
Sore itu di suatu tempat di daerah kumuh di kota Rosten, ada seorang pria yang terlihat cukup tua namun sehat padat berisi dengan tubuh yang cukup pendek untuk ukuran orang dewasa tengah berjalan menyusuri jalan di daerah kumuh itu.
Daerah kumuh ini sangat jarang ada prajurit yang berpatroli sehingga tidak heran melihat orang - orang yang bertampang menyeramkan seperti prajurit bayaran dan pencuri bahkan pedagang budak, serta tempat hiburan malam ilegal yang pekerjanya diisi wanita - wanita malang yang diculik dan dijadikan budak. Tempat yang cukup mengerikan untuk sebagian orang.
Pria pendek itu menyadari dirinya tengah di ikuti seseorang yang mencurigakan dengan pakaian serba hitam dan jubah hitam hingga menutupi wajahnya, menyadari itu membuatnya berjalan cepat, cara dia berjalan begitu tidak normal terlihat pincang, walaupun begitu dia mampu membuat orang yang mengikutinya kebingungan mencari jejaknya, dengan memanfaatkan tubuh pendeknya ketika menyalip orang lain yang berjalan di depannya dan memanfaatkan gang kecil untuk bersembunyi.
Pria pendek itu terlihat begitu kelelahan meloloskan diri dari orang yang mengikutinya, Pria itu terlihat telah sampai pada tempat yang dia tuju, dia masuk kedalam bangunan yang tidak terurus, di dalam bangunan itu terlihat dua orang bertudung yang salah satunya adalah Albert menunjukan wajahnya, dirinya tengah duduk menunggunya.
“Aku sudah mengirimkan pedang itu ke rumah besar Albert.”
“Terimakasih, kerja bagus Liam, jika aku yang membawanya sendiri nanti hanya akan membuat mereka semakin waspada.”
Pria pendek itu bernama Liam yang suaranya terdengar begitu berat walaupun tubuhnya lebih pendek dari ukuran orang dewasa. Liam terlihat kesulitan untuk duduk di bangku panjang di dekatnya karena kaki kanannya yang tidak bisa tertekuk normal.
“Tentu saja, siapa juga yang akan mencurigai seorang pekerja pandai besi sepertiku?”
“Maaf telah memintamu melakukan itu Liam, pasti membuatmu kesulitan berjalan cukup jauh dengan menggunakan kaki palsu itu.”
“Memakai ini bertahun - tahun sudah membuatku cukup terbiasa.”
Tong - tong!
“Sepertinya memang aku tidak bisa meremehkanmu walau kamu sudah bukan menjadi ksatria lagi Liam.”
Liam tertawa begitu lebar saat menghiraukan rasa khawatir Albert dengan memukul - mukul kaki palsunya yang terlihat dari lapisan luarnya terbuat dari besi, membuat ekspresi Albert yang terlihat khawatir menjadi menghilang karena sudah mengira dia tampak kesulitan, itu membuat Albert tersenyum padanya karena mengingat siapa dia yang sesungguhnya.
Albert mengingat kalau Liam adalah seorang mantan ksatria yang berada di kesatuan Naga, sebuah kesatuan yang berada langsung dibawah perintah Raja, sebuah kesatuan elit yang tidak memandang status ksatria itu berasal dari keluarga bangsawan ataupun bukan. Sebuah pengabdian dan loyalitas untuk kerajaan bagi mereka yang bergabung dalam kesatuan itu.
Liat terlihat memperhatikan Albert dan pria yang bertudung itu, Pria itu terlihat memperhatikan mereka tapi tidak mendekat ke meja untuk ikut berbincang dengan mereka.
“... tapi. Apa kamu yakin kalau Pangeran dapat menemukan pesan tersembunyi itu?”
“Tentu saja, tidak mungkin dia melupakan bentuk asli pedang bermata dua itu. Karena itu pemberian Raja Eliot padanya saat dia berulang tahun.”
Liam menghentikan tawanya. Dengan wajah terlihat serius dia terdengar begitu ragu, Albert melihatnya dengan sorot wajah begitu optimis merasa percaya dengan Edgar. Walaupun yang sebenarnya Edgar tidak menyadari itu, dia hanya sadar kalau gagang pedang itu menyebalkan tidak sesuai dengan genggaman tangannya, dan sebuah keberuntungan karena dia menggunakannya sembrono membuat dia memperhatikan emblem yang tampak janggal.
Albert beranjak dari tempat duduknya mengambil sebuah tong berukuran kecil yang terbuat dari kayu tengah menggantung di dinding didekatnya.
“Anggap saja ini hadiah, aku menemukan minuman keras dari Nordem ketika aku berada di pasar tadi.”
“Woop. tunggu … bukankah itu terdengar merdu!”
__ADS_1
Ceglek!
Ceglek!
Liam menangkap tong itu dengan kedua tangannya saat Albert melambungkan pelan memberikan tong minuman itu, dia begitu menikmati mendengar suara air itu yang membuatnya menggoyangkan pelan mendengar isi suara di dalam tong itu, mendengarkannya membuatnya tersenyum bahagia.
“Kamu selalu bisa menemukan barang yang bagus Albert.”
Liam terlihat begitu asik dengan dirinya sendiri masih mendengarkan suara minuman yang ada di dalam tong yang menurutnya suara itu begitu merdu di telinganya.
Brakk!
Pria yang satunya terlihat tidak tahan memperhatikan Liam yang begitu asik sendiri seperti mengabaikan Albert, membuatnya mendekat dan memukul meja , Wajahnya terlihat jelas seperti seorang prajurit ditambah dengan bekas luka yang cukup besar seperti bekas sayatan di wajahnya.
“Si bodoh ini! Kamu yakin mengajak dia dalam rencana ini Albert!”
“Tenanglah Robert. Tentu saja aku yakin, hanya kalian teman - teman yang bisa aku percaya dalam rencana ini.”
“Denganmu itu mungkin, tapi tidak dengan si bodoh ini. Dari dia masih aktif militer masih saja dia hobi minum, pikirkan usiamu bodoh!”
Pria yang sedang kesal itu bernama Robert, yang dulunya merupakan ksatria yang berada di kesatuan yang sama dengan Liam. Apa yang membuat dia kesal karena kebiasaan Liam yang selalu mencintai minuman seperti itu yang membuatnya selalu tidak fokus.
“Hoi! Siapa yang kamu panggil bodoh?”
Wajahnya Liam terlihat begitu serius dengan bibirnya tampak cemberut menanggapi Robert, ditambah dia meletakan tong itu di atas meja, membuat Robert terdiam melihatnya.
“Ahem. Sepertinya aku telah salah menilaimu Liam.”
Liam yang terlihat begitu serius membuat Robert terdiam melihatnya, Robert merasa dirinya telah salah menilai Liam ditambah mereka sudah cukup lama tidak bertemu yang membuat Robert berpikir kalau seseorang pasti akan berubah karena waktu.
“...ah tolong lemparkan padaku gelas yang ada didekatmu Albert.”
“Hoi!”
Emosinya Robert begitu meledak karena melihat Liam yang tiba - tiba meminta gelas dengan wajahnya yang cengar - cengir, Robert tahu kalau dia bermaksud akan meminum minuman itu, yang membuatnya mengambil tong itu darinya dan terlihat ingin membuangnya.
Haha!
“Bukankah pertemanan kalian terlihat begitu akrab.”
“Teman? Siapa yang sudi!”
__ADS_1
Tawa Albert terlihat menghentikan tingkah mereka, apalagi mendengar mereka menjawabnya bersamaan membuat Albert semakin tertawa lebar.
Melihatnya yang seperti menertawai mereka, membuat mereka menghentikan tingkah mereka dan kembali duduk dengan tenang, mencoba fokus melanjutkan kembali apa yang mereka bicarakan.
“Ahem. Apa kamu yakin Albert membawa Pangeran dalam semua kekacauan ini?”
“... Tentu Pangeran Edgar harus melihat dan mengetahui hal ini dengan jelas Robert.”
Ekspresi Albert terlihat begitu serius dengan sikap kedua tangannya saling menggenggam menopang keningnya.
“Aku sudah mengurusnya sejak kecil sebelum dia diracun, tapi melihat tatapan matanya saat itu terlihat berbeda dari seorang pangeran kecil yang aku ketahui.”
“Tatapan mata itu seolah berkata ‘beritahu aku’.”
Mendengar itu membuat Robert menghela nafas, dengan tangannya menopang kepalanya seperti terlihat merepotkan dan meragukan, Robert merasa tidak yakin Pangeran yang belum lama terbangun dari tidur akan terlihat seperti itu.
“Bagaimana menurutmu Liam?”
“Sebenarnya aku penasaran melihat pangeran ketiga itu saat ini menjadi seperti apa padahal dia tengah tertidur 13 tahun lamanya, seolah dirinya tetap tumbuh walaupun dia tertidur begitu lama. Hanya saja sayang sekali aku tidak bertemu dengannya.”
Liam dari tadi tengah mendengarkan sembari mengelus - elus jenggotnya sedikit tersenyum. Liam yang mengajukan diri mengantarkan itu ke rumah besar bertujuan untuk melihat langsung seperti apa Edgar saat ini, karena sebelumnya Albert telah menceritakan padanya dan meminta dia untuk memoles pedang serta menyelipkan pesan itu padanya.
“Ternyata mereka tidak mengizinkan orang luar untuk masuk, walaupun begitu aku bertemu dengan Lilia.”
“... Bukankah dia telah tumbuh begitu cantik dan seksi Albert.”
Wajah Liam tiba - tiba terlihat begitu menggelikan ketika dia membahas kalau dia bertemu dengan Lilia, membuat mereka berdua melihat Liam tampak terlihat seperti pria tua yang mesum.
“Si bodoh … ingat umurmu!”
“Robert, pinjamkan aku pisaumu. Pisaumu sudah di asah kan?”
“Tentu, kenapa tanya?”
Robert tampak menepuk mukanya merasa masih tidak percaya dia bekerjasama dengan Liam. Tidak sadar Robert secara alami memberikan pisau yang dia bawa pada Albert tanpa menanyakan untuk apa.
“Apa kamu tertarik menggunakan lengan palsu Liam?”
“...Tu-tu-tunggu Albert! Aku hanya bercanda!”
Robert tercengang melihat Liam yang ketakutan melihat wajah Albert begitu kesal dengan menodongkan pisau itu ke arah Liam mengancamnya, karena berpikiran mesum pada Lilia. Albert terlihat mengayunkan pisau itu berulang kali dan Liam berulang kali menghindarinya. Dan membuat Robert kewalahan menghentikannya.
__ADS_1
“Tenanglah Albert! Si bodoh ini hanya bercanda!”