
Aria membuka matanya perlahan, ia melihat sinar matahari sudah masuk ke kamarnya. Aria merasa ada tangan yang melingkari pinggangnya.
Ia menoleh ke belakang. Ia mendapati Kanva tidur sambil memeluknya erat. Aria mencoba melepaskan tangan Kanva tapi Kanva tidak melepaskannya.
“Kanva, aku ingin bangun,” ucap Aria pelan tapi yang ada Kanva mengeratkan pelukannya.
“Bangun Kanva!” Ucap Aria sambil teriak tapi Kanva tidak bangun juga. Ia mencoba berganti posisi jadinya mereka berhadapan. Lalu Aria menepuki pipi Kanva.
“Hmmm,” ucap Kanva pelan.
Aria mencubit pipi Kanva dengan keras. Kanva nulai kesal karena tidurnya di ganggu, Kanva membuka matanya menahan tangan Aria.
“Akhirnya kamu bangun, sekarang lepas,” ucap Aria. Kanva menatap Aria lalu tatapannya jatuh ke bibir Aria yang berwarna merah muda.
“Aku ingin menciummu.”
“Aku ingin bangun,” ucap Aria tapi Kanva malah memeluknya lebih erat tapi Kanva menutup kembali matanya. Kanva tersenyum kecil.
Tiba-tiba ponsel Kanva berbunyi.
“Kanva teleponmu berdering,” ucap Aria.
Kanva menggeram kesal karena paginya telah diganggu dengan siapa pun yang menelepon itu. Kanva bangun lalu mengangkat telepon tersebut.
“Iya.”
“Tuan Muda, saya berada di depan rumah Tuan Muda dan saya mendapati tas yang mencurigakan.”
“Berikan padaku,” ucap Kanva lalu ia langsung menutup telepon.
Aria bangun dari kamar, ketika ia ingin masuk ke kamar mandi. Kanva langsung berbicara.
“Aria jangan ke mana-mana. Tetap di dalam kamar.”
Aria menoleh dengan menatap Kanva bingung.
.........
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kanva dan Franz saat ini berada di ruang kerja Kanva. Franz membawa tas yang ia temukan tepat di depan pintu rumah majikannya.
Kanva melihat Franz sekilas sebelum matanya jatuh pada selembar kertas bertuliskan ‘Bos ku tidak bunuh diri. Katanya di dalam sini ada bukti untuk mengungkapkan pelakunya’
Kanva melebarkan matanya dan langsung membuka tas tersebut. Di sana terdapat sebuah surat perjanjian pelunasan hutang.
“Proyek Truk? Hari bulan dan tahun sama persis dengan kejadian dimana aku mengalami kecelakaan.”
Franz yang mendengarnya langsung terkejut.
Kanva langsung membaca isi surat tersebut.
“Pengutang, Henri.”
Kanva langsung meletakkan surat itu di meja dan langsung mencari petunjuk lainnya. Di sana ada surat perjanjian pinjam uang atas nama Henri.
“Franz.”
“Iya.”
__ADS_1
“Temukan orang yang bernama Henri dan perketat keamanan rumah ini.”
“Baik Tuan Muda.”
Kanva pun langsung menghela napas panjang. Sepeninggal Franz, Kanva kembali membuka tas tersebut mencari petunjuk lagi. Rupanya di sana ada sebuah flashdisk.
Kanva langsung menyambungkannya pada laptopnya. Rupanya di dalamnya ada suara rekaman.
“Kamu siapa?”
“Diantara pengutangmu apakah ada sopir truk?”
“Kenapa kamu mencari seorang sopir?”
“Karena aku butuh. Lebih baik jika ia tidak kompeten.”
“Namanya Henri. Dia sopir.”
“Berapa utangnya?”
“Utangnya sepuluh juta namun kini mencapai tujuh belas juta karena terus berbunga.”
“Akan kulunasi utangnya, kamu juga akan kuberi uang tapi sebagai gantinya aku ingin dia menyebabkan kecelakaan mobil.”
Kanva langsung mematikan rekaman tersebut. Ia sudah menduga dengan suaranya.
“Paman? Kenapa paman?”
Lalu kemudian sekelebat kenangan saat ia masih kecil bersama pamannya berputar dalam ingatannya. Ia masih tidak menyangka paman yang dulu menjadi sandarannya mampu berbuat jahat untuk mencelakainya.
“Tidak mungkin.”
Kanva masih belum bisa percaya.
Setelah mencoba menenangkan diri. Perubahan ekspresi Kanva langsung berubah cepat. Pria itu lantas pergi ke ruang makan karena Aria sudah menunggunya di sana untuk sarapan.
“Apakah kamu sudah siap?”
“Untuk?”
“Ikut denganku,” ucap Kanva lalu menyuapkan makanannya.
“Ke mana?” Tanya Aria.
“Ke kantorku,” ucap Kanva.
“Untuk apa aku ikut ke kantormu?”
“Hanya aku merasa lebih tenang jika kamu berada di dekatku.”
Aria menghela napas, ia tidak bisa menolak.
Setelah beberapa menit menghabiskan sarapan, mereka langsung berjalan menuju pintu utama. Kanva menatap Aria dari belakang, ia cantik bahkan sangat cantik. Kanva tidak dapat melepaskan pandangannya dari Aria. Tapi Kanva tidak rela kalau pria lain yang melihatnya.
Ketika sudah sampai pintu utama, di situ sudah ada sopir dan mobil yang menunggu.
“Pagi Tuan Muda dan Nyonya Muda,” ucap Sopir, Aria tersenyum sopan.
Sopir tersebut membuka kan pintu untuk Aria tanpa Aria sadari sopir tersebut menatap penampilan Aria tapi Kanva menyadarinya ketika Aria sudah masuk mobil.
__ADS_1
Kanva menatap tajam sopirnya itu.
“Guan,” ucap Kanva sopir tersebut tersadar dari lamunannya.
“Iya Tuan Muda?”
Kanva mendekati kuping Guan lalu mengucapkan, “Kalau kamu masih ingin pekerjaanmu ini jangan menatap wanitaku seperti itu,” bisik Kanva dingin dan tajam. Mampu membuat siapa pun yang mendengarnya merinding ketakutan.
Kanva menjauh menatap Guan tajam sedangkan Guan menunduk dan mengucapkan maaf setelah itu Kanva masuk.
“Ada apa?” tanya Aria bingung, ia tidak dapat mendengar percakapan Kanva dan Guan.
“Tidak ada apa-apa.”
Setelah itu mereka langsung menuju ke kantor.
Sesampai di sana, ketika mereka keluar Aria menatap gedung itu. Sudah lama ia tidak menjejakkan kakinya di sana.
Kanva berjalan masuk lobby, Aria hanya mengikutinya.
Entah jenapa Kanva kesal ketika ada pria lain yang memandang Aria seperti itu. Kanva langsung menggenggam tangan Aria lalu mereka memasuki lift pribadi Kanva.
Ketika mereka di lift Aria melirik Kanva. Ia bingung dengan sikap Kanva yang tadinya suka menggodanya menjadi dingin.
“Apa yang akan kulakukan ketika kamu sedang rapat?”
“Duduk,” jawab Kanva singkat, jelas dan padat.
Aria menghela napas pasti akan membosankan.
Ketika pintu lift terbuka, mereka keluar lift. Di depan lift sudah ada lelaki yang memakai jas, Kanva tetap berjalan melewatinya.
“Tunggu di ruangan, aku akan rapat.”
Aria langsung berjalan ke ruangan Kanva. Sementara Kanva berjalan ke ruangan rapat. Kanva langsung duduk di tengah setelah itu rapat pun mulai, ada lelaki yang berdiri lalu ia mulai presentasi.
Di tengah rapat, tiba-tiba ada suara ketukan pintu membuat rapat menjadi terhenti.
“Maaf telat, tadi macet,” ucap lelaki yang memakai jas.
Kanva tidak begitu terkejut ketika melihat keponakannya di pintu. Raean masuk ruangan lalu ia menuju kursi yang kosong.
“Sebelumnya mungkin ada beberapa yang belum mengenalku. Perkenalkan nama saya Raean Wijaya. Hari ini saya menggantikan ayah saya Wijaya.”
Dua jam kemudian, rapat pun akhirnya selesai.
Kanva langsung memasuki ruangannya. Di sana ia melihat Aria yang sedang bermain dengan ponselmu.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Kanva.
“Bermain ponsel.”
Kanva berjalan ke kursinya lalu ia duduk. Ruangan menjadi sangat hening. Hanya ada suara tengah Kanva yang mengetik di laptop.
Sementara Aria yang bermain game lama kelamaan menjadi mengantuk lalu ia tertidur di sofa dengan posisi duduknya.
Entah kenapa ketika Aria berada di ruangan, rasanya Kanva bisa mengerjakan pekerjaannya dengan tenang, rasanya hatinya memiliki ketenangan.
Padahal Aria tidak melakukan apa-apa yang ia lakukan hanya duduk di sofa. Kanva mencoba melirik. Aria dan ternyata Aria sudah tertidur di sofa.
__ADS_1
Kanva berdiri dari kursinya lalu ia berjalan menuju Aria.
Kanva duduk di sebelahnya, ia menyingkirkan rambut Aria yang menutupi wajahnya.