
Mereka kembali melanjutkan menyusuri jalan bawah tanah, suasana mereka saat ini tampak begitu canggung karena Ludi yang tampak begitu lesu dan muram berjalan di depan mereka.
Edgar terlihat begitu muram juga saat dia berjalan di belakang memperhatikan Ludi, karena dia baru mengetahui bahwa Ludi kehilangan seorang Adik, dia merasa tidak dapat mengatakan sepatah kata apapun untuk berbela sungkawa atau kata - kata yang dapat menghiburnya, sebuah hal yang tidak sopan menurutnya membahas keluarganya langsung dengan Ludi di saat mereka baru mengenal.
Tapi tampaknya Pemilik kedai sudah cukup lama mengenal Ludi, karena Edgar merasa mereka terlihat begitu dekat dengan Ludi yang tampak menghormatinya, dia sadar kalau mereka berdua setidaknya mengenal baik.
Edgar mempercepat langkahnya untuk berjalan di samping Paman pemilik kedai. Dia sadar kalau Edgar mendekat disebelahnya membuat dia memperhatikan melihat wajah Edgar yang balik memperhatikannya.
“Apa yang ingin kamu tanyakan anak muda?”
Tanya Paman pemilik kedai padanya yang sadar kalau Edgar terlihat ingin menanyakan sesuatu padanya.
“Aku hanya ingin tahu, sebelumnya kamu bilang Adiknya Ludi mengalami nasib seperti anak - anak tadi. Memang apa yang terjadi padanya?”
“Itu peristiwa yang cukup lama, saat aku bertemu denganya 6 tahun lalu di desa Yatan sebuah desa di perbatasan Nordem yang sekarang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Federasi Hord.”
“Federasi Hord? Bukankah itu pecahan Kerajaan Nordem?”
“Ya, 8 tahun lalu Nordem mengalami krisis yang menimbulkan perang saudara di kerajaannya hingga membentuk kerajaan baru.”
Ucap Paman tersebut menerangkan kepadanya, Edgar mengingat kalau dia tahu dua kerajaan itu walaupun cukup aneh mendengar Nordem mengalami konflik perang saudara di kehidupan ini, Nordem yang berada di paling utara Blume kini di apit 3 kerajaan yang berbatasan langsung dengannya. Kerajaan Rosen di selatan, Federasi Hord di timur dan Sonne di tenggara.
“Lalu apa yang terjadi dengan desanya sekarang?”
“Karena perang saudara yang berkecamuk membuat kerajaan tidak stabil dengan kejahatan dimana - mana, desa tempat dia tinggal di jarah dan di bumi hanguskan oleh sekumpulan bandit gunung.”
Paman pemilik kedai memberikan jawaban yang tidak terduga untuk di dengar, dia tidak mengira kalau peristiwa itu terjadi padanya. Tapi dari mendengar hal itu membuat Edgar merasa paham alasan Ludi di kehidupan lainnya selalu memburu para bandit.
“Pantas saja, dia mengalami hal yang buruk di depan matanya … berarti kamu dulunya juga penduduk Nordem Paman?”
__ADS_1
Tanya Edgar penasaran padanya karena melihat Paman pemilik kedai yang tampak seperit penduduk Nordem pada umumnya,
“Aku tidak tahu, lebih tepatnya 6 tahun yang lalu aku diselamatkan oleh kedua bersaudara itu. Saat itu mereka menemukanku terapung di sungai, dan aku tinggal dengan keluarganya, saat kejadian itu aku tidak dapat menyelamatkan siapapun, hingga akhirnya hanya kami berdua yang selamat dan sekarang menetap di Rosten.”
Jawabannya terdengar begitu serius menatap Edgar. Apa yang dia katakan terdengar seperti sebuah kebenaran jika dia menilai dirinya juga yang mengalami hal yang terdengar mustahil bagi kebanyakan orang.
“Jadi kamu bilang kalau kamu tidak ingat apapun, bagaimana dengan nama atau ingatan terakhir yang kamu punya?”
“Tidak ada, Ludi hanya memanggilku dengan sebutan Paman sampai saat ini, karenanya orang lain juga ikut memanggilku dengan sebutannya.”
Edgar merasa penasaran, dia melihat baik - baik wajah Paman pemilik kedai mencoba mengingat - ingat apa sebenarnya dia pernah bertemu dengan Paman ini di kehidupan lainya karena dia sudah lama bersama Ludi.
Tapi Edgar sama sekali tidak mengenal wajah Paman pemilik kedai ini, Edgar merasa kalau ada sebuah sejarah yang kembali berubah seperti tentang kematian dan penculikan kedua saudara kandungnya.
Perasaan Edgar saat ini begitu campur aduk, dia merasa lega mendengar cerita masa lalu apa yang menimpa temannya tapi di sisi lain dia merasa perihatin medengar cerita masa lalu mereka berdua yang tidak begitu baik.
Hanya saja kali ini mereka begitu terkejut melihat anak kecil dan wanita yang mengisi setiap ruangan di balik jeruji besi di sepanjang jalan bawah tanah yang mereka lihat.
“Tolong aku!”
Teriak wanita dari balik jeruji besinya yang sadar melihat Edgar dan kelompoknya sedang berjalan hendak melewatinya.
Pakaian wanita ini tampak lebih tebal yang terbuat dari bahan bulu domba, tidak seperti penduduk yang tinggal di distrik kumuh yang biasanya mengenakan bahan - bahan lain entah dari bulu domba kapas maupun kulit yang disatukan menjadi pakaian. Walaupun terlihat kotor tapi melihatnya membuat Edgar tahu kalau dia penduduk biasa yang tinggal di distrik pendatang ataupun tinggal di sekitar plaza kota.
“Mundur dari sana, ini akan sedikit membuatmu terkejut.”
Ucap Paman pemilik kedai meminta wanita tersebut untuk mundur menjauh dari jeruji yang sedang dia pegang. Paman pemilik kedai kembali membuka paksa gembok yang terkunci tersebut dengan kapak membebaskannya.
“Terimakasih penyelamat, aku tidak menyangka kalau akan ada yang menyelamatkan kami.”
__ADS_1
Wanita tersebut langsung berlari memeluk Paman pemilik kedai yang membebaskannya dia memeluk begitu erat yang membuatnya melihat ke arah Edgar dan Ludi, wajahnya terlihat seperti meminta mereka berdua untuk melakukan sesuatu.
“Paman tolong bebaskan yang lain juga, dan bisa kamu ceritakan pada kami apa yang terjadi nona?”
Tanya Edgar saat mendekatinya membuat wanita itu melepaskan pelukannya dari Paman pemilik kedai dan lanjut membebaskan yang lainnya bersama dengan Ludi yang mengikutinya. Edgar kembali melihat ke arahnya merasa penasaran, ingin mencari informasi mengapa mereka berada di dalam sini.
Edgar meminta botol minum milik Silvi untuk di berikan kepada wanita tersebut yang tampak dehidrasi dengan bibirnya yang kering sama seperti anak kecil yang sebelumnya mereka temui, wanita tersebut tampak begitu kehausan hingga membuat botol minuman terasa begitu ringan.
“Mereka melakukan sesuatu pada kami! Aku sudah berada di tempat ini selama dua minggu, setiap sehari sekali kami akan di buat tidak sadarkan diri oleh mereka dan mereka melakukan sesuatu yang aku tidak tahu apa itu!”
Wanita tersebut semakin lama menceritakan kisahnya semakin berteriak histeris, dia tidak tahu apa yang terjadi tapi mungkin tubuhnya masih mengingat hal yang mengerikan yang di alami hingga membuatnya menjadi seperti itu.
“Tenang nona, tenang kamu aman sekarang. Berarti jika aku melewati jalan ini apa aku akan menemukan pintu masuk menuju markas mereka?”
“Iya, di pojok sana kamu akan menemukan tangga naik ke atas.”
Edgar memegang pundaknya mencoba menenangkan sambil melirik ke arah leher wanita tersebut memiliki bekas luka yang sama seperti apa yang dia lihat dari anak kecil yang sebelumnya.
“Apa kamu menyadarinya juga Silvi?”
Ucap Edgar melihat Silvi yang ada di sebelahnya juga menyadari bekas luka di leher wanita tersebut, Silvi menjawab menganggukan kepalanya kalau dia menyadari bekas luka yang dia lihat tersebut sama.
“Bagaimana dengan Roh peri apa mereka tahu sesuatu?”
Edgar bertanya kembali menatap Silvi yang sedang mencoba berpikir, para Roh peri merasa tidak tahu apapun mengenai bekas luka tersebut, Silvi hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Edgar.
“Edgar! tangkap binatang itu.”
Tiba - tiba Edgar mendengar Paman pemilik kedai bertriak padanya yang membuatnya menoleh melihat ke arah mereka. Dia melihat sesuatu yang hitam terbang begitu cepat melayang ke arahnya hingga membuatnya reflek mengeluarkan pedang dan menebasnya, tebasannya membuat gumpalan hitam yang terbang itu terbelah dua dan lenyap begitu saja Edgar merasa seperti menebas bayangan tidak merasakan pedangnya mengenai sesuatu walaupun melihat jelas gumpala hitam tersebut.
__ADS_1