
Darel mendengar semua penjelasan Aria namun pria itu masih kekeh dalam pendirinya dan beranggapan bahwa bayi yang dikandung Aria adalah bayinya.
Aria sudah tidak tahu bagaimana lagi harus meluruskan kesalahpahaman ini. Energinya sudah terlalu habis terkuras. Emosinya tidak stabil dan ia benar-benar lelah. Aria pun sudah tak sanggup lagi menahan rasa kantuknya dan lelahnya beban ini.
Malam itu, Aria pergi tidur lebih awal. Ia akan kembali meluruskan kesalahpahamannya lagi besok pagi karena memang hari sudah terlalu larut. Ia mengunci kamar dari dalam.
Sementara Darel masih berperang dengan pikirannya. Ia lantas ingin bertanya kembali pada Aria. Saat ia memanggil-manggil namanya, tidak ada jawaban dari dalam. Darel lantas mencoba untuk membuka pintunya namun tidak bisa dibuka karena pintu di kunci.
Ia lantas mengambil kunci cadangan karena merasa khawatir. Begitu ia membuka pintu tersebut ia langsung melihat Aria yang sudah terlelap di tempat tidur. Kanva memperhatikan Aria yan tertidur dengan damai.
Melihat cara Aria tidur, ia dengan santai membuka kamera ponselnya dan mengambil beberapa foto. Ia merasa bahwa gambar-gambarnya terlihat bagus. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Saat matahari sudah mengeluarkan sinarnya. Aria sudah bangun dan pergi keluar dari kamarnya. Saat ia hendak berbelok dan mengambil air, suara orang menginterupsinya.
“Kamu sudah bangun?”
Aria langsung berbalik dan hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Ada surat untukmu,” ucap Darel.
“Dari siapa?” Tanya Aria lalu ia mengambil surat tersebut.
“Aku tidak tahu.”
Aria pun membukanya dan betapa terkejutnya ia mendapati surat gugatan perceraian. Tanpa pikir panjang Aria pun pergi keluar rumah.
“Kamu ingin ke mana?” Teriak Darel.
“Pulang.”
“Aku bisa mengantarkanmu.”
Pikiran Aria sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Ia menghentikan sebuah taksi dan langsung masuk ke dalamnya. Memberitahu sang sopir tujuannya. Sepanjang perjalanan Aria tak berhenti berdoa, semoga ini hanya gertakan dari Kanva.
Namun setelah melihat ekspresi Kanva sepertinya itu bukan hanya gertakan semata.
“Kanva.”
“Kamu sudah mendapatkannya. Wah aku tidak percaya akan sampai cepat padamu. Kamu sudah melihatnya? Jika sudah, tanda tangani segera.”
“Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? Sudah aku bilang, aku dan dia tidak ada hubungan apa pun. Anak ini milikmu. Aku hanya mengantarkannya ke hotel karena dia sangat mabuk. Aku tidak melakukan apa pun yang kamu tuduhkan padaku. Kenapa kamu tidak percaya padaku?” Aria tersedak air matanya sendiri saat ia berteriak.
__ADS_1
“Aku tidak percaya, wanita dan pria memasuki kamar hotel dan tidak melakukan apa pun.”
“Haruskah kamu berbuat sejauh ini? Haruskah kita harus berpisah?”
“Ya,” jawab Kanva singkat.
“Apakah tidak ada cara lain untuk mempertahankan rumah tangga kita?”
“Gugurkan bayi itu.”
Franz menyaksikan Aria langsung merosot ke lantai. Ia seperti orang yang hampir pingsan namun saat memikirkan perlakukan Nyonya Mudanya, ia menyingkirkan rasa simpatinya.
Aria tidak mau menandatangani surat perceraian itu tapi ia juga tidak mau menggugurkan bayinya.
“Bayi ini tidak melakukan kesalahan, mengapa aku harus mengugurkannya? Kanva, bukankah kita saling mencintai. Bisakah kamu bersikap lebih tenang dan menunggu bayi ini lahir? Kita bisa tes DNA untuk membuktikan bahwa ini adalah anakmu?”
“Tanda tangani itu atau gugurkan anak itu? Tidak ada pilihan selain itu.”
Tangan Aria bergetar hebat. Ia tidak bisa menggugurkan anak yang tidak bersalah apalagi ia tahu ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Tapi karena ia juga tidak melakukan kesalahan ia sangat ingin menyelamatkan pernikahannya. Karena Aria mencintai Kanva. Tapi ia dihadapkan oleh situasi yang sulit.
Aria pun berusaha untuk berdiri. Ia mengambil pena dan menandatanganinya.
“Aku harap kamu tidak akan menyesal.”
“Tolong kemasi barang-barangku. Aku akan menyuruh orang untuk mengambilnya.”
Aria pun keluar dari rumah itu. Ia juga menelepon Aidan agar menjemputnya dan mengantarkannya ke rumah orang tuanya.
Ketika mobil Aidan tiba di gerbang rumah Kanva, Aidan bersandar di mobilnya.
“Apa yang terjadi? Mengapa kamu menangis?”
“Antarkan aku ke rumah orang tuaku.”
“Beritahu aku, mengapa kamu menangis?”
Aria pun menjelaskannya. Ketika Aidan mendengar penjelasan dari Aria tentu saja Aidan sangat marah, ia ingin segera meluapkan amarahnya pada sahabatnya itu.
...…...
...****************...
__ADS_1
Saat Kanva baru saja turun dari mobilnya, Aidan langsung mendaratkan bogeman kerasnya. Ia sudah menunggu lama momen ini dan ini kesempatannya. Saat Kanva baru saja pulang dari kantornya.
Sementara itu, Kanva hanya bisa menerima pukulan itu dengan pasrah. Ia menyeka sudut bibirnya yang basah karena darah.
“Tuan Muda !” Franz merasa khawatir.
Aidan menatap Kanva dengan mata dingin dan mengarahkan harinya ke arahnya.
“Aku sudah melihat rekaman kamera itu dari Franz. Apakah kamu pikir apa yang kamu lihat dengan matamu dan mendengar dengan telingamu selalu benar? Aku tidak percaya bahwa Aria melakukan hal itu. Ia sangat murni dan polos. Jika dia mau, saat kamu hilang ingatan, dia bisa mendapatkan pria lain tapi nyatanya dia setia menunggumu. Dia sangat mencintaimu selama bertahun-tahun dan beginilah caramu memperlakukannya, Kanva?“
“Kamu tidak perlu ikut campur dalam masalah kami. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana perasaanku?”
Kanva langsung melewati Aidan dan masuk ke dalam rumahnya. Kanva langsung merebahkan punggungnya ke sofa. Beban di atas pundaknya semakin berat. Kepalanya semakin berdenyut.
Ia lantas memejamkan matanya. Terlarut dalam kesunyiannya. Tiba-tiba ada suara-suara yang menganggu kesunyiannya. Kanva tetap diam sementara pintu rumahnya terbuka dengan pelan.
“Arsel! Ada dengan wajahmu?”
Merlisa begitu khawatir melihat sudut bibir Kanva yang terluka.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Kanva saat ini dalam suasana hati buruk dan kedatangan Merlisa memperburuk suasana hatinya.
“Aku hanya merindukanmu.”
“Kamu sudah melihatku lalu pergilah,” ucap Kanva dingin.
“Arsel, aku sangat mencintaimu. Bisakah kamu memberiku kesempatan?”
“Aku sudah memperingatkanmu.”
Tatapan harapan dari Merlisa pun langsung menghilang.
“Aku akan tidur. Aku sangat lelah.”
Kanva melewati Merlisan begitu saja,
Begitu masuk ke dalam kamarnya. Kanva langsung menuju ke lacinya. Ia mengambil beberapa pil tidur dan langsung menelannya. Ia lantas berbaring di tempat tidur dan mulai tertidur. Ia awalnya berpikir bahwa ia akan tidur nyenyak sampai fajar namun ia terbangun tiba-tiba di tengah malam, merasakan sakit yang teramat di kepalanya.
Keringat dingin langsung membanjiri seluruh tubuhnya. Ia mengganti posisi tidurnya namun tidak ada yang bisa menenangkan rasa sakitnya.
__ADS_1
Pagi harinya ia pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya namun dari hasil pemeriksaan tidak ada yang aneh. Semua dalam hasil yang normal. Ia dinyatakan baik-baik saja.
Kanva pun menyuruh Franz untuk mendatangkan seorang psikiater. Meskipun awalnya ia ragu tapi apa salahnya bertanya barangkali ia bisa mendapatkan obat yang bisa menenangkan rasa sakitnya.