Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
16. Bara Api


__ADS_3

Aria kembali ke kamar hotelnya saat malam hari. Seharian ini ia tidak bertemu dengan Yiren, rupanya wanita itu sudah kembali lebih dulu pulang dikarenakan ibunya sakit. Aria sedikit merasa kesal, kenapa dia tidak memberitahukannya. Ia menjadi merasa bersalah karena tidak bisa mengantarkannya ke bandara.


Aria menempelkan kartu kunci kamarnya. Begitu pintu terbuka, ia melangkahkan kakinya memasuki kamar. Aria bergitu terkejut melihat Kanva yang berada di tengah-tengah ruangan. Sebelum ia bisa bereaksi Kanva meraih pinggang Aria. Pria itu menyambar bibir istrinya dan memungut dengan kasar.


Kanva melepaskan ciumannya dan menatap wajah Aria lalu foto yang ia dapatkan terlintas di benaknya.


“Aku sangat merindukanmu.”


“Aku juga tapi kamu benar-benar mengejutkanku dengan datang tiba-tiba ke sini.”


“Tentu saja aku harus datang. Aku tidak tahu kamu di rayu oleh pria itu,” ucap Kanva tak suka.


“Pria itu?” Tanya Aria bingung.


“Rekan bisnismu. Siapa nama laki-laki itu?” Tanya Kanva meskipun ia sudah tahu jawabannya, entah mengapa ia hanya ingin bertanya langsung dan mendengar jawaban dari Aria.


“Dava Birawa.”


“Dia menyukaimu?”


“Tidak,” ucap Aria menggeleng cepat.


“Aku tidak suka kebohongan,” ucap Kanva sambil bermain-main di sekitar kancing Aria. Perlahan pria itu membuka kancing bahu Aria.


“Menurutnya iya.”


“Kamu merayunya?”


“Aku sudah menolaknya tapi dia gigih. Aku terus bertemu dengannya karena urusan pekerjaan.”


“Kamu tidak sedang berbohong kan?”


“Aku bersungguh-sungguh.”


Kanva langsung mengeratkan kembali pinggang mereka. “Kamu milikku.”


Setelah itu Aria tahu apa yang akan terjadi diantara mereka. Sepanjang malam tanpa akhir. Mereka terus berpelukan dan saling mencium dengan penuh kasih sayang seperti pasangan baru yang sedang bulan madu.


Bahkan sampai tengah hari, mereka masih saling pillow talk di tempat tidur meringkuk dalam pelukan. Tiba-tiba Aria menyadari bahwa Kanva sudah mulai berbicara dengan semangat dan tanpa emosi seperti pertama tadi.


“Apakah tanpa sepengetahuanku kamu bermain dengan Merlisa?”


“Omong kosong apa yang kamu katakan? Aku bahkan tidak melihat wajahnya dan tidak berbicara dengannya. Aku memenuhi janjiku padamu, sekarang mana hadiah untukku.”


Aria tidak punya pilihan selain untuk memenuhi janjinya yang telah ia buat sebelumnya dan mulai memuaskan suaminya. Mereka tidak berhenti untuk istirahat sama sekali sepanjang malam. Kanva penuh semangat membuat Aria sedikit kewalahan.

__ADS_1


Keesokan paginya, Aria terbangun dengan tubuh lemas. Ia tidak bisa mengingat berapa kali ia harus mencapai puncaknya. Dengan menahan nyeri, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, mengambil segelas air minum yang kebetulan berada di atas nakas.


Aria menyadarkan penglihatannya dan tidak menemukan Kanva di sana. Perlaha Aria menuju ke kamar mandi, mengisi bathtub dengan air hangat dan merendamkan diri di dalamnya. Memejamkan mata menikmati tubuhnya di manjakan.


Hampir satu jam Aria berendam, akhirnya ia memutuskan untuk menyudahinya. Namun Kanva masih belum ketemu batang hidungnya. Aria ingin memberi pesan pada Kanva namun sebelum ia bisa mengetik sebuah pesan masuk ke ponselnya.


‘Aku berada di lobi hotelmu’


“Huh?”


Aria melihat jam yang ada di ponselnya. Jam sepuluh pagi dan Dava sudah berada di lobi hotel.


‘Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan sekalian makan siang, mau?’


Aria bergegas berpakaian yang layak, membutuhkan make up ringan di wajahnya.


“Apa aku harus memenuhi ajakannya? Tapi tadi malam Kanva terlihat marah.”


Aria langsung membalas pesan dari Dava.


‘Maaf tapi aku sudah ada janji.’


Aria sedang menunggu cemas saat Dava sedang mengetik.


‘Tapi mau kan temani mas. Mas sudah terlanjur di sini.’


“Kanva.”


“Kamu mau ke mana?” Tanya Kanva saat melihat gelagat Aria yang ingin keluar.


“Aku tidak mau ke mana-mana,” ucap Aria terlihat bingung.


“Kamu mau pergi bersama pria itu?”


“Tid-dak,” Aria menggeleng.


“Aku sudah bilang padanya bahwa kamu milikku,” ucap Kanva. Pria itu melenggang pergi dan meletakkan tas kresek yang ia bawa tadi ke meja.


Aria pun mengekor ke belakang Kanva namun tiba-tiba ponsel Aria berbunyi. Aria segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Rupanya Dava. Kanva yang melihat ponsel Aria langsung meraih ponsel Aria dengan paksa.


Pria itu mengangkat panggilan Dava.


“Sudah aku katakan, jika tidak ada urusan dalam pekerjaan jangan menelepon Aria. Dia sudah bersuami,” ucap Kanva dan langsung menutup panggilan telepon tersebut.


“Kanva!”

__ADS_1


“Apa? Mau protes? Aku memang suamimu kan?”


“Aku…aku hanya—“


“Cepat kemasi barang bawaanmu. Kita akan kembali hari ini.”


“Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya?”


“Aku sudah memberitahumu sekarang.”


Setelah mengepak barang bawaan, mereka keluar dari hotel. Manajer hotel mengantarkan mereka ke mobil secara pribadi. Merka kemudian berkendara menuju bandara dan tiba sekitar dua puluh lima menit kemudian. Setelah itu mereka menuju ke jalur vip.


“Tuan dan Nyonya Kanva. Atasan kami baru saja memberi tahu kami bahwa situasinya agak kacau sekarang dan tidak ada pesawat pribadi yang diizinkan untuk berangkat atau mendarat. Jadi, anda harus naik pesawat komersial jika anda ingin kembali. Saya sangat menyesal tentang ini.” Seorang staf bandara memberitahu mereka.


“Siapa yang memerintahkan seperti itu? Jet pribadiku sudah mendarat sejak kemarin di bandara. Yang kita lakukan hanya terbang sesuai jadwal dan rute. Apa maksudmu kita harus naik pesawat komersial? “ Kanva bertanya dengan tegas dengan ekspresi marah di wajahnya.


“Saya sangat menyesal, Tuan Kanva tapi ini adalah aturan dari atasan kami. Saya hanya seorang karyawan yang harus mematuhi aturan.”


Menyadari bahwa Kanva akan menyela, Aria langsung memegang tangan Kanva untuk meredamkan amarahnya. “Tidak masalah kita naik apa. Yang penting sampai di rumah. Lagi pula kita hanya perlu naik pesawat komersial.”


“Tapi—“


Aria mengaitkan jemarinya dengan sedikit kuat. “Sudah hentikan. Kita akan naik pesawat komersial mereka.”


Mereka tidak ada pilihan selain membeli tiket kelas satu untuk penerbangan berikutnya, yang dijadwalkan lepas landas satu jam kemudian.


Kabin kelas satu dari pesawat itu hampir penuh penumpang termasuk Aria dan Kanva. Pesawat lepas lam setangah jam kemudian setelah naik. Namun semua orang mulai merasakan sesuatu yang salah setelah pesawat lepas landas.


Satu jam kemudian, pramugari mulai membagikan makanan untuk setiap makanan. Aria dan Kanva tidak pernah makan makanan dari pesawat.


Aria melihat ke belakang, orang-orang yang memakan makanan sama sekali tidak bergerak. Mereka seperti tertidur.


Lalu tiba-tiba suara riuh datang dari belakang. Sepertinya dari kelas ekonomi. Suara teriakan mulai terdengar memekakkan telinga.


“Sepertinya pesawat ini sedang dibajak,” ucap Kanva.


“Apa?” Kanva langsung memegang tangan Aria untuk menenangkan istrinya. “Kita pura-pura untuk tidur.”


Aria dan Kanva segera pura-pura tidur ketika mendengar suara langkah mendekat ke arah mereka.


“Bos berita buruk. Ada dua pesawat yang mengejar kita. Satu jet pribadi dan satu helikopter.”


“Milik siapa?”


“Aku pikir itu milik Kanva. Sepertinya kita akan mati.”

__ADS_1


“Kita harus membunuh mereka terlebih dulu, apa pun yang terjadi. Bos kita akan memberi hadiah besar jika bisa membunuh Kanva dan istrinya.”


Detak jantung Aria berdentum karena takut. Ia sedikit melirik dan ia ketakutan begitu pistol diletakkan di pelipis Kanva.


__ADS_2