Land Of Thorns

Land Of Thorns
hal buruk bagian 4


__ADS_3

Edgar memperhatikan dengan seksama dinding lorong di sekitarnya, dia sadar kalau mereka sudah dekat walaupun dia merasakan sesuatu yang janggal menurutnya, dan tentunya tidak lama dari itu dia melihat ruangan yang dia tuju kini sudah dalam jarak pandangnya, dia melihat ke arah mereka berdua yang masih dalam posisi sama.


‘Sepertinya Silvi belum selesai menanamkan sihir itu padanya. Kenapa itu lama sekali?’


Itu yang ada di dalam pikiran Edgar ketika melihat mereka berdua, dan tanpa berkata apapun pada mereka, Edgar mempercepat langkahnya memasuki ruangan tersebut terlebih dahulu.


Seketika Edgar masuk kedalam ruangan itu, dengan sekejap pula dia menghentikan langkahnya dan melompat mundur menghindari sebuah pisau yang terbang ke arahnya.


Dia tidak tahu dari mana pisau tersebut datangnya, hingga akhirnya kembali pisau yang lain terbang menuju ke arahnya, dia akhirnya sadar pisau itu datang darimana. Pisau yang terbang ke arahnya itu seperti keluar dari balik dinding begitu saja.


“Siapa disana!”


Teriak Edgar hanya menimbulkan gema kecil yang membuatnya dapat kembali mendengar suaranya sendiri.


Kembali pisau lain terbang ke arahnya yang kali ini terbang begitu beruntun seakan tidak memberikannya jeda untuk berhenti menghindarinya, namun Edgar masih dapat mengungguli itu karena pisau itu tampak lambat baginya yang membuatnya tampak seperti menari. Dia menunduk, melompat dan bergerak kesana kemari mencegah pisau itu melukainya.


“Apa kamu ingin melakukan ini terus - terusan? Maaf saja, tapi aku benar - benar tidak punya waktu untuk hal ini sekarang!”


Ucap Edgar kembali dan dengan seketika membuat pisau yang terbang ke arahnya itu berhenti dilayangkan padanya.


Edgar melihat seseorang melangkah mendekatinya, melihat itu membuatnya membelalak serta terpaku melihat seseorang yang mendekatinya itu tampak seperti keluar dari balik bayangan di dinding. Melihat dari pakaiannya saja sudah membuat Edgar ingat.


Dia melihat dengan jelas seseorang dengan pakaian serba hitam yang benar - benar menutupi seluruh bagian tubuh hingga wajahnya. Edgar memperhatikannya dengan seksama.


‘Dia bukan Akhsan, dia terlihat lebih pendek.’


Pikir Edgar saat melihat orang misterius itu yang semakin jelas ketika dia mendekat ke arahnya dan dia melihat lekuk tubuhnya yang tampak lebih feminim.


“Sepertinya kamu bukan seseorang yang aku pikirkan.”


Seru Edgar padanya yang kembali tidak mendapatkan jawaban darinya.


Edgar benar - benar tidak tahu apa yang orang misterius ini rencanakan, bahkan dia tidak tahu matanya sedang tertuju kemana karena pakaian yang dia kenakan benar - benar menutup matanya membuat Edgar tidak bisa menduga arah serangan nantinya jika dia mulai bergerak.


Orang misterius itu melompat dengan cepat memperpendek jarak mereka berdua dan dengan sebuah pisau ditangan kanannya dia mengincar leher Edgar, serangannya yang tiba - tiba itu membuat Edgar sedikit lambat merespon untuk menghindarinya, pisau itu sudah begitu dekat untuk mengancam lehernya.

__ADS_1


Dia berulang kali menyangunkan pisau itu ke arahnya dan Edgar berusaha untuk terus menghindarinya walaupun dia merasa kesulitan menyeimbangkan dirinya saat dia masih menggeondong Lilia.


Orang misterius itu melihat sebuah kesempatan dan dengan cepat mengeluarkan pisau lain dia mengayunkan itu dengan tangan kirinya dan memberikan sayatan kecil tepat di pinggang. Kemudian Edgar menendangnya dengan sekuat tenaga membuatnya terpental menjauh darinya.


Tsk!


Urgh!


Edgar mendengar suara lirih yang keluar darinya saat dia menendangnya, suara itu benar - benar terdengar seperti seorang wanita.


Kemudian Edgar melihat luka sayatan yang ada di pinggangnya yang membuatnya bernafas cukup lega karena sayatan itu hanya membuatnya mengeluarkan sedikit darah, tidak menjadi sebuah luka yang fatal baginya.


“Jadi kamu pengguna senjata dua tangan. Sepertinya kamu benar - benar mau menunjukan kalau aku berada di posisi tidak menguntungkan.”


Nadanya terdengar kesal saat dia mengatakannya, lalu dalam waktu yang singkat itu memberikan sebuah kesempatan bagi Edgar untuk meninggalkan Lilia, dia menyenderkannya di tembok di dekatnya guna menjauhkan dirinya dari jarak serangan orang misterius itu nantinya, dia tidak ingin menambahkan luka di tubuh Lilia kembali.


Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat menuju ke ruangan mereka berada membuat orang misterius itu menoleh ke arah sumber suara itu datang, Edgar tahu kalau kalau suara itu pasti berasal dari mereka berdua karena sumber suaranya berasal dari arah jalan yang sebelumnya dia lalui.


Orang misterius itu melemparkan pisau yang di tangannya ke arah Edgar serta mengeluarkan pisau yang lain lalu dengan cepat dia mendekati Edgar, dan tidak ingin menyambutnya Edgar ikut berlari menghampirinya, pisau yang terbang ke arahnya itu hanya seperti sebuah batu yang begitu mudah dia tangkis dengan pedangnya.


Senjata mereka saling menahan satu sama lain.


‘Pisau ini berbau tajam, apa itu racun?’


Pikir Edgar saat senjata orang misterius itu begitu dekat dengannya, yang kali ini menggunakan pisau yang di telah dilumuri racun dengan baunya begitu menyengat, tidak seperti pisau yang sebelumnya digunakan.


Mengetahui racun itu membuat Edgar mengrutkan keningnya, dan dengan memanfaatkan kekuatan nya, Edgar menekan senjatanya yang tertahan, Edgar mendorong dengan sekuat tenaga membuat orang misterius itu tidak kuasa menahannya jika berurusan dalam adu kekuatan.


“Bagaimana kamu bisa berada di tempat ini? Apa kalian Penyamun gurun bekerjasama dengan bangasawan yang membantu bandit ini dan siapa bangsawan yang memegang kontrak? Katakan!”


Teriak Edgar padanya yang membuatnya hanya masih terdiam menahan senjata yang tertahan itu terdorong ke arahnya, walaupun wajahnya tidak terlihat tapi Edgar tahu kalau dia tengah memperhatikannya.


“Apa kamu terkejut seorang sepertiku tahu tentang cara kerja kalian yang melalui sebuah kontrak itu?”


Teriak Edgar kembali padanya.

__ADS_1


Kontrak yang Edgar maksud itu adalah sebuah kontrak spesial yang hanya dilakukan oleh kelompok Penyamun gurun untuk memberikan jaminan kepada siapapun orang yang mempekerjakan mereka agar terlindungi dari organisasi pembunuh bayaran yang lain termasuk dengan pembunuh bayaran yang mereka pekerjakan, itu yang menyebabkan mengapa hanya bangsawan tertentu yang memiliki kontak dengan mereka karena itu bernilai begitu tinggi untuk mendapatkan imunitas dari target pembunuhan.


Kontrak itu dilakukan dengan atas sebuah sumpah sakral dengan memberikan senjata yang tertulis dengan darah mereka sendiri dan menuliskan nama asli mereka. Mereka percaya jika melanggar sumpah itu akan menimbulkan kemarahan dari dewa kematian yang mereka percayai keberadaannya.


Ditengah pertikaian itu Silvi dan Roderic masuk ke dalam ruangan dan dengan seketika mereka menghentikan langkahnya melihat orang misterius itu sedang berhadapan dengan Edgar.


“Apa yang terjadi? Apa dia salah satu bandit di tempat ini, selera pakaiannya buruk sekali!”


Seru Roderic yang membuat mereka berdua memperhatikannya.


“Aku tidak bisa menjelaskannya. Roderic, katakan pada Silvi untuk membawa Lilia keluar dari tempat ini, dan lari menuju jalan bawah tanah itu. Cepat!”


“Ha? Kita bertiga dan dia hanya sendirian bukankah lebih mudah jika kita bersama - sama menyerangnya.”


“Sudah lakukan saja! Dia sudah menunggu ditempat ini, Aku yakin dia pasti sudah mempersiapkan jebakan di ruangan ini.”


Apa yang diucapkan oleh Edgar membuat Roderic memperhatikan sekitarnya, cahaya ruangan yang cukup redup membuatnya tidak dapat melihat bagian - bagian ruangan yang tertutup oleh bayangan, hal itu sudah membuatnya merasa yakin dengan apa yang Edgar katakan. Ruangan ini benar - benar tempat yang terbaik jika dia memang mempersiapkan jebakan.


Orang misterius itu mulai mengelak, dia memanfaatkan kesempatan dari penjagaan Edgar yang mulai kendur, dan dia menendangnya. Edgar kemudian membalas ,senjata mereka berdua saling beradu, Edgar melayangkan tebasan - tebasan berat itu ke arahnya.


Pisau itu memang lebih pendek dari pada pedang tapi Orang misterius itu begitu percaya diri tidak hanya menghindari tebasan Edgar, bahkan dia menggunakan pisau itu untuk menangkisnya dengan waktu yang tepat, dan memberikan serangan balik melayangkan tendangan beruntun pada Edgar lalu dengan cepat dia melompat mundur dengan berakrobat. Disaat itu pula dia menghindar dari hembusan sihir angin yang Silvi keluarkan di sela - sela pertarungan mereka.


Berulang kali Silvi menggunakan hembusan sihir anginnya, berulang kali juga orang misterius itu begitu lincah menghindarinya, namun itu membuatnya menjadi begitu terpojok karena terus - terusan menghindari tebasan Edgar dan sihir Silvi yang bergantian begitu padu.


“Apa kamu masih ingin melanjutkan melompat kesana kemari seperti itu?”


Ucap Edgar padanya mengancam situasi yang tidak menguntungkan untuknya.


Namun dia masih memberikan kejutan, dia melayangkan bilah pisau ke sudut langit ruangan, mereka memperhatikan pisau itu melesat cepat menuju sudut langit di belakang mereka dan apa yang Edgar pikirkan tentang jebakan itu ternyata benar, pisau yang dilayangkan itu membuatnya dapat mengaktifkan jebakan yang telah dia siapkan. Mereka berdua kini melihat pisau yang terbang ke arah mereka begitu banyak muncul dari balik bayangan.


Namun mereka berdua selamat karena Silvi dengan cepat mengeluarkan sihir yang membuat angin yang dikeluarkan itu menyerupai sebuah bola di menutupi sekitar mereka dan melindungi langit - langit menghentikan pisau itu.


Orang misterius itu mengeluarkan sebuah kantong kulit yang dia hempaskan ke tanah, dan menciptakan kepulan kabut asap yang mengurangi jarak pandang mereka tapi yang tidak Edgar duga justru orang misterius itu melemparkan banyak pisau, dari arahnya Edgar sadar kalau itu diarahkan pada Lilia yang tengah sendirian tidak terlindungi.


Edgar sontak terkejut, dia merasa tidak peduli dengan orang misterius itu, yang ada di pikirannya hanya mengejar pisau - pisau itu dia berusaha melindungi Lilia namun itu begitu terlambat karena pisau itu lebih cepat darinya dengan pandangan yang sulit itu Edgar hanya melihat pisau itu menembus kepulan asap, mengancam nyawa Lilia.

__ADS_1


Melihat mereka berdua yang tidak pada fokus padanya membuat orang misterius itu memanfaatkan situasi, dia mulai berlari dengan cepat menyelamatkan diri keluar dari ruangan ini melalui jalan lain yang sebelumnya Ludi dan Paman pemilik kedai tuju.


__ADS_2