
Tidak lama dari itu akhirnya Prajurit itu terlihat sedang menemani Edgar latihan terlihat setelah beberapa tebasan dia merasa begitu kelelahan, dia merasa tidak kuat untuk mengimbangi stamina Edgar, bahkan terlihat Dia menggunakan pedangnya untuk membantunya berdiri.
“A-ku me-nyerah Pa-ngeran…, bahkan rasanya aku tidak kuat lagi mengangkat pedang,
“Baiklah, latihan yang bagus. Setidaknya aku sudah mengujinya.”
Kali ini Edgar memperhatikan Ashkan yang dari tadi memperhatikannya begitu serius saat melakukan latihan dengan pengawal itu. Tatapan Askhan seolah sedang memikirkan sesuatu saat melihatnya.
“... Sepertinya kamu tertarik mencoba latihan berpedang Ashkan.”
“Tidak pangeran, aku tidak menyangka kalau kamu sanggup bergerak cepat sambil membawa perisai itu dan belum kehabisan nafas.”
Apa yang dikatakan Akhsan membuat Prajurit itu tertunduk malu mendengar perkataanya merasa terhina karena di bandingan dengan Edgar dia begitu lemah, yang membuatnya berjalan begitu lesu.
“Aku hanya meminimalisir penyeranganku, Prajurit itu lebih baik karena sangup mengyaunkan pedang sungguhan itu berulang kali, dan serangannya begitu kuat.”
Ucapan Edgar membuat Prajurit itu merasa baikan, bahkan membuat wajahnya terlihat seombong bergaya dengan gagahnya, karena dia merasa jauh lebih kuat.
“Tidak - tidak, Prajurit itu serangannya memang kuat tapi sembrono dan itu yang membuatnya kehabisan nafas, jika dia berada di medan perang mungkin hanya bertahan 5 menit seblum dia mati.”
Kembali apa yang di ucapkan Akhsan membuat prajurit itu tertunduk lemas, perkataan Akhsan yang pedas membuatnya menusuk hati, wajahnya terlihat muram. Karena dia merasa lebih lemah.
“Tidak, Prajurit itu masih punya ruang untuk tumbuh, mungkin jika dia belajar teknik berpedang dia bisa menjadi seorang kapten nanti. Dia memiliki potensi.”
“... Emm sepertinya benar Prajurit itu memang punya potensi.”
Akhsan terdengar setuju. Mengulang lagi, apa yang dikatakakan Edgar membuat Prajurit itu kembali percaya diri, wajahnya terlihat tersipu malu mendengar Edgar dan Akhsan yang begitu memujinya kalau dia memiliki potensi.
“Ngomong - ngomong namaku Arnold tuan - tuan sekalian.”
“Tidak ada yang tanya!”
Jawaban yang ketus dari Akhsan kembali membuat prajurit itu murung.
‘Gampangan sekali Prajurit itu.’
Apa yang dipikirkan Lilia saat melihat Prajurit itu yang dari tadi berubah - ubah suasana hatinya, membuat Lilia tertawa meledek melihatnya, sepertinya Lilia mengira kalau Prajurit itu agak tidak beres.
“Lalu apa teman - temanmu tidak ada yang menggunakan teknik berpedang, Teknik berpedang Rosen misalnya.”
“TIdak, Pangeran.”
“...oh, benar juga.”
Prajurit itu menggelengkan kepalanya dengan masih terlihat muram, setelah dipikir - pikir ada benarnya, Edgar merasa salah bertanya karena teknik berpedang Rosen hanya di latih untuk ksatria sedangkan prajurit hanya diberikan latihan dasar, karena secara umum tidak semua perajurit menggunkan pedang dan persisai saja. Membicarakan teknik berpedang Edgar merasa mengingat suatu hal saat tepat di depannya melihat Akhsan yang tengah memperhatikan.
Edgar mengambil pedang prajurit itu dari tangannya dan melemparkannya pada Akhsan.
Akhsan melihat pedang itu terlayang ke arahnya dengan sigap dia refleks melangkah mundur menyesuaikan posisi menangkap pedang itu dengan sempurna dan terlihat kebingungan.
“Melemparkan benda tajam pada seseorang itu berbahaya pangeran!”
“Hem, sudah kuduga.”
Edgar dengan cepat menghunuskan pedangnya berlari mendekati Akhsan, dengan cepat dia melakukan tebasan samping mengarah lehernya.
Clank!
Akhsan yang tidak siap mampu menahan serangannya walaupun sedikit bersusah payah. Suara pedang yang beradu itu terdengar begitu keras membuat mata yang melihat mereka menjadi terkejut.
“...”
‘Apa Pangeran ini ingin membunuhku disini?’
__ADS_1
Akhsan yang melihat Edgar dengan ekspresi yang begitu serius, membuatnya berpikir bahwa Edgar mengetahui identitasnya dan membuat dirinya menunjukan kemampuan berpedangnya, karena merasa nyawanya terancam.
Dia memantulkan pedang Edgar dan melompat mundur memberikan jarak di antara mereka.
“Sepertinya Pangeran Edgar sudah mengetahuinya ya?”
“Tentu saja, apa kamu pikir aku tidak menyadarinya dari tadi?”
Akhsan memasang kuda - kudanya menunjukan teknik berpedang satu tangannya, dengan tangan yang lain memegang pinggulnya. Dia dengan cepat mendekat memberikan tebasan.
Clank - clank!
Clank - clank!
Tebasan - tebasan cepat membuat Edgar dalam posisi bertahan berlindung dibalik perisainya, tebasan yang Akhsan lakukan tidak begitu kuat namun cepat yang membuatnya berulang kali menyerang melayangkan tebasan yang begitu padu ditambah dengan langkahnya maju mundur terlihat seperti seseorang sedang menari mengikuti irama dari suara pedang.
Crip!
‘Pedang Rosen benar - benar tidak cocok untuk teknik ini.”
Akhsan sedikit terkejut karena melihat pedang yang digunakan terlihat coak sebagian saat pedang yang dia gunakan berulang kali menghantam perisai Edgar.
Clank!
Clank!
Suara pedang yang terdengar heboh itu membuat prajurit lain merasa penasaran dan membuat mereka menghampiri sumber suara dan melihat dari dekat, mereka terlihat begitu takjub melihat kedua orang itu melakukan pertunjukan teknik berpedang. Keramaian yang tiba - tiba itu membuat Akhsan mengalihkan pandangannya melihat mereka.
‘Kesempatan!’
Edgar yang melihat kesempatan membalas dengan cepat menabrakan perisainya yang membuat Akhsan terpental mundur, tanpa membuang kesempatan Edgar melayangkan serangan tusukan yang membuat robekan kecil mengenai pakaian dibagian dada Akhsan.
‘Kejutan yang bagus!’
‘Aneh! Aku tidak merasakan dia memiliki niat membunuh!
Mereka berdua memikirkan hal yang sama setelah saling menerima serangan satu sama lain, Tidak ada yang menyadari kalau pertarungan ini bukanlah sebuah latihan selain mereka berdua yang saling berhadapan.
Edgar tiba - tiba menyerang karena dia ingin mengetahui siapa musuhnya saat ini, dari caranya mengolah pedang Edgar mengetahui kalau kemungkinan Akhsan merupakan seorang pembunuh bayaran dan bukan sekedar mata - mata biasa.
Tapi Edgar merasakan keanehan karena Akshan memiliki banyak kesempatan saat tinggal disini tapi tidak membunuhnya membuatnya memiliki banyak pertanyaan yang membuatnya mengurungkan diri membunuhnya, karena bisa saja Edgar mengatakan kalau ini kecelakan nantinya.
Sedangkan Akhsan mengira kalau Edgar mengetahui identitasnya dan mengancam nyawanya, tapi Edgar tidak membunuhnya saat ada kesempatan tadi, Akhsan tidak memiliki alasan untuk membunuh Edgar karena tugasnya disini hanya memantau Edgar dan memastikan dia tetap disini, ditambah Akhsan merasa tertarik mengetahui Edgar lebih jauh, walaupun mereka berdua saling tidak menyukai mereka tanpa sadar membuat kesepakatan berdamai.
“... Wah aku tidak menyangka gaya berpedang Parsa begitu indah, tebasan cepat itu benar - benar membuatku kewalahan.”
“Terimakasih Tuan. Tuanku memang memiliki wawasan yang begitu luas.”
Edgar terlihat sedikit tertawa kembali bersikap normal seperti biasanya dari yang tadinya tengah terlihat serius dengan masih memasang kuda - kudanya menghentikan pertarungan dengan tiba - tiba menyarungkan pedangnya. Sedangkan Akhsan masih terlihat dengan wajah datarnya tidak berekspresi apapun sejak bertarung tadi.
Clap - clap!
Clap - clap!
“Woah! Itu benar - benar sebuah tarian pedang Parsa”
Suara yang terdengar dari salah seorang di dalam kerumunan prajurit, mereka bertepuk tangan begitu takjub melihat teknik berpedang Parsa untuk pertama kalinya.
Lilia menghampiri mereka karena melihat mereka tampak telah selesai melakukan pertandingan itu, Lilia membawakan handuk untuk mereka berdua dengan wajah ceria dan senyum di bibirnya.
“Benarkan? Sebagai pria lebih baik melihat Lilia yang membawakan handuk ini?”
Lilia merasa tidak mengerti apa yang dimaksud Edgar, Tapi Akhsan yang merasa mengerti terlihat tersenyum, senyumannya begitu berbeda dari biasanya saat ini senyumannya terlihat begitu tulus Akhsan merasa mengerti arti dari ucapannya saat itu, dan merasa telah dikerjai oleh Edgar.
__ADS_1
“Apa Pangeran tidak merasa lapar?”
“Iya juga, kenapa kamu tidak bilang sudah waktunya makan siang”
“Bukankah dari tadi asik latihan?”
“Harusnya kamu peringatkan aku!”
“Tapi aku tidak mau mengganggu.”
Edgar terlihat jengkel menanggapi Lilia, Akhsan yang melihat mereka memiliki pandangan yang berbeda, Akhsan melihat Edgar terlihat begitu akrab dengan pelayannya, seperti tidak ada jarak antara majikan dan tuan, membuat Akhsan semakin tertarik pada Edgar.
“Tunggu Tuan! Apa kamu tahu Penyamun gurun?”
“Apa yang kamu maksud? Aku tidak mengerti.”
“Baiklah, maaf sudah memberikan pertanyaan yang aneh Tuan.”
Langkahnya Edgar terhenti saat hendak meninggalkan halaman ini karena pertanyaan Akhsan, dengan wajahnya yang masih cemberut merasa jengkel dengan Lilia, Edgar berbohong. Karena sebenarnya Edgar mengerti, tapi Edgar menjaga ketenangan nya dengan ekspresi yang sama, agar Akhsan tidak sadar kalau dia mengetahui sesuatu. Edgar terlihat tergesa - gesa pergi meninggalkan mereka.
‘Mungkin hanya perasaanku, tidak mungkin Pangeran memiliki informasi seluas itu.’
Apa yang dipikirkan Akhsan saat melihat Edgar begitu tenang dengan wajah cemberutnya saat melihat dia, Akhsan merasa asumsinya salah karena telah berpikir Edgar mengetahui dia seorang anggota kelompok Penyamun gurun, Akhsan terlihat dengan senyumnya seraya menyapa kepergian Edgar.
Informasi tentang kelompok Penyamun gurun sebenarnya hanya diketahui oleh beberapa orang dari kalangan atas. Mereka merupakan salah satu dari beberapa kelompok dunia bawah yang melakukan pekerjaan - pekerjaan gelap seperti pembunuh bayaran, penculikan ataupun menjadi mata - mata. Edgar mengetahui itu karena saat menjadi Raja di kehidupan lainnya Edgar pernah menggunakan jasa mereka, bahkan bertarung dengan mereka.
Edgar berjalan di dalam koridor rumah dengan masih membawa peralatan yang dia gunakan saat latihan, dia berjalan beriringan bersama dengan Lilila yang memperhatikannya yang tampak mempercepat langkahnya.
“Itu terlihat sakit?”
“Tidak juga, mungkin akan sedikit membekas nanti.”
“Bukannya itu buruk?”
“Bekas luka itu sebuah kebanggan, karena itu tanda yang merekam hidup.”
“Bagaimana jika bekas luka itu mengingat hal buruk?”
Edgar terlihat cemberut menanggapi Lilia yang seperti menggodanya tapi Edgar merasa tidak mengerti kenapa Lilia menanyakan hal itu padanya ditambah dengan wajahnya yang begitu terlihat penasaran menatapnya.
“Kalau menganggap itu buruk ya berarti buruk, bekas luka itu bisa menjadi apa saja seperti kebanggan, kesedihan dan bahkan dendam.”
Edgar menjawab pertanyaannya dengan wajah menjengkelkan akibat sedang menahan emosinya yang agak meluap - luap siang hari ini, Edgar tidak mengerti kenapa, tapi jawaban nya membuat Lilia terlihat begitu puas.
“Tolong siapkan makan siang untukku dan bilang pada Bibi Melda buatkan sesuatu yang menyegarkan, aku ingin mendinginkan kepalaku dikamar.”
Edgar menutup pintu dengan cepat membuat Lilia tampak terkejut. Berada di dalam Edgar merasa begitu merinding mendengar apa yang Akhsan tanyakan. Edgar tidak menyangka kalau akan berurusan dengan kelompok Penyamun gurun.
‘Gila! dia bilang kelompok Penyamun.'
'Pantas saja dia begitu tenang saat bertarung. Bajingan itu!’
Edgar mulai mengerti kenapa dia merasa familiar dengan nama Akhsan, di dalam ingatannya saat di kehidupan lainnya Edgar mengingat kalau saat itu Akhsan menjadi ketua di kelompok itu dan dia pernah menyewa mereka saat menghancurkan bangsawan yang menjadi musuhnya, melihat hasil pekerjaan mereka yang begitu bersih tanpa jejak membuat Edgar bergidik ngeri.
‘Da-dan aku bertarung dengan monster itu.’
Apalagi sebuah kenyataan mengejutkan karena Edgar melihat pedang yang digunakan tampak cocok seperti apa yang dia bayangkan, membuat Edgar berpikir kalau kehidupan yang dia jalani ini sama persis dengan kehidupan lainnya, belum lagi dia mengingat tadi sedang bertarung dengan seseorang yang akan menjadi ketua kelompok itu membuat Edgar tambah merasa merinding.
‘Tunggu emblem ini terlihat sedikit janggal.’
Ketika dia melihat pedangnya dia tersadar kalau emblem ini tampak tidak simetris dan tampak bisa di putar yang membuat Edgar mencoba menariknya, Edgar terkejut karena bahan kulit yang ada pada gagang pedang itu bisa terkelupas begitu mudah.
Dia memeriksa kulit itu dan menemukan sebuah pesan yang tertulis di bagian dalam kulit yang membuat Edgar membaca isi dari pesan itu. Membacanya membuat Edgar tercengang dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
‘Itu sungguh sulit dan gila Albert!’