
Mereka tiba di sebuah rumah kecil tempat Jonas dan nenek tinggal. Rumah kayu yang terlihat dari luar tampak kotor itu begitu berbeda saat di lihat dari dalam, ruangan utama rumah ini terlihat begitu rapih, bersih dan tertata begitu baik, walaupun lantai rumah ini terbuat dari kayu yang sudah terlihat begitu lapuk, tapi tetap saja bagi Lilia yang sering membersihkan, tempat ini terbilang baik baginya.
“Woah! Tempat tinggal ini terasa begitu nyaman dihuni … bahkan aku tidak sedikitpun melihat debu di rumah ini! Apa kamu yang selalu membersihkannya Jonas?”
Lilia yang begitu terpukau menyentuh setiap sudut ruangan rumah kecil ini yang begitu bersih.
“Iya, nenek begitu mudah alergi dengan debu jadi aku selalu mencoba membuat ruangan ini selalu bersih dan nyaman untuknya.”
“Bukankah itu hebat … topi anyaman ini begitu cantik, apa nenek yang membuatnya?”
Lilia mengambil sebuah topi dengan anyaman corak bunga di bagian depan saat dia melihat beberapa topi anyaman di sekitarnya yang tampak selesai begitu bagus tergeletak di pojok ruangan dengan tanaman merambat kering tersusun rapih di dekatnya.
“Jangan! Ini … aku yang membuatnya.”
Melihat Lilia yang memakai topi tersebut membuat Jonas dengan cepat mengambilnya, dia terlihat menunduk malu sambil menyembunyikan topi itu di balik tubuhnya.
“Eh … kenapa?”
“Ini belum selesai! Lagipula bukankah itu terlihat aneh laki - laki membuat sesuatu yang cantik seperti itu.”
“Memang apa masalahnya? Itu sudah benar - benar terlihat cantik.”
Celine yang mengendap di belakang Jonas tiba - tiba mengambil topi tersebut darinya, Celine terlihat begitu menyukai memakai topi itu di kepalanya membuat Lilia yang melihatnya tersenyum.
“Benarkan! Bahkan Celine juga menyukainya.”
Senyuman Lilia kembali ditujukan pada Jonas, pujian itu semakin membuat Jonas merasa malu.
“Ayo Patricia kita akan memasak sup kentang yang nikmat.”
Nenek mengatakannya sambil berjalan santai menuju dapur.
“Mari kita masak!”
Teriak Lilia dan Celine bersama menyusul nenek dari belakang. Jonas yang melihat mereka bertiga langsung mencegah mereka dan mengarahkan mereka untuk duduk di meja makan yang berada di ruangan utama.
“Jangan nenek. Apa nenek lupa kalau penglihatan nenek sudah buruk!”
“Maaf mbakyu, terakhir kali nenek memasak hanya membuat dapurnya menjadi berantakan. Aku yang akan memasak dan aku juga tidak mau merepotkan kalian. Jadi tolong temani nenek disini ya.”
Ucap Jonas lirih meminta Lilia, mendengarnya membuat Lilia mengangguk mengerti.
Sebuah keberuntungan bagi Jonas karena jika Lilia dan Celine ikut membantu di dapur mungkin hanya akan menyebabkan kekacauan nantinya saat memasak.
Jonas meminta Lilia duduk di meja makan, di meja tersebut ada sebuah pot bunga kecil yang kosong dengan gambar bunga - bunga kecil yang mengitarinya, hingga membuat Lilia begitu tertarik memperhatikannya.
“Lukisan di pot bunga ini begitu cantik, apa ini juga kamu yang membuatnya?”
“Bukan, itu kakakku yang membuatnya!”
“Apa maksudmu kakakmu itu Patricia yang nenek mengira itu adalah aku? Potnya benar - benar cantik, lalu dimana dia sekarang?”
“Dia dan Nina … sudah tidak ada.…”
“Oh … maaf membuatmu mengingat mereka.”
“Tidak apa.”
Jawaban Jonas terdengar begitu lirih membuat Lilia yang mendengarnya hanya duduk terdiam merasakan suasana yang hening.
Setelah sekian lama Jonas selesai memasak makananya dia menghidangkan bubur gandum dengan rebusan kentang yang menjadi kuahnya. Aromanya begitu lezat hingga membuat Celine menjatuhkan air liurnya tergoda untuk memakannya.
__ADS_1
“Maaf jika aku hanya bisa menghidangkan makanan ini, selamat menikmati!”
Setelah Jonas mengatakan dia tidak menyangka kalau mereka menikmati makanan tersebut begitu lahap menikmati setiap sendok yang masuk kedalam mulut mereka, bahkan Nenek yang selalu terbiasa menyantap makanan nya terlihat tersenyum kegirangan.
Celine bahkan terlihat menjulurkan mangkuk kayu yang dia gunakan untuk meminta tambah, tidak mau ketinggalan Lilia juga mengikutinya meminta tambah melihat ke arah Jonas dan berpikir tidak menyangka kalau dia begitu mahir dalam memasak dan mengurus rumah, merasa kalau dia lebih mahir darinya.
“Hanya makanan rumahan tapi masakanmu begitu lezat, kenapa kamu tidak membuka sebuah restoran Jonas!”
Keluar dari mulut Lilia secara tiba - tiba saat Jonas memberikan mangkuk yang terisi penuh makanan.
“Terimakasih mbakyu. Tapi aku rasa itu tidak mungkin, hanya mendapatkan uang untuk makan saja aku sudah begitu bersyukur.”
“Kamu terlihat seperti orang yang pemalu! Kenapa juga kamu selalu memanggilku mbakyu. Kamu bisa memanggilku kakak atau Lilia jika kamu mau.”
“Aku rasa itu tidak sopan, melihat pakaianmu yang bagus pastinya kamu seorang pelayan bangsawan sedangkan aku hanya rakyat jelata.”
“Aku tidak mengerti, kenapa kamu berkata seperti itu.”
Jonas tersenyum malu mengatakan itu sambil mengelus lehernya mencoba rileks.
Setelah sekian waktu mereka selesai menyantap makan, Jonas kembali melakukan pekerjaannya menganyam dengan nenek di dekatnya sedang memilin tanaman merambat kering untuk menjadi bahan anyaman yang kuat. Lalu di belakang Jonas ada Lilia dan Celine yang tidak sempat pulang karena begitu serius melihat Jonas yang sedang menganyam membuat topi.
“Jadi seperti itu membuatnya, kamu begitu mahir melakukannya. Setelah jadi lalu anyaman topi itu kamu jual ke pasar?”
“Tidak juga, aku rasa kakakku lebih mahir melakukan ini.”
“Tapi aku rasa jika dia melihat hasil anyaman ini pasti dia akan senang juga, aku yakin itu!”
Apa yang dikatakan Lilia membuat Jonas merasa begitu senang mendengarnya, merasa begitu percaya diri saat ada seseorang yang tidak menganggap dirinya aneh karena membuat topi cantik.
“Aku rasa sebentar lagi mulai gelap, sebaiknya kalian segera pulang.”
Pinta Jonas pada mereka berdua karena merasa cahaya matahari yang masuk semakin menjadi redup.
Lilia tersenyum melihat nenek seraya berpamitan meskipun nenek tampaknya tidak mendengar mereka karena begitu fokus memilin, Jonas yang mendengar hanya tersenyum kecil merasa tidak enak dan berkata pada mereka.
“Maaf nenek selalu begitu jika dia sudah fokus memilin, karena penglihatannya buruk jadi dia hanya mengandalkan indra perabanya untuk membuat itu tetap rapi.”
“Woah, Nenek seorang pengrajin handal! Baiklah, kami permisi dulu kalau begitu Jonas, lain waktu kami akan mampir lagi.”
Pamit Lilia pada Jonas sambil menggandeng Celine mengajaknya pulang, namun di saat mereka hendak menuju pintu tiba - tiba seorang mendobrak pintu rumah hingga membuat mereka yang berada di dalam terkejut mendengarnya.
Mereka melihat dua orang pria besar bertampang garang masuk kedalam rumah dan di ikuti dengan seorang pria paruh baya dengan pakaian yang tampak mahal serta banyak perhiasaan emas dan permata yang dia kenakan, pria itu memperhatikan Lilia dengan seksama disaat dia berjalan masuk.
“Apa yang kalian lakukan masuk kerumah orang secara tiba - tiba seperti itu!”
Teriak Lilia pada mereka yang terlihat begitu tidak sopan di rumah orang lain, apa yang Lilia katakan tidak digubris oleh mereka, Pria dengan pakaian mewah itu hanya memalingkan wajah mengabaikannya dan mengatakan pada Jonas.
“Mana? Sudah aku bilang padamu kalau sore ini aku akan menagih! Sudah berapa lama hutangmu jatuh tempo!”
“Apa uang yang aku berikan itu tidak cukup? Kami sudah tidak memiliki apa - apa lagi!”
Pria itu tampak seperti seorang Rentenir yang sedang menagih pada Jonas, terlihat Rentenir tersebut mendekat ke arah meja makan dan mengambil pot yang ada di atas meja dan memperhatikan pot tersebut begitu detail sambil berkata.
“Tapi itu hanya cukup untuk membayar bunga bunganya, tidak dengan hutang pokoknya.”
“Kamu gila! Bagaimana kami bisa melunasi hutangnya jika seperti itu!”
“Apa kamu bilang aku gila! Tidak ada yang menyuruh kakakmu berhutang….”
Rentenir tersebut terlihat marah dan melemparkan pot tersebut ke kepala Jonas membuatnya berdarah dan membuat pot tersebut hancur.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan pada Jonas dan pot berharga itu milik Patricia kenapa kamu menghancurkannya!”
Teriak Nenek yang melihat saat pot itu mengenai Jonas membuatnya terlihat murka dan mendekat menyabet Rentenir tersebut menggunakan tanaman merambat yang sedang dia pilin, apa yang dia lakukan membuat Rentenir itu kesakitan dan membuatnya semakin kesal menendang nenek hingga terjatuh.
“Apa yang kamu lakukan terhadap orang tua!”
Lilia langsung melindungi Nenek saat Rentenir itu hendak kembali menendangnya, dan diikuti dengan Celine yang memeluk erat kakinya untuk menahan.
“Hoi apa yang kalian lakukan, jangan hanya diam saja! Lakukan sesuatu terhadap dua gadis ini!”
Perintah Rentenir itu pada dua orang berbadan besar yang bersamanya. Dia berulang kali mengayunkan kakinya hingga membuat Celine terpental ke arah Lilia.
Ugh!
“Apa yang kamu lakukan pada Celine! Apa kamu tidak sadar kalau dirimu bajingan.”
Dua orang pria berbadan besar menghampirinya dan langsung menahan Lilia memang begitu erat.
“Hentikan! Aku mohon lepaskan dia … mereka tidak ada urusan denganmu!”
Teriakan Jonas menghentikan dua orang berbadan besar itu yang sedang menahan Lilia dan Celine sambil dia menahan sakit di pelipisnya yang terlihat berdarah akibat pot yang dilempar ke arahnya.
“Hei! Lepaskan aku!”
Lilia meronta berusaha melepaskan diri dari pria besar yang menahannya, Lilia terlalu lemah untuk bisa melepaskan diri dari mereka sehingga hanya membuatnya lelah sendiri melakukan itu.
Rentenir itu mendekat ke arahnya Lilia yang merasa kesal menendang ke arah selakangan yang membuat Rentenir tersebut nyeri kesakitan. Apa yang Lilia lakukan membuatnya tampak kesal selagi menahan nyeri, Rentenir itu reflek memukul Lilia di kepala dengan kuat hingga membuat Lilia pingsan.
“Gadis biadab! Rasakan itu!”
Rentenir itu terlihat kembali memukul Lilia yang telah pingsan, Jonas begitu tidak kuasa melihatnya dan dengan wajah sedihnya dia mengambil kantong uang begitu kecil yang dia sembunyikan di bawah meja dan dengan cepat menghampiri Rentenir tersebut.
“Aku mohon hentikan itu, ini yang kamu mau kan!”
Jonas memberikannya, membuat Rentenir itu menghentikan dirinya dan mengambil kantong uang itu, dia melihat dari ukurannya sudah membuatnya mengira kalau jumlahnya hanya sedikit.
“Apa cuma segini yang kamu punya?”
“Aku sudah bilang padamu, bagaimana aku bisa membayar hutang itu kalau kamu terus menagih bunganya!”
“Tidak usah belaga keren! Ini semua tidak akan terjadi jika kamu cepat membayar hutangmu. Kita pergi dari tempat ini, dan bawa mereka!”
Pinta Rentenir itu pada dua orang pria besar yang membuat mereka mengikuti perintahnya, mereka membopong Celine dan Lilia.
“Hoi! Apa yang kamu lakukan lepaskan mereka, aku sudah bilang kalau mereka tidak ada urusan denganmu.”
Jonas berusaha melawan pria besar tersebut untuk melepaskan Lilia, hanya sekali tendangan ke arah perut dari pria besar itu sudah membuat Jonas muntah dan tersungkur ke lantai.
“Ini dan itu adalah masalah yang berbeda, saat ini mereka adalah masalah buatku. Jadi tidak usah banyak bicara dan tidur saja dilantai!”
Bisik Rentenir itu pada Jonas yang tersungkur tidak bedaya yang dia ditambah semakin tidak berdaya lagi dengan menendang tepat ke arah pipi Jonas dan dia merasa tidak dapat berbuat apa - apa saat melihat mereka pergi keluar meninggalkan rumahnya.
“Pastikan kamu menyiapkan uangnya 3 hari lagi!”
Pamit Rentenir itu begitu arogan walaupun dia berjalan sambil menahan nyeri akibat tendangan Lilia sebelumnya.
“Bos, apa yang harus kita lakukan pada gadis ini!”
Bisik pria besar di dekatnya yang sedang membopong Lilia dengan wajah tampak bingung.
“Bawa saja dia ke markas bandit, aku tahu kalau mereka melakukan hal mengerikan terhadap gadis dan anak - anak yang mereka culik! Aku akan puas kalau mereka merasakan mimpi buruk.”
__ADS_1
Haha!
Tawa Rentenir itu terlihat begitu bahagia hingga membuat gema di jalan kecil depan rumah hingga dia tidak menyadari ada seorang yang bersembunyi di balik bayangan tembok di dekatnya tengah memperhatikan mereka dengan seksama saat keluar dari rumah tersebut.