Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
19. Kalau akhirnya begitu, kurasa itu….


__ADS_3

Aria terbangun di saat matahari hampir terbenam. Akhir-akhir ini ia tidak mempunyai kegiatan selain menghabiskan waktunya di rumah karena urusan kantor sekarang kembali dipegang oleh Kanva.


Ya, semenjak Aria yang diketahui ditaksir oleh Dava. Kanva langsung mengambil semua kendali atas urusan pekerjaan karena ia tidak mau Aria berhubungan dengan rekan bisnisnya yang didominasi oleh para pria.


Aria mencoba membuka matanya perlahan, lalu ia menutupnya kembali. Rasanya ia ingin kembali tidur karena sofanya sangat empuk. Aria merasa sofanya bergerak padahal dirinya tidak bergerak sedikit pun. Aria mencoba membuka matanya kembali lagi dan menoleh.


Di sampingnya sudah ada Kanva, badannya menghadap Aria sepenuhnya. Ketika ia sudah sadar, ia langsung tersenyum.


“Sudah bangun?” Tanya Kanva dengan suaranya yang dalam sambil tersenyum tampan.


Aria mengamati di sekelilingnya ini bukan ruang tengah lagi melainkan kamarnya.


“Bagaimana bisa aku tertidur di sini?” Tanya Aria.


“Aku memindahkan mu,” ucap Kanva santai.


“Sejak kapan kamu pulang?”


“Setengah jam yang lalu.”


“Bagaimana harimu di kantor? Apakah kamu mengalami masalah?”


“Ada Franz dan juga beberapa staf terpercaya yang membantu.”


Aria mengangguk. “Sementara kamu bersenang-senang di kantor, yang bisa aku lakukan di rumah adalah tidur.”


“Lalu apa yang ingin kamu lakukan?” Tanya Kanva.


Aria mencoba untuk berpikir. “Aku ingin bekerja tapi tidak di perusahaanmu.”


“Tidak boleh,” ucap Kanva segera.


“Kenapa?”


“Aku tidak suka kamu berdekatan dengan pria lain.”


“Ayo lah Kanva. Biarkan aku bekerja, aku mohon.” Aria mencoba memasang wajah memelas untuk menarik simpati dari Kanva.


“Bekerja untukku.”


“Tidak!” Tolak Aria.


“Bekerja untukku atau tidak sama sekali.”


“Kenapa?”


“Aku suka manajemen bisnismu selain itu aku bisa mengawasimu di bawah hidungku,” kata Kanva sambil menangkupkan wajahnya di tangannya. Kanva menutup jarak diantara tubuh mereka.


Aria langsung mendorong tubuh Kanva. “Kalau begitu lebih baik aku tidur di rumah dan menghabiskan uangmu.”


“Itu memang lebih cocok untukmu.”


“Sayang…”


“Hm…”


“Kamu tahu kan, aku tidak suka kebohongan.”


“Ya, aku tahu.”


Aria menggigit bibirnya dan mengangkat dagunya untuk menatapnya. “Kapan kamu mendapatkan kembali ingatanmu?”


“Aku belum ingat.”


“Ayo lah, jangan berpura-pura lagi. Memangnya aku bodoh sehingga mudah kamu tipu?”


Kanva langsung tersenyum dan langsung memeluk erat tubuh Aria.

__ADS_1


“Istriku memang pintar. Suami yang tampan memang diberkati dengan kehadiran istri yang cerdas.”


“Apakah sekarang kamu sedang narsis di depanku?”


“Bisa dibilang begitu.”


“Dasar.”


Aria ingin bangun dari tidurnya karena ponselnya berdering. Namun tangan Kanva mencengkalnya.


“Jangan diangkat,” ucap Kanva.


“Bagaimana jika itu penting. Lagi pula aku hanya sebentar,” ucap Aria.


Dengan terpaksa Kanva melepaskan pegangannya. Pria itu langsung menoleh ke arah lain sebagai bentuk kekesalannya.


“Halo Aidan…Apa? Ya… bukannya aku tidak ingin…”


Aria langsung merasakan dekapan dari belakang. Kanva saat ini memeluknya dari belakang.


“Aria…kenapa berhenti berbicara?”


“Katanya cuma sebentar,” ucap Kanva. Tangannya sudah nakal ke mana -mana.


“Aria…besok ada waktu?”


“Mmhh.”


Aria ingin menjawab pertanyaan dari Aidan namun bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Kanva. Pria itu menciumnya di saat ia menerima panggilan. Bibir Aria terasa begitu panas, kepalanya menjadi kosong. Ia tidak bisa berpikir jernih.


“Ah…maaf- besok? Besok aku…emh…”


Kanva kembali membungkam bibir Aria karena ia tidak pernah puas dengan bibirnya. Tangan Kanva memegang tangan Aria yang sedang memegang ponselnya di dekat telinganya. Ini sengaja dilakukan oleh Kanva agar erangan yang lolos dari bibir Aria bisa di dengar oleh Aidan.


Kanva mencium Aria seolah dunia milik mereka. Kanva melepaskan ciumannya dan Aria mencoba mengatur napasnya.


Aria langsung menutup mulut Kanva membuat dahi Kanva mengerut. Aria langsung melotot ke arah Kanva


“Maaf aku sedang bersama Kanva, nanti aku akan mengirim pesan.”


Aria langsung menutup sambungan teleponnya dan langsung menatap tajam ke arah Kanva.


“Apa maksudmu tadi?”


“Apa?”


“Lupakan saja,” ucap Aria langsung mengunci rambutnya dan berjalan ke kamar mandi.


“Kamu ingin ke mana?”


“Mandi,” ucap Aria.


Beberapa menit kemudian Aria keluar dari kamar mandi dan sudah tidak mendapati Kanva di kamarnya. Ia lantas membuka lemari baju untuk memilih baju yang akan ia kenakan. Malam ini, ia ada janji dengan Yiren untuk menemani wanita itu berbelanja.


Setelah rapi dan tampil cantik, Aria turun ke bawah dan tak sengaja melihat bibi Ine.


“Bi, Kanva di mana?”


“Tuan Muda, berada di ruang kerja bersama Franz.”


Aria mengangguk. “Bi, kalau dia tanya ke mana. Bilang saja keluar mencari angin segar.”


“Baik. Nyonya Muda.”


...…....


...----------------...

__ADS_1


Di sisi lain.


Kanva sedang mendengarkan hasil laporan dari Franz tapi tidak bisa fokus karena Aria memenuhi pikirannya.


“Jadi bagaimana Tuan Muda?” Tanya Franz, Kanva tidak memperhatikan sama sekali laporannya.


Franz langsung mencoba untuk batuk dan kembali bertanya, “Uhuk…Jadi bagaimana Tuan Muda apakah kita akan langsung ke lokasi?”


Kanva langsung tersadar dari lamunannya dan kembali fokus.


“Oh itu…apa Aria pernah menyuruhmu untuk menyelidiki ini semua?”


“Tidak, Nyonya Muda terlalu fokus untuk mencari keberadaan anda dan beranggapan bahwa kecelakaan mobil yang anda dan Nyonya Muda alami adalah kecelakaan murni.”


Kanva langsung mengangguk.


“Apakah mereka mengatakan bahwa kecelakaan itu diperintahkan oleh seseorang yang sangat dekat denganku di dalam grup Killian Group?”


“Ya, Tuan Muda.”


Kanva langsung menghembuskan napas panjangnya. Dan mencari sosok yang dekat dengannya yang bisa memberikan alasan untuk menjadi tersangka.


Saat Kanva sedang memikirkannya dengan dalam tiba-tiba suara ketukan pintu membuatnya langsung mendongak.


“Tuan Muda, Ada Tuan Wijaya yang berkunjung.”


“Kamu boleh kembali,” ucap Kanva pada Franz.


“Baik Tuan Muda.”


Kanva pun keluar dan melihat Bibi Ine masih berdiri di samping pintu dengan kepala menunduk.


“Dimana Aria?”


“Nyonya Muda sedang keluar mencari angin, Tuan Muda.”


“Kenapa dia tidak memberitahuku,” ucap Kanva dengan kesa. Ia lantas segera pergi ke lantai bawah untuk menemui pamannya.


“Paman.”


“Bagaimana kabarmu?” Tanya Wijaya sambil menyerahkan dua bungkusan.


“Kabarku baik, apa ini?”


“Aku makan malam dengan ayahmu dan itu lauk-pauk kesukaanmu.”


“Ah,” ucap Kanva.


“Bagaimanapun kamu pasti merindukan masakan ibumu kan?”


“Ya, begitu lah.”


“Kamu pasti jadi banyak pikiran karena sudah kembali bekerja? Makanlah yang banyak. Dimana Aria? Aku tidak melihatnya sejak aku datang tadi?” Tanya Wijaya sambil memperhatikan ruangan.


“Dia sedang keluar.”


“Dan kamu membiarkan istrimu keluar sendirian malam seperti ini.”


“Aku bahkan tidak tahu kalau dia keluar. Aku baru saja di beritahu pelayan.”


“Apakah hubungan kalian baik-baik saja” tanya Wijaya penasaran.


“Kami baik-baik saja. Terlalu baik malahan.”


Wijaya tertawa. “Lalu kapan kamu akan memberikan kami cucu?”


“Tentu saja, kabar baik akan segera datang.”

__ADS_1


__ADS_2