Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku

Kuambil Apa Yang Menjadi Milikku
20. Mencoba Keberuntungan


__ADS_3

Pertama kali yang dilihat Aria saat membuka pintu rumahnya adalah wajah gusar Kanva. Pria itu lantas menatap Aria dengan penuh selidik.


“Dari mana saja?” Suara dinginnya membuat Aria sedikit mengigit.


“Aku pergi berbelanja dengan Yiren dan aku mampir ke kafe untuk makan tadi aku lapar.”


Aria mencoba untuk tenang.


“Sungguh?” Tanya Kanva. Matanya lurus memandang jauh ke dalam mata Aria. Sementara Aria mengangguk untuk memperkuat jawabannya.


“Kamu sudah makan?”


“Aku cemas menunggumu.”


Kanva mengikuti Aria yang masuk ke dalam dapur untuk mengambil air minum. Kanva mendekat erat pada Aria, menyurukkan wajahnya ke lekuk leher Aria dan mengendus di sana.


“Kanva, aku keringetan.” Aria berusaha menghindar.


“Aku suka bau kamu yang berkeringat. “


“Aneh.”


“Aku sering merasa khawatir kamu akan meninggalkanku,” suara Kanva terdengar serak.


“Huh? Itu apa?” Tanya Aria saat matanya melihat sebuah bingkisan yang tergeletak di meja.


“Makanan dari Ibu. Tadi paman ke sini dan mengantarkannya.”


“Akan kusiapkan untukmu.”


Kanva langsung membalikkan tubuh Aria agar menghadapnya.


“Aku belum selesai denganmu,” ucap Kanva dengan alisnya yang saling bertaut sementara Aria hanya bisa mengerjap dengan bingung.


“Aku merasa kamu sedang bersiap untuk pergi dariku?”


Aria menatap mata Kanva yang penuh kegelisahan lalu ia mengecupnya singkat. Tanpa menunggu lama, Kanva memeluk Aria, mendorong tengkuknya, semakin memperdalam ciumannya.


...…....


...****************...

__ADS_1


Matahari sudah muncul dengan sinar yang hangat. Sisa-sisa embun masih tampak di permukaan daun hijau. Udara segar menyeruak menciptakan kedamaian bagi siapa saja yang menghirupnya. Menyadari bahwa ini sudah lewat jam enam, Aria berjuang untuk bangun dari tempat tidurnya.


Namun, Kanva memeluk pinggangnya dengan erat dan menolak untuk membiarkannya bangun. Aria mengulurkan tangan untuk mendorong Kanva.


“Sayang, kenapa mendorongku?” Kanva bangun karena Aria yang kini sudah berhasil kabur jangkauannya.


“Ini sudah jam setengah tujuh. Kamu harus bersiap-siap untuk pergi ke kantor,” desak Aria. Ia menempatkan pakaian yang ia pilih untuk Kanva dati lemari di ruang ganti ke tempat tidur.


“Itu perusahaanku. Aku bisa datang kapan saja. Tidak ada yang berani menegurku hanya karena terlambat.”


“Sebagai pemimpin perusahaan bagaimana kamu bisa memberi contoh yang baik untuk karyawan jika kamu tidak bisa masuk tepat waktu?” Ujar Aria.


Kanva mengenakan celana trainingnya dan tidak mengenakan pakaian bagian atas setelah itu ia mengekori Aria yang masuk ke dalam kamar mandi. Ia meremas pasta giginya dan menyerahkannya pada Aria sebelum melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri.


Bisa tidur dan bangun di samping wanit yang dicintainya setiap hari adalah kehidupan yang selalu diimpikannya. Ia merasa bahwa hidup itu penuh dengan sukacita dan kebahagiaan jika berada di dekat Aria.


“Mengapa kamu tersenyum begitu lebar ketika kita hanya menyikat gigi?” Tanya Aria dengan bingung mendorongnya dengan sikunya.


“Aku sangat senang bisa melihat istriku yang begitu cantik setiap pagi.”


Aria langsung terkikik. “Apakah kamu jujur mengatakannya?”


Kanva langsung buru-buru membasuh mulutnya sebelum berkata,“Tentu saja. Aku tidak ingin berpisah denganmu.”


Kanva menuju ke bawah sambil merangkul Aria. Mereka menuju ke ruang makan untuk sarapan. Aria langsung mengambilkan makanan kesukaan Kanva tak lupa ia juga mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Namun ia bermain-main dengan ponselnya terlebih dulu karena ia mendapatkan notifikasi dari Yiren.


“Jangan hanya bermain ponsel saja. Ayo makan sarapannya.”


“Hubby, lihatlah berita yang dikirimkan Yiren.”


Kanva langsung melihat ke layar ponsel yang ditujukan Aria. Rupanya itu adalah berita tentang perselingkuhan aktor terkenal dengan model wanita cantik.


“Menurutmu mengapa kebanyakan pria senang berselingkuh?”


“Pria bukan satu-satunya yang suka berselingkuh. Ada juga banyak wanita yang berselingkuh dalam pernikahan mereka. Aku sangat membenci perselingkuhan terlepas dari alasan apa yang mereka miliki.”


“Apakah kamu akan mencoba berselingkuh dariku?”


“Tentu saja tidak. Itu tidak ada dalam kamus hidupku.”

__ADS_1


14.00 Siang


Kanva sangat ingin pulang tapi ia masih ada setumpuk kerjaan. Kanva pun mulai mengerjakan pekerjaannya.


Namun ia mendapatkan pesan dari seseorang.


‘Aku punya bukti. Ayo kita bernegoisasi.’


Kanva pun langsung mengambil jasnya yang ia selampirkan ke kursi. Ia melewati meja Franz dan Franz tampak bingung dengan perubahan ekspresi Kanva. Kanva tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Pria itu dengan langkah lebar menuju ke mobilnya dan melajukan roda empat itu dengan kecepatan di atas rata-rata. Mobil Kanva pada akhirnya berhenti di sebuah bangunan tinggi. Bukan, itu adalah bekas bangunan tinggi yang terbengkalai.


Kanva mengamati bangunan tersebut sebelum mantap untuk masuk ke dalamnya. Sesampai di dalamnya banyak tembok yang sudah runtuh dan debu halus berterbangan. Di sana sangat sepi dan tidak ada petunjuk apa pun.


Kanva terus berjalan sambil matanya terus mengawasi keadaan sekitar. Sampai pada akhirnya, kakinya berhenti saat ia mendengar suara bongkahan tembok terjun bebas dari atas. Kanva langsung membalikkan badannya dan alangkah terkejutnya dia melihat ternyata yang terjun dari atas bukanlah reruntuhan tembok melainkan seorang pria.


Kanva mengenal pria tersebut. Pria itu yang menjadi saksi kunci atas kecelakaan yang ia alami. Pria itu yang akan membawanya pada tersangka utama atas kejadian kecelakaan yang ia alami. Namun kini pria itu tergeletak tak bernyawa dengan bersimpah darah.


Kanva langsung melihat ke atas dan melihat sekelabat sosok yang sengaja menjatuhkan pria itu dari atas. Kanva lantas mengejarnya dengan berlari. Ia tidak mau kehilangan sosok penting yang akan membawanya bertemu dengan tersangka utama.


Namun Kanva gagal mendapatkan jejak pria itu.


Ia menajamkan semua inderanya dan bersembunyi di saat ia mendengar derap suara kaki. Begitu ia melihat sosok pria itu, Kanva langsung menendang pria itu dari belakang. Rupanya penjahat itu berjumlah dua orang.


Dua lawan satu. Cukup sulit memang, Kanva yang awalnya mudah mengalahkan pria satunya namun di sisi lain ia terlalu lengah sehingga ia mendapatkan pukulan di dahinya. Kedua pria itu lantas berlari begitu melihat Kanva sedikit terkapar.


Malam harinya…


Kanva terus menebalkan telinganya begitu ia mendapatkan omelan dari Aria. Padahal Kanva sudah berusaha menutupi luka di dahinya namun Aria masih saja menemukan lukanya. Alhasil, berjam-jam, Aria mengobatinya sambil terus menceramahinya.


“…..apakah kamu mengerti?”


“Iya, aku mengerti.”


“Aku tidak percaya kamu akan mendapatkan luka di kepalamu. Kalau kalau kehilangan ingatanmu bagaimana?”


“Tentu saja kamu akan berusaha mengembalikan ingatanku.”


Aria langsung menekan kuat plester luka Kanva sehingga pria itu mengaduh kesakitan.


“Aduh sakit sayang.”

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan. Seorang pria muda berdiri di depan pintu rumah Kanva. Pria muda itu memegang tas di tangannya. Ia berdiri di sana dengan ragu. Bosnya sudah meninggal dan ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan dengan tas itu.


__ADS_2