Land Of Thorns

Land Of Thorns
Pertemuan tidak terduga bagian 4


__ADS_3

Mereka adalah 3 orang bandit bodoh yang sebelumnya ingin merampok Edgar di gang kecil itu, dan mereka kini berada di kedai ini, berjalan dengan gaya yang begitu arogan memandang para pengunjung kedai yang tubuhnya lebih besar dari pria bertubuh kecil yang menjadi ketua kelompok itu.


Melihat para pengunjung yang menundukan kepala ataupun mengalihkan pandangan dari mereka membuat Edgar semakin yakin dengan rencana yang dia buat akan lebih berhasil saat ini, walaupun akan sedikit berimprovisasi.


“Kenapa lihat - lihat! Ada masalah?”


“Tidak, tidak ada. aku hanya ingin keluar.”


“Kalau ingin keluar ya keluar saja! Jangan menghalangi jalan!”


Bandit bertubuh kecil itu tampak melotot memarahi penduduk kota yang menjadi pengunjung di kedai ini, Apa yang dia lakukan membuat beberapa orang merasa tidak nyaman dan meninggalkan kedai yang membuat pengunjung tersisa hanya orang - orang pendatang.


“Ah! Maaf Silvi aku tidak sengaja menumpahkannya.”


“Makanannya jadi ketumpahan minuman juga, bisa bantu aku Ludi ganti makanan ini dengan yang baru, aku akan mengambil lap kering membersihkan meja ini.”


Edgar tampak melakukan akting yang terlihat begitu buruk hingga membuat Ludi tampak heran melihatnya, walaupun begitu Ludi terlihat mengikuti permintaannya untuk memesan makanan baru sambil membawa piring makanan itu.


Edgar melakukan itu secara sengaja untuk menarik perhatian 3 bandit bodoh itu ke meja mereka, dan rencana Edgar terlihat berhasil karena bandit yang bertubuh kecil itu tampak tergoda saat melihat Silvi dan membuatnya menghampiri saat mereka berdua meninggalkan meja itu.


“Sepertinya kamu sendirian Nona!”


“Bagaimana kalau kamu menemani kami minum?”


“Sepertinya kamu malu untuk bicara ya!”


Bandit yang bertubuh kecil itu duduk di kursi kosong di samping Silvi memandangnya dengan penuh hasrat dan mengeluarkan kata - kata manis menggodanya, tapi Silvi hanya bisa diam dengan matanya melirik sekitar mencari Edgar dan Ludi.


Silvi tidak menemukan mereka berdua karena mereka bersembunyi di balik meja bar yang membuat pemilik kedai nampak bingung melihat mereka berdua yang sedang mengintip melihat teman minumnya diganggu seseorang tidak kenal.


“Tunggu Ludi, ini termasuk dalam rencanaku.”


“Jadi ini termasuk rencanamu? Lalu apa yang akan Silvi lakukan?”


Edgar terlihat menghentikan langkah Ludi saat akan menghampiri Silvi yang terlihat kesulitan saat digoda bandit itu. Silvi terlihat begitu bingung karena tidak bisa menjawab pertanyaan - pertanyaan bandit itu yang sedang menggodanya.


“Aku tidak bilang apapun padanya. Tidak usah aku bilang pun dia akan tetap diam karena aku membutuhkannya untuk tetap seperti itu.”


“Apa kamu tertarik untuk ikutan paman?”


Tanya Edgar mengajak Paman pemilik kedai yang tampak masih memperhatikan mereka berdua.


Sebelumnya Edgar hanya berencana untuk melakukan orasi di depan pengunjung kedai ini, namun karena kehadiran bandit ini membuat Edgar akan melakukan sedikit pertunjukan untuk menghibur mereka.


“Kenapa kamu masih diam saja Nona!”

__ADS_1


“Hey matamu melihat kemana!”


“Apakah kamu merasa aku tidak pantas untukmu!”


Bandit yang bertubuh kecil itu merasa semakin kesal karena Silvi seperti tidak memperdulikannya, Bandit itu beranjak dari duduknya semakin geram hingga mencengkram pergelangan tangan Silvi dan menariknya mendekatkan tubuhnya.


‘Apa kamu cari mati!’


Silvi yang mengatakan itu dalam pikiran Bandit itu membuatnya terkejut, apalagi melihat Silvi yang terlihat sudah emosi karena diperlakukan kasar seperti.


Di ruangan kedai yang tertutup ini tiba - tiba ada sebuah hembusan angin yang membuat semua orang merasakan, hembusan itu semakin lama semakin kuat tanpa ada yang tahu kalau Silvi mengeluarkan sihirnya.


Namun sebelum sihirnya keluar dengan sempurna Edgar memukul Bandit berubuh pendek itu di ikuti dengan Ludi dan Paman pemilik kedai yang menghajar 2 orang lainnya membuat mereka tersungkur ke lantai.


“Anak muda itu memukulnya!”


“Lihat, bahkan Ludi dan Paman pemilik kedai juga!”


Edgar mendengar bisik - bisik pengunjung yang sudah sejak tadi memperhatikan Silvi sedang di goda bandit itu.


“Apa kalian begitu takut dengan mereka hingga tega membiarkan Gadis ini diam ketakutan?”


Edgar secara tiba - tiba berbicara seperti itu sambil melihat mata pengunjung yang memperhatikan mereka.


Ludi dan Silvi memikirkan hal yang sama tampak bingung melihat apa yang Edgar lakukan tiba - tiba seperti itu.


“Kenapa kalian diam? Sepertinya kalian begitu senang melihat Gadis ini akan dilecehkan oleh seorang yang lebih jelek dari kalian dan setelah itu dia pasti akan mengatakan pada kalian kalau dia merasa lebih tampan dari kalian semua!”


“Apa anak muda ini bilang kita jelek?”


‘Bukankah itu terlalu mudah, aku rasa cara ini memang efektif.’


Ucapan ludi membuat beberapa orang dengan mudahnya emosi karena mendengar Edgar mengejek mereka jelek.


“Lihat! Gadis ini masih begitu ketakutan hingga dia sulit mengucapkan sepatah kata … kenapa nona?”


Edgar mendekatkan diri ke Silvi membuatnya seolah - olah Silvi membisikan sesuatu kepadanya membuat mereka terlihat begitu penasaran.


“Hemm … Jadi kamu mengurungkan niatmu karena merasa kecewa dengan tentara bayaran yang berada di kota ini terlihat begitu lemah!”


“Hoi - hoi sekarang dia bilang kita lemah!”


Suasana kedai ini begitu panas dengan pengunjung yang terlihat semakin emosi termakan ejekan dari Edgar.


“Begitu, Jadi kamu berniat membayar siapapun untuk mendapatkan kembali kalung milik ibumu yang dicuri dari bandit ini! … Bukankah keping emas ini begitu banyak….”

__ADS_1


“Cukup anak muda, lihatlah tatapan mereka tampak ingin membunuhmu ketimbang para bandit itu.”


Edgar menunjukan kepingan koin emas, memastikan mereka semua melihatnya. Namun dia yang kembali ingin melanjutkan  tiba - tiba ucapannya terpotong Paman pemilik kedai yang merasa ucapan Edgar sudah cukup menyelut emosi mereka.


Para pengunjung yang terdiri dari tentara bayaran dan pemburu itu bangkit dari tempat duduk mereka dan terlihat berjalan menghampiri Edgar.


“Apa yang terjadi … Kamu kenapa bisa ada disini?”


“Ternyata kamu masih ada di kota ini, lihat saja aku akan membalasmu bersama dengan teman - temanku yang lain!”


Bandit yang bertubuh kecil itu tampak sadarkan diri dan merasa bingung kenapa dia bisa berada di lantai tapi bandi itu lebih terkejut lagi karena melihat Edgar yang berada di hadapannya.


“Oh mau lapor kepada komplotan kamu ya, kalau begitu tunjukan kepada kami dimana markas kalian berada!”


“Hoi anak muda! Bilang kepada Gadis itu kalau kami ambil pekerjaannya! Kami tidak terima dianggap lemah seperti itu!


“Ah, lagipula itu keping emas walaupun aku di usir dari kota aku rasa tidak masalah.:


“Dan kami tidak jelek, dengar itu!”


Mereka terlihat begitu bersemangat saat tersulut emosi seperti itu membawa Bandit bertubuh kecil itu untuk menunjukan jalan, dan beberapa mengikat 2 orang bandit lain yang juga ikut terbangun.


“Sebenarnya apa yang kamu lakukan Edgar?”


Ludi tampak masih heran melihat mereka yang begitu mudahnya terpancing emosi dapat mengubah cara berpikir mereka yang sebelumnya tampak takut berurusan dengan mereka.


“Aku hanya menggiring opini … lagipula kelebihan emosi itu membuat manusia mengandalkan insting mereka.”


Mendengar itu hanya membuat Ludi tertawa merasa geli mendengarnya.


“Aktingmu sebenarnya terlihat buruk.”


“Tapi bukankah itu efektif Paman! … dan untuk apa kamu membawa kapak itu ”


“Iya itu benar … aku rasa aku akan ikuti kalian, ini sebuah kesempatan karena aku punya urusan yang belum selesai dengan bandit - bandit itu!”


Paman pemilik kedai itu tampak bersemangat ingin ikut menghajar bandit di kota ini yang sepertinya dia punya dendam pribadi, karena wajahnya menunjukan ekspresi gelap seperti seorang pembunuh saat ini.


‘Totalnya jadi 25 orang ya, aku rasa itu cukup.’


Edgar kembali tersenyum melihat sekutunya yang mulai bertambah untuk menghancurkan bandit yang bersarang di kota ini. Senyumnya kali ini benar - benar terlihat busuk membuatnya tampak seperti orang jahat.


‘Kakek, kamu berbohong. Bukankah dunia manusia terlihat begitu kejam dengan orang - orang seperti mereka!”


Melihat mereka berdua membuat Silvi semakin merinding karena merasakan niat buruk mereka begitu terlihat jelas. Silvi merasa tidak nyaman berjalan bersama mereka saat keluar dari kedai ini walaupun para peri sudah bilang kepadanya agar tidak usah mengkhawatirkan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2