
Kembali menuju sore hari disaat Edgar meninggalkan Lilia dan Celine di gang kecil dan berpamitan kepada mereka untuk kembali pulang ke rumah besar.
Terlihat Celine dengan wajah cemberut menunjukan ekspresinya yang kecewa dengan kedua tangan beserta dagunya tersandar di dinding gerobak, membuat Lilia yang berada di sebelahnya melirik Celine tampak kasihan padanya.
Celine menoleh ke arah belakang melihat Edgar yang masih memperhatikan mereka dan hingga sampai di sebuah tikungan membuat Celine tidak bisa melihat Edgar lagi karena bangunan yang menutupi pandangnya membuat Celine kembali ke posisi semula.
“Kenapa wajahmu seperti itu Celine? Bagaimana kalau kamu duduk di depan kalau kamu merasa bosan?”
Lilia yang memanggil membuat Celine melihat ke arahnya.
“Pangeran tidak mengajak kita main!”
“Dia kan sudah meminta kita untuk kembali pulang ke rumah besar Celine.”
“Tapi kan kita tidak akan merepotkan dia.”
Jawaban Celine yang kesal membuat pipinya membesar seperti ikan buntal, melihatnya seperti itu membuat Lilia tersenyum melihatnya tampak gemas hingga mencubit pipinya walaupun dia memikrikan perkataannya kalau mereka memang tidak merepotkan.
‘Apa Pangeran sampai segitunya tidak ingin kami ikut bersamanya.’
‘Tidak - tidak jangan pikirkan itu, Pangeran hanya ingin merasakan perjalanan pertamanya di kota terasa nyaman.”
‘Tapi bukankah jika bersama akan terasa lebih menyenangkan berjalan bersama di kota … aku juga ingin bersamanya.”
Pikiran Lilia begitu penuh memikirkan Edgar membayangkan mereka berjalan bersama tampak seperti pasangan di kota Rosten pada sore hari yang indah menurutnya.
‘Argh! Apa yang aku pikirkan!’
Lilia menepuk pipinya dengan kedua tangan memecah lamunannya membayangkan hal yang menyenangkan bersama Edgar, tidak dia sadari Celine tengah memperhatikannya dengan wajah bingung karena Lilia yang bersikap aneh.
“Kak, lihat nenek itu!”
Celine menunjuk ke arah seorang nenek tua yang sedang berjalan menuju arah sebaliknya, Nenek tersebut begitu bungkuk dengan kulitnya yang begitu keriput berjalan membawa karung yang tampak berat di panggulnya. Seruan Celine membuat Lilia ikut melihat nenek tua tersebut.
“Aku mengerti, kamu ingin kita menolongnya kan?”
Lilia memastikan melihat kembali melihat wajah Celine, Lilia benar karena setelah mendengarnya Celine menjawab menganggukkan kepalanya meminta untuk menolong nenek tua tersebut.
Lilia tersenyum melihatnya dan menghentikan laju kendaraannya di dekat nenek tua tersebut.
“Nenek, apa kamu ingin pulang? Kemana tujuanmu nek?”
Tanya Lilia seraya turun dari kendaraan menghampiri nenek tua tersebut yang melihat balik ke arahnya sadar karena ada gerobak keledai yang berhenti di dekatnya membuat dia meletakan karung yang dia bawa.
“Apa itu kamu cucuku Patricia?”
Nenek tersebut mengira Lilia adalah cucunya karena penglihatan Nenek tua tersebut yang begitu buruk hingga menyipitkan kedua matanya memperhatikan ke arah Lilia yang berada di hadapannya.
__ADS_1
“Aku bukan cucumu nek….”
“Hem ... bukankah kamu begitu wangi Patricia!”
Ucapan Lilia terpotong Nenek tua tersebut yang hingga begitu dekat memperhatikannya.
Celine mengikuti Lilia dengan turun dari gerobak kuda dan menghampiri Nenek tua tersebut, Celine yang sudah berada di sebelahnya memegangi tangannya seakan menarik untuk mengikutinya.
“Ayo nek kami akan mengantarmu!”
“Hoo … apa si kecil ini Nina, bukankah itu manis Nina ingin membantu nenek.”
Melihat Nenek tersebut yang masih seperti itu hanya membuat Lilia tersenyum dan tertawa kecil karena dia yang tampak mengira mereka sebagai cucunya, dan Lilia mengikuti Nenek tersebut berpura - pura sebagai cucunya.
“Iya, nek biar aku bantu membawa barangmu … bukankah ini begitu berat nek!”
Lilia membantu membawa karung berisi kentang dan gandum yang dibawa nenek tersebut terasa begitu berat saat Lilia mencoba menaruhnya ke dalam gerobak, sedangkan celine menggandeng nenek tersebut membantunya untuk naik ke kursi kusir agar dia dapat duduk.
Kemudian Lilia memandu keledainya untuk berputar arah mengganti tujuan mereka karena sebelumnya melihat nenek tersebut menuju arah yang sebaliknya mereka tuju, mereka pun kemudian berangkat pergi.
“Apa kamu masih ingat dengan rumahmu nek?”
Tanya Lilia melihat Nenek tersebut yang ada di sebelahnya, nenek itu hanya tersenyum melihat ke arah depan saat ditanyakan.
“Nek?”
Nenek tua tersebut yang selalu berjalan membungkuk hanya memperhatikan jalan membuatnya terasa begitu senang saat dia melihat kembali ke arah depan melihat jalan yang dilaluinya dengan bangunan - bangunan batu di sekitar area pemukiman dekat dengan plaza.
“Lagipula kita di arah yang benar cucuku, aku masih ingat dengan baik rumah kita di persimpangan jalan timur.”
Ucap kembali nenek tersebut memberitahukan tempat tinggalnya pada mereka dengan ekspresinya yang masih sama selagi melihat ke depan jalan.
“Hem.. hem hem hem….”
Suara senandung yang keluar dari mulut Nenek tua yang begitu merdu di telinga yang menemani perjalanan mereka di sore hari membuat Celine dibelakangnya memperhatikan, dia tampak tersenyum mengayunkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mengikuti irama yang didengar.
Setelah berjalan cukup lama mereka bertiga tiba di persimpangan jalan timur, Lilia menghentikan laju kendaraan melihat ke arah sekitar guna mencari penduduk untuk dia tanyakan, Lilia melihat di sekitarnya dengan banyak bangunan dari kayu.
Daerah ini termasuk kedalam distrik pemukiman area plaza, hanya saja karena daerahnya yang berbatasan dengan distrik kumuh membuat tempat ini termasuk dalam golongan tempat tinggal kelas bawah.
“Nenek!”
Suara yang datang dari seorang pria remaja di seberang jalan disaat Lilia baru saja turun dari kendaraannya untuk menghampiri rumah penduduk untuk bertanya tempat tinggal nenek tua tersebut.
Lilia melihat ke arah pria remaja itu yang terlihat begitu kurus dengan pakaian sedikit compang camping yang dia kenakan sedang berlari ke arahnya.
“Apa nenek ini keluargamu?”
__ADS_1
“Iya … terimakasih mbakyu sudah membantu mengantarkan nenek pulang.”
‘Mbakyu?’
Lilia terkejut heran mendengarnya memanggil dengan panggilan begitu sopan saat Pria remaja tersebut menunduk kecil di hadapan Lilia untuk berterima kasih padanya.
“Oh … Jonas ya.”
Nenek tua tersebut memanggil, dia sadar saat mendengar suara cucunya yang sedang berada di dekatnya,
“Nenek dari mana saja, dari siang aku mencarimu nek, aku khawatir karena kamu tiba - tiba pergi.”
Sahutnya kembali Jonas yang terlihat khawatir dengan tangannya tampak membantu nenek untuk turun dari kursi kusir.
“Tidak usah khawatir Jonas, lihat aku bersama dengan Patricia dan Nina yang menemaniku.”
Disaat mendengar nama itu wajah Jonas menjadi tampak muram, saat membantu nenek turun dari tempatnya. Lilia yang melihat tidak mengerti kenapa dia terlihat seperti itu tapi dia sadar kalau remaja di hadapannya terlihat begitu sedih.
“Kakak! Kentang!”
Teriak Celine yang memanggil, karena melihat Jonas yang tampak seperti ingin berpamitan untuk pergi.
“Oh iya, biar aku membantumu membawakan karung berisi kentang ini.”
“Apa kamu menemukan nenek di sekitar area plaza?”
“Iya aku rasa kurang lebih di sekitar situ.”
Lilia yang terlihat kesulitan membawa karung tersebut terlihat begitu heran saat mendengar Jonas yang menanyakan pertanyaan tersebut padanya.
“Nenek bukankah sudah kubilang biarkan aku saja yang pergi kesana.”
“Terimakasih mbakyu, tapi aku rasa itu begitu berat untuk kamu, biarkan aku yang membawanya sendiri. Sekali lagi terimakasih.”
Wajah jonas semakin terlihat begitu khawatir saat mengatakannya walaupun kemudian menarik nafas lega menggelengkan kepalanya tidak mau terlalu memikirkan hal tersebut begitu larut dan dengan cepat mengambil karung tersebut dari tangan Lilia.
“Ayo patricia, kita akan memasak sesuatu yang enak sore ini!”
Nenek tua tersebut tertawa bahagia seraya menggandeng tangan Lilia yang mengajaknya untuk pergi makan bersama dengan mereka, sedangkan Celine yang mendengar mereka akan makan terlihat mengikuti mereka begitu bahagia.
Jonas yang kedua tangannya terasa penuh membawa karung merasa tidak bisa mencegah neneknya membuat dia hanya berteriak memanggil.
“Nenek!”
“Ah, tidak apa Jonas. Lagipula adikku sepertinya merasa senang juga bersama nenek.”
“…, maaf kalau nenek membuatmu repot.”
__ADS_1
Terlihat tangan Lilia memberikan isyarat padanya kalau dia tidak apa - apa, walaupun begitu tetap saja Jonas terlihat merasa tidak enak kembali merepotkan mereka.