
“Pe-permintaan apa yang kamu maksud Pangeran?”
Lilia begitu tersipu membuat pipinya memerah dan memalingkan wajahnya tidak mampu melihat wajah Edgar yang berada di hadapannya. Pikirannya merasa sedikit kacau, Lilia membayangkan Edgar memintanya hal aneh yang membuatnya merasa belum siap untuk memenuhi permintaannya.
“Lilia kamu akan membantuku keluar tempat ini!”
Edgar dengan posisi yang sama melihatnya dengan sorot matanya berbinar - binar seperti melihat harta karun di hadapannya, mendengar permintaannya membuat Lilia menghela nafas merasa lega yang membuatnya melepaskan diri dari Edgar menjaga jarak dengannya.
“..., syukurlah aku pikir Pangeran memintaku melakukan hal aneh, aku merasa sedikit lega … eh, kemana?”
Dengan sikap yang sama Edgar melihat Lilia, mengabaikan apa yang Lilia ucapkan, dia begitu fokus membayangkan rencananya. Menurutnya Lilia adalah sebuah kunci untuk dia dapat keluar dari tempat ini.
Dia sendiri sudah berulang kali mencoba untuk keluar dari tempat ini, tapi tidak terpikirkan oleh dirinya untuk meminta bantuan orang lain karena sebelumnya dia berasumsi tidak memiliki sekutu di tempat ini.
“Baik kita lakukan sekarang, tunggu aku di tempat penyimpanan alat berkebun.”
“Apa sekarang?”
“Iya, cepatlah sebelum hari mulai gelap!”
***
Di halaman rumah sore itu Edgar sudah terlihat bersiap karena tempat yang dia rasa tuju sebuah pandai besi membuatnya membawa pedangnya untuk sekalian mengganti gagang yang tidak nyaman di genggamnya. Dia tidak membawa banyak barang karena dia hanya bermaksud untuk mengendap sebentar dan pulang saat gelap.
Edgar sudah menduga kalau banyak daun yang dibersihkan di halaman, daun - daun ini bisa membantunya untuk keluar dari tempat ini. Tidak lama dari itu Edgar tengah bersembunyi di dalam sebuah karung yang berada di sebuah gerobak pengangkut barang bersama dengan karung lain yang hanya berisikan daun sebagai penyamaran.
“Apa kamu yakin dengan ini Pangeran?”
“Iya tentu saja, sudah jangan ajak bicara. Tidak ada karung yang bisa berbicara Lilia.”
“Ah … aku melupakan sesuatu, sebentar Pangeran.”
“Ha! Hoi Lilia!”
Lilia terlihat sedang mengingat sesuatu yang seharusnya dia bawa, itu membuatnya tiba - tiba berlari pergi. Edgar mendengar langkah Lilia berlari menjauh, suara langkahnya menjadi semakin kecil dan menghilang, membuat suasana tampak sunyi.
“...”
Tidak lama dari itu Edgar mendengar suara langkah kaki berjalan mendekat dan di ikuti langkah kaki yang lain mengikutinya. Suara langkah kaki itu terdengar berbeda dari langkah kaki Lilia yang dia dengar, suara itu berhenti tidak jauh dari gerobak tempat dia bersembunyi, Edgar mendengar desiran suara yang tidak begitu jelas seperti mereka sedang berbisik.
“Apa kamu bilang Sonne? Ini gila mereka tidak bilang Sonne tengah bersiap, kita tidak dibayar untuk itu jika terjadi!”
Suara itu seperti suara wanita dengan nadanya terdengar begitu ketus. Edgar dapat mendengar apa yang mereka bicarakan walaupun tidak begitu jelas, namun mendengar mereka mengatakan Sonne membuat dia merasa penasaran.
‘..., Sonne? Apa pasukan Sonne bersiap melanjutkan perang?’
Shrek - shrek!
Rasa penasaran Edgar untuk mendengar percakapan mereka membuatnya lupa kalau dia sedang bersembunyi yang membuat dia tidak sengaja membuat karung - karung yang di dekatnya berbunyi saat dia bergerak.
__ADS_1
Edgar merasa kalau mereka sadar dan mulai menghampirinya. Hal itu membuat Edgar merasa gugup karena mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya.
“Kenapa? Apa kamu mendengar sesuatu dari gerobak itu?”
“Iya, aku seperti mendengar suara dari dalam gerobak itu?”
“Paling itu hanya serangga! sudah dari dulu kamu selalu berlebihan dalam berhati - berhati.”
“Hentikan mulutmu! Jika tidak ada urusan denganku lagi pergilah, aku tidak ingin orang lain melihat kalau kita saling mengenal.”
“Iya, iya … baiklah!”
Edgar mendengar suara seseorang yang berada di dekatnya tampak familiar, suara itu berasal dari seorang pria. Sedangkan suara yang berada jauh darinya memang terdengar itu suara wanita.
“Suara itu terdengar seperti … Akhsan! Tapi siapa wanita yang bersamanya?”
Dia merasa tidak mengerti entah insting Akhsan yang begitu tajam sehingga sadar ada yang mencurigakan atau memang Edgar yang selalu tidak beruntung. Sehingga Akhsan terus mengganggunya saat mengendap keluar dari rumah ini.
Tanpa Edgar sadari, Akhsan berjalan semakin mendekat ke arah gerobak, Akhsan melihat di gerobak itu terdapat beberapa karung yang cukup besar yang membuatnya penasaran untuk melihat isi karung tersebut.
“Apa yang kamu lakukan disini Akhsan?”
Dia berhenti karena suara yang muncul dari Lilia yang memanggilnya, Lilia berjalan menghampiri Akhsan dengan membawa beberapa kain yang dibawanya bersama dengan Celine yang dia tidak sadar mengikutinya dari belakang.
Edgar yang berada di dalam merasa lega Lilia datang pada waktu yang tepat.
Dia bicara dalam benaknya selagi menahan diri untuk tetap tenang bersembunyi di dalam.
“..., ahem, harusnya aku yang bertanya apa yang kalian lakukan disini?”
‘Eh! … Kalian?’
Lilia dan Edgar, mereka berdua memikirkan hal yang sama merasa terkejut mengira Akhsan mengetahui Edgar yang berada di dalam.
“A-a-apa yang kamu maksud dengan kalian?”
“Oh… apa kamu tidak menganggap manusia kecil itu sebuah subjek lagi?”
Akhsan jarinya menunjuk ke arah Celine yang bersembunyi di belakang Lilia, itu membuat Lilia menoleh dan melihat Celine yang tampak tersenyum.
“Celine! Kenapa kamu mengikutiku? Bukannya sudah aku bilang tunggu dirumah.”
“Tidak boleh main? Tidak boleh ikut?.”
Celine cemberut menjawabnya wajahnya terlihat kecewa karena merasa Lilia tidak mengajaknya bermain.
Mengetahui yang dimaksud itu Celine membuat mereka berdua merasa lega walaupun di tempat itu masih ada Akhsan yang mungkin masih curiga.
“Memangnya kamu mau kemana?”
__ADS_1
“A-a-aku ma-mau membuang … sampah?”
Perasaan lega itu hanya sementara menurut Edgar yang sedang bersembunyi, dia merasa lemas dan pasrah ketika mendengar Lilia menjawab terdengar gugup dan tidak yakin seperti itu.
“Sampah apa? bukannya langsung dibakar seperti biasa?”
“Karung yang ada di gerobak ini, karena memasuki musim gugur banyak daun kering berjatuhan … lihat!”
Mendengar Akhsan tampak tidak percaya membuat Lilia menuju gerobak dan Lilia membuka karung di sekitar Edgar untuk meyakinkannya, Akhsan melihat isi karung itu hanya ada tumpukan daun - daun kering dan Celine yang merasa penasaran ingin melihat membuatnya naik ke dalam gerobak itu.
“Ah Celine kamu tidak usah ikut, turun dari situ!”
“Tidak!”
“Celine!”
Lilia tampak bingung karena Celine tidak ingin pergi dari tempat itu, memaksa untuk ikut. Melihat Akhsan yang terus memperhatikannya membuatnya merasa tidak banyak pilihan sebelum Akhsan semakin curiga dengannya.
“Lalu akan kamu bawa kemana itu?”
“... se-seorang kenalanku yang memintanya, dia bilang kalau akan … mengubah ini menjadi pupuk!”
“Baiklah, sepertinya aku mengganggumu, maafkan aku.”
Lilia mencoba tetap tenang memberikan senyumannya membuat Akhsan hanya mengangguk mengerti. Lilia berusaha menarik gerobak itu sedikit susah pada awalnya namun perlahan dia menariknya dengan mudah. Lilia menariknya sengaja membawa gerobak itu menjauh agar Akshan tidak memeriksanya saat dia mengambil keledai pengangkut barang.
“Sepertinya kamu kesulitan, apa ingin aku bantu?”
“Ah, tidak usah, sepertinya juga kamu punya urusan lain.”
“Sebenarnya tidak ada, lagipula kenapa kamu sebelumnya tidak mengikatkan itu ke keledai terlebih dahulu?”
“Itu karena … aku tidak ingin membuat keledai nya mengacau daun yang aku kumpulkan!”
“Baiklah … oh, dimana Tuan Edgar?”
Lilia merasa gugup yang membuatnya sedikit berkeringat karena panik dihujani pertanyaan yang sulit dijawab baginya dan menghentikan langkahnya mendengar itu.
‘Tenanglah Lilia kamu pasti bisa, beri alasan yang bagus padanya!’
Edgar berbicara sendiri dalam benaknya menyemangati.
“Pa-pa-pangeran Edgar … tidur! Sore ini dia merasa tidak enak badan katanya, jadi dia merasa tidak ingin di ganggu.”
Lilia tersenyum begitu kaku membuatnya tampak seperti sebuah boneka kayu.
“Begitu ya, aku akan minta seseorang mencarikan obat untuknya nanti … hati - hati dijalan.”
Lilia mengangguk mengiyakan dan kembali menarik gerobak itu pergi menjauh. Akhsan masih terdiam memperhatikan Lilia yang mendorong gerobak itu, merasa sedikit aneh melihat Lilia tidak seperti biasanya, tapi Akhsan merasakan akan ada hal menyenangkan nantinya yang membuatnya tampak tersenyum melihat Lilia yang semakin menjauh.
__ADS_1