
Aria beberapa kali bersin dan mengusap hidungnya. Sion saat keluar bersama Kanva. Mereka sedang jalan-jalan keluar dan menikmati waktu bersama. Awalnya, Kanva mengajaknya dan Sion bersikeras agar ia ikut namun Aria mempunyai alibi sehingga ia tidak ikut dengan mereka.
Merasa malas, Aria hanya berbaring di tempat tidur. Ia melihat jam di dinding, sudah jam delapan malam lewat. Ia memutuskan untuk mengambil novelnya sembari menunggu Sion pulang. Tiba-tiba ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok Kanva.
“Dimana Sion? Kenapa aku tidak mendengar suara mobilmu?”
“Sion sudah berada di kamarnya. Ia tidur lelap dalam perjalanan ke sini. Ada apa denganmu? Apakah kamu sakit?”
Kanva meletakkan tangannya di atas dahi Aria untuk merasakan suhu tubuh Aria.
“Dahimu hangat, sepertinya kamu akan demam.”
Aria tidak menanggapi sementara Kanva dengan cepat mengirim pesan untuk Franz. Tak lama kemudian Franz datang dnegan sekantong obat dan juga teh hangat.
“Minum obatnya.”
Aria menatap Kanva tak percaya namun ia patuh dengan perintah Kanva. Ia minum obat segera dan menghabiskan teh hangatnya. Kanva begitu lega melihat Aria patuh dengannya.
“Istri yang pintar,” ucap Kanva sambil mengelus puncak kepala Aria.
“Terima kasih, kamu boleh pergi sekarang.”
Kanva tidak menjawabnya. Pria itu lantas membuka selimut, menendang sepatunya dan berbaring di sisi lain Aria.
“Kanva, kamu melewati batas.”
“Aku hanya akan berbaring di sini dan tidak melakukan apa-apa. Jadilah baik dan tidurlah.”
“Aku tidak percaya padamu.”
“Baiklah, itu urusanmu.”
Kanva memeluknya dengan erat meskipun Aria berjuang untuk lepas dari pelukannya. Pada akhirnya Aria menyerah juga.
Mereka masih terjaga namun mereka saling diam. Aria bisa mendengar betapa jantung Kanva berdetak sangat kencang.
“Aku tidak bisa tidur,” ucap Aria.
“Kenapa?” Tanya Kanva.
“Jantungmu terlalu berisik.”
Kanva terkekeh lalu mengusap rambut Aria dengan lembut sebelum mendaratkan ciuman ringan di pelipis Aria.
“Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku lagi.”
“Kita sudah berpisah.”
“Tidak akan. Kamu ditakdirkan untuk bersamaku. Ingat aku tidak pernah membawa surat terkutuk itu.”
“Aku sangat bernasib buruk.”
“Kamu seharusnya bersyukur mempunyai suami yang tampan sepertiku.”
__ADS_1
“Kamu mungkin sangat tampan tapi kamu juga sangat berengsek.”
“Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan maafmu. Aku ingin kita hidup bersama lagi.”
“Apakah kamu tidak akan berhenti untuk terus membayangiku? Kanva, kenapa kamu tidak pergi dan mencari orang lain.”
“Tidak! Kamu harus menghabiskan sisa waktumu bersamaku.”
Aria langsung cemberut dan memejamkan mata namun seberapa ia berusaha untuk tidur, ia tidak bisa tidur. Aria diam-diam membuka matanya dan melirik Kanva yang rupanya sedang sibuk dengan ponselnya. Pria itu terlihat sangat serius.
“Aku tidak bisa tidur,” ucap Aria.
“Hm..”
Pada saat Kanva melihatnya, pria itu lebih berani dan langsung menciumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aria terbangun karena Sion yang terus memanggil namanya. Ia membuka matanya dan melihat Sion yang tersenyum tampan.
“Selamat pagi, ibu.”
Sion langsung mencium pipi Ibunya.
“Selamat pagi, anak ibu.”
Saat Aria memeluk putranya, ia baru saja menyadari bahwa Kanva tidak ada di sampingnya. Pria itu pasti sudah pergi tadi malam saat ia mengusirnya.
Aria langsung menyuruh Sion untuk mandi. Sion langsung patuh asal ia mandi di kamar mandi ibunya dan ibunya akan menunggunya di luar. Aria langsung menyetujuinya. Sambil menunggu Sion mandi, Aria menyiapkan pakaian Sion yang akan disiapkan untuk bersekolah nanti.
“Ya, ibu.”
“Pakai bajumu, ibu bantu. Setelah selesai turun ke bawah untuk sarapan.”
Setelah sarapan Aria mengantar Sion ke sekolahnya. Aria melambaikan tangan pada putranya begitu putranya berjalan ke arah gerbang sekolah, Aria langsung melambaikan tangannya. Sioam yang melihatnya pun langsung tersenyum dan melambaikan tangan lalu berbalik dan berlari ke gedung sekolah.
Begitu melihat Sion sudah masuk ke sekolahnya, Aria langsung memakai kacamata hitamnya lagi dan masuk ke dalam mobilnya. Ia kembali membelah jalanan kota. Saat Aria fokus pada jalannya, tiba-tiba ponsel Aria berbunyi.
Aria segera menggeser layar hijau dan begitu seseorang berbicara di seberang, ia langsung menginjak remnya secara tiba-tiba. Untuk di belakang tidak ada mobil lain.
Di tempat lain, begitu Franz menutup panggilannya ia langsung menuju ke arah dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
“Dokter, bagaimana keadaannya?”
Franz langsung menyerbu dokter yang menangani Kanva dengan beribu pertanyaan. Sambil melepas masker dokter siap untuk menjawab pertanyaan Franz.
“Kelekaan mobil itu menyebabkan luka pada perut bagian kanan yang cukup dalam. Tapi kami berhasil dalam operasinya. Kini keadaan Tuan Kanva baik-baik saja. Sebentar lagi beliau akan dibawa ke ruang rawat inap. Butuh beberapa bulan untuk memulihkan kondisinya seperti semula.”
Jawaban dokter itu membuat Franz mengambil napas lega. Setelah hampir tiga jam menunggu, berita baik yang ia dengar seakan menebus semuany.
“Apakah ada nona Aria di sini?”
“Aku Aria,” ucap Aria yang baru saja datang. Wanita itu terlihat terengah-engah karena baru saja berlari.
__ADS_1
Dokter tersebut tersenyum. “Temuilah Noah si ruang rawatnya nanti. Beliau terus meracau memanggil nama nona sejak tadi.”
Aria hanya mengangguk sebagai respons. Setelah itu dokter itu kemudian pamit dan melangkah pergi meninggalkan mereka.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang terjadi pada Kanva?” Tanya Aria yang langsung mendapatkan jawaban keseluruhan dari Franz.
Begitu Kanva dipindahkan ke rawat inap, Aria langsung menemui pria itu.
“Aria…”
Kanva memanggil Aria dengan lirih membuat wanita yang kini berada tepat di sampingnya itu refleks meneteskan air mata. Aria lantas mengenggam tangan Kanva erat.
“Aku di sini,” tukas Aria sembari mengusap air matanya cepat.
“Aku senang melihatmu. Aku pikir aku sudah mati.”
“Yak jangan bicara seperti itu. Bukankah kamu ingin bersamaku?”
Air mata mengalir deras dari matanya ketika ia memikirkan itu. Aria langsung mengulurkan tangannya untuk memeluknya dengan erat.
Kanva bersinar dalam sukacita dan kejutan. “Tolong beri aku kesempatan lagi….”
Aria menangis. Ia jarang menunjukkan kelemahannya di depan Kanva. Aria mulai menangis dengan deras. Setelah Aria selesai dengan menangisnya, ia langsung menyeka air matanya.
“Aku tahu bagaimana perasaanmu padaku….tapi…”
“Aria, aku benar-benar akan mati jika kamu tidak membalas perasaanku.”
“Kenapa kamu selalu memaksa?”
Kanva hanya tersenyum.
Sudah beberapa hari Kanva berada di rumah sakit dan hari ini pria itu diizinkan untuk pulang. Kanva langsung memboyong Aria dan Sion ke mansionnya. Aria mengerutkan keningnya begitu sampai ke mansion.
“Kenapa kamu membawaku ke sini?”
“Kamu tidak ingin tinggal bersamaku?”
“Aku bahkan tidak membawa pakaianku!” Ucap Aria.
Aria langsung masuk ke kamar utama sementara Sion digendong Franz ke kamarnya karena Sion sudah tidur dan Kanva mengekor di belakang Aria.
“Aku akan mandi, apakah kamu punya piyama?”
“Ada.”
Aria tidak percaya dan berjalan ke kamar mandi. Ia masuk dan menemukan bahwa ada dua sikat gigi yang cocok dengan dua handuk, dua jubah mandi dan dua piyama yang serasi. Aria tersenyum karena tersentuh.
Aria kemudian mengunci pintu kamar dari dalam dan mulai mandi. Setelah ia selesai mandi, Aria baru ingat bahwa ia tidak membawa pakaian dalamnya. Aria langsung mengintip dan keluar dari kamar mandi. Melihat tidak ada orang, Aria langsung menyusup ke ranjang dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.
Kanva tidak bisa menahan lagi. Hormon-hormonnya mulai mengamuk ketika ia menyaksikan wanita itu berbalik. Ia hanya bisa melihat tapi tidak bisa menyentuhnya. Kanva bergerak mendekatinya dan meletakkan tangannya.
“Apakah kamu akan mengingkari janjimu?”
__ADS_1
Kanva memeluknya erat-erat dari belakang. “Aria, sepertinya aku tidak bisa mengendalikan diri.”
Aria merasakan dadanya menempel pada dada bidang Kanva.