Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
26. Alasan Tidak Boleh Minum


__ADS_3

Aroma ruangan sangat maskulin. Tak hanya itu, bau alkohol yang menyengat begitu menguar begitu Aria memasuki ruangan tersebut. Aria langsung dihadapkan oleh Darel yang sudah tak sadarkan diri. Pria itu mendekur.


Aria mendekatinya dan mencoba untuk membangunkannya namun sepertinya pengaruh alkohol sudah mengambil kewarasannya. Aria melihat beberapa botol yang sudah dihabiskan oleh Darel. Ia sangat terkejut dan tak bisa berkata-kata.


Aria harus membawa Darel pergi dari tempat itu. Aria membawanya di pundaknya dan menyeret sekuat tenaga tubuh Darel. Sekuat tenaga dan perlahan-lahan memindahkannya. Namun Darel yang tinggi dan berotot sangat berat dibandingkan tubuh Aria. Maka dari itu, Aria meminta bantuan petugas di sana untuk memindahkan Darel ke dalam mobilnya.


Aria langsung menyalakan mobilnya namun ia terlalu bingung membawa Darel ke mana. Jika ia membawa Darel ke rumahnya, Kanva pasti sangat marah.


“Darel, dimana kamu tinggal?”


“Hmm….”


“Dimana kamu tinggal?” Tanya Aria sekali lagi.


“Hm….”


Aria menepuk jidatnya sendiri. Percuma ia bertanya dengan Darel pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke hotel. Akan lebih aman jika Darel beristirahat di sana.


Setelah check in, Aria kembali memapah Darel. Aria berusaha membantunya masuk ke kamar. Aria menutup pintu dan memindahkannya ke tempat tidur. Ketika mereka hendak mencapai tempat tidur, Aria sudah tidak bisa menopang berat badan Darel maka dari itu, Aria langsung melemparkan Darel namun ia lupa bahwa tangan Darel masih di pundaknya. Akibatnya, Aria jatuh ke tempat tidur bersama Darel.


Aria jatuh ke dadanya sehingga menyentak Darel untuk bangun namun sepertinya pria itu belum sadar sepenuhnya.


“Siapa kamu?” Tanyanya.


“Aku Aria, mengapa kamu mabuk?”


Aria mencoba bangkit tetapi ia kembali terjatuh ke tempat tidur ketika Darel membalik nya ke samping dan mulai mengukung tubuh Aria. Aria langsung bertindak histeris karena terkejut. Ia mulai berjuang untuk melepaskan diri.


“Apakah kamu benar-benar akan melarikan diri?”


“Darel, sadarlah. Aku Aria.”


“Aku tidak peduli! Aku merasa tubuhku sangat panas, ini sangat membakar.”


Darel menatap Aria. Sementara Aria masih berjuang untuk membebaskan diri. Namun Aria dikejutkan oleh tindakan Darel. Ia terduduk tegak sambil menjepit tubuh bagian Aria. Pria itu menanggalkan pakaiannya sendiri.


“Astaga! Darel! Sadarlah!”


Ari berpikir bahwa Darel benar-benar mabuk sehingga ia benar-benar kehilangan kewarasannya jadi percuma ia mengingatkannya siapa dirinya. Aria langsung menutup mulutnya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia berusaha berpikir keras untuk pergi.


Aria berharap bisa memeluknya sampai pingsan.


Ia dikejutkan oleh tonjolan keras yang mengenai paha bagian dalamnya. Ia tahu persis apa itu.


Darel mengulurkan tangannya untuk menanggalkan pakaian Aria. Aria mencengkeramnya dengan erat untuk mencegah Darel melakukan di luar batas.


Darel begitu marah karena ia merasa kesulitan dan panas.


“Jika kamu menolak aku akan melakukannya dengan cara kasar.”


“Darel sadarlah.”

__ADS_1


Tampak bersemangat, Darel berulang kali bergumam tidak jelas dalam keadaan mabuk. Aria sama sekali tidak bisa memahami apa yang dikatakannya sama sekali. Pria itu duduk di atasnya dan berhasil membuka baju bagian atasnya,


Darel mencium dengan semangat tulang selangkanya. Aria dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan Darel.


“Darel, bisakah kamu….”


“Terlalu panas.”


“Darel, kamu harus berbaring di bawah. Aku akan melakukannya untukmu.”


Darel laku turun darinya setelah itu, Aria buru-buru memperbaiki baju atasnya. Darel menurut dan berbaring. Aria lantas cepat-cepat turun dari ranjang dan mencoba berlari keluar. Namun lengan Aria dicengkeram kuat oleh Darel.


“Beraninya kamu membohongiku. Kamu mencoba untuk lari!”


Aria bingung oleh ledakan amarah Darel yang tiba-tiba.


“Kenapa dia tiba-tiba merasa terbakar hanya karena minum alkohol? Mungkinkah seseorang mencampurnya dengan sesuatu?”


Mata Darel merah dan rahangnya begitu keras. Ia meraih Aria dan memaksanya untuk ke tempat tidur. Kepanikan kembali menyelimuti jantungnya. Darel mulai membungkuk dan mulai mencium wajah Aria sementara Aria berusaha memiringkan wajahnya.


Ketika Darel membuka kancing celananya, Aria meraih tangannya untuk menghentikannya.


“Apakah kamu ingin mati?”


Aria langsung meraih wajah Darel dan menciumnya setelah Darel cukup terbuai. Aria langsung menendang Darel sampai pria itu terjatuh dari ranjang sampai menyebabkan bunyi gedebuk.


Aria langsung melihat keadaan Darel yang sepertinya pingsan. Untung Darel jatuh ke atas karpet berbulu.


“Pasti ada sesuatu yang salah dengannya. Orang mabuk biasanya akan tertidur atau muntah, ia malah menunjukkan gejala yang tidak biasa.”


Aria membuat tebakannya semakin liar.


Menyadari kondisi Darel semakin buruk, Aria segera pergi ke sampingnya.


“Apa yang harus aku lakukan?”


Aria menyebutkan namanya dan itu malah membuat Darel semakin liar dengan gerakannya. Segera pria itu mengerang dan mendengus dalam kenikmatan luar biasa.


Aria sampai harus menahan napasnya. Ia masih terguncang dan tidak dapat pulih dari kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya.


“Pria memang menakutkan jika sudah kehilangan kendali dan dikuasai oleh hawa nafsu.”


Aria langsung pergi dari kamar hotel dan pulang.


Aria langsung membaringkan tubuhnya di ranjangnya sendiri. Kanva masih saja belum pulang.


...…....


......................


Aria terbangun oleh sinar matahari yang memasuki kamar, ia menoleh dan ia tidak mendapati Kanva di sampingnya. Aria duduk di kasur guna mengumpulkan nyawanya agar terkumpul. Setelah nyawa sudah terkumpul ia bangun dari kasur.

__ADS_1


“Mau kemana?”


Aria terlompat ketika mendengar suara Kanva, ia menoleh dan mendapati Kanva duduk dengan MacBooknya dan setumpuk dokumen. Ia memakai kaos oblong hitam dan celana selutut.


Aria berjalan pelan ke kamar mandi. Tiba-tiba ia merasa ada seseroang yang memeluknya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Kanva.


“Kamu masih marah? Berhenti dong marahnya. Aku rindu kamu.”


Tiba-tiba ada ketukan di pintu kamar, Kanva menghela napas kemudian ia melepaskan Aria untuk membuka pintu dan itu kesempatan Aria. Ia langsung masuk kamar mandi dan mengunci kamar mandi rapat-rapat lalu bernapas lega.


Lalu ia membersihkan dirinya, setelah selesai semua. Ia keluar kamar mandi tapi ia tidak mendapati Kanva dimana-mana. Aria membuka ponselnya dan si sana ada tiga pesan dari Darel.


Dari Darel


Lagi apa?


Apakah tidurmu nyenyak?


Bisakah kita bertemu?


Akhirnya Aria memutuskan membalas pesan dari Darel.


Kamu boleh ke mansion kalau kamu mau.


Kemudian ia meletakkan ponselnya di meja, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan di sana ada Kanva. Aria tidak menghiraukannya dan fokus mengeringkan rambutnya.


“Sudah selesai mandi?” Tanya Kanva namun diacuhkan oleh Aria.


Tidak ada jawaban dari Aria membuat Kanva menghela napas. Kanva kembali duduk di sofa dan bekerja. Aria melirik Kanva.


“Kenapa tidak di ruang kerja aja sih?” Gumam Aria.


Tidak lama kemudian ada ketika pintu, ketika Kanva bilang masuk. Di sana sudah ada pelayan yang membawa makanan.


“Nyonya Muda, ini sarapan anda.”


“Terima kasih,” jawab Aria sambil tersenyum, Kanva mengerutkan dahinya ketika mendengar Aria berbicara dengan pelayan tersebut.


Makanan Aria ditaruh di meja tidak jauh dari tempat duduk Kanva. Sepeninggal pelayan, Aria langsung menuju meja tersebut duduk di sebelah Kanva.


Kanva menyentuh tangan Aria membuat Aria bingung. Dan dalam hitungan detik, Kanva mengangkat tubuh kecil Aria sehingga Aria duduk di pangkuan Kanva dan mereka berhadap-hadapan sekarang.


“Kamu marah sama aku?” Tanya Kanva dan Aria menggeleng pelan.


“Aku merindukan suaramu, tolong bicaralah Aria….”


Sejak semalam, Aria tidak bicara padanya. Ia merindukan suara Aria.


“Lepaskan aku Kanva,” ucap Aria pelan.


Kanva tersenyum lebar kemudian memeluk erat tubuh kecil Aria.

__ADS_1


“Akhirnya kamu mengeluarkan suaramu, aku begitu merindukannya. Aku merindukan omelanmu setiap hari.”


__ADS_2