Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
30. Menjelaskan semua kebenaran


__ADS_3

Aslan langsung membuka apartemen Kanva. Pria itu di telepon oleh Franz karena baru-baru ini Kanva berada dalam suasana yang buruk. Kanva juga sudah beberapa hari sudah tidak pulang ke rumahnya.


“Kanva, aku mendengar dari Franz kamu sudah tidak pulang beberapa hari. Kamu lagi ada masalah dengan Aria?”


“Aku hanya merasa kesal,” ucap Kanva yang langsung meletakkan lengannya di dahinya.


“Ceritakan padaku apa yang terjadi? Kita sudah berteman lama.”


Ya, dari pada Darel. Kanva lebih dekat dengan Aslan. Namun sayang pria itu pergi ke luar negeri dan baru beberapa minggu yang lalu pulang.


“Apakah kamu dan Darel akan terkejut jika aku menceraikan Aria?”


“Tentu saja. Jika kalian berdua bercerai, Aria yang akan menggugat cerai.” Aslan langsung duduk di samping Kanva. Beberapa detik kemudian, ia langsung menoleh dan matany melotot. “Jangan bilang kamu benar-benar ingin bercerai?”


“Ya.”


“Apa masalahnya?”


“Ceritanya panjang.”


“Coba katakan padaku.”


“Aku tidak ingin membicarakannya. Rasanya aku ingin mati,” ucap Kanva dengan lesu.


“Lalu matilah sekarang. Aku dan Darel akan menguburumu.”


“Aku sangat mencintainya tapi dia mengecewakanku. Dia merusak kepercayaan yang aku berikan padanya.”


“Apa yang sebenarnya terjadi? Katakan padaku!” Aslan menjadi tidak sabar dan ingin cepat tahu tentang apa yang terjadi.


Namun Kanva memilih untuk diam.


“Aku akan terkejut jika kamu berpisah dengan Aria. Aku dan Darel tahu, bagaimana kamu sangat mencintai Aria. Tapi jika kamu sampai memilih untuk berpisah, pasti Aria sangat mengecewakanmu.”


“Sebenarnya aku belum menyerah padanya tapi jika aku teruskan, aku tidak yakin akan bisa hidup bahagia seperti di masa lalu.”


“Cobalah untuk tidak memikirkan kesalahannya.”


“Aku tidak bisa.”


“Tapi berdiam di sini juga tidak akan menyelesaikan masalah. Pulanglah, Aria menunggumu di rumah.”


...…...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Aria langsung membalikkan tubuhnya begitu pintu kamarnya terbuka. Dan sumber segala penderitaannya itu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Aria hanya bisa membatu di tempatnya dan hanya terpaku menatap sosok tersebut, sementara jantungnya berdebar kencang.


Ia sangat merindukan pria itu. Ia ingin memeluknya dengan erat dan menumpahkan kekesalannya dan kekecewaannya.


“Kenapa belum tidur?”


Suara berat itu bergetar hingga ke telinga Aria.


“Kamu dari mana saja beberapa hari ini? Kenapa baru pulang?”


Yang keluar dari mulut itu kemudian adalah nada kasar penuh sarkasme. “Aku sedang menenangkan pikiranku.” Kanva langsung melenggang menuju ke kamar mandi.


Aria memaki di dalam hati. Ia belum pernah merasa begitu lelah secara fisik dan perasaan.


“Apa yang sebenarnya mengusik pikiranmu sehingga kamu mengabaikanku?” Tanya Aria, mencoba menghentikan Kanva yang menurutnya ingin melarikan diri.


“Keberadaan bayimu.”


Aria kaget dengan ucapan Kanva.


“Kenapa dengan bayiku?”


“Gugurkan bayi itu,” ucap Kanva dengan suara tajam.


“Kenapa aku harus menggugurkan bayiku? Jika kamu tidak ingin mengurusnya, aku akan mengurusnya sendiri. Aku tidak tahu alasan dibalik kamu ingin menggugurkan bayi kita. Tapi jika ini menyangkut permasalahan kemarin, aku sudah menjelaskannya padamu. Percayalah padaku. Ini bayi kita.”


“Gugurkan bayi itu. Aku bisa menerimamu tapi tidak dengan bayi itu,” ucap Kanva sambil menatap Aria dalam-dalam.


Aria menatap ke dalam mata Kanva. Pria itu sudah tak sama lagi. Ia ingin sekali menangis di depannya namun yang ada hanya kebisuan semata. Ia sangat membenci kata-kata Kanva.


Aria percaya bahwa kesalahpahaman suaminya terhadapnya hanya bersifat sementara dan segala sesuatunya akan segera kembali ke kondisi semula namun pada kenyataannya masih berlanjut dan semakin parah.


“Aku pikir di dunia ini jika orang lain tidak percaya padaku setidaknya kamu percaya padaku. Aku pikir kamu adalah orang yang paling mengerti tentang diriku, karakterku, watakku dan prinsip ku tapi ternyata tidak. Kamu bahkan menuduhku berzina dan berbengkung padahal aku sudah menjelaskan semua kebenaran tapi kamu malah menarik kesimpulan sendiri.”


Sepeninggal Kanva, Aria hanya bisa bergelung di bawah selimut dan menatap nyalang pada langit-langit kamarnya. Tangan-tangannya yang sedari tadi menutupi peutynya masih bertengger di sana. Ia tidak mau calon bayinya mendengar kata-kata kasar dari ayahnya yang kasar ataupun menyadari betapa ayahnya tidak menginginkan keberadaannya.


Pikirannya berkecamuk. Ia ketakutan sendiri lalu ia membuka lemari dengan kasar, mengambil mantelnya. Ia juga membawa beberapa uang cash dan secara diam-diam keluar dari rumah yang megah itu.


Sepanjang perjalanan, Air matanya tak henti-hentinya turun dari pelupuk matanya. Saat itu satu-satunya harapannya adalah Darel. Hanya Darel yang bisa meluruskan semua kesalahpahaman ini.


Keesokan harinya, Franz mencoba untuk memperbaiki hubungan majikannya. Saat ia mengetuk kamar utama, dari dalam tidak ada sahutan.


“Apakah Nyonya Muda belum bangun?” Dahi Franz mengernyit. Pria itu kembali memanggil Nyonya mudanya namun lagi-lagi ia tidak mendengar suara dari dalam.


Franz pun meminta untuk bibi Ine melihat keadaan Aria dan betapa terkejutnya bibi Ine mengetahui bahwa kamar itu telah kosong.

__ADS_1


“Ada apa?” Tanya Franz.


“Nyonya Muda tidak ada di kamarnya,” ucap bibi Ine.


“Apakah kamu sudah memeriksanya dengan betul.”


“Cari keseluruh rumah, jika Tuan Muda tahu bahwa Nyonya Muda tidak ada di rumah entah apa yang dilakukannya.”


“Baik.”


Semua pelayan mencoba mencari keberadaan Aria di seluruh sudut rumah, Kanva yang baru saja bangun tidur terlihat mengernyitkan keningnya begitu melihat betapa hebohnya pelayan di pagi itu.


“Ada apa ini, kenapa semua orang terlihat panik?” Tanya Kanva pada Franz.


“Tuan Muda, Nyonya Muda tidak ada di kamarnya. Kami sedang mencarinya saat ini.”


“Apa maksudmu?” Teriak Kanva.”Sial.”


Kanva langsung menuju kamar utama untuk memastikannya. Ia sedikit merasa lega begitu membuka lemari karena beberapa baju Aria masih ada.


Kanva menelepon beberapa orang untuk menyelidiki Darel, tak butuh waktu lama hanya butuh Lima jam telepon Franz berbunyi. Orang kepercayaan Kanva membocorkan semua yang dia tahu pada Franz dan Franz mengkonfirmasi ulang dengan nada ragu.


“Apakah kamu yakin?”


“Aku tidak berani berbohong padamu. Nyonya Muda sekarang bersama pria yang bernama Darel.”


Franz merasa segalanya akan benar-benar hancur. Tidak ada lagi untuk menyelamatkan rumah tangga Tuan Mudanya. Ini bagaikan telur di ujung tanduk.


Ketika Franz menutup telepon, ia melirik Kanva yang duduk di kursinya. Franz tiba-tiba kehilangan keberanian untuk melaporkannya.


“Katakan padaku apa yang sedang terjadi?”


“Tuan Muda…” Franz tidak berani melihat wajah Kanva saat ia ingin menyampaikan pesannya namun pada akhirnya ia memberitahu apa yang ia dengan barusan.


Setelah mendengar kata-kata Franz, seluruh tubuh Kanva benar-benar terkejut. Sesaat kemudian ia akhirnya mengeluarkan kata-kata yang paling menakutkan.


“Pergi dan siapkan surat perceraian.”


“Tuan Muda, mungkin anda benar-benar salah dengan Nyonya Muda. Saya tidak berpikir NYonya Muda adalah orang seperti itu.” Franz masih tidak percaya.


“Apakah aku harus menipu diriku sendiri? Aku ingin dia tahu konsekuensi dari mengkhianatiku.”


Franz langsung menelan ludahnya dengan susah payah.


“Apakah kamu tidak akan pergi dan menyiapkannya sekarang!”

__ADS_1


Tubuh Franz bergetar dan ia tidak berani mengatakan sepatah kata pun dan ia segera berbalik dan keluar.


__ADS_2