
Selepas berolahraga pagi Edgar merasa fisiknya sudah makin baik dari hari ke hari apalagi, dia merasa sudah berada di dalam kondisi yang begitu prima. Saat ini Edgar berada di ruangan makan sedang menyantap sarapan paginya dengan Lilia yang berdiri di dekatnya, mencuri pandang dari tadi.
Edgar merasa tidak begitu mengerti tapi akhir - akhir ini Lilia menatapnya seperti itu dengan wajahnya yang memerah terlihat jelas dari kulitnya yang putih, Edgar berpikir bahwa mungkin Lilia sedang sakit dan merasa malu untuk bilang padanya, karena hanya dia yang bertugas mengurus kebutuhannya sendirian, itu kelihatan seperti tugas yang berat jika dikerjakan seorang diri.
Dia merasa menyantap hidangan sendirian itu terlihat aneh di meja makan yang cukup besar ini, walaupun begitu dia merasa kalau rumah besar ini tidak terlalu sepi seperti apa yang dia bayangkan, meskipun hanya Lilia yang bertugas sebagai pelayan peribadinya, tapi rumah besar ini juga berisikan pekerja yang tinggal di rumah besar ini, seperti pembantu, juru masak, tukang kebun, serta beberapa prajurit yang berjaga.
‘Sampai kapan aku berada di tempat ini!’
Mengingatnya membuat dia sadar bahwa prajurit yang ada di rumah besar ini bukan bertugas untuk menjaga rumah ini dari orang mencurigakan atau pencuri yang mencoba masuk, melainkan bertugas untuk membuat dirinya tetap berada di dalam. Karena saat dia ingin melihat - lihat kota mereka selalu melarangnya dengan alasan keamanan.
Sudah beberapa kali dia mencoba mengendap - ngendap keluar, entah mengapa dia selalu tertangkap basah belum lagi saat dia yakin dia berhasil keluar dari tempat ini tiba - tiba ada seorang pelayan yang memergokinya.
Biarpun begitu Edgar merasa tidak ada pilihan lain selain mengikuti situasi yang ada saat ini, lagi pula kebutuhan yang dia perlukan sebisa mungkin akan terpenuhi selama dia tinggal disini, tidak ada salahnya memanfaatkan hak itu untuk saat ini, walaupun dia kekurangan informasi terhadap dunia luar.
Lagi pula menjadi seorang bangsawan itu cukup rumit, walaupun dia sadar dirinya menjadi seorang tahanan rumah, dia tidak bisa mengabaikan rumah ini yang tampak tidak terawat karena kekurangan orang yang mengurusnya. Itulah sebabnya beberapa hari ini tempat ini terlihat cukup hidup walaupun dia belum mengenal wajah - wajah baru yang dipindah tugaskan disini.
Memikirkan beberapa hari yang berat itu membuatnya kehilangan nafsu makannya, Edgar teringat seseorang yang biasanya mengganggunya tidak terlihat pagi ini.
“Aku tidak melihat Celine pagi ini.”
“Pangeran mencarinya?”
“Tidak juga.”
“Dia sedang menemani Bibi Melda berbelanja.”
“Aku tidak tanya dia dimana.”
“Aku tahu, aku hanya memberitahumu.”
Edgar mengingat nama itu, Bibi Melda yang bekerja di dapur sebagai juru masak, Edgar merasa tidak percaya sihir seperti apa yang anak itu gunakan hingga membuat orang lain menyukainya, belum lagi mengingat kemarin mereka sudah mengacaukan dapur tempatnya bekerja.
Dia merasa kalau tempat ini terdengar begitu berisik dengan banyak langkah kaki yang cepat terdengar menuju ruangan makan ini. Edgar melihat prajurit masuk ke ruang ini, mereka terlihat sedang mencegah seorang pria tua dengan pakaian pelayan mengganggu sarapan paginya.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka Pangeran Edgar.”
“Betapa bahagianya pria tua ini melihatmu sembuh.”
Pria tua itu adalah Albert, yang baru saja datang dan secara tiba - tiba memeluknya begitu haru, Edgar merasa terkejut dan senang bisa bertemu dengannya, apa yang dipikirkan Edgar sepertinya salah, karena melihat dia mengenakan pakaian itu sepertinya dia belumlah pensiun walaupun tidak tahu dia bekerja dimana saat ini.
“A-a-albert kamu terlalu dekat! aku bisa pingsan karena sesak nafas.”
Pelukannya terlalu erat membuat Edgar merasa susah bernafas, melihat hal itu membuat Lilia tersenyum dengan tawa geli melihat apa yang mereka lakukan yang membuat Albert kembali tersadar dan menjaga ketenangannya, merasa tidak ingin membuat Edgar kehilangan muka dengan bawahanya.
“Ahem. Maaf Pangeran, aku tidak bisa menahan betapa bahagia nya setelah bertahun - tahun lamanya hanya melihat Pangeran terbaring tidak sadarkan diri.”
“Bukan masalah, lagipula tahun - tahun itu jelas terlihat di rambutmu yang sekarang penuh uban Albert.”
Edgar merasa senang mendengar Albert mengatakan itu membuatnya tahu kalau Albert tidak meninggalkan dirinya selama ini, walaupun saat ini bukan dia yang mengurus dirinya.
Karena tidak ingin merusak reuninya Edgar terlihat meminta prajurit yang ada di hadapannya untuk meninggalkan ruangan ini, karena sebenarnya Edgar curiga kalau prajurit itu melarang orang luar untuk bertemu dengannya, tapi beruntung Albert berhasil bertemu dengannya, yang membuat prajurit itu tidak mungkin melawan dirinya.
“Ada sesuatu yang harus kamu ketahui Pa-,”
Albert menghentikan ucapannya saat sadar ada seseorang pelayan lainnya yang berada di dekatnya, Pelayan itu berkulit sedikit gelap dengan sedikit ekspresi yang ditunjukan, dia masuk membawakan teh yang baru beserta gelas tambahan untuknya, Dia seperti sudah mempersiapkan itu karena sudah tahu Albert akan datang sebelumnya.
‘Pelayan brengsek itu? Sejak kapan dia disini’
Itu yang ada di pikiran Edgar saat dia melihatnya, seorang Pelayan yang berkulit gelap itu bernama Akhsan yang Edgar belum mengenalnya tapi pelayan itu sudah sering mengganggunya saat dia berusaha mengendap pergi dari rumah ini.
“Bukankah bagus jika bercerita ditemani dengan teh hangat Tuan ”
Edgar tidak terbiasa melihat senyum pelayan itu yang tampak kaku, dia mencoba mengabaikan itu dan terlihat memintanya untuk menaruh itu di meja, walaupun sudah begitu dia terlihat masih di ruangan ini bahkan berpindah tempat berdiri di samping Lilia.
Lilia tampaknya tidak mengetahui apapun tentang pelayan itu, dia malah tampak bersikap normal seperti biasa. Menganggap hal yang dilakukan Akhsan itu begitu wajar, hanya saja karena Edgar mengerti Lilia sedikit tidak beres, jadi Lilia tidak begitu mengerti dengan hal rumit seperti situasi saat ini.
Melihat dari Albert yang bergidik seperti itu ketika melihatnya membuat Edgar yakin Albert mengenal Akhsan, atau mengetahui sesuatu tentang dirinya. Tapi sepertinya bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu.
__ADS_1
“... Jadi dimana saja kamu selama ini Albert?”
“Ahem. Sebenarnya saat ini aku bekerja sebagai kepala pelayan di kastil utama.”
“Ternyata kamu masih mengabdi di keluargaku, aku pikir kamu telah lama pensiun Albert.”
“Maafkan aku Pangeran, pekerjaan di kastil membuatku begitu sibuk.”
“Oh, seperti itu? Pantas saja permintaan audiensi yang aku kirim tidak ada balasan, sepertinya ayahku…, terlalu sibuk ya?”
Albert melihat Edgar terlihat begitu serius melihat dirinya saat dia menanyakan ayahnya, belum lagi Albert merasakan nadanya terdengar seperti memastikan sesuatu yang tidak dia ketahui.
‘Sepertinya rasa khawatir pria tua ini percuma, kamu terlihat paham dengan situasimu saat ini Pangeran.’
Di dalam benaknya albert merasa bangga melihat Edgar saat ini yang terlihat begitu dewasa, karena sebelumnya Albert sempat merasa khawatir disaat mendengar kabar Edgar terbangun, dia yakin kalau nantinya Edgar akan ketakutan karena merasa sendirian. Dengan cepat Albert melanjutkan pembicaraan.
“Sebenarnya ayahmu saat ini sedang sakit.”
“Seburuk apa keadaannya?”
“Sangat buruk, kondisinya begitu terguncang dan lemah membuatnya kesulitan keluar dari kamarnya.”
“Bukankah melihat anaknya akan membuat perasaannya lebih baik?”
“Benar sekali Pangeran, tapi aku rasa dia ingin bertemu denganmu saat dirinya sudah membaik.”
Edgar tampak merasa mengerti dengan permainan kata ini, Karena melihat Albert yang begitu berhati hati dengan ucapannya, Edgar mengerti kalau saat ini situasi ayahnya tidak begitu berbeda dengannya, dan juga kalau kabar dirinya saat ini tidak diketahui oleh ayahnya.
“Jadi kapan aku bisa bertemu dengan ayahku, Albert?”
“Mohon bersabar Pangeran, jika memang sudah waktunya dia akan mengabarimu.”
Edgar mendengar itu membuatnya sedikit tersenyum, Apa yang dikatakan Albert terdengar seperti sebuah pesan di telinganya.
__ADS_1