Land Of Thorns

Land Of Thorns
Sebuah pesan bagian 3


__ADS_3

Di waktu yang sama saat Akhsan berada di halaman, terlihat Edgar tengah berada di ruang bacanya dengan tumpukan buku tersusun sedikit berantakan di dekatnya, dirinya begitu serius membaca tiap lembar buku yang dia temukan.


“Hem.”


Edgar merasa gusar menerima setiap informasi yang dia ambil dari dalam buku yang dia baca. Dia sudah membaca buku sejarah, teknologi, kesehatan bahkan novel, tapi bukan berarti dia membaca dengan cepat hanya saja dia mengambil poin - poin penting dari setiap buku.


Lilia mengintip dari balik pintu dengan membawakan secangkir teh masuk kedalam ruangan, terlihat dia mengendap - ngendap sehening mungkin berencana mengejutkan Edgar yang terlihat begitu fokus melihat - lihat buku di hadapannya.


‘Aku mengingat terobosan teknologi ini di dalam ingatanku.’


Edgar di dalam benaknya menyadari bahwa sejarah masih berjalan seperti apa yang ada dalam ingatan kehidupannya yang lain. Bahkan dia tercengang saat dia melihat sebuah buku yang baru dia ambil.


“Aku bahkan ingat dengan jelas buku novel ini!”


“Sampul dan isinya sama persis!”


Lilia terkejut mendengar nada Edgar terdengar kesal saat dia melihat hal yang simpel dari novel yang baru terbit di kerajaan ini, hanya untuk novel itu dia merasa kesal karena tidak dapat menikmati hiburan. Edgar merasa sakit kepala dia merebahkan kepalanya di atas meja menghela nafas begitu berat.


“Apa kamu sakit?”


Suara itu datang dari Lilia yang berencana mengejutkan Edgar tapi tidak jadi karena dia yang merasa terkejut saat Edgar berteriak, berada di sampingnya membawakan secangkir teh untuknya.


“..., aku baik Lilia, Terimakasih membawakanku teh.”


Edgar terdengar lesu dia menyesap perlahan minuman tehnya, dia merasakan teh itu sedikit berbeda dari yang biasanya Lilia bawakan untuknya. Lilia memperhatikannya seolah menunggu respon Edgar menyadari sesuatu yang berbeda dari minuman itu.


“Ini teh lemon!”


“Benar sekali, kamu suka itu?”


“Tentu saja, ini terasa begitu menyegarkan Lilia.”


“Bibi Melda bilang lemon bisa menghilangkan rasa lelah.”


Lilia tersenyum merasa senang melihat Edgar menyukainya, Edgar merasakan teh lemon itu tidak begitu asam, membuatnya menghabiskan minuman itu.


“Sebenarnya apa yang sedang Pangeran cari?”


Lilia melihat tumpukan buku yang dibaca oleh Edgar, Lilia merasa heran dan tidak mengerti apa yang sebenarnya Edgar cari karena subjek buku yang ada di hadapannya terlihat acak.


‘Aku rasa aku tidak bisa bilang kalau aku mencari kecocokan di dunia ini dengan apa yang aku ingat.’


Edgar membayangkan sekilas beberapa skenario di kepalanya jika dia memberitahukan Lilia kalau dia menjadi seorang Raja di kerajaan ini yang sudah begitu tua dan tiba - tiba terbangun seperti jiwanya ditarik mundur ke masa sekarang dengan ingatan yang cocok seperti apa yang terjadi saat dia menjadi Raja, walaupun jalan takdirnya sedikit berubah.


‘Aku tidak mau dia menggapku berbohong.’


Saat dia memikirkan skenario memberitahukan kebenaran nya dan Lilia tampak tidak percaya serta Lilia menangis tersedu - sedu menjauhinya, karena selama ini sudah merasa dibohongi dengannya.

__ADS_1


‘Membayangkan itu yang paling membuatku jengkel.’


Dia membayangkan jika memberitahukan Lilia dan Lilia terlihat mengasihaninya, dengan tertawa mengejek menganggap dirinya aneh. Dia merasa tidak ingin dianggap aneh dengan orang tidak beres, itu membuatnya kesal memikirkannya.


“Pangeran?”


Lilia memanggilnya memecah lamunan Edgar yang dari tadi membayangkan untuk memberitahukan padanya atau tidak. Dia menghela nafas.


“Apa.”


“Apa?”


“Ya apa!”


“Apa yang sebenarnya sedang Pangeran cari?”


Edgar tampak cemberut karena merasa harus menjawab pertanyaannya Lilia, tapi Edgar tahu jika dia tidak menjawabnya malah akan membuat dia semakin banyak tanya, belum lagi wajahnya sudah terpacar rasa penasaran dengan niatan seperti ingin membantunya.


“Penyihir …, aku sedang mencari buku tentang penyihir.”


“Pangeran percaya mereka ada?”


“Tentu, walaupun jumlah mereka hanya sedikit.”


Edgar tidak bisa menjelaskan kenapa penyihir di tahun - tahun ini masih bersembunyi sebagai organisasi rahasia, dia hanya berpikir kalau sepertinya penyihir punya dunia mereka sendiri di luar dari kerajaan manusia biasa yang mereka tinggali, karena alasan itu yang membuat mereka tidak terlihat jejaknya membuat orang tidak tahu keberadaan mereka. Edgar merasa menyesal tidak menanyakan masalah penyihir pada asistennya waktu itu.


‘Apa ini berhubungan dengan pesan Albert.’


Edgar yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu membuat Lilia memperhatikan begitu heran. Dia merasa hanya melihat bayangan yang pudar saat mencoba mengingat asistennya.


“Sepertinya aku harus meminta bantuanmu Lilia.”


Ketika Edgar memperhatikan Lilia yang menatapnya, Edgar merasa mengingat pesan yang Albert berikan padanya dan setidaknya merasa kalau Lilia harus melihat isi pesan itu. Edgar mengeluarkan pesan itu dari sakunya dan menunjukan pesan itu pada Lilia.


“Apa ini?”


“Baca saja. Tapi pelankan suaramu.”


“Saat ini kerajaan dikendalikan oleh penasihat kerajaan, dengan jumlah fraksi bangsawan yang semakin banyak mendukung di belakangnya membuat fraksi kerajan tidak memiliki kekutaan, bangsawan korup yang berlindung di fraksi itu membuat negeri ini memburuk dengan pemberontakan, serta kelaparan. Informasi tentang dirimu dan Raja dijaga ketat oleh mereka, masih banyak yang harus Pangeran ketahui, kami sedang meminta bantuan dengan bangswan dari fraksi kerajaan untuk menyelamatkanmu, mintalah Lilia untuk pergi ke pandai besi yang bernama tulang besi jika ada hal penting yang ingin kamu ketahui.”


“Apa kamu mengerti?”


“Pangeran memintaku untuk … pergi ketempat yang dimaksud?”


“Sudah kuduga kamu tidak mengerti.”


Melihat Lilia menjawab dengan wajahnya yang sedang melongo memperhatikannya itu membuat Edgar menepuk keningnya merasa menyesal menanyakan itu pada Lilia.

__ADS_1


‘..., ini gila dan cukup sulit Albert!’


Edgar menduga kalau Lilia tidak tahu apa - apa tentang situasi kerajaan ini karena kebanyakan dia hanya mendengar cerita dari orang lain, apalagi dengan ketatnya informasi saat ini, membuatnya terlihat jelas kalau kemampuan observasinya cukup payah.


Masalahnya siapa juga yang mau melakukan pekerjaan membosankan mengurus orang yang tertidur koma, walaupun itu pekerjaan mudah. Namun karena justru itu mudah yang menjadi alasan kenapa Lilia bekerja merawat orang koma. Edgar merasa sedikit mengerti alasan Lilia bekerja di tempat ini.


“Apa kamu mengerti kenapa aku selalu berada dirumah ini?”


“Apa pangeran selalu ada dirumah? Bukankah itu membosankan?”


“Itu dia, karena mereka melarangku untuk pergi keluar.”


“Benarkah? Aku rasa apa yang para prajurit katakan itu benar.”


“Apa yang kamu dengar?”


“Mereka bilang kalau kalau akan memperkuat keamanan karena kabarnya ada pihak yang mengincar nyawa Pangeran.”


Melihat Lilia menjawabnya begitu polos membuat Edgar menyadari suatu hal ketika mendengar Lilia mengatakan hal itu kepadanya yang membuatnya tersenyum geli menahan tawa merespon ucapkan Lilia. Edgar sadar bahwa Lilia tidak mengerti situasi politik kerajaan saat ini.


‘Bukannya itu lucu kalau dia mengetahui pembunuh bayaran itu dirumah ini.’


Dengan masih mencoba menahan tawanya Edgar beranjak dari tempat duduknya. Dia berulang kali menepuk pundak Lilia, seperti ada yang lucu saat melihatnya.


“..., maaf Lilia. Sepertinya aku telah salah menyikapimu.”


“Maksudnya Pangeran?”


Tergambar jelas di wajah Lilia terlihat semakin bingung merasa tidak menangkap apa yang dibicarakan oleh Edgar, kemudian Edgar bergerak menghindarinya merasa ingin pergi dari tempat ini.


“Tidak ada, aku hanya merasa tidak mungkin memintamu untuk pergi ke tempat itu.”


“Yasudah! Kenapa tidak minta orang lain untuk pergi kesana!”


Edgar yang hendak pergi menghentikan langkahnya, dia terdiam saat mendengar jawaban Lilia yang tampak kesal merasa di ejek olehnya.


‘Benar juga!’


Apa yang ada di pikiran Edgar karena merasa di tempat ini dia tidak memiliki orang lain yang bisa dipercaya. Dia harus berasumsi kalau pekerja di rumah ini adalah musuhnya kecuali Lilia yang dia ketahui latar belakangnya.


Lilia yang merasa diabaikan merasa penasaran kenapa Edgar hanya berdiam diri, membuatnya mendekat berada di hadapan Edgar, dia melihat Edgar tampak sedang berpikir.


Lilia yang seperti itu membuat Edgar menatapnya begitu serius dengan tangan yang menopang dagunya ketika berpikir yang membuat Lilia merasa semakin canggung diperhatikan seperti itu.


Edgar sebenarnya sedang memikirkan suatu hal di kepalanya seperti sedang merencanakan sesuatu.


“Baiklah Lilia aku punya permintaan!”

__ADS_1


Edgar tiba - tiba menangkap pundak Lilia dengan kedua tangannya yang membuat Lilia terkejut dan tersipu malu karena melihat wajah Edgar dihadapannya semakin dekat.


__ADS_2