
Beberapa terakhir ini, Aria kehilangan nafsu makannya. Tidak hanya itu, ia sering merasa pusing dan sering mual. Ia juga gampang kecapekan. Moodnya juga sering naik turun. Aria berbaring di tempat tidurnya. Perutnya kosong sejak tadi pagi namun ia sama sekali tidak ingin makan.
Meskipun matany terpejam namun pikirannya berkelana kemana-mana. Ia merasa ada yang janggal dengan tubuhnya.
Ia langsung membuka matanya dan berganti pakaian. Ia menyuruh sopir untuk mengantarkannya ke apotek. Ia memberi dua tes ke alat kehamilan. Ia awalnya ragu namun Karena rasa penasarannya ia membeli alat tersebut.
Saat ia keluar dari apotek ia tidak sengaja melihat Darel.
“Aria, “ panggil Darel.
“Darel.”
“Apakah kamu sakit?”
“Apa?”
“Kamu keluar dari apotek, jadi apakah kamu sedang sakit?”
“Tidak, aku hanya membeli sesuatu.”
Darel langsung mengernyitkan keningnya ketika matanya tak sengaja melihat dua alat tes kehamilan. Darel bisa melihatnya karena memang kantong keresek yang bening. Darel ingin bertanya lebih lanjut namun Aria terburu-buru untuk pamit.
Darel melihat Aria yang sudah masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya. Ia tidak bisa berhenti berpikir liar.
...…...
Aria memperhatikan beberapa pasien yang mengantri. Satu orang lagi lalu gilirannya. Jantungnya berdebar kencang. Kemarin ia memeriksa dengan menggunakan alat tes kehamilan dan hasilnya dua garis merah.
“Nyonya Aria.”
Aria mendongak gugup, berjalan menuju ruang periksa. Seorang dokter berusia sekitar empat puluhan menyambutnya dengan ramah.
“Ada keluhan apa, Nyonya?”
“Saya terlambat menstruasi dok. Saya juga sering mual dan pusing.”
“Menstruasi terakhir kapan?”
“Saya tidak ingat dok, mungkin sebulan dua bulan yang lalu.” Aria menjawab ragu.
“Langsung periksa ya.”
Dokter mempersilahkannya berbaring di ranjang periksa. Dibantu oleh perawat yang sedang memeriksa tekanan darah Aria. Dokter itu juga mengoleskan gel di atas perut Aria dan menggerakkan alat usg.
Dokter tersebut mengerutkan keningnya lalu mengangguk dan menyudahi untuk memeriksa. Dokter tersebut kembali ke kursinya sementara perawatan membantu Aria membersihkan gel yang tersisa.
“Nyonya tadi mengeluh mual?”
“Ya. Dok. Setiap pagi selalu mual.”
“Nyonya hamil. Usia janinnya sekitar sembilan minggu. Ibu dan bayinya sehat. Saya akan buatkan resep untuk menambah darah dan vitamin.”
__ADS_1
Aria termangu meskipun sudah menduganya. Aria tetap senang mendengar kabar baik ini dari mulut dokter kandungan. Ucapan nasehat dokter itu serupa dengungan di telinga Aria tanpa mampu ia serap saking ia bahagianya.
Ia menerima resep dari dokter, membayar biaya periksa dan keluar dari rumah sakit itu dengan perasaan senang.
Aria memandangi perutnya yang masih tampak datar. Mungkin dua atau tiga bulan lagi perutnya akan membesar.
Saat Aria masih terperangkap dengan imajinasinya, sosok Darel datang. Akhir-akhir ini Aria selalu bertemu dengan Darel. Entah itu hanya kebetulan atau memang Darel yang selalu mengikutinya.
“Apakah kamu sedang hamil?”
“Apa?” Tanya Aria terkejut karena pertanyaan Darel yang tiba-tiba.
“Aku melihatmu keluar dari poli kandungan.”
“Ya, aku sedang hamil.”
Entah mengapa ekspresi Darel langsung semringah. Ia langsung memeluk Aria dengan erat seakan ia baru saja diberitahukan kabat suka cita.
“Aria, aku sangat senang mendengarnya. Aku akan berjanji akan bertanggung jawab atas kehamilanmu,” ucap Darel.
Aria langsung mengerutkan keningnya. Sepertinya ada yang salah dengan ucapan Darel.
“Kenapa kamu harus bertanggung jawab dengan bayi ini?”
“Tentu saja dia adalah anakku.”
Ekspresi Aria langsung terkejut. Ia bahkan mulutnya membentuk huruf O. Aria langsung mengerjapkan matanya dan menarik napas panjang sebelum menjelaskan panjang kali lebar pada Darel.
“Darel, sudah aku katakan sebelumnya. Kita sama sekali tidak melakukan apa pun. Kamu mengatasi hasratmu dengan bermain solo. Apakah kamu benar-benar tidak ingat?”
Aria langsung tidak bisa bersuara. Ini adalah pertama kalinya ia menghadapi situasi yang rumit dimana ia tidak bisa menjelaskan dengan sejelasnya.
“Setelah anak ini lahir, kita akan menjalankan tes DNA antara dirimu dan bayi ini. Jika ia terbukti anakmu, aku akan menyerahkannya padamu.”
“Bagaimana jika itu terbukti anakku, kamu akan menceraikan Kanva.”
Aria lagi-lagi kehilangan suaranya. Darel sepertinya sudah benar-benar kehilangan kewarasannya.
“Kenapa kamu diam?”
“Karena kamu tidak akan percaya apa yang aku katakan!”
“Tinggal di sisiku. Kita akan membesarkannya bersama.”
Anak ini adalah miliknya dan suaminya, Kanva. Bagaimana ia bisa tinggal bersamanya dan membesarkannya bersama.
“Darel, bisakah kamu bicara hal rasional?”
“Aku takut kamu akan menggugurkan anak itu karena takut ketahuan oleh Kanva.”
“Astaga, Darel.”
__ADS_1
“Kita akan bicarakan ini. Sekarang aku ingin pulang. Kepalaku pusing,” ucap Aria berbalik menuju ke arah mobilnya.
Aria tahu benar apa sedang dilakukan Darel. Dia pasti mencoba untuk mengawasinya.
...…...
Saat makan malam, Aria hanya makan sedikit. Menyadari betapa parahnya Aria mual. Secara khusus Kanva meminta pelayan memasakkan Aria bubur. Aria memakannya selagi hangat. Ia menghambiskan satu mangkuk bubur tentunya dengan susah payah.
Aria masih belum memberitahukan kehamilannya.
Merasa mengantuk dan lelah. Ia segera naik ke lantai atas menuju ke kamarnya untuk tidur. Itu semua tidak luput dari pandangan Kanva.
Kanva langsung menuju ke ruang kerjanya. Pikirannya berkeliaran mengingat sikap Aria yang akhir-akhir ini berubah. Kanva langsung memanggil kepala pelayan, sopir dan juga Franz.
Satu persatu dari mereka ditanya, apa saja kegiatan Aria akhir-akhir ini. Apakah ada yang salah dengan dirinya?
Tidak ada yang berbeda. Mereka semua mengatakan kegiatan Aria seperti biasa.
Setelah itu, Kanva membubarkan semua pelayannya dan ia menuju kamar utama. Di sana rupanya Aria sudah berbaring layaknya seekor kucing yang imut. Kanva langsung berbaring di samping Aria sambil memeluknya.
Aria yang merasakan sebuah pelukan langsung mengubah posisinya dan memeluk Kanva.
“Apakah kamu belum tidur?”
“Aku hanya berbaring.”
“Kepalamu masih pusing?” Tanya Kanva khawatir.
“Tidak.”
“Kamu pasti akhir-akhir ini bosan di rumah. Aku berencana mengajakmu ke gunung.”
Mata Aria langsung membuka dengan sempurna.
“Gunung?”
“Ya, kamu akhir-akhir mengalami pusing dan mual. Pergi ke gunung sambil melihat kehilangan alam merupakan terapi yang sangar efektif.”
Aria langsung menggeleng.”Tidak! Aku lebih baik berbaring di ranjang saja.”
“Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Sekarang tidur lah.”
“Aku tidak bisa tidur sebelum kamu membacakan buku dongeng.”
“Kamu bukan lagi anak kecil.”
“Aku hanya ingin mendengar suaramu.”
“Baiklah.”
Kanva langsung mengambil ponselnya dan mencari di pencarian dengan kata kunci dongeng. Lalu banyak dongeng di sana yang direkomendasikan. Kanva memilih dongeng Cinderalla. Melihat Kanva yang serius membaca cerita dongeng. Aria tersenyum.
__ADS_1
Ia tidak sabar menantikan bayinya keluar. Pasti setiap malam, Kanva akan membacakan dongeng untuk anaknya.
Aria langsung mempunyai ide. Ia akan mengadakan kejutan untuk Kanva. Ia akan memberitahukan kejutan akan kehamilannya.