
Merlisa terlihat kebingungan saat tidak melihat keberadaan Kanva di rumah. Wanita itu berkeliling untuk mencari keberadaan Kanva sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada bibi Ina.
“Bibi, apakah kamu melihat Arsel?”
“Arsel? Ah maksud nona Tuan Muda Kanva?”
“Ya, Tuan Mudamu?”
“Beliau pergi bersama Nyonya Muda ke kantor pagi ini.”
“Apa? Kantor? Apakah bibi tahu dimana alamatnya?” Tanya Merlisa.
“Untuk apa nona mencari Tuan Muda?”
Merlisa langsung terlihat tersinggung, “Tentu saja itu bukan urusanmu. Aku hanya ingin melihat Arsel.”
“Nona, Tuan Muda akan mencarimu jika ia ingin melihatmu.”
Merlisa mulai menyadari bahwa segalanya tidak seperti yang ia harapkan. Setelah duduk sejenak, rupanya seseroang tengah berkunjung dan betapa terkejutnya Merlisa melihat ibunya datang berkunjung.
“Ibu,”
“Merlisa.”
“Bu, bagaimana bisa kamu mengetahui aku tinggal di sini?”
“Mario yang memberitahukan keberadaanmu.“
Merlisa segera memeluk ibunya dan menceritakan keluh kesahnya. Ia juga menceritakan keinginannya untuk tinggal bersama Kanva.
“Apa yang kamu katakan?”
“Bu, aku ingin bersama Arsel.”
“Apakah kamu tidak waras? Dia sudah beristri. Lebih baik kamu pulang bersama ibu.”
“Aku tidak peduli, aku akan merebutnya. Bu, sejak kecil aku tidak meminta apa pun. Untuk kali ini dukung aku bu. Aku ingin tinggal di sini.”
Senja telah menyapa dan Kanva pulang terlebih dulu karena Aria masih ada urusan. Saat ia pertama kali masuk ke dalam rumah, ia melihat ibu Merlisa yang duduk di sofa dengan Merlisa.
“Tante.”
“Arsel, maksud tante Kanva. Bagaimana kabarmu?”
“Baik.”
Merlisa yang tampak dari dapur langsung berlari begitu mendengar ibunya memanggil Kanva.
“Arsel, kamu sudah pulang?”
“Ya,” jawab Kanva singkat.
“Apakah kamu sibuk sekarang?” Tanya Merlisa.
“Tidak, kenapa?”
“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu,” ucap Merlisa, lantas wanita itu langsung menarik tangan Kanva untuk pergi ke halaman depan dengannya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Tanya Kanva begitu mereka duduk di kursi halaman.
“Apakah kamu tidur dengannya tadi malam?”
Kanva menjadi lebih waspada dan sadar akan kata-katanya, “Apakah ada masalah dengan itu?”
__ADS_1
Merlisa langsung menggeleng pelan, “Tidak…kalian berdua adakah pasangan yang sudah menikah,” ujar Merlisa dengan sedih.
“Ada hal yang lain yang ingin kamu katakan?”
“Aku ingin sesuatu,” ucap Merlisa dengan mantab.
“Aku akan memenuhi keinginanmu selama dalam batas kemampuanku.”
“Kamu tidak akan setuju dengan ini.”
“Katakan saja.”
“Aku menginginkanmu.”
“Merlisa, tidak mungkin di antara kita. Aku sudah menikah. Tidak ada alasan lain aku memilihmu”
“Arsel, saat aku mengatakan bahwa kita adalah tunangan dan pasangan kekasih. Apakah di saat itu kamu mencintaiku? Kita sudah menghabiskan beberapa bulan bersama, apakah kamu benar-benar tidak memiliki setidaknya perasaan untukku?”
Kanva langsung menggeleng dengan mantab dan Merlisa tampak sedih.
“Bagaimana bisa? Dia datang dan kamu langsung menyukainya. Dia mengatakan bahwa dia adalah istrimu dan kamu langsung mencintainya. Apakah karena dia cantik? Kalian para pria hanya melihat paras saja.”
“Merlisa.”
Merlisa tidak bisa menerima balasan Kanva yang dingin dan acuh tak acuh. “Kanva….”
“Aku benar-benar berterima kasih padamu karena menyelamatkanku tapi tindakanmu yang membohongiku sebagai tunanganmu padahal aku sudah menikah, itu sudah menyalahi moral. Dan sekarang kamu ingin aku mencintaimu?”
Merlisa kehilangan kata-katanya.
...…...
Aria melemaskan badannya dan segara mematukan layar laptopnya dan segera membereskan mejanya, memasukkan ponsel dan beberapa catatan kecil ke dalam tasnya. Ia sangat ingin melihat Kanva segera.
Dia tiba di halaman rumahnya hanya untuk disambut dengan pemandangan Merlisa bersama Kanva. Tangan Aria mengerat. Ia lantas pergi begitu saja.
Aria lantas pergi ke kamarnya dan meletakkan rotinya ke atas meja. Segera membuka bajunya dan pergi ke kamar mandi untuk menghilangkan penat seharian ini. Pada saat ia keluar dari kamar mandi ia dikejutkan oleh kehadiran Kanva yang sudah berdiri di samping pintu kamar mandi.
“Kenapa aku tidak mendengarmu kembali sama sekali?”
“Bagaimana bisa kamu mendengarku, kamu sendiri sibuk berduaan dengan tunangan palsumu.”
“Kami hanya mengobrol sebentar,” ucap Kanva.
“Siapa yang peduli.”
“Kamu sudah makan malam?”
Aria mengabaikan pertanyaan Kanva. Kanva yang merasa diabaikan langsung memeluk Aria dari belakang.
“Aku akan membuatkan makan malam untukmu.”
Mereka berdua turun ke lantai bawah menuju ke dapur. Kanva membuka kulkas dan memutuskan untuk membuat spageti. Aria terus memandangi Kanva yang sedang memasak dan entah kenapa rasa kesalnya sirna begitu saja.
Tidak sampai dua puluh menit, ia selesai memasak. Ia menaruh dua piring spageti.
“Selamat makan,” ucap Kanva.
Aria pun mencoba dengan satu suapan pertama. Aria langsung menunjukkan ekspresinya yang begitu penuh kejutan.
“Bagaimana? Apakah kamu terkejut karena rasanya sangat enak?”
“Kenapa tidak enak begini? Kelihatannya sangat enak, tapi kenapa tidak?”
__ADS_1
Kanva langsung menghela napas panjang. “Kamu terlalu jujur. Pada saat begini, bukankah harusnya kamu berpura-pura terkesan karena masakanku enak.”
Aria langsung tertawa, “Aku hanya bercanda. Ini enak kok.”
Aria langsung menyuapkan satu suapan lagi ke dalam mulutnya. Entah kenapa ruangan menjadi begitu sunyi. Aria memakan spageti sambil menatap spageti. Aria mencoba mengangkat kepalanya dan ternyata Kanva sedang menatapnya sambil memakan spageti. Tatapan Kanva membuat kulitnya terbakar.
“Kenapa kamu menatapku terus?” Tanya Aria.
“Apa boleh buat, aku tidak dapat melepaskan mataku darimu,” ucap Kanva.
“Pasti itu kata-kata yang selaku kamu ucapkan untuk tunangan palsumu,” ucap Aria,Kanva mengangkat alisnya sambil tersenyum miring.
“Tidak,” ucap Kanva jujur.
“Bohong,” ucap Aria tersenyum tidak percaya. Tiba-tiba bel pintu berbunyi, Aria langsung bangun untuk membukakan pintu.
“Biarkan saja,” ucap Kanva.
“Kalau itu rekan bisnis, bagaimana?” Tanya Aria, lalu berjalan menuju pintu meninggalkan Kanva di ruang makan.
Ketika Aria membuka pintu, ia terkejut mendapati Aidan berdiri di depan pintu.
“Hai, Aria.”
“Aidan.”
“Mau pergi ke klub denganku? Tentunya dengan Kanva juga.”
“Kamu ada masalah?” Tanya Aria karena ia tahu jika Aidan ada Kalasan pria itu akan mencari ketenangan di tengah-tengah gemerlapnya kota dan berisiknya suara dentuman keras.
“Tidak juga, hanya merasa jenuh. Jadi, bisakah kita pergi sekarang?”
Aria ingin menjawabnya namun Kanva tiba-tiba muncul.
“Tidak, dia akan tetap berada di rumah bersamaku,” ucap Kanva sambil merangkul menjawab pertanyaannya.
“Apa maksudmu? Aku ma-“ ucapan Aria terpotong ketika Kanva mengecup bibirnya. Aria mematung di tempat.
“Sepertinya aku menganggu waktu kalian. Aku akan pergi.”
“Itu bagus…” Kanva berseru sambil menatapnya tajam.
Aidan tersenyum setelah itu ia pamit dan meninggalkan mereka berdua.
“Tidak di undang tapi malah datang, bukankah dia tidak sopan?” Ucap Kanva mengikuti Aria dari belakang.
“Dia itu temanmu.”
“Dia temanku tapi dia menyukaimu sayang.”
“Apa maksudmu?” Tanya Aria tidak mengerti dengan jalan pikiran Kanva.
“Bagaimana bisa dia mengajak istri temannya ke klub kalau dia tidak menyukaimu?”
“Ingat dia juga mengajakmu.”
Aria lantas pergi ke kamarnya dan langsung membuka pintu lemarinya mencari baju.
“Kamu ingin ke mana?”
“Tentu saja sebagai teman, aku harus menghibur temanku yang sedang sedih.”
Kanva langsung menutup pintu lemari dengan kasar dan segera mengurung Aria diantaranya.
__ADS_1
“Kamu tidak diizinkan untuk pergi.”