
Edgar beserta kelompoknya berjalan mengendap - ngendap dalam gelapnya malam di jalan bagian utara distrik kumuh, dia mendekat ke pos pengawasan pertama yang di maksud. Dia melihat bangunan kayu tersebut tampak seperti sebuah rumah yang ditinggalkan.
Tapi jika dia mencermati dengan baik, ada sebuah jendela kecil di lantai dua yang menghadap ke jalan, walaupun samar tapi dia melihat ada bayangan seseorang disana, seandainya jika bukan orang yang memiliki penglihatan jeli saat mengintai pasti tidak akan menyadari ada manusia yang berada disana.
Edgar mendengar suara langkah kaki kuda yang berjalan santai semakin mendekat melewati mereka yang sedang bersembunyi di balik bayangan dinding bangunan.
“Apa itu yang Ludi maksud?”
Tanya Edgar berbisik disaat dia melihat pemburu yang bersamanya, pemburu itu hanya menjawab menganggukan kepala membenarkan kalau yang dilihatnya kereta kuda pengangkut barang yang mereka bilang.
Edgar melihat kereta kuda itu melintas di hadapannya, dia tidak melihat apa yang dibawa kereta kuda itu karena tertutup kain tebal yang mentutupi barang bawaannya, namun Edgar nampak heran karena dia tidak mencium bau busuk walaupun dia samar mencium ada bau darah yang berasal dari kereta kuda tersebut.
‘Kemana mereka membawanya?’
__ADS_1
Tanya Silvi yang menyentuh Edgar bicara dalam pikirannya, dia terlihat ikut penasaran karena merasa pintu keluar kota seharusnya berada di selatan.
‘Aku kurang mengerti, tapi bisa saja dia membawanya ke pelabuhan, entah dibuang ke laut atau mereka akan membawanya keluar dari kota dengan kapal.’
Kereta kuda tersebut semakin menjauh hampir tidak terlihat oleh mereka lagi, Edgar merasa kalau mereka sudah menunggu begitu lama sebelum waktu yang ditentukan.
Edgar menganggukan kepala nya melihat mereka yang berada di belakangnya, sebagai tanda untuk memulai rencana, para pemburu yang mengerti membuat membuat mereka berpisah, untuk memanjat bangunan di seberang jalan.
Pemburu yang masih bersamanya seakan bersiap untuk memanjat bangunaan ini menuju ke atap, tapi Edgar memintanya untuk berhenti karena bangunan kayu ini tampak rapuh yang akan menimbulkan suara nantinya.
Edgar mengatakan pada pemburu yang membuatnya mengangguk mengerti.
Edgar beserta 2 orang tentara bayaran masuk kedalam bangunan melalui jendela yang terbuka, mereka bertiga berada di dalam bangunan dengan berjalan mengendap perlahan sambil memastikan sekitar tidak ada orang, ruangan di lantai 1 tampak begitu sepi tidak ada satupun suara yang mereka dengar, mereka memutuskan untuk melanjutkan naik ke lantai 2.
__ADS_1
Edgar mengintip dari tangga melihat ada seorang yang sedang duduk memandang keluar jendela dengan ekspresi yang terlihat begitu bosan saat mengikis dinding kayu di dekatnya menggunakan pisau.
Dari tempatnya Edgar memberikan tanda kepada Silvi yang memperhatikan mereka dari luar jendela untuk memberitahukan kepada yang lain agar mulai memanjat.
Benar seperti apa yang Edgar kira, disaat pemburu tersebut memanjat, dinding kayu ini menimbulkan suara yang membuat bandit tersebut mendengarnya dan mengalihkan padangannya melihat ke arah dinding tempat sumber suara muncul.
Edgar dengan sigap berlari ke arah bandit yang masih belum sadar kehadirannya dan dengan cepat dia melakukan gerakan kuncian, mengunci leher bandit tersebut dengan kedua tangannya hingga pingsan, dan tentara bayaran yang mengikutinya memeriksa ruangan sekitar yang tampak aman.
Mengetahuinya Edgar langsung melambaikan tangan dari jendela memberikan tanda kepada pemburu yang ada di atap bangunan di seberangnya untuk melepaskan anak panah, memanah bandit yang berada di pos tiga.
Lambaian tangan Edgar tentunya terlihat oleh bandit yang berjaga di pos 2 yang sadar kalau mereka diserang tapi dengan cepat sebuah anak panah menancap di tubuh bandit tersebut dan membuatnya tumbang.
Sebuah keberuntungan dan juga keahlian memanah yang ditunjukkan oleh pemburu yang berada di atap bangunan ini, kedua pemburu yang berada di atap berbeda itu saling memberikan tanda kalau anak panah mereka berhasil mengenai target.
__ADS_1
Rencana yang begitu mulus Edgar lakukan, mereka hanya merasa tinggal menyerang gudang penyimpanan tempat dimana pasukan bandit bersembunyi sebelum menyerang markas para bandit.
Baru saja Edgar dan yang lain tampak akan pergi menuju gudang, dan disaat yang sama dia melihat bayangan seseorang sedang berlari dari arah selatan.