawatir.


“Aku sudah check in hotel. Lagi pula, suamimu tidak ingin aku berada di sini,” ucap Darel sambil melirik ke arah Kanva yang dingin.


__ADS_2