Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
42. Perlakuan Manis tak Terduga


__ADS_3

Aria duduk di teras belakang mansion dengan segudang pikiran otak. Ia sangat gundah, khawatir bercampur aduk, mengingat sebuah kebenaran yang sampai detik ini bekum bisa ia terima. Kebenaran tentang Kanva yang ia baru dengar Franz.


Rasanya begitu sakit sampai ia tidak bisa menjabarkan bagaimana rasa sakit hatinya. Terkejut? Tentu sajam Aria masih tidak ingin percaya. Sekelebat penjelasan dari Franz kembali berputar di otaknya.


“Dokter mengatakan bahwa Tuan Muda menderita gangguan psikologis. Rasa sakitnya tidak berasal dari sistem sarafnya tapi timbul dari rasa sakit akibat psikologisnya. Rasa sakitnya disebabkan karena dampak yang tersisa saat Nyonya Muda pergi ke luar negeri. Tuan Muda sudah mengalami masalah tidur dan mengandalkan pil tidur agar bisa tidur setiap malam. Dokter juga mengatakan bahwa Tuan Muda mengalami gejala depresi. Nyonya Muda, Tuan Muda sangat mencintai anda justru karena Tuan Muda terlalu mencintaimu itu sebabnya Tuan Muda tidak tahan kalau Nyonya Muda tidak setia padanya. Setelah menanyakan tentang afrodisiak dari psikiater, ia merasa lega namun menyesal pada saat yang sama.


Apa yang sebenarnya Tuan Muda lakukan sebenarnya tidak bisa dimaafkan tapi aku berharap Nyonya Muda akan mempertimbangkannya untuk kembali bersama Tuan Muda.”


Aria menghela napas, ia bisa tahu dari nada suara Franz tadi. Pria itu marah padanya karena menyebabkan Kanva berakhir seperti itu. Aria berjalan ke kamarnya dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia memberikan pesan pada Kanva.


Kanva yang berada di tengah-tengah pertemuan ketika ia melihat pesan itu wajahnya langsung berseri. Kanva melanggar aturan yang dibuatnay sendiri secara terbuka, menjawab pesan Aria saat ia masih berada di ruang rapat.


Ia selalu memberlakukan aturan secara ketat untuk tidak menggunakan ponsel selama pertemuan. Namun ia adalah orang yang melanggar aturan itu dengan membawa ponsel ke ruang rapat dan membalas pesan. Apa yang ia lakukan selanjutanya membuat orang terkejut. Bagaimana tidak, setelah membaca pesan itu, ia manatap layar ponselnya dan mulai tersenyum lebar, telinganya juga mulai memerah.


Setelah rapat berakhir, Kanva berjalan keluar dari ruang pertemuan dan berkata pada sekretarisnya,”Batalkan semua perjanjian sore ini.”


Sekretaris langsung tercengang, “Presdir, tapi anda sore ini ada perjamuan penting dengan para kolega.”


“Bilang aku tidak bisa hadir karena sakit.”


“Presdir, bisakah anda memberitahu saya apa ada yang terjadi dan begitu mendesak sehingga anda melewatkan perjamuan penting ini?”


“Tidak.”


Kanva tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu dan kembali ke ruangannya untuk mengambil mantelnya sebelum pergi. Melihat berapa inginnya presdirnya pergi, sekretarinya itu tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Dalam perjalanan membelah aspal kota. Hari sudah mulai sore dan banyak orang-orang yang turun ke jalan untuk pulang ke rumahnya ada juga yang bepergian hanya untuk pergi ke suatu tenpat sehingga menyebabkan lalu lintas menjadi sangat padat saat ia mengemudi pulang.


Ini sangat menguji kesabarannya. Kanva hanya bisa mencengkeram kemudianya dengan erat dan manatap mobil yang ada di depannya. Sepertinya tidak akan berakhir dalam waktu yang singkat. Untuk mengusir rasa bosannya, Kanva kembali menatap pesan teks di layarnya saat perasaan hangat dan ridak jelas memenuhi hatinya.


“Ini hampir mendekati tahun baru dan akh akan menghabiskan malam tahun batu dengannya tahun ini.”


Senyum terbentuk di wajahnya segera saat memikirkannya. Dengan semangat tinggi, ia lantas ingin segera menginjak pedal gasnya namun melihat mobil yang berjejer di jalannya sungguh merusak pemandangannya.


Kemacetan berlangusng selama empat puluh lima menit. Sudah jam lima sore saat ia tiba di rumah.


Aria dan Sion sedang sibuk berada di dapur untuk membuatkan malam malam.

__ADS_1


“Ah, kamu sudah pulang?” Tanya Aria begitu melihatnya.


Ia terdengar seperti seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang. Aria mengenakan gaun bewarna biru pastel dipadukan dengan celemek bewarna merah muda pastel. Udara di ruangan dipenuhi kehangatan yang membuat pipinya tampak merah. Ia menjempit pinggiran rambutnya sengan jepit rambut.


“Ada kemacetan dalam perjalanan pulang. Wah aku sangat lapar.”


“Aku sedang menyiapkan makanan dan hampir selasa. Cuci tanganmu dan tunggulah di ruang makan bersama Sion.”


Karena tidak bisa menahan kebahagiannya, Kanva tersenyum dan membantu. Sion untuk cuci tangan bersamanya dan mereka beruda duduk di ruang makan dengan gembira.


Saat makan malam, Kanva merasakan ada sesuatu yang tidak biasa dengan perilakunya. Ia terus menerus meletakkan beberapa menu makanan dan merawatnya. Sepertinya seperti mimpi.


“Aria….”


“Iya?”


“Kenapa kamu begitu baik padaku tiba-tiba?”


“Apa maksudmu? Aku hanya merawatmu, bukankah luka di perutmu masih sakit? Kamu harus banyak makan agar proses penyembuhanmu cepat. Lagipula, bukankah aku sudah baik padamu di masa lalu?”


“Tidak, kamu memperlakukanku lebih baik sekarang. Bahkan, itu membuatku sangat senang.”


Kanva menatapnya dengan tenang padahal hatinya sudah berdentum sangat keras namun ia terus mendengarkannya saat berbicara.


“Jika aku katakan sebelumnya tentang Darel yang mabuk dan dibius dengan obat itu dan sgeera memberitahumu, mungkin kamu tidak akan salah paham.”


Kanva langsung meletakkan tangannya di atas tangannya dan memegannya dengan lembut.


“Cepat makanlah, sebelum makananya jadi dingin.”


Mereka saling tersenyum dan mulai makan dengan harmonis layaknya sebuah keluarga.


...****************...


Dalam keadaan penerangan remang-remang. Kanva dan Aria berbaring di tempat tidur dan menonton film. Sepanjang film di putar, Aria selalu memejamkan matanya dan memeluk Kanva. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada Kanva.


“Kenapa kamu memilih film ini. Aku benci film horor, itu membuatku gelisah sepanjang hari. Jangan salahkan aki jika aku bangun dini hari dan memintamu untuk menemaniku ke kamar mandi?”

__ADS_1


“Dengan senang hati,” ucap Kanva sambil meraih tangannya.


“Ish, matikan Film itu. Aku lebih suka film komedi romantis.”


“Apa?”


“Tolong matikan Filmnya, presdir.”


“Aku tidak suka memdengarmu memanggilku seperti itu,” ucap Kanva sambil mencubit hidung Aria.


“Kalau begitu, kamu ingin memanggilmu apa?”


“Panggil aku hubby.”


“Yang lain…”


“Sayang….”


“Tidak.”


“My husband.”


“Tidak.”


“Baby.”


“Wah, apakah kamu seorang anak-anak?”


“Oh.”


“Jika kamu anak-anak lalu Sion apa?”


“Bayi.”


“Yak, Kanva! Matikan filmnya sekarang juga.”


“Cium dulu.”

__ADS_1


Aria langsung mencium pipi Kanva, namun pria itu yang belum puas langsung bergerak menutup bibirnya. Aria yang kecil dan cantik adalah candunya.


__ADS_2