
Kembali pada Edgar di waktu yang sama.
Saat ini Edgar tengah terlihat menyenderkan dirinya di tembok ditambah dirinya kini dikelilingi kabut asap yang begitu tebal dengan nafasnya yang begitu tidak beraturan, dia benar - benar berpeluh keringat.
“Ayolah, sebelumnya aku pikir kamu sudah melarikan diri. Ternyata kamu niat sekali masih mencoba membunuhku!”
Edgar berteriak memperhatikan sekitarnya yang tidak terlihat jelas akibat kepulan asap tebal.
Di hadapannya dia melihat sebuah pisau melayang ke arahnya, Edgar menghindar dengan cepat menundukan dirinya dan melihat pisau itu tertancap di tembok. Lalu Edgar berjalan dengan cepat selagi merunduk memanfaatkan tembok di sisi kirinya sebagai penunjuk jalan, langkahnya begitu berhati - hati berusaha untuk tidak menimbulkan suara saat dia bergerak.
Sejenak Edgar menghentikan langkahnya, dia tampak mengerutkan keningnya dan melihat ke arah kepulan asap di sekitarnya. Tiba - tiba muncul dari balik asap sebuah pisau kembali melayang ke arahnya, Edgar yang tidak siap membuat bahunya tergores oleh pisau itu.
“Sialan! Seperti yang aku duga. Kamu ternyata benar - benar melihat begitu jelas dari balik kabut asap itu!”
Selagi mengatakan itu Edgar memegang bahunya yang tergores menahan sedikit rasa nyeri yang dia rasakan.
Sontak Edgar berdiri langsung berlari dengan cepat mengerahkan seluruh tenaganya berusaha keluar dari area berasap tebal ini, Edgar merasa percuma untuk berhati - hati jika pembunuh bayaran itu selalu melihat ke beradaannya begitu jelas. Disaat Edgar berlari dia tidak sadar pisau itu terus - terusan melayang ke arahnya dan menancap di tembok.
Hingga akhirnya dia menoleh ke belakang, dan melihat pisau itu. Edgar kembali mempercepat larinya dan dengan percaya diri dia melompat ke samping, dengan cepat dia menarik pedangnya melayangkan tebasan secara horizontal menuju asap tebal itu.
Pembunuh bayaran itu membuka matanya begitu lebar saat melihat gerakan Edgar yang tidak terduga tengah melayangkan tebasan, membuat pisau yang berada di selah - selah jarinya yang kini dia genggam dengan erat, dia menggenggam pisau itu terbalik sehingga mata pisau itu berada di bawah, dia yang sadar akan hal itu bergerak cepat menahan tebasan pedang Edgar, namun dalam posisi yang tidak baik.
Itu benar - benar terjadi sekejap mata, Edgar yang sadar kalau pedangnya tengah tertahan oleh sesuatu langsung melepas pedangnya dari genggaman, dan mengerahkan tenanganya melayangkan pukulan kual ke arah perut pembunuh bayaran itu, gerakannya begitu cepat hingga membuat orang itu tidak sempat bersiap hingga akhirnya membuat dia terkena pukulan dan tersimpuh di lantai menahan rasa sakit di perutnya.
__ADS_1
Walaupun samar melihatnya yang terngah tersimpuh seperti itu membuat Edgar bernafas dengan lega, Edgar dengan santainya berjalan mengambil pedangnya yang tengah tergletak di lantai tidak jauh darinya, lalu Edgar menghampiri pembunuh bayaran itu yang terlihat masih kesakitan. Edgar mengacungkan pedang itu ke arahnya.
“Kamu itu benar - benar merepotkan. Apa pukulan itu terasa enak?”
Ledek Edgar yang cemberut melihatnya, Edgar kembali menyarungkan pedangnya dan memaksa pembunuh bayaran itu untuk berdiri selagi dia menahan kedua tangannya.
“Rasanya, aku benar - benar ingin membunuhmu karena kamu telah melakukan hal yang gila sebelumnya, di tambah lagi kamu yang benar - benar masih begitu berusaha mengincar diriku!”
Selagi menahan tangan orang itu Edgar mendorongnya, hingga mereka keluar dari area yang berasap.
“Saat ini aku hanya sedang menahan diri, karena kelompok kalian itu meresahkan! Jika aku membunuhmu, aku yakin banyak dari kalian yang akan datang mengincar kepalaku. Aku tahu kalau kelompok kalian itu seperti sebuah keluarga, itu begitu berbeda dengan organisasi bawah tanah lainnya.”
Berada di belakangnya Edgar memperhatikan, melihatnya yang masih diam hanya membuat Edgar menghela nafasnya, berpikir dia tidak akan kembali menjawabnya. Namun disaat dia merasa kecewa, dia mendengar wanita itu mengatakan sesuatu.
Suaranya terdengar begitu lembut membuat Edgar terbelalak memperhatikannya. Edgar benar - benar terkejut mendengar itu.
‘Ada apa dengan suara lembut itu? Itu tidak terdengar seperti seorang pembunuh!’
Pikir Edgar yang sejenak terdiam, dia mengerutkan keningnya tampak berpikir, Edgar merasa familiar mendengar suara itu. Lalu Edgar kembali menjawabnya.
“Aku pikir kamu masih ingin tetap bungkam. Kamu penasaran dengan itu? Tapi sayang sekali aku tidak akan memberitahukan pada kalian. Aku hanya bisa bilang, kalau aku mengetahui kalian seperti kalian mengetahui tentang diriku.”
Mendengar itu langsung membuat wanita itu menoleh ke arahnya, dia dengan cepat menjawab.
__ADS_1
“Jadi begitu maksudmu. Aku tidak menyangka ada seseorang yang bekerja untukmu di dalam organisasi Penyamun gurun.”
Nadanya terdengar lirih. Edgar sadar kalau dia sedang memperhatikannya di balik wajah yang terutup itu. Edgar tersenyum mengangkat alisnya. Lalu wanita itu membuang muka kembali melihat kedepan.
Saat berada di luar dari area berasap Edgar berulang kali melihat sekitarnya, dan melihat langit - langit.
“Baguslah tidak ada jebakan lainya … Dengar! Dari melihatmu yang sudah menyiapkan jebakan dari tadi membuatku paham kalau kamu sudah tahu keberadaanku disini. Apa kelompok kalian bersekongkol dengan bandit di tempat ini?”
“Apa kamu berpikir seperti itu? Jangan samakan organisasi kami seperti para bandit itu, mereka hanya anjing kampung yang di pelihara bangsawan di negerimu!”
“Oh, menarik. Jadi kamu mau bilang kalau kalian bukan peliharaan mereka, dan jika kamu berkata seperti itu aku rasa kamu sudah tahu banyak rahasia di kerajaan ini?”
Disaat Edgar mengatakan itu, dia mendengar wanita itu tengah tertawa kecil menanggapinya. Ditambah lagi Edgar seperti mendengar suara samar langkah kaki orang berlari, Edgar melihat kesana kemari mencari sumber suara itu.
“Aku rasa informasi itu memang benar, kamu tidak seperti seorang yang baru terbangun dari tidur panjangmu, aku tidak menyangka kalau mengincar kepalamu benar - benar akan sesulit ini.”
Jawab wanita itu pada Edgar yang membuat Edgar kembali memperhatikannya.
“Pikirkan lagi situasimu … jika aku mematahkan tanganmu, bukankah itu akan menjadi lebih mudah? Mungkin cara ini akan benar - benar mengurungkan niatmu itu untuk mengincarku.”
Tangan wanita yang tertahan itu Edgar cengkram begitu erat hingga membuat wanita itu spontan bergerak merasakan sakit.
Disaat Edgar melakukan itu, dia semakin mendengar suara langkah kaki orang berlari yang semakin jelas, suara itu semakin lama semakin mendekat berasal dari balik asap di belakangnya, Edgar menoleh kebelakang memperhatikan kepulan asap tebal itu, dan dia menarik keluar pedangnya bersiaga.
__ADS_1
Itu terjadi begitu cepat, Edgar yang tadinya bersiaga kini tidak dapat merespon karena Edgar hanya terbelalak melihat seseorang yang keluar dari balik asap tengah berlari begitu cepat, dari balik asap itu Edgar melihat Silvi dan Roderic yang berlari sekuat tenaga hingga menabrak dirinya, membuat mereka semua terjatuh bersama di lantai.