Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
44. Pengakuan Cinta


__ADS_3

Aria sama sekali tidak peduli dengan kemarahan Kanva. Wanita itu memilih untuk segera tidur. Kanva yang melihat Aria sudah tidur di ranjangnya dan mengabaikannya, langsung saja pria itu melepaskan baju yang melekat pada tubuhnya.


Lalu ia segera menyusul Aria berbaring di sampingnya sambil memeluknya dari belakang.


“Jika kamu terus seperti ini, aku benar-benar akan pindah ke kamar Sion!”


“Aku tidak akan menyentuhmu lebih jauh lagi. Apakah kamu terganggu dengan aku yang melepas bajuku? Jika kamu ingin, kamu juga bisa melepas bajumu.”


Aria langsung tidak bisa berbicara jika harus berargumen dengan Kanva. Pria itu langsung mematikan lampu kamar tidur dan hanya menyisakkan lampu dari atas nakas yang hanya remang-remang.


Setelah lampu dimatikan, Aria tidak bisa tidur sama sekali. Apalagi Kanva bertelanjang dada. Ia tidak pilihan selain berpura-pura tidak tahu apa-apa. Hal yang sama juga dirasakan oleh Kanva. Aroma shampo yang menghunus hidungnya sangat memikatnya seperti biasa.


“Aria…”


“Apa?”


“Bantu aku, oke?” Kanva bertanya dengan lembut menggigit telinganya.


“Pergilah!”


“Aria..”


Aria langsung tersentak kaget begitu merasakan milik Kanva yang menekannya. Gelenyar aneh menjalar bagai setruman listrik di tubuh Aria. Aria hendak protes namun sebelum ia protes, Aria tidak sadar kalau Kanva bangkit dan sedang menurunkan celananya.


Kesadaran Aria baru berlabuh saat kepala kejantanan pria itu mendesak masuk. Aria kembali mereguk ludah ketika Kanva menekan dirinya, memasukkan tubuhnya dengan pelan. Ia melakukan dengan ritme pelan dan perlahan semakin keras dan cepat.


“Hah! Hah!”


Kanva kehilangan kendali, mulutnya bergetar mengeluarkan embusan dan dengusan berat, wajahnya berkerut sementara peluh membasahi keningnya, matanya menggelap oleh gairah dan ketika mereka bersitatap, itu seolah-olah menghantarkan pria itu ke ujung batasnya.


Kanva menghunjam keras dan Aria mengerang sebagai balasan.


Pria itu mengeluarkan dirinya hanya untuk kembali menghuhjam. Kanva melihat ke bawah dan menciumnya dengan penuh semangat.


“Kamu milikku, kamu milikku.”


“Kanva…”


Aria menyerukan namanya ketika dalam satu semburan kuat mengosongkan dirinya di dalam diri Aria, membua mengejang dan bergabung bersama dalam satu pusaran yang kuat dan panjang. Ketika gelombang merada dan berakhir, Kanva menarik dirinya dan kembali mencium kening Aria.


Kanva memeluknya untuk tidur nyeyak.


Saat pagi menjelang, Aria merasakan seseorang mengawasinya. Ia segera bangun dan langsung terkejut. Aria ingin segera bangkit dari tidurnya namun lengan-lengan Kanva membuatnya kembali ke posisi semula.


“Ini masih pagi. Izinkan aku memelukmu lebih lama lagi,” ucap Kanva.


“Kanva, kamu benar-benar harus bangun. Bangulah, ayo cepat!”


Aria menepuk-nepuk lengan Kanva agar pria itu segera bangun tidurnya.


“Ada apa?” Tanya Kanva langsung bangun dan menatap wajah Aria.


Aria langsung memberikan tanda agar Kanva menatap di depannya dan sosok Kanva kecil sedang marah di sana.


“Ayah, ibu! Bagaimana bisa kamu lakukan ini padaku? Kalian tidak membiarkanku tidur dengan ibu?”


Aria dan Kanva langsung mengubah dirinya dengan duduk.


“Biar ayah jelaskan…”

__ADS_1


Sion langsung berlari ke arah mereka dan duduk ditengah-tengah.


“Ayo kita tidur bersama untuk sementara untuk waktu yang lebih lama!!” Ucap Kanva dan langsung memeluk putranya dan langsung berbaring.


Sementara Aria tidak bisa membiarkan putranya tidur lagi.


“Sion, kamu akan terlambat sekolah.”


“Tidak apa-apa, aku akan mengantarkannya ke sekolah dengannya nanti. Dia tidak akan terlambat” Kanva bergumam sambil menutup matanya.


“kamu tidak bisa memanjakan putramu seperti ini,” protes Aria.


“Kenapa aku tidak bisa?”


“Wah, aku tidak bisa membiarkan kalian tidur. Sion, kamu harus ke sekolah. Kanva, kamu harus bekerja. Bangun segera!”


Aria berusaha membuat anak dan ayah agar bangun dari ranjangnya.


“Tidak, ibu!”


“Sion!!!!”


“Ayah!!!”


Mereka layaknya sebuah drama sedih.


Aria langsung memisahkan Sion dan Kanva lalu menggendong Sion.


“Kamu harus pergi ke sekolah.”


“Aku akan tidur sebentar lagi,” ucap Kanva yang langsung membenahi selimutnya sementara Sion digendong ibunya untuk mandi.


Aria sedang mengambilkan makanan untuk Sion.


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Kanva.


“Apa itu?”


“Biarkan aku ke rumahmu hari ini. Aku ingin memberitahu mereka tentang hubungan kita.”


“Mustahil.”


“Kalau begitu mari kita menjadi pasangan bahagia sebagai benefit.”


Aria berpikir ingin segera menendang selangkangannya. Aria tidak menanggapi dan sibuk dengan Sion. Menyadari bahwa Aria tidak menjawabnya, Kanva lantas bertanya.


“Ada apa?”


“Ibu, aku akan segera pergi.”


Sion langsung turun dari kursinya dan langsung merengek ke Kanva agar ia segera mengantarkannya ke taman kanak-kanak.


“Ayo ayah!!!”


“Nak, kamu bisa pergi dengan paman Franz. Ayah sedang berbicara tentang sesuatu yang serius dengan ibumu.”


“Pergi sekarang!!!”


Kanva langsung mengehela napas panjang. Putranya seperti copyannya. Keras kepala dan tidak akan menyerah jika keinginanya tidak terpenuhi. Pada akhirnya, Kanva mengantar putranya ke sekolah.

__ADS_1


Sementara Kanva mengantar putranya, Aria sedang duduk di sofa tengah sambil menghitung pengeluarannya untuk dana yang ia investasikan dalam sebuah film.


Kanva langsung pergi ke kantornya setelah mengantar Sion ke sekolah dan sekitar jam empat, ia pulang sendirian karena Sion pulang jam lima dan orang yang akan bertugas untuk menjemput Sion nantinya adalah Franz.


Kanva pulang kerja dan melihat Aria berbaring di sofa sambil sedang menelepon seseorang. Aria mengisyaratkan dengan jarinya agar Kanva tetap diam. Kanva langsung menuruti Aria untuk tetap diam namun pria itu duduk di samping Aria sambil membuka minuman yang ia beli tadi.


Aria melihat Kanva sedang membuka kaleng minuman dan kebetulan ia haus. Ia segera mengambil minuman itu dan langsung meminumnya. Kanva yang melihatnya langsung menghentikannya namun itu semua sudah terkambat.


“Ada apa?” Tanya Aria begitu ia sudah menutup panggilannya dan melihat ekspresi aneh di wajah Kanva.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Kanva.


Aria berusaha membuka matanya begitu ia tiba-tiba mengantuk. Aria langsung melingkarkan lengannya di leher dan duduk di atas paha Kanva.


“Kanva…”


“Hmmm.”


“Minuman apa tadi? Rasanya manis tapi membuatku mengantuk.”


“Itu minumanku tapi kamu merebutnya.”


Kanva memang tadi sempat pergi ke super market untuk membeli sekaleng minuman beralkohol dan beberapa minuman soda untuk Aria.


“Kanva…”


“Hmmmm.”


“Apakah kamu mencintaiku?”


“Tentu saja, bukankah sudah cukup jelas.”


Kanva langsung membawanya ke kamar tidur. Ia menggendong Aria ke sana karena Aria sudah mabuk. Memang Aria tidak bisa menerima alkohol.


“Aku juga mencintaimu.”


Suaranya sangat samar dan lembut, sedemikian rupa sehingga Kanva hampir mengira Aria sudah tidur.


“Apa katamu?”


“Aku berkata, aku mencintaimu. Kanva aku mencintaimu.”


Kanva langsung tersenyum. “Aku tahu.”


“Bagaimana kamu tahu? Jika kamu tahu, kamu pasti mempercayaiku.”


“Aku salah, seharusnya aku mempercayaimu sampai akhir.”


Air mata Aria mulai mengalir di wajah Aria. Kanva menyeka air matanya dengan lembut.


“Apa yang terjadi? Jangan menangis.”


“Kalau saja kita tidak bercerai. Jika kita tidak bercerai, kita akan menjadi pasangan yang sah dan bahagia,” ucap Aria.


“Aria, sudah aku katakan. Aku tidak pernah meceraikanmu sama sekali. Surat itu, aku tidak pernah mengantarkannya ke pengadilan. Jika kamu masih meragukanku, kita akan pergi ke catatan sipil hm?”


Aria langsung menggeleng keras.


“Ibuku sudah tahu, aku di sini. Dia ingin aku pergi dari sini dan membawa Sion.”

__ADS_1


__ADS_2