
Aria menunggu Kanva di dalam mobilnya. Ia sesekali melihat ke luar jendela untuk melihat apakah Kanva sudah keluar. Saat ia sedang asyik memainkan ponselnya, tiba-tiba kaca jendela mobilnya diketuk oleh seseorang.
Aria langsung menoleh dan tersenyum begitu melihat Kanva. Pria itu segera masuk ke dalam mobilnya.
“Haruskah kita pergi ke restoran favoritmu. Kita sudah lama tidak ke sana.”
“Aku sangat kenyang. Apakah kamu belum makan? Aku bisa mengantarmu ke sana.”
“Tidak, aku sudah kenyang juga,” ucap Kanva. “Lalu kita akan ke mana?” Tanya Kanva.
“Hanya jalan-jalan.”
Aria pun menekan pedal gas mobilnya. Mereka menuju ke sebuah taman yang terkenal dengan lampu warna-warninya. Aria dan Kanva pun segera turun begitu sampai. Cuacanya sangat mendukung. Meskipun di malam hari namun suhunya tidak terlalu dingin.
Mereka berjalan perlahan menyusuri taman, Kanva mengambil kesempatan untuk memegang tangan Aria. Kehangatan sentuhannya mengingatkan Aria tentang masa lalu bahagia yang dulu mereka miliki.
Pada titik ini, ia sudah memutuskan untuk kembali merajut benang merah untuk Kanva. Ia sudah memutuskan untuk mengikuti hatinya.
“Mulai sekarang, berhenti menemui Laskara,” ucap Kanva.
“Kami hanya teman biasa,” ucap Aria.
“Apakah kamu benar-benar berpikir, dia hanya melihatmu sebagai teman biasa? Sebagai seorang pria, aku tahu dengan jelas apa yang dia pikirkan terhadapmu,” ungkap Kanva dengan nada tidak senang.
“Memang benar, saat ibu memperkenalkannya padaku. Aku pernah berpikir untuk menjalani hubungan dengannya. Dia benar-benar mempunyai kepribadian yang luar biasa,” puji Aria.
“Kamu hanya mengenalnya untuk beberapa hari namun kamu sudah berpikir bahawa dia luar biasa?”
“Hem, aku bisa membaca kepribadianya saat kami makan malam bersama. Kesan pertamaku bahwa dia orang baik. Aku juga mengbrol dengannya, dan kami sangat nyambung.”
Kanva segera menjawab, “Dia hanya mencoba untuk menipumu agar kamu jatuh cinta padanya.”
“Jangan berpikir terlalu buruk. Dia memang orang baik.”
Kanva yang kesal langsung melepaskan tangannya dan mencibir, “Jika dia orang yang baik dan luar biasa, mengapa kamu tidak langsung menerimanya?”
Melihar reaksi Kanva, Aria langsung mengodanya. “Wah Hubby, apakah kamu sedang cemburu?”
Kanva merasa jauh sedikit lebih baik saat mendengar nama Hubby.
“Aku hanya tidak suka mendengarmu memuji pria lain. Itu membuatku kesal.”
“Bagaimana jika aku memuji putra kita?”
“Dia juga laki-laki,” ucap Kanva.
Aria langsung terdiam sesaat. Ia menghela napas dan langsung memegang keningnya. “kamu tidak hanya cemburu karena hal sepela tapi kamu juga seperti anak kecil.”
“Itu sebabnya, sebaiknya kamu tidak memancing kecemburuanku. Tidak ada yang bisa memilikimu selain aku. Kamu milikku.”
“Wah, haruskah aku tersentuh dengan ucapanmu.”
“Seharusnya begitu,” ucap Kanca lantas pria itu langsung berjongkok di depan Aria.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Aria sedikit terkejut.
“Naiklah!” Perintah Kanva.
__ADS_1
“Aku mempunyai kaki dan bisa berjalan sendiri.”
Aria tidak punya pilihan. Ia pun naik dipunggung Kanva.
Franz yang diam-diam mengikuti mereka langsung mengambil beberapa foto dan sangat senang melihat beberapa jepretan kamera ponselnya. Franz berharap bahwa ia bisa mengambil foto saat mereka berciuman namun yang terjadi sampai akhir. Aria tertidur dengan pulas di punggung Kanva.
Franz ingin menyusul Kanva namun deringan ponselnya membuatnya harus mengurungkan niatnya.
“Ada apa?”
Tampak jelas raut wajah Franz yang terkejut. Pria itu langsung menutup ponselnya dan segera mencari Tuan Mudanya.
Aria terbangun saat perjalanan pulang.
“Kamu sudah bangun? Apakah aku membangunkanmu?” Tanya Kanva saat Aria mulai memperbaiki posisi duduknya. Ia melihat Kanva yang duduk di sebelahnya di kursi penumpang sementara Franz menyetir di kursi kemudi.
“Kita akan ke mana?”
“Pulang, kita kedatangan tamu.”
“Tamu? Siapa?”
“Kamu akan melihatnya begitu sampai,” ucap Kanva.
Saat mereka tiba di mansion Kanva, mereka berdua langsung ke ruang tamu dan melihat bahwa Laskara sedang duduk di sofa dengan secangkir teh panas di atas meja di depannya. Pria itu sendirian di ruang tamu,
Setelah melihat Kanva dan Aria masuk bersama, Laskara terus menatap Aria.
“Aku tidak tahu kamu ada di sini. Aku minta maaf telah membuatmu menunggu,” kata Kanva mengabaikan ekpresi Aria.
“Tidak apa-apa.”
Kanva dan Laskara masing-masing duduk di sisi sofa yang terpisah. Aria menyatukan kedua tangannya dan tetap diam.
“Jadi maksud kedatanganku ke sini untuk?”
“Oh, aku hanya ingin menjemput Aria.”
“Apa?” Aria tampak terkejut.
“Orang tuamu memintaku untuk menjemputmu. Ini sudah hampir tahun baru, ibumu berkata bahwa ia ingin keluarga besar berkumpul.”
Ekspresi suram terbentuk di wajah Kanva begitu Laskara selesai berbicara. Dia ingin merebut Aria secara terbuka.
“Tapi kenapa ibu tidak meneleponku sebelumnya? Lagi pula, Sion ingin tahun baru bersama ayahnya. Kami pasti mengunjungi ibu ketika kami memiliki banyak waktu.”
Laskara tidak punya alasan untuk menolak penjelasannya.
“Ibumu sangat mengkhwatirkanmu. Terlebih beberapa hari ini, kamu jarang menghubunginya dan mengunjunginya.”
“Ah, itu aku tidak bisa menyangkalnya.”
“Kamu melakukan perjalanan jauh-jauh ke sini pada jam selarut ini. Jika kamu tidak keberatan, kamu bisa menginap.”
“Maaf telah merepotkanmu,” ucap Laskara. “Aria, aku ingin berbicara denganmu secara peribadi.”
“Ya,” ucap Aria.
__ADS_1
“Aku akan pergi ke kamarku,” ucap Kanva.
“Haruskah kita keluar untuk berjalan-jalan?” Laskara menyarankan ketika ia berdiri.
Aria mengikutinya dan berjalan di samping Laskara. Setelab berjalan cukup jauh di taman depan mansion Kanva. Laskara berhenti di jalurnya dan menghadap ke Aria. Mereka saling memandang.
“Apa yang ingin kamu katakan?”
“Apakah kamu membenciku?”
“Apa? Tidak, tentu saja tidak.”
Laskara tersenyum lalu kembali berjalan diikuti Aria dari belakang.
“Apakah kamu datang ke sini benar-benar disuruh oleh ibu?” Tanya Aria.
“Ya, ibumu menyuruhku ke sini untuk menjemputmu. Dia sangat marah ketika mendengar kamu tinggal lagi bersama Kanva.”
“Dia tahu darimana kalau aku tinggal di sini?” Gumam Aria lantas melihat Laskara.
“Apakah kamu sudah berdamai dengan Kanva?”
“Aku pikir tidak pantas untuk membicarakannya.”
“Apakah kamu berencana untuk kembali dengannya?”
“Aku tidak tahu.”
Laskara menatapnya, meskipun wajahnya tidak terlihat jelas dalam cahaya redup. “Apakah kamu masih mencintainya?”
Aria gelisah dan tak berdaya.
“Apakah kamu merasa tidak enak badan?” Tanya Laskara bertanya memperhatikan ekrpesi penderitaan yang tertulis di wajahnya.
“Ya, aku merasa sedikit pusing.”
“Kalau begitu tidurlah. Aku akan pergi.”
“Kamu tidak jadi menginap?” Tanya Aria.
“Tidak, aku akan menginap di hotel saja. Aria bolahkan aku bertanya?”
“Ya.”
Laskara menatap wajah Aria namun ia mengurungkan niatnya. “Tidak jadi. Selamat malam.”
Aria menatap punggung Laskara yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ada setitik rasa bersalah di hatinya. Semenit terdiam di tempatnya, pada akhirnya Aria masuk ke dalam Mansion.
Tepat ketika Aria mencapai kamar tidur utama, pintu terbuka dari dalam bahkan sebelum ia bisa menyentuh gagang pintu.
Kanva tampak kesal saat ia berdiri di dekat pintu. Kanva menarik Aria ke dalam kamar sebelum menutup pintu.
Kanva memegangnya erat dalam pelukannya dan mengigit lehernya dengan gemas.
“Yakkk!!!! Apakah kamu vampir? Kenapa mengigitku?”
“Aku sangat marah.”
__ADS_1