
Lari gadis itu semakin lama semakin lincah saat berada di gang yang lebih besar, dia terlihat dengan mudah melewati orang - orang yang lewat dan benda - benda yang menghalanginya. Edgar yang masih mengejarnya tampak kesulitan memperpendek jarak.
‘Dia seperti melayang!’
Itu yang dipikiran Edgar dengan wajah serius dan ekspresi cemberutnya karena masih merasa kesal apalagi saat melihat Gadis itu melompati tembok begitu mudahnya, sedangkan Edgar terlihat kesulitan memanjat tembok yang menghalanginya.
“Hoi! Gadis tuli!”
‘Bodoh! Mengapa aku memanggilnya kalau dia tuli.’
Karena termakan emosinya Edgar tampak kebingungan memikirkan cara menghentikan gadis itu yang membuatnya berpikir pendek melupakan hal penting kalau kalau gadis itu tidak bisa mendengarnya.
‘Mungkin dengan cara ini bisa mengalihkan perhatiannya!’
Dia melihat sebuah kesempatan saat di hadapannya ada tembok lagi yang menghalangi, Dia melemparkan pedangnya sebagai sebuah peringatan, lemparan nya begitu kuat hingga terpikir akan mengenai gadis itu yang tengah melompat, namun Gadis itu dengan cepat menggunakan tembok di hadapannya sebagai sebuah pijakan yang membuatnya melompat mundur.
‘Ha! Bagaimana bisa?’
Edgar lebih terkejut lagi melihat Gadis itu hanya berbaring di udara walaupun jatuh dan saat menghantam tanah tas besar itu tampak membal seperti sebuah karet yang membuatnya memantul kembali ke udara dan berada di atas tembok itu.
Hal itu nampak tidak masuk akal apalagi baru pertama kali Edgar melihat hal itu didepan matanya. Gadis itu tampak diam di atas tembok memperhatikannya.
Edgar pun ikut berhenti merasa tidak sanggup untuk memanjat tembok yang lebih tinggi ini. Dia melihat Gadis itu tampak menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk ke arah selatan.
“Apa maksudmu? Apa kamu memintaku untuk pergi keselatan?”
Gadis itu memperhatikan gerak bibir Edgar dan mengangguk mengiyakan.
“Untuk apa aku pergi keselatan kalau aku bisa meminta uangku sekarang!”
Edgar tampak semakin kesal saat Gadis itu menunjukan kantong uang yang Edgar miliki, lalu Gadis itu menunjuk ke arah gang yang tadi mereka lalui, dan dia pun pergi dari hadapannya tanpa merespon apapun. Edgar tidak mengerti apa maksudnya tapi itu membuat Edgar penasaran untuk menoleh kebelakang.
‘Pantas saja … jadi itu yang membuatnya lari!’
Dia melihat segerombolan pasukan dengan wajah tampak marah berlari ke arahnya Edgar merasa kalau mereka memiliki masalah dengan Gadis itu juga. Wajar saja dia berlari karena dikejar orang - orang ini apalagi mereka semua membawa senjata masing - masing walaupun itu senjata tumpul.
“Sialan! Gadis itu meloloskan diri lagi!”
Edgar mendengar salah seorang dari mereka saat berada di dekatnya, mereka tampak kesal melihat Gadis itu menghilang lagi dari hadapan mereka.
“Apa kalian mengenal Gadis itu?”
“Itu bukan urusanmu anak muda!”
“Tentu saja itu urusanku! Gadis itu mencuri uangku!”
Edgar yang biasanya bersikap santai saat ini tidak terlihat seperti itu, karena pertanyaan yang sopan dijawab oleh Pria di dekatnya dengan nada begitu kasar membuatnya mengikuti cara bicara mereka yang tampak kasar. Membuat ekspresi wajah dia benar - benar menunjukan kalau dia terlihat begitu jengkel.
“Bukannya dirimu sendiri yang bodoh! Hingga Gadis itu bisa mencuri darimu!”
__ADS_1
“Lihat, bukankah dirinya terlihat seperti seorang anak orang kaya.”
“Ho … sepertinya benar, bukankah lebih baik kita menculik dia dan meminta uang tebusan pada keluarganya.”
‘19 orang dan mereka membawa senjata, akan sulit jika dengan tangan kosong.’
Di dalam benaknya Edgar menghitung saat mereka saling berbicara satu sama lain dan memperhatikan Edgar dengan seksama, Edgar melihat mereka tampak lebih garang daripada tiga orang bodoh sebelumnya. Dia tahu kalau mereka ini benar - benar sekumpulan penjahat.
Haha!
“Pantas saja dia bodoh karena anak orang kaya yang tidak tahu sulitnya hidup dijalanan, seharusnya kamu tidak usah keluar anak muda. Tinggal saja dirumah dan tidur di pelukan ibumu!”
Mereka tertawa begitu bahagia mengejek Edgar, tapi suara tawa itu terngiang di telinga Edgar yang membuatnya sangat terganggu saat mendengarnya.
“Ibuku sudah tidak ada … jadi kenapa tidak kamu kirimkan salamku untuknya di akhirat!’
Edgar memukul Pria yang ada di dekatnya yang dari tadi mengejeknya, Edgar tampak tidak bisa menahan dirinya saat mereka mengejeknya dan membawa ibunya yang sudah tiada.
Dia tampak begitu beringas saat merebut pemukul yang pria itu pegang dan memukul Pria itu berulang kali hingga dia tersungkur ke tanah membuat kepala Pria itu terluka hingga berdarah yang bahkan darahnya menempel pada pemukul itu.
“Aku tidak menyangka kota ini begitu busuk dengan orang - orang seperti kalian!”
“Hoi! Apa dia … membunuhnya? Hajar dia!”
Orang - orang itu sebelumnya tampak diam terlihat ketakutan saat Edgar memukul Pria itu membuatnya terlihat begitu beringas dimata mereka. Tapi melihat Edgar memukul Pria itu hingga tak sadarkan diri, membuat mereka mengira Pria itu sudah tewas dan berniat membalaskan dendam.
“Argggh!”
Dia melayangkan pemukul itu sekuat tenaga dengan kedua tangannya menghantam dua orang sekaligus tepat di dada mereka yang membuat dua orang itu terpental menabrak orang di dekatnya, bahkan membuat pemukul yang dia gunakan hancur.
Edgar membuang pemukul yang sudah tidak berguna itu dan kembali menerjang dengan tangan kosong kali ini, pukulan demi pukulan Edgar layangkan ke wajah mereka yang mendekatinya, pukulan nya yang sekuat tenaga terasa seperti sebuah palu menghantam mereka dan menumbangkan beberapa.
Tapi Edgar tentu kalah jumpah saat mereka mengepungnya, mereka semua tidak tinggal diam melihat kesempatan Edgar tidak memegang senjata apapun membuat mereka memukulinya hingga Edgar berada di posisi bertahan.
Dia belum tumbang, tapi dia terlihat begitu babak belur di seluruh tubuhnya karena menahan pukulan mereka.
“Apa kalian menangkap Gadis itu? … Kenapa kalian mengeroyok anak muda ini?”
“Dia membunuh salah satu dari kita bos!”
“Membunuh dia? … Si kumis ini masih bernafas bodoh!”
Suaranya terdengar begitu lantang membuat Edgar memperhatikannya saat dia berbicara. Edgar melihat Bos bandit itu tubuhnya tidak begitu besar seperti suaranya, hanya saja tubuhnya begitu berotot kekar dan membuatnya tampak lebih garang dengan penutup mata di mata kirinya serta dengan pemukul besar yang terbuat dari besi yang ia bawa.
“Jadi kamu bos mereka … berarti kamu dalangnya yang membuat kota ini begitu busuk!”
“Santai lah anak muda, bukankah dia begitu bersemangat … Bukan aku yang membuat kota ini busuk, saat aku datang kota ini sudah tampak seperti ini.”
Bos Bandit tampak memperhatikan Edgar dengan seksama, dia melihat ekspresinya tampak penuh amarah serta kebencian, dan melihat orang - orang yang telah ditumbangkannya, dia menghitung ada 8 orang yang tumbang membuatnya berpikir kalau Edgar tampak begitu kuat.
__ADS_1
“Sudahlah cepat tinggalkan tempat ini!”
“Siapa yang bilang kalian boleh pergi! Aku belum selesai dengan kalian!”
Edgar yang masih tersulut emosi membuatnya tanpa pikir panjang menerjang Bos Bandit itu namun usahanya sia - sia, serangan kejutannya dapat dengan mudah dihindari berulang kali.
“..., kamu kuat! Tapi kamu terlalu termakan emosi. Sepertinya ini cara terbaik menjernihkan pikiranmu anak muda!”
T’hembbb!
Suara yang terdengar saat Bos bandit itu dengan cepat melayangkan pemukul besinya sekuat tenaga secara vertikal tepat di kepala yang membuat Edgar tersungkur ke tanah.
“..., Sudahi bermainnya kita harus kembali markas. Kalian bantu mereka yang pingsan!”
“Tidak membawa dia bos? Dia terlihat seperti bangsawan kaya, kita bisa mendapatkan uang tebusan!”
“Bodoh! Mana ada bangsawan yang sudi menginjakan kaki di tempat ini, kalau memang ada seharusnya dari dulu kita melakukan itu … lagi pula lihat dia! Bangsawan terbuang mungkin lebih tepat. Ambil saja uangnya dan cepat pergi!”
“Dia tidak memiliki apa - apa bos, hanya sarung pedang yang kosong!”
“Lihat! Kalian benar - benar menghabiskan waktu dengan percuma dengan orang ini!
Bos bandit itu memasang wajah cemberut saat mengomeli anak buahnya, dan meminta mereka untuk meninggalkan tempat ini.
“Siapa disana!”
Saat mereka hendak pergi Bos bandit itu menyadari seseorang bersembunyi di atap seperti memperhatikan mereka dari tadi.
Brakk!
Dia melemparkan pemukulnya, lemparan itu meleset mengenai atap bangunan tapi cara itu membuat seseorang yang bersembunyi itu berlari dengan cepat melarikan diri dari hadapan mereka.
“Pergi hah! Sepertinya ada yang mengawasi kita … kamu! Ambilkan pemukulku!
Mereka melanjutkan pergi dari tempat ini, sedangkan Edgar penglihatannya tampak begitu samar walaupun dia hampir tidak sadarkan diri, dia melihat mereka meninggalkannya pergi, melihat itu membuat emosinya sedikit tenang dan membuatnya tertidur.
***
Dua jam telah berlalu, Edgar terbangun dari tidurnya dengan posisi yang masih sama tersungkur di tanah, dia perlahan mencoba untuk duduk dan bersandar di tembok dekatnya, pikirannya saat ini cukup tenang walaupun dia harus menahan sakit karena badannya babak belur.
‘Sepertinya aku harus pergi ke area gerbang selatan.’
Tertidur beberapa jam sudah cukup memberikan tenaga untuk kembali berjalan ditambah lagi dia mengingat Gadis itu menunjukan arah selatan yang membuatnya mengingat kalau area selatan merupakan tempat pendatang sebuah lokasi yang tepat untuk mencari tempat yang dia cari!
Edgar merasa ada yang salah dalam dirinya karena bertindak seperti bukan dirinya tapi bukan saat yang tepat baginya untuk memikirkan hal itu saat ini.
‘Bagaimana aku mengambilnya?’
Dia melihat ke atas dan melihat pedangnya masih tertancap di tembok yang cukup tinggi, cukup beruntung karena bandit itu tidak melihat pedangnya ada disana. Dia bangkit dari duduknya dan mencoba mencari cara untuk mengambil pedangnya terlebih dahulu sebelum dia melanjutkan perjalanan menuju gerbang selatan.
__ADS_1