Land Of Thorns

Land Of Thorns
Pertemuan tidak terduga bagian 3


__ADS_3

Saat mereka kembali masuk kedalam kedai, para pengunjung terlihat memperhatikan mereka kembali, tapi tidak dengan tatapan dingin seperti ketika Edgar dan Ludi saat berjalan masuk.


Tatapan pengunjung kali ini tampak terlihat mengagumi kecantikan Silvi yang langsung menjadi primadona di kedai ini karena tidak ada yang mengalahkan pesonanya, terlebih lagi pria - pria disini tampak cengengesan yang membuat mereka seperti orang bodoh saat melihatnya.


‘Mereka benar - benar brengsek!’


Itu yang ada di pikiran Edgar dan Ludi yang tampak cemberut melihat pria - pria yang sebelumnya menatap dingin mereka saat masuk ke tempat ini, sekarang tampak memandang berbeda saat melihat Silvi yang bersama mereka.


Begitu menyakitkan bagi Edgar karena tatapan mereka seperti tidak menaruh curiga dengan Silvi, sangat begitu berbeda saat mereka melihat dirinya.


Mereka bertiga duduk di tempat yang sama dengan makanan utuh yang terlanjur dingin karena belum mereka berdua sentuh sama sekali.


“Jadi apa kamu tidak mau mengenalkan wanitamu padaku?”


Namun ludi mengatakan itu sambil menatap Silvi yang duduk berhadapan dengannya sambil menggerakan alisnya dia menggoda. Tatapannya membuat Silvi merasa bingung bagaimana harus menjawabnya dan membuat dia berulang kali melirik Edgar seperti meminta bantuan.


“Namanya Silvi, dan dia bukan wanitaku. Kami baru saja bertemu.”


Edgar menjawab dengan wajah datar menyanggah pertanyaan dari Ludi yang berulang kali menggerakan alisnya naik turun tampak masih ingin menggodanya, karena melihat mereka berduaan di gang kecil sebelumnya.


“Baru bertemu tapi kalian sudah sedekat itu, ayolah teman. Apa kamu berbohong?”


“...”


Edgar hanya menjawab dengan diam menunjukan ekspresi yang masih sama melihat Ludi.


“Haa! Sepertinya kamu memang ahli membuat orang lain akrab padamu?”


Melihat Edgar yang seperti itu membuat Ludi mengerti kalau dia serius menjawabnya, walaupun Ludi tampak kecewa tidak bisa menggodanya lagi.


“Lalu apa yang mau kamu bicarakan padaku … mendengar nada bicaramu, sepertinya itu begitu penting?”


“Sebelum itu Ludi ada yang ingin kutanyakan terlebih dahulu…”


Ludi menatapnya begitu serius merasa penasaran menunggu pertanyaan itu keluar dari mulut Edgar.


“Apa kamu … mabuk?”


“Tidak hoi! Aku masih 70% tersadar … apa hanya itu yang mau kamu tanyakan?”


“Bukan, aku hanya memastikan.”


Edgar tertawa kecil seraya bercanda padanya karena dia berpikir Ludi sebelumnya tampak dalam pengaruh alkohol dan akan merasa percuma jika dia tidak ingat pembicaraan ini.


Edgar kembali melanjutkan pembicaran namun dengan suara yang lebih besar dari biasanya.


“..., apa kamu merasa terganggu dengan bandit yang bersarang di kota ini?”


“Bukankah sudah aku bilang sebelumnya kalau mereka selalu meresahkan dan begitu arogan karena merasa memiliki perlindungan hukum di kota ini.”


“Kalau begitu, bagaimana kalau aku menawarkan sebuah solusi?”

__ADS_1


Ludi yang menjawab tampak sedikit kesal karena canda Edgar sebelumnya tiba - tiba memberikan lirikan menatap mata Edgar saat dia bilang menawarkan solusi.


“Kamu gila Edgar, prajurit yang bertugas mengamankan kota saja menutup mata saat mereka berulah. Memangnya kamu siapa?”


“Tidak usah pedulikan siapa yang mendukung mereka. Asalkan mereka tidak tahu siapa yang menyerang itu sudah lebih dari cukup.”


Mendengar itu membuat Ludi tampak sedang berpikir.


Edgar melihat pengunjung kedai di sekitarnya yang kebanyakan dari mereka tentara bayaran terlihat memperhatikan Edgar karena mendengar pembicaraannya. Edgar tahu kalau mereka pasti akan memperhatikan, persis seperti apa yang dia harapkan.


‘Kenapa dia tampak menyeramkan’


Sedangkan Silvi tampak tidak mengerti dan heran karena melihat Edgar yang memperhatikan pengunjung sekitarnya dengan senyum tampak menyeringai membuat Silvi lama - lama merasakan sesuatu yang tidak nyaman melihatnya seperti itu.


“Menarik …  jadi apa rencanamu?”


Mendengar jawaban Ludi secara tiba - tiba membuat Edgar berhenti melihat sekitarnya dengan senyum seperti itu dan kembali fokus padanya menjawab dengan berbisik kali ini.


“.., melakukan serangan kejutan di markas mereka.”


“Tapi sebelumnya sudah kubilang kalau kami bukan prajurit, bagaimana kamu bisa meyakinkan yang lain untuk masuk ke dalam rencanamu.”


“Tentu saja aku akan memberikan penawaran yang tidak bisa mereka tolak dan tentunya dengan tambahan sebuah roti dan anggur.”


Jawabnya padat membisikan itu.


‘Tapi kenapa serangan kejutan tidak pernah terpikirkan oleh mereka?’


Edgar juga mengerti kalau mereka benar - benar memiliki masalah dengan bandit karena melihat pengunjung lainnya tampak penasaran memperhatikan mereka bertiga yang berbisik, seperti ikut tertarik untuk mendengar apa yang dia rencanakan.


Melihat Silvi yang memperhatikannya dari tadi membuat Edgar teringat kalau dia belum mengembalikan uangnya dan membuat Edgar menyentuh tangan nya untuk berbicara.


‘Asalkan menyentuh, itu bisa membuatmu mendengar bukan dengan cara ini?’


‘Iya aku bisa mendengarmu, walaupun ini membutuhkan tenaga yang lebih.’


‘Bisa kamu kembalikan uangku sekarang, aku membutuhkannya.’


‘Itu ada di tasku. Sebentar akan aku ambilkan.’


‘Tasmu bukankah yang besari itu? Dimana kamu meninggalkannya?’


Mendengarnya membuat Edgar tersadar kalau sebelumnya Silvi membawa tas begitu besar yang terlihat tidak normal dan sejak tadi tas itu terlihat tidak bersamanya itu pun membuat Edgar mengira kalau dia menyembunyikan tas itu di suatu tempat.


‘Kenapa bisa jadi kecil sekali sekarang?’


‘Apa kamu lupa kalau aku penyihir?’


Namun betapa terkejutnya Edgar saat melihat Silvi mengeluarkan tas itu dari balik jubahnya, dia melihat tas sebesar gelas minuman yang ada di meja dan mengeluarkan kantong uang yang padahal ukuranya sama dengan tas itu.


‘Sihir benar - benar efisien.’

__ADS_1


Melihat itu hanya membuat Edgar membelalak kagum dan menelan ludahnya sendiri saat Silvi tersenyum padanya.


“Kamu bilang dia bukan wanitamu, tapi sepertinya yang aku lihat tampak tidak seperti yang kamu bilang!”


Seru Ludi yang tiba - tiba memanggil Edgar karena melihat mereka berdua terlihat begitu dekat, dengan matanya yang sadar melihat ada kantong uang dan tas itu berada di meja, walaupun tampaknya dia tidak melihat saat kantong uang itu dikeluarkan dari tas itu.


“Aku sedang berbicara padanya.”


“Kenapa Silvi dari tadi hanya diam saja?”


“Sebenarnya dia terkena sebuah kutukan yang membuat suara di sekitarnya lenyap, jadi dia tidak bisa berbicara ataupun mendengar.”


“Kutukan? Bagaimana mungkin?”


Edgar berhenti sejenak mengalihkan pandangannya kembali melihat Silvi seakan meminta persetujuannya untuk menceritakan siapa Silvi sebenarnya.


‘Katakan saja tidak apa, Roh peri bilang padaku kalau kamu mempercayainya.’


‘Sepertinya Roh peri tahu lebih banyak tentang diriku ya.’


‘Iya, bahkan dia memintaku untuk percaya dengan rencanamu walaupun aku tidak mengerti kenapa dia terdengar kasihan padaku.’


Sebenarnya Edgar memang sudah terpikirkan untuk menceritakan pada Ludi, karena Edgar tahu kalau Ludi bukan seseorang yang suka memberitahukan rahasia orang lain saat di kehidupan lainnya, tapi Edgar hanya memastikan kalau Silvi setuju atau tidaknya.


“Apa yang aku katakan saat ini sebuah kebenaran dan jangan kaget kalau aku bilang dia penyihir.”


“Ha! Memangnya penyihir benar - benar ada … kamu bercanda kan?”


“...”


Edgar kembali menjawabnya dengan diam dan terlihat memperhatikannya dengan ekspresi serius menganggukan kepala perlahan.


“Ini menarik Edgar, sepertinya orang sepertimu akan selalu menarik sesuatu yang tidak terduga. Aku ikut rencanamu!”


“Bagus, ngomong - apa yang aku katakan tentang Silvi tolong rahasiakan untuk saat ini karena Silvi akan menjadi faktor penting dalam rencana ini.”


“Aku mengerti itu … karena dia penyihir kan!”


“Sebenarnya bukan itu, tapi lihat saja nanti!”


Edgar menggelengkan kepalanya saat menjawab Ludi, diikuti dengan dirinya yang bangkit dari tempat duduk dan mengambil kantong uangnya berencana untuk memulai rencananya membuat pengunjung kedai ini menjadi sekutunya.


Brakk!


Suara itu berasal dari pintu masuk kedai yang di tendang seorang dengan wajah tampak garang dai berjalan begitu arogan dengan dua orang di belakangnya mengikuti, Edgar merasa familiar dengan wajah itu.


‘Tiga orang bandit bodoh itu, sebuah keberuntungan macam apa ini.’


Edgar langsung cepat - cepat kembali duduk di kursinya dan memakai tudung dari jubahnya menutupi wajahnya, apa yang dia lakukan membuat mereka berdua memperhatikan begitu heran apalagi dia tampak terlihat kembali menyeringai.


Hanya saja kali ini dia tersenyum seperti itu saat melihat ke arah Silvi, yang membuat Silvi merinding dan keringat dingin merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan saat Edgar melihatnya seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2