Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
34. Selama aku bisa bersamanya, aku akan melakukan apa saja part 3


__ADS_3

Aria masih menatap Kanva dengan tenang. Tidak ekspresi di sana. Wanita itu mengendalikan ekspresinya.


“Bocah kecil itu… dia…anakmu…” Aria menggigit bibir setelah mengatakan hal itu.


Kanva mengerjap lalu menarik napas panjang.


“Aku seharusnya tidak meragukanmu. Seharusnya aku yang paling mempercayaimu ketika orang lain meragukanmu. “


“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”


“Karena aku sudah memikirkan segalanya dengan tenang. Aku datang ke psikiater, aku juga kembali menyelidiki rekaman cctv dan juga menekan Darel.”


“Huh….benarkah? Akhirnya kesalahpahaman diantara kita sudah hilang. Jangan sampai kamu terus berpikir bahwa aku melakukan hal tercela. Soal Sion, aku akan merawatnya sendiri. Dia tanggung jawabku sepenuhnya. Aku tidak kan menuntutmu apapun padamu. Jika tidak ada hal lain yang ingin kamu katakan, aku akan pergi sekarang.”


Tepat ketika Aria berdiri, Kanva segera meraih pergelangan tangannya dengan kuat dan segera menempatkannya pada kungkungannya.


“Kanva…”


“Apa yang kamu katakan, Huh? Kamu sudah menghilang begitu saja dari hidupku selama dua tahun lebih dan sekarang kamu akan menghilangkan jejakku dari hidup anakku?” Sentaknya dengan tatapan marah.


Aria menggeleng, tidak mengerti maksud bicara Kanva yang plin plan.


“Kanva, kita sudah bercerai.”


“Siapa bilang? Aku bahkan tidak pernah melayangkan gugatan perceraian! Aku tidak pernah mengirim surat laknat itu.”


“Apa?”


Aria tidak mengantisipasi hal seperti ini. Kanva mencengkeram pelan lengannya dan menyentak Aria ke dalam pelukan. Mulutnya bergerak turun menekan bibirAria dengan kekuatan dan brutalitas yang mengejutkan dan Aria terengah, tersengal.


Kesalahannya adalah membuka bibirnya tanpa sengaja dan Kanva menyelip masuk dan menjelajah kuat. Tangan-tangan Kanva bergerilya di sekujur tubuh Aria lalu berhenti di titik sensitif.


Tangan-tangan itu menjalar ke pinggang dan Aria menemukan dirinya di angkat dari sofa. Refleks ia melingkarkan kaki. Kanva menggendongnya menuju ke kamar utamanya. Saat berada di tangga Kanva kembali ingin mencium Aria, namun wanita langsung memalingkan wajahnya.


“Aku baru saja memutuskan untuk menjalin hubungan dengan orang lain.”


“Kapan kamu memutuskan?” Tanya Kanva.


“Baru saja. Setidaknya kita sudah meluruskan kesalahpahaman diantara kita. Mulai sekarang dan seterusnya, kita akan berjalan di jalan masing-masing,” ucap Aria dengan serius.


“Aku akui aku terlalu tidak rasional dam aku dikuasai oleh amarah waktu itu tapi kamu masih wanitaku. Istri sahku. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu?”


“Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Aku tidak pernah memaafkanmu.”


Kanva lantas menurunkan Aria di ranjangnya.


“Apakah kamu ingin pergi dariku?”

__ADS_1


“Ya,” ucap Aria singkat.


“Pintu di sana selalu terbuka untukmu.”


Aria langsung berdiri, tepat saat ia akan keluar. Kanva berkata,” Jika kamu tidak ingin teman kencanmu dikuliti hidup-hidup, kamu harus tahu apa yang dilakukan.”


“Kanva, kamu tidak berhak mengancamku.”


“Aku berhak karena aku masih suamimu.”


“Kamu selalu bersikap Patriaki.”


Kanva tidak menjawab, pria itu menarik Aria agar terjatuh ke ranjangnya. Lalu pria itu langsung membuka kemejanya sampai celananya. Sampai pada akhirnua Aria merasakan kebutuhan aneh untuk menyentuh Kanva.


Kanva ada di atasnya sekarang. Mulutnya yang lapar mulai mencari. Dengan tangkas ia juga menanggalkan pakaian Aria.


Aria menggeliat pelan, menikmati perangkap yang dibuat Kanva.


Sepanjang malam, satu-satunya komunikasi yang terjadi adalah gerakan tubuh mereka. Kanva menyentuhnya hampir sepanjang malam. Mereka sepertinya saling mengeluarkan rasa kesal dan frustrasi lalu tanpa sadar saling menghibur.


...…....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Tuan Muda, ini adalah laporan terperinci dan beberapa foto yang diambil kemarin,” kata Franz sambil menyerahkan dokumen padanya.


“Dimana Sion?”


Kanva mengangguk lantas ia mengambil dokumen dari tangan Franz dan hal pertama yang ia lakukan adalah melihat-liat foto. Pria itu dan Aria sedang berjalan di jalan sambil mengobrol satu sama lain dengan riang bahkan Sion juga tampak akrab dengannya.


Di sisi lain, pria itu mengenakan pakaian formal. Ia tinggi dan tampan memancarkan pesona yang unik.


Ekspresi yang semakin suram terbentuk di wajah Kanva saat ia melanjutkan untuk melihat foto-foto lainnya. Ia kemudian meletakkan foto-foto di sofa di sampingnya dan mulai melihat laporan detailnya.


Ada foto pria itu yang diambil dengan latar belakang biru.


“Laskara Agnibrata.”


“Ya, orang tua Nyonya Muda yang memperkenalkannya. Saya mendengar bahwa mereka melakukan makam malam bersama. Mereka juga sering jalan-jalan. Tuan Kecil dan Nyonya Muda sepertinya menyukainya.”


“Franz, kamu terlalu banyak bicara.” Kanva memutar matanya.


Kanva meneliti informasi tersebut, baris demi baris tak terlewati. Ruangan itu sunyi, dan satu-satunya yang bisa di dengar adalah ia membolak-balikan halaman. Setelah membaca semuanya, ia mengembalikan laporan itu ke Franz.


“Bakar saja.”


Begitu Franz meninggalkan ruangan itu, Kanva bersandar dan mengambil foto di sampingnya lagi. Kanva langsung meremasnya dan langsung berdiri.

__ADS_1


...…...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aria terbangun karena sensasi panas basah diantara kedua kakinya. Terkejut, ia duduk dan menyibak selimut dan melihat kepala pria itu.


“Kanva!!!!”


Kanva terus menggoda, membelai, menjilat lalu menyusup masuk. Segera Aria mengambil jerit kepuasannya. Kanva merangkak naik ke atas tubuh Aria, menggoda lehernya. Kemudian mengunci bibir.


Dengan ahli pula, Kanva bergerak memasuki Aria dan ia mengerang tertahan. Pria itu lalu mulai bergerak dan seluruh dunia Aria berotasi di sekitar pria itu. Lalu pria itu menggerung dan kembali menghunjam. Kanva memeluknya erat, nyaris menghancurkan tubuh Ariasaat ia bergerak dengan buas hingga mereka mencapai puncak bersama.


“Aku harus pergi.”


Ucapan Aria membuat Kanva mundur seketika.


“Kamu harus pergi?”


“Aku ada janji. Jam sepuluh pagi ini.”


“Dengan siapa? Dengan Laskara itu?”


“Bagaimana kamu tahu nama pria itu?”


“Rupanya benar,” ucap Kanva sinis.


“Jangan mengganggunya,” ucap Aria lantas bangkit sementara Kanva masih berbaring di ranjang.


“Kamu akan membawa Sion?”


“Ya.”


Lalu Aria pergi dan Kanva mendengar pintu kamarnya tertutup.


Kanva menghabiskan sepanjang hati itu dengan melamun, pikirannya melayang tak fokus dan semua ini gara-gara wanita yang sama.


Aslan dan Aidan berkunjung ke rumah Kanva. Jelas mereka berdua datang karena Kanva yang mengundangnya.


“Ada apa? Apakah ada hal yang menarik,” ucap Aidan.


Kanva langsung menceritakan kisahnya. Sementara Aslan dan Aidan tetap diam untuk mendengarkannya dengan penuh perhatian. Setelah Kanva selesai menceritakan kisahnya, Aidan langsung berkomentar.


“Aku benar menyebutmu orang yang bodoh.”


“Apakah aku benar-benar sebodoh itu?”


“Kami menduga ada hubungannya dengan perselingkuhan tapi setelah mendengar ceritamu kamu terlalu tidak rasional dan terlalu mengambil keputusan dengan gegabah. Aku dapat memahami perasaan dan alasanmu tapi bisakah kamu juga berpikir dengan perasaan Aria?”

__ADS_1


“Menurutmu bagaimana perasaannya, ia mempunyai suami yang tidak percaya padanya dan bahkan melayangkan surat perceraian. Kamu sebaiknya mempersiapkan diri untuk menjadi bujangan seumur hidupmu,” tegur Aidan.


“Aku tidak pernah mengirimkan surat cerai itu ke pengadilan. Dan aku merasa dia masih mencintaiku. Apa yang menjadi milikku akan menjadi milikku selamanya. Tidak ada yang bisa mengambilnya dariku.”


__ADS_2