Land Of Thorns

Land Of Thorns
Pertemuan tidak terduga bagian 2


__ADS_3

Isi dari pesan yang Edgar baca yang membuatnya langsung tiba - tiba bangkti dari duduknya melihat ke arah pintu keluar, namun dia tidak melihat orang itu lari kemana. Menurutnya ini merupakan sebuah petunjuk, seseorang yang menulis pesan ini menyangkanya seorang penyihir yang artinya dia tahu kalau penyihir itu ada.


“Tunggu disini sebentar, aku akan kembali!”


Pinta Edgar dengan wajah seriusnya melihat Ludi karena dia akan keluar dari kedai mengejar orang misterius yang memberikannya kertas ini.


Edgar keluar dari kedai dan dia melihat ke arah sekitarnya mencari orang misterius itu.


Dia melihat orang misterius itu berlari menuju ke sebuah gang kecil yang membuat Edgar mengejarnya hingga masuk ke dalam gang kecil.


Di gang itu dia melihat orang misterius itu berdiri mematung di hadapannya, seperti dia memang sudah menunggu Edgar mengejarnya hingga ke tempat ini. Orang misterius itu membuka tudung kepala yang menutupi wajahnya.


‘Ha! Gadis itu!’


Edgar melihat kalau orang misterius itu adalah seorang Gadis berambut perak yang mencuri uang darinya, Edgar yang merasa geram dengan gadis itu membuat Edgar mendekatinya dan mencengkram kerah pakainya karena merasa kesal sudah mendapatkan balasan buruk dari orang yang dia tolong.


Gadis itu terlihat tampak pasrah saat Edgar mencengkramnya, ditambah Edgar melihat Gadis itu menutup mata dengan pasrah seperti itu dihadapannya, membuat Edgar menghentikan dirinya mencoba menahan diri.


Edgar berpikir kalau Gadis ini benar - benar mencuri darinya tidak mungkin dia menunjukan wajahnya lagi, namun dia malah muncul dan memberikan pesan yang menarik perhatian Edgar karena dia mengira dirinya seorang penyihir.


Itupun membuat Edgar merasa kalau dia harus mencari tahu sebelum bertindak lebih jauh.


“Kenapa kamu mencuri dariku, dan kenapa kamu mengira aku seorang penyihir!”


Edgar tahu kalau Gadis itu tidak mungkin bisa menjawabnya dengan berbicara langsung kepadanya, tapi Edgar mengatakan itu hanya untuk meluapkan kekesalannya.


‘Apa yang dia lakukan?’


Gadis itu tiba - tiba semakin mendekati Edgar yang membuatnya kaget dan reflek melangkah memundurkan dirinya, tapi kemudian Edgar terdiam melihat dia yang tampak memasang wajah polos dengan kedua tangannya yang seperti akan menyentuh kedua pipinya.


‘Apa kamu dapat mendengarku?’


‘Ha! Bagaimana aku bisa mendengar suaramu?’


Suara Gadis itu tiba - tiba muncul di dalam pikiran Edgar saat kedua tangannya menyentuh pipi Edgar. Dia melihat Gadis itu tampak tersenyum senang di hadapannya karena bisa berkomunikasi dengan dirinya.


‘Apa yang kamu lakukan?’


‘Aku berbicara dalam pikiranmu.’


“Bagaimana bisa!”

__ADS_1


Edgar melangkah mundur melepaskan diri dari Gadis yang menyentuhnya karena tampak masih terkejut merasa tidak percaya. Gadis itu kembali menyentuhnya lagi.


‘Apa kamu percaya sekarang?’


‘Iya aku rasa … apa kamu seorang penyihir?’


Mengingat keanehan yang dilakukan pada Gadis ini sebelumnya membuat Edgar mengerti kalau gadis ini merupakan seorang penyihir.


‘Iya … kamu seorang penyihir juga bukan?’


‘Aku bukan penyihir, tunggu … kenapa kamu mengira aku seorang penyihir?’


‘Roh Peri yang mengatakan kepadaku saat kamu menyelamatkanku.’


‘Apa itu Roh peri?’


‘Iya Roh peri, sebuah makhluk sihir … ini aneh jadi kamu tidak bisa melihat Roh peri di sekitarku?’


Edgar kelihatan tampak bingung melihat di sekitar anggota badan Gadis itu, karena tidak melihat satupun Roh peri yang dimaksud.


‘Tunggu … aku tidak merasakan aliran sihir alam darimu tapi … apa ini sihir mistik?’


‘Roh peri yang memintaku, dia bilang kalau kamu membutuhkan itu nantinya tapi bandit akan merampok uang itu darimu.’


‘Bandit? Bukannya itu karena aku mengejarmu jadi aku ikut berurusan dengan bandit itu! He! … apa Roh peri bisa melihat masa depan?


Edgar terlihat sedang berpikir mengingat kejadian sebelumnya, Edgar merasa walaupun dia tidak mengejarnya dia pasti masih berurusan dengan 3 orang bandit bodoh itu.


Tapi karena Gadis ini sedang dikejar pasukan bandit dan melintas di hadapannya, ada kemungkinan kalau 3 orang bandit bodoh itu merupakan komplotan bandit yang sama, karena mendengar penjelasan Ludi soal bandit di kota yang meresahkan dan pasti mereka akan membantu 3 orang bodoh itu.


‘Jadi siapa namamu?’


‘Kamu bisa memanggilku Silvi.’


‘Lalu kenapa kamu dikejar mereka?’


‘Sebenarnya aku dapat berbicara dan mendengar, hanya saja aku mendapatkan kutukan dari seorang penyihir jahat, yang membuat 1 getaran suara tidak akan bisa menggapaiku, dan aku mendapatkan petunjuk kalau bandit di tempat ini mencuri pusaka milik Roh angin.’


‘Jadi kamu berniat mengembalikan pusaka itu dan meminta Roh angin mencabut kutukanmu?’


‘Iya seperti itu … tapi aku rasa mereka tahu kalau aku seorang penyihir dan mereka berniat menculikku, seperti bandit dan juga pengendara kereta kuda itu.’

__ADS_1


‘Seperti itu ya, pantas saja aku merasa ada yang aneh dengan kusir kereta kuda itu.’


‘Iya seperti itu, ketika Roh peri bilang padaku merasakan sihir darimu aku pikir kamu seorang penyihir dan bermaksud meminta bantuanmu. Itu terdengar aneh, seorang manusia biasa tapi kamu tampak tidak terkejut melihat penyihir … apa ini ada hubungannya dengan sihir mistik yang ada padamu?’


Edgar kembali merasa bingung karena dia tidak begitu mengerti mengapa sihir mistik ada dalam dirinya, dia hanya tahu yang membedakan manusia dan penyihir itu berada di dalam tubuh yaitu sihir alam yang mengalir di darah mereka. Seorang manusia biasa tidak akan pernah bisa menggunakan sihir jika memang tidak ada sihir alam yang mengalir di darah mereka.


‘Mungkin sihir mistik itu ada hubungannya dengan yang terjadi padaku saat ini. Apa ada sebuah sihir yang membuatmu bisa melihat masa depan hingga jauh berpuluh tahun?’


‘Aku belum pernah mendengar sihir itu, tapi mungkin para tetua tahu yang kamu maksud, mungkin akan aku cari tahu jika urusanku sudah selesai disini.’


Edgar tidak menyadari kalau Ludi menyusul dirinya karena Ludi tampak merasa penasaran melihat Edgar yang tiba - tiba keluar dari kedai.


Bagi Edgar dan SIlvi mereka terlihat berbincang panjang lebar seperti orang normal, tapi bagi Ludi yang melihat mereka saat ini mereka seperti sepasang kekasih yang bermesraan di gang yang gelap.


“Aku tidak menyangka teman, jadi kamu lebih memilih Gadis cantik itu daripada mengobrol bersamaku!”


“Hah! Ludi … sejak kapan kamu?”


“Sejak kamu keluar dari kedai … dari tadi aku sudah menunggu, apa kamu tidak jadi menciumnya?”


Ludi yang masih dalam kondisi pengaruh alkohol membuatnya mengira mereka tampak akan berciuman, karena dari tadi melihat wajah mereka begitu dekat apalagi melihat Silvi menyentuh pipi Edgar dengan tatapan yang menggoda.


‘Apa tidak ada cara lain selain menyentuh pipiku?’


‘Sebenarnya anggota badan lain pun bisa, tapi lebih dekat ke otak lebih baik’


Edgar langsung mencoba melepas sentuhannya karena tidak mau menjadi tontonan Ludi yang dari tadi masih memperhatikannya tampak masih menunggu mereka melakukan apa yang dia pikirkan.


‘Tunggu, aku belum tahu namamu?’


“..., namaku Edgar. Aku rasa aku akan membantumu mendapatkan apa yang kamu cari, karena aku juga punya urusan dengan bandit - bandit itu.”


Silvi memperhatikan gerak bibir Edgar dengan seksama, walaupun begitu cepat tapi dia tahu apa yang sedang Edgar bicarakan.


“Apa yang kamu maksud bandit Edgar?”


Tanya Ludi yang tampak bingung.


“Itu yang mau aku bicarakan sebelumnya padamu, kita bicarakan hal ini di dalam kedai saja!”


Silvi tersenyum padanya, dia merasa kalau dia membuat pilihan yang tepat karena Edgar akan mencoba membantunya, dia melihat Edgar tampak memintanya untuk mengikuti mereka berdua masuk kedalam kedai.

__ADS_1


__ADS_2