
Ludi menggelengkan kepalanya, dia dengan cepat melihat di sekitarnya memperhatikan satu persatu orang - orang yang tergeletak di dekatnya.
“Paman! Paman!”
Teriak Ludi berulang kali memanggil selagi dia masih melihat orang - orang di sekitarnya.
Ludi melihat salah seorang bandit yang mencoba untuk bangun, dia dengan cepat menghampirinya lalu memukul wajah bandit itu secara tiba - tiba.
“Bodoh! Apa yang sebenarnya terjadi? Sebenarnya apa yang kalian rencanakan di markas kalian ini?”
Teriak Ludi mengerutkan keningnya selagi mencengkram erat pakaian bandit itu, namun pukulan dia sebelumnya masih membuat bandit itu tampak sempoyongan hingga dia hanya menggelengkan kepalanya perlahan.
“Katakan!”
Ludi menamparnya begitu kuat.
“A-aku, aku tidak tahu apapun!”
Teriak bandit itu menjawabnya tersenggal, nafasnya terasa begitu berat.
Mendengar itu Ludi hanya melepas cengkramannya dan mendorong bandit itu kembali ke tanah, Ludi kembali melihat sekitarnya dan melihat pria besar yang berada di dalam itu tengah mencekik seseorang.
“Paman!”
Teriak Ludi yang langsung berlari melihat seseorang yang di cekik pria besar itu adalah Paman yang sedang dia cari.
Melihat dari dekat, Ludi semakin sadar kalau pria besar itu benar - benar besar bahkan tubuhnya lebih tinggi padat berisi dari Paman, ditambah dengan tangannya yang begitu besar membuatnya terlihat mudah mencekik leher Paman dengan hanya menggunakan satu tangannya.
Ludi yang berada di dekatnya mulai menodongkan panahnya pada pria besar itu, dia mengancam. Tapi pria besar itu tampak membalas mengerahkan pemukul besi yang berada di tangan lainya.
“Apa kamu mengingatku anak muda?
Suara itu terdengar begitu berat keluar dari mulut pria besar itu, ditambah dia tidak merunduk memperhatikan Ludi, dia hanya melirik selagi dia masih mendongak memperlihatkan wajahnya di hadapan Paman yang tercekik. Melihatnya benar - benar membuat Ludi merasa terancam.
Ludi melihat sendiri nafasnya yang keluar dari mulut ketika dia bernafas bahkan kulitnya kini terlihat lebih putih pucat, dan kakinya mulai terlihat gemetar yang bukan hanya berasal dari rasa takut, tapi tubuhnya merasakan suhu yang benar - benar dingin ketika berada di dekat pria besar itu. Bahkan dia dapat melihat bekas darah pada tubuh Paman yang tampak membeku.
Sejenak Ludi menghela nafasnya.
“Aku tidak mengenal wajah burukmu!”
__ADS_1
Ludi sontak melepaskan anak panahnya, itu tertancap tepat di tangan pria itu mengenai nadinya. Namun respon nya tidak seperti apa yang Ludi harapkan, dia terlihat begitu santai memperhatikan dirinya yang terluka dan kembali melihat ke arah Ludi.
“Kamu memang selalu memanah dengan baik ya, Ludi!”
“Hah? Bagaimana kamu tahu namaku?
Ludi terbelalak melihatnya, wajahnya seakan tidak percaya mendengar dia menyebutkan namanya.
“Di-dia Marlo, Ludi. Lihat baik - baik matanya.”
Suara yang terdengar dari Paman, yang terlihat begitu berusaha mengucapkan itu keluar dari mulutnya.
“Apa aku mencekikmu terlalu kuat? Atau kamu yang kini mulai lemah Paman? Atau aku harus memanggilmu ketua?”
Ucap pria besar itu yang semakin menguatkan cengkramannya membuat Paman tampak semakin kesakitan.
“Hoi! Apa kamu ingin membunuhnya?”
“Apa yang kamu katakan Paman? Aku tidak mengenal Marlo yang menjadi seorang pembunuh berdarah dingin! Dan Marlo tidak sebesar itu!”
Teriak Ludi yang kini memperhatikannya dengan seksama setiap bagian di wajah Pria besar itu yang disebut Paman sebagai Marlo yang dia kenal. Ludi baru sadar kalau mata kiri Pria besar itu terlihat aneh, tidak memiliki iris mata dan tampak bergerak lebih lambat dibandingkan mata kanan nya ketika dia melirik.
Kembali Ludi mengatakan itu dan sejenak dia menggertakan giginya sebelum dia terdengar mulai mengejeknya.
Namun Pria besar itu hanya tertawa kecil mendengar Ludi dan dengan cepat dia melemparkan Paman ke arah Ludi, tubuh paman yang besar itu langsung menabrak tubuh Ludi, terasa percuma walaupun Ludi mencoba menahannya, itu malah membuat mereka berdua terhempaskan hingga terjatuh tepat di pintu masuk.
Mereka yang berada diluar tampak begitu terkejut melihat kemunculan mereka berdua yang begitu tiba - tiba di saat mereka masih dalam duduknya tampak menggigil, belum lagi kini hujan pertama di awal musim gugur yang tiba, mereka merasakan rintik hujan yang perlahan turun mengenai tubuh mereka.
Disaat tersungkur Ludi melihat Marlo yang mulai berjalan mendekatinya, dan disaat Marlo bergerak mendekat ke arah pintu depan, hal aneh semakin terjadi. Rintik hujan itu kini perlahan berubah menjadi hujan es yang berjatuhan menghantam mereka semua yang berada di ruang terbuka hingga membuat mereka tampak panik berusaha melindungi kepala mereka dari hantaman hujan es itu.
Tratak tratak trak!
Suara itu terdengar begitu nyaring yang berasal dari para tentara bayaran yang menggunakan prisainya untuk melindungi diri dari hujan es yang masih berjatuhan.
“Kenapa tiba - tiba menjadi hujan es?”
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Kenapa juga malam ini tiba - tiba terasa semakin dingin?”
__ADS_1
Terdengar keluhan dari para tentara bayaran itu yang sedang memayungi diri mereka dengan perisainya.
“Harusnya kalian tanyakan pada dia?”
Tunjuk Ludi pada Marlo ketika dia berusaha untuk bangun bersama dengan Paman yang dia bantu untuk berdiri.
“Hah? Ada apa dengan pria besar itu Ludi? Apa dia bos di tempat ini?”
Teriak salah seorang tentara bayaran yang mendengar Ludi mengatakan itu, lalu dengan bersaaman mereka mendengar suara dari para bandit.
“Apa apaan ledakan angin itu Boss!”
“Kami juga terkena dampaknya!”
Seru para bandit itu yang melihat Marlo keluar dari pintu depan.
“Boss? Jadi sekarang kamu menjadi boss mereka Marlo? Pantas saja kamu berada di tempat ini!”
Ludi berteriak pada pria besar di hadapannya, membuat semua orang di sekitarnya mendengar dan terdiam memperhatikan. Mereka terlihat tidak percaya melihat itu.
“Hah? Marlo? Apa maksudmu dia Marlo ‘si mata satu’ Ludi?”
“Apa benar itu dirimu Marlo? Kenapa tentara bayaran hebat sepertimu menjadi bandit seperti ini Marlo!”
Seru para tentara bayaran itu kembali.
“Kami semua mencarimu Marlo, aku sudah menduga kalau kamu berada di kota ini sebagai bandit, tapi aku tidak menyangka kalau ternyata kamu yang menjadi bos mereka.”
Suara yang terdengar dari Paman dengan nafasnya yang tersenggal. Mendengar itu Ludi langsung memperhatikannya, dia tampak terdiam begitu terkejut kalau Paman mengetahui tentang hal itu sendiri.
Disaat Paman mencoba untuk bangun dia menadahkan tangannya pada tentara bayaran di belakang dia, seorang yang sadar itu melemparkan pelan senjata berupa kapak kecil, hingga paman menangakapnya begitu mudah.
“Aku bahkan tidak tahu trik apa yang kamu gunakan sebelumnya, hingga membuat dirimu tiba - tiba sebesar itu dan mampu mengeluarkan sihir aneh seperti wanita itu.”
“Tapi seharusnya kamu ingat, aku bukan tipe pria yang diam ketika ada orang yang melukaiku Marlo!”
Paman yang tengah berdiri mengacungkan senjatanya pada Marlo, dia mengatakan itu selagi melotot ke arahnya hingga bola matanya seakan memaksa keluar dan terlihat begitu jelas urat nadi di wajahnya yang menyembul keluar seperti ingin meledak. Dia kembali berteriak.
“Dengar kalian semua! Dia bukan lagi seorang Marlo yang kita kenal, tidak ada hal yang baik untuk orang yang menghianati saudara seperjuangannya sendiri!"
__ADS_1
"Jika ini yang kamu minta, maka kamu akan mendapatkannya Marlo! Habisi mereka!”