Land Of Thorns

Land Of Thorns
Kota Rosten bagian 5


__ADS_3

Area selatan di kota Rosten ini dikenal sebagai distrik pendatang, dengan banyak rakyat jelata serta tentara bayaran yang singgah di penginapan kota ini, dan letaknya yang dekat dengan gerbang selatan dan timur, karena kota ini hanya memiliki 2 gerbang utama sebagai akses keluar masuk.


Gerbang selatan dan gerbang timur yang kurang lebih berjarak tiga kilometer dengan total panjang tembok yang membentang sepanjang enam kilometer, bisa dibilang kota ini memiliki pertahanan yang kuat dengan memanfaatkan letak geografisnya.


Di Bagian barat dan utara dilindungi oleh laut utara, hanya bagian barat kota yang memungkinkan untuk berlabuh sedangkan bagian utara kastil dilindungi tebing curam yang begitu tinggi. Dengan sisi timur yang dilindungi perbukitan yang cukup terjal, hanya orang gila dan orang cerdik yang mau mengorbankan banyak nyawa untuk merebut tempat ini.


Edgar berjalan menyusuri jalan selatan kota yang saat ini tidak begitu ramai walaupun jalan ini salah satu akses utama masuk ke kota, di saat hari mulai gelap bantuan cahaya hanya didapatkan dari bangunan rumah yang menyalakan lentera di depan rumahnya. Cahaya kota terlihat begitu redup sangat jauh berbeda dari rumah besar tempat dia tinggal.


Dia telah berjalan cukup jauh, dia melihat cahaya yang begitu terang dari kejauhan seperti api yang menyala.


“Kebakaran! kebakaran!”


Terdengar suara penduduk tengah panik melihat api yang membakar sebuah bangunan itu, membuat Edgar berlari menuju tempat kebakaran itu terlihat penasaran.


Edgar melihat nama tempat yang belum lama terbakar itu tertulis ‘Tulang Besi’, sebuah tempat yang Edgar tuju itu kini tengah terlahap kobaran api. Edgar terdiam dalam lamunannya melihat tempat itu terbakar dihadapannya.


“Cepat padamkan apinya … panggil yang lain yang berada di kedai!”


Suara itu berasal dari salah seorang di keramaian, mereka terlihat menggunakan baju pelindung dari kulit dan membawa senjata, dari melihatnya Edgar tahu kalau mereka tentara bayaran.


Orang - orang sedang berlalu lalang memadamkan api bergerak begitu terburu - buru yang membuat mereka menabrak Edgar yang tampak diam, dan membuatnya tersadar dari lamunannya.


'Oh, iya aku harus membantu mereka.'


Edgar dengan sigap ikut membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya bergantian mengoper ember yang berisi air, beberapa prajurit yang berjaga ikut membantu ketika melihat kobaran api yang membuat mereka dengan cepat memadamkan bangunan itu.


Waktu yang mereka butuhkan memang cukup lama namun mereka berhasil memadamkan bangunan itu, tapi bangunan yang terbuat dari kayu sangat tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat sebagian besar tempat itu hangus.


Brukk!


Suara kayu yang roboh akibat termakan kobaran api. Edgar mencoba melihat ke dalam bangunan yang habis terbakar itu, bahkan dia masih bisa merasakan bangunan itu masih terasa begitu hangat.


“Apa ada orang yang terluka?”


Edgar mendengar suara itu dari seseorang yang berdiri di sampingnya ikut melihat ke dalam bangunan itu.


Dia melihat pemuda yang seumuran dengannya begitu familiar, terlihat pemuda itu memakai baju pelindung yang terbuat dari kulit dengan sebuah busur di punggungnya terlihat seperti seorang pemburu.


“Ludi?”


“.., maaf?”

__ADS_1


“Oh, tidak. Aku sedang mencari kenalanku yang tinggal disini, tapi sepertinya nampak tidak ada tanda - tanda siapapun disini.”


Edgar merasa yakin kalau dia seorang teman yang Edgar kenal di kehidupan lain nya yang bernama Ludi, tapi dia mengalihkan pembicaraan karena akan terdengar aneh jika di kehidupan ini dia sudah memanggilnya walaupun belum saling mengenal.


Edgar merasa harus menunggu waktu yang tepat untuk memastikan pemuda itu dan berfokus pada apa yang dicari saat ini.


Mereka berdua masuk kedalam bangunan pandai besi yang terbakar itu, bangunan ini berukuran kecil hanya terdapat dua ruangan di dalamnya yang tidak begitu besar, karena tempat bekerjanya sebagian besar berada di depan bangunan ini.


“Hem, begitu … aku turut prihatin, kebakaran ini begitu mengejutkan karena tempat ini tampak terlihat seharian ini tidak buka.”


“Benarkah? Apa kamu mengenal dekat pemilik tempat ini?”


“Tidak juga, bisa dibilang lebih tepatnya aku pelanggan di tempat ini … tunggu!”


Ludi melihat - lihat isi bangunan yang tengah hangus sebagian dan melihat atap yang tampak hangus membuatnya menghentikan Edgar yang hendak berjalan melewatinya.


Brukkk!


Brukkk!


“..., Itu hampir saja!”


“Sepertinya kamu benar, lebih baik kita keluar.”


Mendengar beberapa puing atap yang roboh, membuat mereka keluar dari bangunan ini karena merasa akan semakin berbahaya nantinya jika tertimpa puing - puing bangunan.


“Sebelumnya kamu bilang kalau tempat ini tampak tutup, tapi kenapa bisa tempat ini terbakar?”


“Aku kurang mengerti bagaimana tapi saat itu aku dan teman - temanku berada di dalam kedai dan tiba - tiba ada suara dari luar yang berteriak ‘kebakaran!’ Itu membuat kami semua keluar dari kedai.”


“Lalu apa kamu tahu dimana pemiliknya saat ini?”


“Tidak tahu, sudah kubilang tempat ini seharian tutup … malang sekali pak tua Liam jika dia pulang melihat tempatnya sudah menjadi arang!”


“Tunggu, apa Liam yang maksud pria tua yang memiliki wajah garang dan bertubuh pendek?”


“Iya itu benar dia, dan dia pria tua yang menggunakan kaki palsu di kaki kanannya.”


Edgar kembali mendengar nama yang cukup familiar di telinga, walaupun cukup heran dia mendengar nama itu karena Liam dalam ingatan nya masih seorang ksatria yang masih aktif militer tapi dia berpikir akan ada kemungkinan ini Liam yang sama karena mengingat pesan Albert yang membawanya kesini.


“..., kamu bilang kaki palsu?”

__ADS_1


“Itu terdengar aneh jika kamu mengenalnya tapi terdengar tidak yakin orangnya seperti apa.”


“Tidak - tidak, bukan begitu … aku hanya sudah lama tidak bertemu dengannya.”


Edgar tampak lesu dengan ekspresi yang tampak sedih mendengar Liam yang dia ketahui benar - benar bekerja di pandai besi ini dan belum lagi mengetahui Liam menggunakan kaki palsu ditambah harapannya yang tampak hilang karena seorang yang harus ditemui di tempat ini tidak tahu dimana keberadaannya.


‘Sepertinya dia mengalami hal yang berat.’


Itu yang ada di benaknya Ludi saat melihat Edgar dengan pakaian yang tampak lusuh dan dengan kondisi yang terlihat penuh luka pukulan di tubuhnya, melihat itu membuat Ludi merasa Iba melihatnya apalagi mendengarnya seorang kenalan dari pemilik pandai besi langganannya.


“Bukankah lebih baik jika kita melanjutkan obrolan kita di dalam kedai … lagipula siapa namamu?”


“Sebenarnya itu tidak sopan menanyakan nama orang lain sebelum memperkenalkan diri … Namaku Edgar.”


“Aku rasa itu tidak berlaku untuk orang seperti kita … Aku Ludi! Senang berkenalan denganmu Edgar.”


Edgar terdiam mendengar namanya, dia sudah menduga kalau orang itu bernama Ludi, dia mengingat bahwa itu benar - benar Ludi yang ada di dalam kehidupan lainnya. Ludi yang di saat itu membantunya ketika terjebak di dalam hutan dan bersama - sama mengalahkan bandit yang bersembunyi di hutan.


Ludi yang telah kehilangan segalanya membuat Edgar mengajaknya bergabung dalam pasukannya, dan menjadi temannya disaat melakukan permainan perburuan yang Edgar selalu kalah karena dia seorang pemburu dan pemanah hebat.


“..., apa kamu seorang pemburu Ludi?”


“Iya, bisa dibilang itu pekerjaanku, kenapa?”


Pertanyaan Edgar yang ingin memastikan membuatnya merasa heran bertanya seperti itu, tapi bagi Edgar itu merupakan secercah harapan bagi dia mengetahui ingatannya bukanlah sebuah ilusi palsu karena melihat seseorang yang dikenalnya sebagai teman berada di hadapannya.


“Tidak apa, aku melihat panahmu begitu bagus dan terawat, aku hanya menebak.”


“Oh seperti itu, aku melihatmu membawa pedang dibalik jubah itu, sepertinya kamu tentara bayaran?”


“Iya hampir seperti itu pekerjaanku.”


Ludi merasa seperti bermain tebak - tebakan yang membuatnya tersenyum geli dan membuat Edgar sedikit tertawa menanggapi Ludi yang menebak seperti itu.


“Kamu orang yang cukup menarik walaupun itu sedikit aneh! Sudahlah ayo kita ke kedai!”


“Sebentar Ludi … sebenarnya aku tidak punya uang.”


“Sudah kuduga, tenang saja jika hanya minuman dan sepotong roti aku masih sanggup, aku dapat buruan bagus hari ini, lagipula minum bersama lebih menyenangkan bukan.”


Edgar tersenyum malu menunjukan dirinya tidak mempunyai apa - apa, tapi setelah mendengar jawaban Ludi membuatnya begitu lega karena akan mentraktirnya, mereka berdua pun berjalan bersama dengan Ludi yang masih tertawa seiring merangkulnya saat berjalan.

__ADS_1


__ADS_2