
Sejak tadi Aria melihat ke arah ponselnya. Ia masih berpikir panjang, apakah ia akan mengirim pesan untuk Kanva sebagai ucapan terima kasih. Lama berpikir, pada akhirnya Aria mengirim pesan untuk bisa bertemu dengan Kanva sepulang kerja.
Aria menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan begitu pesannya sudah terkirim dan tidak membutuhkan banyak waktu untuk Kanva membalas pesannya.
Senyum langsung tercipta di wajah cantiknya begitu Kanva mengiyakan ajakannya. Dengan begitu semangat, ia meletakkan ponselnya ke meja dan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Begitu matahari kembali ke peraduannya. Aria segera merapikan mejanya. Banyak sekali lembaran-lembaran yang berserakan di mejanya. Ia segera mengambil tasnya dan juga ponselnya.
Saat memasuki lift, ia mendapatkan pesan baru dari Kanva. Pria itu ingin dia menunggunya di depan rumahnya. Alis Aria mengerut karena merasa janggal. Tapi bagaimana pun Aria merasa senang, ia segera mengiyakan Kanva.
Sesampai di rumah Kanva, Aria segera memencet bel di sana namun tidak ada yang keluar untuk membukakan pintu pagar. Aria berinisiatif untuk menelepon Kanva namun tiba-tiba nomor Kanva tidak aktif.
“Ada apa dengannya? Dia menyuruhku menunggunya di sini dan sekarang nomornya tidak bisa dihubungi.”
Aria mencoba melihat ke halaman rumah Kanva namun tidak bisa. Wanita itu lantas terduduk di depan menunggu kedatangan Kanva.
Aria menunggunya entah berapa lama, yang jelas kakinya sudah terasa pegal. Angin malam kini terasa kian menusuk namun Kanva belum terlihat batang hidungnya.
“Haruskah aku langsung membunuhnya begitu aku melihatnya?”
Saat Aria mendongak ia melihat sebuah mobil berjalan ke arahnya. Sudah dipastikan itu adalah mobil Kanva. Aria enggan untuk berdiri. Begitu melihat sosok yang keluar dari mobil, ia begitu terkejut dan ingin berdiri namun sepertinya kakinya sudah mati rasa.
“Aria, apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Kanva begitu terkejut saat melihat Aria tengah terduduk lesu di depan rumahnya. Wajahnya jelas menampikan kesedihan.
“Tidak ada,” ucap Aria. Jelas-jelas pria itu yang menyuruhnya menunggu di sini.
“Kamu sudah berapa lama di sini?”
“Cukup lama sampai teringat bahwa menunggu itu bisa semelelahkan ini,” ucap Aria dengan tersenyum namun senyum itu hanya sebentar bertahan.
Aria ingin hendak berdiri namun kakinya yang kram membuatnya kesulitan. Untung saja Kanva langsung sigap tanggap. Pria itu langsung memegang tubuh Aria agar tidak terjatuh.
“Bisakah kamu berada di sampingku hari ini?”
Kanva langsung menatap ke arah mata Aria. Pria itu terlihat terkejut. Kanva terdiam cukup lama sambil matanya menatap lekat ke mata Aria. Entah dorongan seperti apa, tapi mata Aria seakan mempunyai daya magnet yang mampu menariknya ke dalam pusaran yang tidak biasa.
“Apa kamu bisa memelukku?” Tanya Aria.
Kanva tanpa kata langsung memeluk erat tubuh Aria. Ia bisa merasakan tubuh Aria yang dingin karena cukup lama berada di depan rumahnya di tengah malam yang dingin. Kanva membungkus tubuh Aria yang mungil.
“Aku akan segera mengembalikan ingatanmu,” lirih Aria.
Kanva langsung melepaskan pelukannya dan entah dorongan dari mana, pria itu menempelkan bibirnya di atas bibir Aria. Itu terjadi hanya beberapa detik saja namun sangat berdampak bagi keduanya.
“Pak manajer, apakah kamu baru saja menciumku?” Tanya Aria dengan bingung namun ia juga terlihat bahagia.
“Itu bukan sebuah ciuman,” ucap Kanva. Pria itu juga terlihat bingung karena tindakannya sendiri.
__ADS_1
“Ya, itu memang bukan ciuman.”
Aria segera berjinjit dan mencium Kanva. Kali ini mereka berciuman dengan benar. Layaknya sepasang kekasih, layaknya suami dan istri. Aria sungguh menikmati momen ini. Namun momen itu tidak berjalan lama karena Kanva yang segera melepaskan ciuman itu.
“Ada apa?”
“Aku hanya merasa takjub kita melakukannya sejauh ini.”
Setelah itu Kanva mengajak Aria untuk singgah di rumahnya. Begitu Aria masuk ke dalam rumah Kanva, ia layaknya seorang istri yang segera menyuruh suami untuk segera mandi sementara ia membuatkan makanan.
Aria begitu cekatan memotong sayuran wortel dan kentang. Ia juga sungguh pandai memasak daging dengan sempurna.
Begitu Kanva selesai dengan mandinya, Aria langsung menyajikan masakannya.
“Apa ini?”
“Ini adalah sup daging, cobalah!”
Kanva tampak ragu namun ia memberanikan diri untuk mencicipinya. Begitu masuk ke dalam mulutnya ia merasakan cita rasa yang luar biasa. Kanva langsung melihat ke arah Aria dan mencoba sesuap lagi.
“Kenapa enak sekali?”
“Tentu saja enak, siapa dulu yang masak?”
Kanva kembali mengambil suapannya dan tidak berhenti.
“Sepertinya aku pernah makan ini sebelumnya tapi di mana ya? Ini enak.”
Setelah makan, Aria mandi sementara Kanva membereskan dapur dan mencuci piring kotor. Begitu Aria selesai mandi, ia melihat Kanva yang masih berkutat di dapur sambil meletakkan piring yang baru saja ia bersihkan.
Aria tidak bisa menahan untuk tidak memeluknya. Wanita itu memeluknya dari belakang. Kanva yang membelakanginya begitu terkejut ketika punggungnya terasa hangat karena pelukan seseorang.
“Pak manajer, menikah lah—”
Belum sempat Aria menyelesaikan kalimatnya, Kanva langsung membalikkan tubuhnya dan langsung membungkam bibir Aria dengan telapak tangannya.
“Simpan pernyataan cintamu.”
Aria langsung mengernyitkan keningnya dan langsung melepaskan tangan Kanva yang menutupi bibirnya.
“Menikahlah denganku. Ini pernyataan cinta kedua ku.”
“Kenapa kamu begitu ingin menikah denganku?”
“Karena aku ingin menikah denganmu.”
“Kamu tahu aku sudah mempunyai tunangan.”
__ADS_1
“Kamu tidak menyukainya.”
“Bagaimana kamu bisa mengetahui hati seseorang?”
Keesokan harinya, Aria bekerja seperti biasa. Saking biasanya wanita itu mengabaikan Kanva dan juga menghindar. Wanita itu sengaja menghindar karena merasa kesal. Pernyataan cinta untuk yang kesekian kalinya ditolak oleh Kanva.
Ia sudah memberikan petunjuk-petunjuk kenangan masa lalu bersamanya namun sepertinya pria itu sama sekali tidak terpengaruh.
Aria menyeret kopernya dengan kesal. Ya, hari ini Dia, Kanva dan Mario akan pergi ke luar kota untuk perjalanan bisnis. Ini adalah kesempatannya untuk membantu Kanva mengingat masa lalunya karena tempat mereka kunjungi adalah kota di mana seharusnya mereka tinggal.
“Aria, kamu sudah datang,” ucap Mario.
Aria tersenyum dan langsung melengos begitu matanya tak sengaja menatap wajah Kanva.
“Seharusnya kita naik pesawat tapi kita harus naik mobil. Butuh lima jam untuk sampai ke sana.”
Kanva langsung masuk ke dalam mobil bagian belakang. Sementara Aria masuk ke kursi penumpang depan di samping kursi kemudi.
“Kita berangkat,” ucap Mario dan mobil perlahan melaju.
Di tengah perjalanan, Aria dan Mario dengan santainya membicarakan topik acak. Dari kegiatan tadi pagi, kejadian lucu sampai makanan favorit.
“Wah itu sangat enak.”
“Kamu juga menyukainya. Wah lain kali aku akan mentraktirmu.”
Mata Kanva langsung menyipit ke arah Aria dan juga Mario. Ia tidak senang melihat interaksi mereka berdua.
“Kenapa kalian harus makan berdua? Sungguh tak sopan,” ucap Kanva tiba-tiba. Pria itu marah-marah karena merasa dipermainkan oleh Aria. Ia merasa wanita itu mempermainkan perasaannya. Karena ia menyatakan cinta padanya namun masih dekat dengan pria lain.
“Kita makan lain kali.”
“Tidak boleh! Jangan makan bersama,” ucap Kanva lagi-lagi ia kesal.
Mereka bertiga berhenti di tempat istirahat. Aria dan Mario membeli beberapa makanan di sana. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.
“Makanlah yang banyak, Aria. Aku yang traktir.”
“Terima kasih.”
“Dia menyebalkan sekali hari ini,” ucap Kanva begitu melihat Aria dan Mario keluar dari rest area dan menuju tempat parkir di mana mobil mereka berada.
“Mana kuncinya. Aku yang menyetir. Kamu di belakang,” ucap Kanva.
Kanva berharap bisa duduk bersama Aria di depan namun yang terjadi Aria duduk di belakang bersama Mario. Kini ia merasa seperti sopir bagi mereka berdua.
Di belakang Mario dan Aria lagi-lagi sedang bercanda seakan menikmati perjalanan mereka. Sementara Kanva merasa muak, kesal dan juga sesak.
__ADS_1
“Bisakah kalian untuk tidak berisik.”