
Aria begitu panik seketika, begitu ia ingin menjemput putranya namun di sekolah sudah tidak ada. Guru mengatakan bahwa sosok Kanva yang menjemput putranya.
Aria begitu marah, karena tanpa seizinnya, Kanva dengan seenak jidatnya membawa putranya pergi. Aria langsung melajukan mobilnya ke kediaman Kanva.
Begitu ia tiba, Aria langsung masuk kediamannya. Tak ada satu pun penjaga yang menghentikannya. Aria dengan cemberut membuka pintu rumah itu dengan kesal.
Begitu ia ingin memanggil Kanva, tidak ada orang yang menyahutinya. Hanya beberapa pelayan yang datang menyambutnya.
“Nyonya Muda.”
“Di mana Kanva?”
“Tuan Muda masih belum pulang.”
“Apa?”
Aria langsung panik. Guru bilang Sion pergi dengan Kanva tapi mereka tidak ada di rumah.
Aria langsung mencoba menelepon Kanva namun panggilannya sama sekali tidak dijawab.
“Dimana ia membawanya?”
Aria langsung keluar dari rumah itu. Satu-satunya harapannya adalah pergi ke kantor Kanva.
Sementara itu di tempat yang berbeda. Sion sedang menunggu Kanva menyelesaikan pekerjanya. Karena bosan dengan Franz, Sion langsung mengadu pada Kanva.
“Ayah, kenapa pekerjaan ayah sangat banyak?” Sion menggerutu dengan pipi gembulnya.
“Sion.”
“Huh.”
“Maaf karena kamu lama menunggu. Ayah akan segera selesai.”
“Oke,” ucap Sion mengangguk lalu berlari ke luar kantor ayahnya. Diikuti Franz di belakangnya.
Sion langsung mengambil alih kursi Franz yang kosong. Bocah kecil itu duduk di sana layaknya pria dewasa yang sedang magang.
Ia duduk di kursi itu dengan susah payah. Tangannya yang kecil mencoba menggapai gagang telepon.
“Kenapa banyak sekali pekerjaan?” ucap Sion, menirukan Kanva.
Sion mengambil telepon, layaknya ia sedang mendapatkan panggilan.
“Aku mendapatkan telepon. Halo, siapa ini? Ayah gajah terkunci di taman? Baik aku akan ke sana.”
Sion langsung meletakkan teleponnya kembali namun belum sampai lima detik, bocah itu kembali mengambil teleponnya lagi.
“Huh? Ayah jerapah sakit tenggorokan? Baik aku akan ke sana.”
Sion pun langsung turun dari kursinya. Ia mendekati Franz yang hanya berdiri di sana sambil mengawasinya.
“Huh, Ayah Jerapah. Kamu sakit?” Sion langsung memegang kepala Franz saat pria dewasa itu berjongkok.
Selesai memeriksa, Sion kembali ke tempat duduk Franz. Dia seolah kembali bekerja sambil memainkan keyboardnya.
“Kenapa ini tidak menyala?”
Sion kembali menekan-nekan acak keyboard namun komputernya tidak bisa menyala seperti yang ia harapkan.
“Pak Kanva!!!” teriak Sion membuat Kanva terkejut saat mendengar teriakan anaknya.
Kanva langsung keluar dari ruangannya dan mendekati Sion.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan, Sion?”
“Aku sedang bekerja.”
“Ayah akan segera selesaikan dan bermain denganmu, Sion.”
Kanva lantas pergi ke ruangannya kembali, diikuti oleh Sion di belakangnya.
Sion langsung berlari. “Ayah.”
“Hm.”
Sion langsung menyatukan jemarinya membentuk pistol dan menembak ayahnya dengan mengeluarkan suara yang imut.
“Ju ju ju ju.”
Kanva langsung merebahkan tubuhnya ke kursi sambil mengangkat kedua tangannya.
Sion sepertinya tidak sabar bermain dengan ayahnya.
“Wuahhhhh.”
“Ayah, tolong buatkan aku origami.”
“Kamu ingin bermain tembak-tembakkan bersama ayah?”
“Aku akan melakukannya bersama ayah.”
Kanva pun membuat origami dengan kertas hvs. Setelah itu sepertinya Sion tampak bosan. Kanva pun berpikir keras membuat Sion betah di sisinya.
“Sion, ini adakah kartu seperti uang. Pergilah ke kafe lantai pertama. Belikan ayah, es amerikano.”
“Es Americano,” ucap Sion.
“Ya, tolong belikan ayah es Americano dan kamu bisa membeli minuman juga.”
“Pergilah ke lantai satu dan belok kanan.”
“Ya. Keluar dari lift dan belok kanan?”
“Ke kanan,” ucap Kanva.
“Ke kanan.”
“Paman Franz, akan menemanimu.”
“Oke,” ucap Sion dengan semangat.
Sepanjang jalan, Sion selalu bernyanyi. Ia begitu semangat pergi ke kafe. Franz langsung membantu membuka pintu Kafe karena Sion begitu kesusahan membuka pintu kafe.
Begitu sudah dibuka, Sion langsung berlari dan segera mengulurkan kartu yang diberikan ayahnya.
“Ini dia.”
“Kamu mau pesan apa?”
“Aku pesan es kopi amerikano dan jus melon dingin.”
“Kami tidak punya jus melon. Bagaimana kalau jus jeruk?”
“Kalau begitu aku pesan jus jeruk.”
Tak selang berapa menit, pesanan Sion sudah siap. Sion ingin segera meminum jusnya. Ia meminta bantuan pelayan kafe untuk membukakan botol jusnya.
__ADS_1
Ia menegak satu tegukan lalu keluar dari sana. Saat bocah itu ingin menaiki lift tiba-tiba ia mendengar seseorang tengah memanggilnya.
Sion langsung berbalik dan ia langsung menjerit senang begitu melihat ibunya.
“Ibu!!!!”
Bocah kecil itu langsung berlari ke arah ibunya. Franz yang melihat kehadiran Aria langsung memberikan salamnya.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Aria begitu khawatir. Wanita itu memeriksa tubuh Sion, takut jika Sion mengalami sesuatu.
“Hm, aku baik-baik saja. Ibu, aku membelikan ayah es kopi.” Sion berbicara dengan bangga.
Aria langsung melihat Franz. Aria lantas mengambil kopi tersebut dan memberikannya pada Franz.
“Baiklah, kamu sudah bermain-main. Saatnya kita pulang ke rumah.”
Aria langsung menggendong Sion namun sepertinya bocah itu enggan pergi.
“Kita tidak pamit dengan ayah?”
“Ibu sudah pamit dulu.”
Aria langsung menatap Franz. “Bilang pada atasanmu, jangan membawa Sion tanpa seizinku.”
“Baik, Nyonya Muda.”
Aria dan Sion tidak langsung pulang karena Aria ingin membeli sesuatu. Mereka berdua tampak berjalan berdua setelah Aria memarkirkan mobilnya. Sion begitu menikmati perjalanannya.
Bocah itu sering kali melompat seakan sedang mendeskripsikan kegembiraannya.
Setelah membeli apa yang dibutuhkan, Aria dan Sion kembali ke tempat parkir namun mereka melewati jalan lain.
Namun ia merasakan ada seseorang yang tengah membuntutinya. Aria langsung berjalan cepat dengan Sion.
Begitu ia dekat dengan mobilnya, ia berbalik untuk melihat keadaan sekitar. Dan Aria begitu panik, begitu melihat beberapa preman berjalan ke arahnya. Namun setelah berusaha membuka mobilnya, saat Aria kembali menoleh. Preman tersebut tidak ada.
“Masuk.”
“Huh?”
Kunci mobilnya diambil secara paksa.
“Kenapa kamu ada di sini?”
“Hanya kebetulan lewat.”
Aria langsung memasukkan Sion ke kursi belakang sementara ia duduk di kursi samping kemudi. Kanva sendiri duduk di kursi kemudi.
Aria menatap keluar jendela untuk melihat bahwa ada lebih sepuluh pengawal Kanva berdiri di sana sementara preman yang membayanginya sudah tidak terlihat lagi.
Mobil mereka pun berjalan. Keheningan memenuhi udara di dalam mobil. Untuk itu, Kanva menyalakan musik.
“Kenapa kamu mengambil Sion tanpa izinku?” tanya Aria.
“Aku hanya tidak bisa membendung perasaanku padanya. Maaf, jika membuatmu khawatir. Lain kali aku akan meminta izinmu.”
“Aku harap kamu menjauhi kami.”
Kanva menginjak rem dengan tiba-tiba menyebabkan Aria jatuh ke depan dan membenturkan kepalanya ke kursi di depannya.
Untung saja Sion sedang tidur dan ia memakai self bealt.
Pada saat ia duduk dengan benar lagi, Aria pikir Kanva akan mengatakan sesuatu namun pria itu masih bungkam.
__ADS_1
Kanva keluar dan sebuah mobil sudah menunggunya di sana.
Aria melihat kepergian Kanva dengan diam.